NovelToon NovelToon
TIRAKAT 7

TIRAKAT 7

Status: sedang berlangsung
Genre:Horor / Misteri / TKP
Popularitas:1.4k
Nilai: 5
Nama Author: DENI TINT

Sebagian besar cerita berdasarkan TEORI KONSPIRASI ELIT GLOBAL nyata.

(SERI KE 7 DARI UNIVERSE NOVEL TIRAKAT)

Sepuluh tahun berlalu.

Kini Harumi bertugas sebagai penyidik Jatanras, sementara Haruma menjadi dokter forensik kepolisian. Di balik meja autopsi dan olah TKP, dua bersaudara ini menghadapi serangkaian pembunuhan sadis dan aneh.

​Petunjuk misterius pada jasad para korban membawa mereka membongkar konspirasi gelap sebuah keluarga Taipan (penguasa bisnis) yang diam-diam menjadi bagian dari sekte penyembah iblis internasional bernama "THE ONE".

​Berbekal keahlian forensik, analisis hukum, serta mata batin spiritual, Haruma dan Harumi berjuang meruntuhkan cengkeraman sihir hitam dan kekuasaan elit global demi menegakkan keadilan.

Sanggupkah mereka berdua menghentikan sekte penyembah iblis "THE ONE" tersebut?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DENI TINT, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 29 MENEMANI DEK NIZA KE SEKOLAH

Kicau burung gereja bersahut-sahutan di dahan pohon mangga harum manis yang menaungi pekarangan depan rumah keluarga Zaki.

Udara pagi di kawasan perdesaan itu terasa begitu sejuk, membawa aroma embun yang membasahi dedaunan hijau serta wangi tanah basah usai disiram kemarin sore. Sinar matahari terbit membias lembut, memancarkan garis-garis cahaya keemasan yang menembus celah-celah tirai jendela rumah.

Pukul 06.00 WIB.

Suasana di dalam rumah beratap genteng terakota itu sudah tampak hidup dan penuh kehangatan.

Di teras depan, Zaki tampak sedang merapikan seragam kerjanya.

Pria paruh baya itu mengenakan kemeja berkerah warna biru dongker berlogo perusahaan penyedia jasa layanan internet terkemuka di dada kirinya, dipadu celana kain hitam yang rapi.

Hari ini, Zaki bersiap untuk menjalankan tugasnya sebagai Team Leader teknisi lapangan.

Nisa melangkah keluar dari pintu depan membawa segelas kopi hitam panas yang asapnya masih mengepul lembut, lalu meletakkannya di atas meja kayu teras.

"Ini diminum dulu kopinya, Mas," tutur Nisa dengan penuh perhatian. "Sarapan nasi uduknya juga sudah aku siapkan di meja makan."

Zaki tersenyum lebar, menyesap kopi hitamnya perlahan. "Makasih ya, Dek... Hari ini Mas harus berangkat lebih pagi. Jalur lintas Bogor-Jakarta kalau sudah jam setengah tujuh pasti macet merayap."

Haruma dan Harumi melangkah keluar ke teras.

Kedua srikandi penegak keadilan itu tampil sangat santai tanpa seragam dinas kaku.

Haruma mengenakan baju T-shirt katun warna krem yang lembut dipadu celana kulot santai, sementara Harumi mengenakan T-shirt hitam lengan panjang yang menutupi balutan kassa steril di lengan kirinya.

"Pagi, Yah... Pagi, Bu..." sapa Haruma dan Harumi serempak dengan wajah segar usai mandi.

"Pagi, Haruma, Harumi..." balas Zaki dan Nisa dengan tersenyum.

Harumi mendekati ayahnya, menyenggol pelan lengan Zaki dengan gaya canda renyahnya. "Wah, Ayah pagi ini rapi banget! Kemeja biru dongker berlogo internetnya kinclong, kumisnya juga udah dirapikan. Mau ada acara penting ya di kantor, Yah?"

Zaki terkekeh renyah, menepuk pelan bahu putri tengahnya. "Iya, Rumi. Hari ini tim Ayah mau ada audit besar-besaran dari auditor pusat. Semua jaringan fiber optic di tiga kecamatan mau dicek ulang. Makanya Ayah sebagai Team Leader harus mengawal dari pagi sampai malam nanti."

