Delapan tahun tanpa anak, Rahayu dikhianati. Suaminya membawa pulang Sari, perempuan yang dia sebut madu: licik, manis di depan, dan haus kuasa. Mereka berperang di bawah satu atap, tanpa tahu mertua serakah menyimpan rahasia kelam dan mengincar nyawa Sari dan anaknya. Saat tak ada yang mau menolong, Rahayu justru pasang badan dan membayarnya dengan nyawa.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nuna_Pena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
nama yang tercatat
Ponsel di tangan Nayla terasa semakin berat.
Ia berdiri di dekat mobil bersama Bu Ratih, sementara foto yang dikirim Dimas masih terpampang jelas di layar. Daftar akses dokumen Proyek Puri Sagara terlihat seperti tabel biasa, tetapi satu nama di bawah Arga membuat pikirannya kacau.
**Raka Aditya.**
Nayla membacanya lagi.
Lalu sekali lagi.
Tidak mungkin ia salah lihat.
Nama Raka tercatat di proyek yang juga melibatkan Arga, Siska, dan seseorang bernama Bayu. Proyek yang diduga berkaitan dengan dokumen yang diambil tanpa izin. Proyek yang membuat Arga tampak ketakutan ketika Nayla menanyakannya.
“Mama, masuk dulu,” ucap Nayla pelan.
Bu Ratih memperhatikan wajah putrinya. “Ada apa?”
“Tidak apa-apa. Aku cuma mau duduk.”
Mereka masuk ke dalam mobil. Bu Ratih duduk di kursi penumpang, sedangkan Nayla berada di belakang. Namun mobil belum bergerak karena sopir yang mereka pesan masih menunggu konfirmasi tujuan berikutnya.
Nayla menunduk dan kembali membuka foto dari Dimas.
Daftar tersebut berisi beberapa nama yang memiliki akses ke dokumen proyek.
Raka Aditya tercatat sebagai direktur operasional.
Arga Pratama tercatat sebagai staf administrasi proyek.
Siska Wulandari tercatat sebagai staf pemasaran.
Ada pula nama Bayu Pratama dari perusahaan vendor.
Mungkin nama Raka hanya tercatat karena posisinya sebagai atasan.
Mungkin semua direktur memang memiliki akses ke dokumen proyek.
Namun Nayla tidak bisa menahan pikirannya sendiri.
Sejak awal, Raka seolah tahu banyak tentang Arga dan Siska.
Raka yang menghubungi Nayla.
Raka yang memberinya peringatan.
Raka yang selalu hadir saat Nayla sedang hancur.
Apakah semua itu benar-benar karena kepedulian?
Atau ada alasan lain yang belum Nayla pahami?
Ponselnya kembali bergetar.
Pesan baru dari Dimas masuk.
**Dimas:** Mohon maaf, Bu Nayla. Foto tadi terkirim tidak sengaja. Itu dokumen internal. Pak Raka meminta saya menghapus pesan tersebut.
Nayla membaca pesan itu dengan dada berdebar.
Tidak sengaja?
Mengapa Dimas mengirim foto daftar akses itu kepadanya?
Apakah benar salah kirim, atau ada seseorang yang ingin Nayla melihat nama Raka?
Sebelum ia sempat membalas, pesan kedua masuk.
**Dimas:** Mohon jangan meneruskan foto itu kepada siapa pun.
Nayla mematikan layar ponselnya.
Bu Ratih menoleh dari kursi depan. “Kamu tidak baik-baik saja.”
Nayla ragu untuk bercerita. Ia tidak ingin membuat ibunya semakin khawatir. Namun ia juga tidak sanggup menyimpan semuanya sendiri.
“Nama Pak Raka ada di daftar akses proyek yang berkaitan dengan Arga dan Siska,” katanya akhirnya.
Bu Ratih terdiam.
“Apakah itu berarti Pak Raka terlibat?” tanya Nayla.
“Mama tidak tahu.” Bu Ratih berbalik sedikit agar bisa menatap putrinya. “Tapi jangan langsung menyimpulkan hanya dari satu daftar nama. Dia direktur, kan? Mungkin memang wajar namanya ada di sana.”
Nayla mengangguk pelan.
Itu masuk akal.
Tetapi rasa tidak tenang di dadanya belum hilang.
“Mama,” kata Nayla, “bagaimana kalau selama ini dia hanya memanfaatkan aku untuk mencari bukti tentang Arga dan Siska?”
Bu Ratih memandangnya cukup lama.
