NovelToon NovelToon
Breeze Of Youth: Aturan Cinta Sang Ketua Kelas

Breeze Of Youth: Aturan Cinta Sang Ketua Kelas

Status: sedang berlangsung
Genre:Bad Boy / Enemy to Lovers / Cinta pada Pandangan Pertama
Popularitas:72
Nilai: 5
Nama Author: Arya Setya

Bagi Lu Feng, cowok pindahan yang hobinya tidur di kelas dan telat masuk sekolah, aturan diciptakan untuk dilanggar. Tapi hari pertamanya di SMA Mingde mengubah segalanya. Ia bertemu dengan Lin Xiao, ketua kelas teladan yang super disiplin, dingin, namun diam-diam memiliki senyum termanis yang pernah Lu Feng lihat. Lin Xiao diberi tugas oleh wali kelas untuk "menjinakkan" Lu Feng agar tidak menjadi siswa bermasalah. Dari interaksi yang dipenuhi adu mulut, hukuman membersihkan papan tulis, hingga berbagi payung di bawah hujan deras, benih-benih cinta pertama mulai tumbuh. Namun, perbedaan sifat, tekanan ujian akhir (GaoKao), dan saingan dari masa lalu menguji apakah cinta masa muda ini bisa bertahan melewati rintangan yang ada.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Arya Setya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Toga Hitam, Buket Ginkgo, dan Restu di Bawah Terik Matahari

Bulan Juli di Beijing kembali datang dengan hawa panas yang menyengat, namun hari ini, tidak ada satu pun mahasiswa tingkat akhir yang mengeluhkan suhu udara.

Hari ini adalah Hari Kelulusan Universitas Beijing.

Lautan manusia membanjiri lapangan utama kampus. Ribuan mahasiswa mengenakan toga hitam dengan selempang warna-warni yang menunjukkan fakultas mereka, melempar topi ke udara, dan berpelukan sambil menangis haru. Empat tahun penuh siksaan akademis, air mata, dan kopi dingin akhirnya terbayar lunas dengan selembar ijazah yang kini tergenggam erat di tangan.

Lin Xiao berdiri di bawah rindangnya pohon ginkgo raksasa di dekat gedung Fakultas Hukum. Ia mengenakan toga hitamnya dengan kebanggaan yang absolut. Topi toganya terpasang rapi di atas rambut lurusnya. Wajahnya bersinar cerah, tanpa lingkaran hitam yang dulu selalu menghiasi matanya saat masih magang.

Ya, magang nerakanya di Firma Tianhe sudah berakhir setahun yang lalu. Dan sesuai janjinya pada Lu Feng, ia tidak memperpanjang kontrak di sana. Sebulan yang lalu, Lin Xiao baru saja lulus Ujian Advokat Nasional dengan nilai nyaris sempurna.

"Xiao-Xiao! Kemari, Sayang! Ayah mau memotretmu dengan latar belakang gedung fakultas!"

Suara ibunya memecah lamunan Lin Xiao. Sepasang suami istri paruh baya berpakaian sangat rapi dan formal berjalan menghampirinya. Mereka adalah orang tua Lin Xiao, yang sengaja mengambil cuti dan terbang jauh-jauh dari Jiangcheng demi melihat putri kebanggaan mereka lulus dari kampus nomor satu di Tiongkok.

Ibunya, Nyonya Lin, adalah wanita yang sangat tegas. Dialah yang dulu selalu menuntut Lin Xiao untuk menjadi peringkat satu di SMA Mingde.

"Berdirinya yang tegak, Xiao. Senyum sedikit, ini hari bahagiamu," omel Nyonya Lin sambil membenarkan letak kerah toga putrinya. "Setelah ini, kita makan siang di restoran bebek peking yang direkomendasikan bibimu. Kau harus bersiap melamar kerja ke firma besar, atau mungkin mencoba tes pegawai negeri di kementerian hukum."

Lin Xiao hanya tersenyum canggung. Ia belum memberitahu orang tuanya tentang rencana kariernya, dan yang lebih parah... ia belum pernah secara resmi memperkenalkan Lu Feng sebagai pacarnya kepada mereka.

Tiba-tiba, suara deru mesin mobil yang halus namun berat mendekat ke arah area larangan parkir di dekat gedung fakultas. Sebuah SUV hitam mengkilap berhenti tepat beberapa meter dari tempat keluarga Lin berdiri.

Beberapa mahasiswi yang sedang berfoto langsung menoleh, berbisik-bisik melihat mobil mewah itu.

Pintu kemudi terbuka.

Kang Lu Feng melangkah keluar. Cowok itu tidak mengenakan toga—acara kelulusan Fakultas Manajemen sudah selesai dua jam yang lalu di gedung sebelah. Lu Feng mengenakan setelan jas *three-piece* berwarna abu-abu arang yang dijahit khusus pas di badannya. Dasi hitamnya terpasang rapi. Rambutnya disisir ke belakang dengan gaya pompadour modern. Auranya bukan lagi cowok berandal yang hobi tidur di kelas, melainkan seorang eksekutif muda yang auranya bisa membuat siapa saja menahan napas.