Haruma menuangkan air putih hangat untuk ayahnya seraya berkata lembut, "Berarti Ayah pulang agak larut dong malam nanti?"

"Iya, Sayang," sahut Zaki seraya menerima gelas air dari Haruma. "Kemungkinan Ayah baru sampai rumah sekitar jam sembilan malam. Jadi kalian nggak usah nungguin Ayah makan malam ya."

"Siap, Ayah... Yang penting Ayah tetap jaga kesehatan, jangan lupa makan siang," pesan Haruma penuh kasih sayang.

"Pasti," balas Zaki hangat. Pria itu lalu menatap kedua putri angkatnya seraya bertanya, "Oh iya, kalian berdua hari ini nggak ke markas?"

Harumi tersenyum lebar, merangkul bahu Haruma. "Nggak, Ayah! Rumi sama Kak Ruma dikasih jatah libur dua hari penuh sama Komandan Kombes Supriyadi! Katanya biar Rumi bisa istirahat dari penanganan kasus kemarin."

"Masya Allah, Alhamdulillah..." puji Nisa gembira seraya mengelus dada. "Akhirnya anak-anak Ibu bisa istirahat di rumah. Biar Ibu masak masakan kesukaan kalian berdua hari ini!"

"Asyik! Makasih banyak ya, Ibu cantik!" seru Harumi gembira.

Zaki melangkah menuruni anak tangga teras, menuju mobil MPV perak miliknya yang terparkir di garasi samping kiri.

Pria itu membuka pintu kendaraan keluarga tersebut, menghidupkan mesinnya yang menderu agak kasar karena sudah sepuluh tahun mobil itu menemani kehidupan keluarganya ini.

"Ayah berangkat kerja dulu ya Bu, Haruma, Harumi," pamit Zaki dari balik kaca jendela mobil. "Assalamu'alaikum!"

"Wa'alaikumussalam warahmatullah... Hati-hati di jalan ya, Ayah!" balas Nisa seraya melambaikan tangan hingga mobil MPV perak milik Zaki melaju perlahan meninggalkan pekarangan rumah.

Setelah kendaraan Zaki menghilang di belokan ujung jalan desa, suasana di rumah terasa makin tenang dan damai. Udara pagi yang sejuk membuat suasana hati siapa pun terasa segar.

Haruma melangkah menuju sudut teras, mengambil sebuah sapu lidi bergagang kayu panjang yang bersandar di dinding. Sementara Harumi menjangkau ember plastik dan kain pel di dekat tembok samping.

"Ibu..." panggil Haruma dengan suara lembutnya yang jernih. "Hari ini Ibu duduk santai saja di teras ya. Biar seluruh pekerjaan rumah Ruma sama Rumi yang selesaikan."

Nisa yang baru saja hendak menyapu lantai ruang tamu seketika menghentikan langkahnya, menatap kedua anak angkatnya dengan terheran-heran.

"Jangan begitu..." tolak Nisa halus. "Kalian kan lagi libur, harusnya istirahat saja. Biar Ibu yang menyapu sama mengepel. Ibu sudah biasa kok."

Harumi tertawa renyah, merebut sapu dari tangan Nisa yang barusan di ambil dari tangannya dengan gerakan lincah, seraya memandu ibunya duduk di kursi teras.

"Aduh, Ibu tercinta... nurut saja deh sama anak-anaknya," goda Harumi. "Rumi sama Kak Ruma ini kan perwira sama dokter yang tangguh. Masa menyapu rumah sama mengepel lantai saja nggak boleh? Lagian ini hitung-hitung olahraga pagi buat melemaskan otot Rumi yang kaku!"

Haruma menimpali seraya tersenyum manis, "Betul kata Rumi, Bu. Haruma yang bertugas menyapu seluruh ruangan dalam rumah sama menyapu daun-daun kering di pekarangan depan. Rumi yang bagian mengepel lantai ubin. Ibu tinggal duduk manis menikmati teh hangat."