“Kalau pun itu benar, kamu tetap berhak tahu alasannya,” jawabnya. “Tapi jangan membuat keputusan dari rasa takut. Tanyakan langsung ketika kamu sudah tenang.”
Nayla kembali menatap layar ponsel yang gelap.
*Tanyakan langsung.*
Kalimat itu terdengar mudah.
Namun Nayla tidak tahu apakah ia siap mendengar jawabannya.
***
Setelah mengantar Bu Ratih pulang, Nayla memilih turun di sebuah taman kecil tidak jauh dari rumah orang tuanya.
Ia membutuhkan udara.
Membutuhkan tempat tanpa dinding, tanpa suara telepon Arga, tanpa tatapan khawatir dari Mama dan Papa.
Taman itu sepi di siang hari. Hanya ada beberapa anak kecil bermain bersama pengasuh dan seorang penjual minuman di dekat pagar. Nayla duduk di bangku bawah pohon, menatap jalan setapak yang dipenuhi daun basah.
Ponselnya kembali bergetar.
Kali ini nama **Pak Raka** muncul di layar.
Nayla menutup mata sebentar sebelum menerima panggilan.
“Halo, Pak.”
“Kamu sudah selesai bertemu Arga?” suara Raka terdengar tenang.
“Sudah.”
“Bagaimana?”
Nayla tidak langsung menjawab.
Ada banyak hal yang ingin ia tanyakan. Namun ia tidak ingin terdengar seperti menuduh tanpa memahami keadaan.
“Pak,” katanya pelan, “saya menerima foto dari Dimas.”
Hening di seberang telepon.
“Foto apa?”
“Daftar akses Proyek Puri Sagara.”
Nada suara Raka langsung berubah tegas. “Dimas mengirim itu kepada kamu?”
“Iya. Katanya salah kirim.”
“Apa yang kamu lihat?”
Nayla menggenggam ponselnya.
“Nama Bapak ada di sana.”
Beberapa detik berlalu tanpa jawaban.
Nayla menunggu.
“Benar,” jawab Raka akhirnya. “Nama saya ada di daftar akses proyek itu.”
Jantung Nayla berdetak lebih cepat.
“Kenapa?”
“Karena saya direktur operasional. Semua proyek besar di perusahaan berada dalam pengawasan saya. Saya memiliki akses administrasi ke semua dokumen proyek.”
Penjelasan itu terdengar masuk akal.
Namun Nayla belum merasa tenang.
“Lalu kenapa Bapak begitu tahu tentang Arga, Siska, dan proyek ini?”
Raka mengembuskan napas perlahan.
“Karena saya sedang memeriksa dugaan pelanggaran internal. Beberapa dokumen proyek bocor ke pihak vendor. Ada transaksi yang tidak wajar. Nama Arga dan Siska muncul dalam catatan akses.”
“Dan Bapak tidak memberi tahu saya sejak awal.”
“Saya tidak bisa memberi tahu orang luar tentang pemeriksaan perusahaan.”
Jawaban itu terasa dingin.
Namun Nayla sadar Raka benar. Ia memang bukan pegawai PT Arunika. Ia tidak memiliki hak untuk mengetahui seluruh urusan internal perusahaan.
“Jadi Bapak menghubungi saya karena pemeriksaan itu?” tanya Nayla.
Raka terdiam cukup lama.
Nayla menahan napas.
“Apa semua perhatian Bapak hanya karena Bapak butuh informasi tentang Arga?”
“Nayla,” panggil Raka dengan nada rendah.
“Jawab saja.”
“Tidak.”
Satu kata itu membuat Nayla diam.
“Saya menghubungi kamu karena saya tahu kamu sedang dibohongi,” lanjut Raka. “Pemeriksaan kantor membuat saya mencurigai Arga. Tapi saya tidak menghubungi kamu untuk memakai kamu sebagai sumber informasi.”
“Lalu kenapa?”
“Karena saya pernah melihat seseorang dihancurkan oleh kebohongan yang sama.”
Nayla teringat cerita Raka di kafe semalam. Tentang mantan tunangannya yang mengkhianatinya dengan rekan bisnis.
“Bapak kasihan sama saya?”
“Tidak.” Suara Raka terdengar lebih tegas. “Saya menghormati kamu. Itu berbeda.”
Nayla menunduk.
“Kalau saya hanya ingin memakai kamu,” lanjut Raka, “saya akan meminta kamu membuka ponsel Arga, mencari dokumen, atau memancing pengakuannya. Saya tidak melakukan itu.”