Di tangannya, Lu Feng membawa sebuah buket bunga berukuran sangat besar. Bukan mawar merah klise, melainkan perpaduan bunga *peony* putih dan puluhan daun ginkgo keemasan yang dirangkai dengan sangat indah.

Mata Lin Xiao membelalak. Jantungnya seolah berhenti berdetak saat melihat Lu Feng berjalan lurus ke arahnya dengan langkah panjang dan penuh wibawa.

Nyonya Lin yang melihat arah pandangan putrinya ikut menoleh. Kening wanita paruh baya itu berkerut tajam. "Pemuda itu... sepertinya ibu pernah melihatnya. Bukannya dia... murid pindahan di SMA Mingde dulu? Siapa namanya? Kang... Kang Lu Feng?"

"Iya, Ibu," cicit Lin Xiao pelan, tangannya mulai berkeringat dingin.

Lu Feng berhenti tepat di hadapan keluarga Lin. Tanpa ragu sedikit pun, cowok itu menundukkan badannya dalam-dalam, memberikan penghormatan standar Tiongkok yang sangat sopan kepada orang tua Lin Xiao.

"Selamat siang, Paman, Bibi," sapa Lu Feng dengan suara baritonnya yang berat, ramah, dan sangat sopan. "Saya Kang Lu Feng. Teman sekelas Xiao saat di SMA Mingde dulu."

Tuan Lin mengangguk canggung, sementara Nyonya Lin menatap Lu Feng dari ujung rambut sampai ujung sepatu pantofelnya. Ia masih ingat betul reputasi cowok ini di SMA: nilai merah, sering dihukum, dan tidak punya masa depan yang jelas.

"Ah... Lu Feng. Bibi ingat," ucap Nyonya Lin dengan nada sedikit dingin, tipikal ibu-ibu yang protektif pada putrinya. "Kau kuliah di sini juga? Mengambil jurusan apa?"

"Manajemen Bisnis, Bibi. Saya baru saja selesai wisuda pagi tadi," jawab Lu Feng tenang, sama sekali tidak terintimidasi oleh tatapan menyelidik calon mertuanya.

Nyonya Lin sedikit terkejut. *Masuk Manajemen Universitas Beijing? Bukannya nilainya dulu hancur?* batinnya. Namun egonya masih tinggi. "Baguslah kalau begitu. Kau pasti kesulitan mencari kerja sekarang, persaingan lulusan bisnis sangat ketat. Berbeda dengan Xiao yang sudah lulus ujian advokat."

"Ibu!" desis Lin Xiao, merasa tidak enak pada Lu Feng.

Tapi Lu Feng justru tertawa pelan. Tawa yang sangat rileks. Ia melangkah satu tindak lebih dekat ke arah Lin Xiao, lalu menyodorkan buket bunga raksasa itu ke pelukan sang ketua kelas.

"Selamat atas kelulusanmu, Nona Pengacara," ucap Lu Feng, menatap mata Lin Xiao dengan kelembutan yang membuat dunia sekitarnya terasa menghilang. "Ini untukmu."

Lin Xiao menerima buket itu, wajahnya memerah hingga ke telinga. "Terima kasih, Lu Feng. Bunganya indah sekali."

Nyonya Lin berdeham keras, merasa diabaikan. "Lu Feng, kami akan segera pergi makan siang keluarga. Sebaiknya kau juga mencari keluargamu. Mereka pasti menunggumu."

"Orang tua saya tidak bisa hadir, Bibi. Ayah saya sedang tidak enak badan di Jiangcheng," jawab Lu Feng dengan senyum sopan. Lalu, cowok itu menatap lurus ke mata Nyonya Lin, mengubah posturnya menjadi sedikit lebih tegap.

"Bibi, Paman. Saya datang ke sini bukan hanya untuk memberikan bunga," suara Lu Feng mengudara dengan mantap, memecah kebisingan lapangan wisuda. "Saya ingin meminta izin secara resmi. Saya dan Xiao... kami sudah menjalin hubungan sejak tahun terakhir di SMA Mingde."

Mata Tuan Lin membulat. Nyonya Lin nyaris menjatuhkan tas tangannya saking kagetnya. "A-apa?! Kalian berpacaran?! Sejak SMA?!"

Lin Xiao menunduk, meremas buket bunganya dengan jantung berdebar brutal. Ia tidak menyangka Lu Feng akan langsung membongkar rahasia mereka di hari kelulusan ini.

"Benar, Bibi," Lu Feng tidak mundur selangkah pun. "Saya tahu, dulu di mata Bibi saya mungkin bukan pemuda yang pantas untuk Xiao. Tapi Xiao lah yang mengajari saya, memaksa saya belajar, hingga saya bisa berdiri di kampus ini hari ini."

Nyonya Lin mengatur napasnya yang memburu. Ia menatap putrinya, lalu menatap Lu Feng. "Lu Feng, dengar. Bibi berterima kasih kalau kau menyayangi putriku. Tapi ini dunia nyata. Xiao akan menjadi pengacara besar. Dia tidak bisa bersama pemuda yang masa depannya masih meraba-raba mencari pekerjaan!"