Nayla tidak bisa menyangkal.
Raka memang tidak pernah memintanya melakukan hal-hal seperti itu. Bahkan ketika Nayla menawarkan bukti dari Mira, Raka hanya meminta agar bukti disimpan dan tidak disebarkan.
“Maaf,” ucap Nayla pelan.
“Kamu tidak perlu minta maaf karena bertanya.” Nada Raka kembali tenang. “Dalam keadaan seperti ini, kamu berhak meragukan siapa pun.”
Kalimat itu membuat Nayla menatap jalan di depannya.
Raka tidak marah.
Ia tidak menyalahkan Nayla karena curiga.
Berbeda dengan Arga yang selalu membuatnya merasa bersalah setiap kali bertanya.
“Pak Raka,” kata Nayla setelah beberapa saat, “saya tidak mau terlibat terlalu jauh dalam masalah kantor Bapak.”
“Kamu tidak harus terlibat.”
“Tapi Arga mungkin memang terkait.”
“Saya akan menangani urusan perusahaan sesuai prosedur. Kamu fokus pada keselamatan dan keputusan untuk hidup kamu sendiri.”
Nayla mengangguk.
“Baik.”
“Dan satu lagi,” kata Raka. “Tentang pesan ancaman yang kamu terima. Dimas sedang mencoba melacak nomornya. Jangan balas jika nomor itu kembali menghubungi kamu.”
“Baik.”
“Sudah makan?”
Pertanyaan itu muncul tiba-tiba.
Nayla menatap ponselnya.
“Sudah sedikit.”
“Sedikit itu bukan jawaban.”
Nayla hampir tersenyum.
“Saya akan makan setelah ini.”
“Pastikan benar-benar makan.”
“Iya, Pak.”
Setelah panggilan berakhir, Nayla duduk diam lebih lama di taman.
Kata-kata Raka masih tersisa di pikirannya.
*Kamu berhak meragukan siapa pun.*
Mungkin itu benar.
Kepercayaan tidak seharusnya diberikan hanya karena seseorang terlihat baik. Kepercayaan dibangun dari tindakan yang konsisten.
Dan Raka, setidaknya sampai saat ini, tidak pernah memaksa Nayla memercayainya.
***
Menjelang sore, Nayla kembali ke rumah orang tuanya.
Pak Hendra sedang duduk di teras sambil membaca koran. Ketika melihat Nayla masuk, beliau menurunkan koran itu.
“Kamu sudah bicara dengan Arga?” tanyanya.
“Sudah, Pa.”
“Bagaimana?”
“Dia mengaku pernah membantu Siska mengakses dokumen proyek. Katanya dia tidak tahu dokumen itu dipakai untuk apa.”
Pak Hendra menghela napas berat.
“Kalau begitu, dia harus bertanggung jawab.”
Nayla mengangguk.
“Aku juga dapat kabar ada masalah di kantor mereka. Tapi aku tidak mau ikut campur,” katanya.
“Itu keputusan yang baik.” Pak Hendra menatap putrinya. “Masalah Arga adalah tanggung jawab Arga. Kamu boleh peduli, tapi jangan sampai kamu ikut tenggelam karena dia.”
Nayla duduk di kursi sebelah ayahnya.
Untuk pertama kalinya sejak semua rahasia itu terbuka, ia merasa sedikit lebih tenang.
Bukan karena masalahnya selesai.
Tidak.
Masalahnya bahkan semakin rumit.
Namun Nayla mulai memahami bahwa ia tidak harus menyelesaikan semua hal sendirian. Ia hanya perlu menentukan batas: mana luka yang harus ia hadapi, mana kesalahan yang bukan miliknya.
Ponselnya bergetar lagi.
Pesan dari nomor tidak dikenal masuk.
Kali ini, tidak ada ancaman panjang.
Hanya sebuah foto.
Foto itu memperlihatkan Nayla dan Raka di depan Kafe Madero malam sebelumnya. Nayla mengenakan jas Raka. Raka berdiri di sampingnya sambil memegang payung.
Sudut pengambilannya dari jauh.
Seolah seseorang sengaja mengawasi mereka.
Di bawah foto itu, ada satu kalimat.
**Nomor tak dikenal:** Kalau foto ini sampai ke tangan Arga, bagaimana menurutmu reaksinya?
Nayla membeku.
Bukan hanya dirinya yang sedang diawasi.
Seseorang juga mengikuti Raka.
Dan kini, orang itu memiliki cara untuk menghancurkan nama baik mereka berdua.