Lin Xiao baru saja membuka mulutnya untuk membela Lu Feng, namun Lu Feng merogoh saku jas dalamnya dengan santai.

Cowok itu mengeluarkan sebuah kartu nama berwarna hitam *matte* dengan cetakan huruf emas, lalu menyodorkannya dengan dua tangan kepada Nyonya Lin.

"Bibi tidak perlu khawatir soal masa depan Xiao jika bersama saya," ucap Lu Feng dengan nada yang sangat tenang dan mematikan. "Saya tidak sedang mencari pekerjaan, Bibi. Saya yang menciptakan pekerjaan."

Nyonya Lin mengambil kartu nama itu dengan kening berkerut. Matanya membaca deretan huruf emas di sana.

**KANG LU FENG**

**CEO & Founder - PT. Campus Relay Logistics**

**Alpha Ventures Backed Company.**

Wajah Nyonya Lin pucat pasi seketika. Perusahaan itu sangat terkenal di kalangan mahasiswa dan orang tua di Beijing belakangan ini karena pemberitaannya di koran ekonomi nasional. Valuasinya sudah menyentuh ratusan juta yuan. Dan pemuda berandal dari Jiangcheng ini adalah CEO-nya?!

"K-kau... kau pemilik perusahaan itu?" tanya Tuan Lin yang sedari tadi diam, suaranya bergetar karena takjub.

"Benar, Paman," Lu Feng mengangguk. Ia lalu menoleh menatap Lin Xiao, memberikan senyum miring andalannya. "Dan alasan utama saya ada di sini, selain memberikan bunga, adalah untuk menjemput Kepala Departemen Legal saya yang baru lulus hari ini."

Lin Xiao menahan napas, air mata haru menggenang di pelupuk matanya. Ia ingat betul pembicaraan mereka di dalam mobil malam itu, dan Lu Feng benar-benar merealisasikannya di depan orang tuanya.

"Bibi, Paman," Lu Feng kembali menatap kedua orang tua itu dengan penuh hormat. "Saya tidak berjanji bahwa hidup kami ke depannya akan selalu mudah. Tapi saya berjanji, saya akan menggunakan semua yang saya punya untuk melindungi mimpi putri Anda. Tolong, restui kami."

Keheningan melingkupi keluarga kecil itu. Ratusan mahasiswa berlalu-lalang di sekitar mereka, namun waktu seakan membeku di bawah pohon ginkgo itu.

Nyonya Lin menatap kartu nama di tangannya, lalu menatap wajah putrinya yang terlihat begitu bahagia dan memuja pemuda di depannya. Tembok keras sang ibu akhirnya runtuh. Ia menghela napas panjang, tersenyum tipis, dan menyerahkan kartu nama itu pada suaminya.

"Kau membuktikan ucapanmu, Anak Muda," gumam Nyonya Lin pelan. "Jaga putriku baik-baik. Kalau sampai dia menangis karena pekerjaan, Bibi akan datang ke kantormu dan menuntutmu."

"Ibu!" seru Lin Xiao bahagia, langsung memeluk ibunya erat-erat.

Lu Feng tersenyum lebar, beban berat yang selama ini mengganjal di pundaknya seolah terangkat terbang. "Siap, Bibi. Saya akan menjaganya lebih dari nyawa saya sendiri."

"Kalau begitu..." Tuan Lin berdeham, tersenyum menepuk bahu Lu Feng. "Kau mau ikut kami makan siang bebek peking, Tuan CEO?"

"Suatu kehormatan, Paman," jawab Lu Feng cepat.

Sambil berjalan menuju mobil, Lu Feng sengaja memelankan langkahnya agar sejajar dengan Lin Xiao yang berjalan di belakang orang tuanya.

Cowok itu merengkuh pinggang Lin Xiao, menarik cewek itu merapat ke tubuhnya.

"Selamat bergabung di perusahaan gue, Nona Pengacara," bisik Lu Feng tepat di telinga Lin Xiao.

Lin Xiao tersenyum manis, membalas pelukan di pinggang itu. "Mohon bimbingannya, Pak Bos. Jangan harap aku akan memberimu diskon untuk konsultasi hukum di luar jam kantor."

"Nggak masalah. Gue siap bayar pakai ciuman setiap hari seumur hidup gue," kekeh Lu Feng.

Di bawah terik matahari musim panas Beijing, di antara rimbunnya daun ginkgo, Lin Xiao menatap cowok di sebelahnya ini. Perjalanan dari ruang kelas Kelas 11-3 yang berdebu di Jiangcheng hingga ke pelataran Universitas Beijing yang megah ini terasa seperti mimpi panjang yang luar biasa.

Murid pindahan yang dulu menolak membersihkan papan tulis itu kini telah menjadi pria yang menghapus semua keraguan di masa depannya. Dan Lin Xiao tahu, kisah mereka baru saja memasuki babak yang sesungguhnya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!