Nisa tertawa haru, menggeleng-gelengkan kepalanya melihat keteguhan dan kebaikan hati kedua putrinya. "Ya Allah... baik banget anak-anak Ibu ini. Ya sudah, kalau kalian memaksa, Ibu buatkan pisang goreng hangat dulu di dapur ya."

"Sip! Makasih Ibu!" jawab Haruma dan Harumi riang.

Dua bersaudari itu langsung membagi tugas dengan penuh semangat.

Haruma mulai menyapu lantai ruang tamu, kamar-kamar, hingga menyapu serakan daun mangga yang gugur di pekarangan depan. Gerakan tangannya begitu anggun dan teratur.

Sementara Harumi dengan energik menyapu dan mengepel ubin lantai rumah hingga bersih mengilat dan beraroma wangi karbol pinus.

Namun...

Tepat di saat Harumi baru saja hendak memeras kain pelnya di dekat kamar tengah...

Sret...

Pintu kamar tidur belakang terbuka.

Dek Niza—adik lelaki bungsu mereka yang baru duduk di kelas tiga Sekolah Dasar—melangkah keluar. Anak laki-laki berusia sembilan tahun itu sudah tampil rapi mengenakan seragam sekolah SD berupa kemeja putih pendek berlogo tut wuri handayani dan celana pendek merah cabai. Tas punggung bergambar pahlawan super terpasang di bahunya, dan rambut hitamnya tersisir rapi berdandan minyak rambut.

Niza melangkah menghampiri Haruma yang sedang menyapu pekarangan depan.

"Kak Haruma... Kak Harumi..." panggil Dek Niza dengan suara polosnya yang renyah.

Haruma menghentikan ayunan sapu lidinya, berpaling menatap adik bungsunya seraya menyunggingkan senyuman manisnya yang paling hangat.

"Eh, Dek Niza yang ganteng sudah rapi!" puji Haruma lembut. "Sudah sarapan belum, Sayang?"

"Sudah, Kak! Tadi Niza sudah makan nasi uduk sama telur balado buatan Ibu," jawab Niza gembira.

Niza melangkah mendekati Harumi yang sedang memegang gagang pel, lalu memegang jemari tangan kakaknya dengan pandangan mata penuh permohonan polos.

"Kak Haruma... Kak Harumi... Niza boleh minta tolong nggak?" tanya Niza dengan mata membulat lucu.

Harumi membungkuk, mencubit pelan pipi adik bungsunya dengan gemas. "Minta tolong apa sih, Adik Kakak yang paling imut? Mau minta belikan jajan ya?"

Niza menggelengkan kepalanya cepat. "Bukan, Kak! Niza mau minta tolong... antar Niza berangkat ke sekolah pakai mobil itu dong!"

Niza menunjuk ke arah pekarangan depan, di mana mobil dinas kepolisian jenis SUV abu-abu gelap berplat dinas khusus terparkir gagah di bawah naungan pohon mangga.

Haruma dan Harumi saling bertukar pandangan, lalu tertawa renyah bersama.

"Oalah... mau diantar sekolah pakai mobil dinas kepolisian toh?" ujar Harumi renyah seraya mengacak-acak rambut Niza. "Kenapa emangnya, Dek? Mau gaya-gayaan di depan teman-teman sekolahmu ya?"

Niza tersipu malu, pipi mungilnya memerah. "Hehehe... iya, Kak! Teman-teman Niza di kelas pada nggak percaya kalau Kakak-kakak Niza itu perwira polisi sama dokter hebat. Niza mau kasih lihat ke mereka kalau Kakak-kakak Niza keren banget!"

Haruma terkekeh pelan, meletakkan sapu lidinya di sudut dinding teras. "Ya sudah, boleh banget! Biar Kak Haruma sama Kak Harumi yang antar kamu sampai gerbang sekolah pagi ini."

"Horeee! Terima kasih Kak Haruma! Terima kasih Kak Harumi!" seru Niza melompat-lompat gembira.

Nisa melangkah keluar dari dapur membawa piring berisi pisang goreng hangat. "Aduuuh... Nizaaa, nggak merepotkan Kakak-kakakmu toh, Nak?"

"Nggak kok, Ibu," sahut Haruma ramah. "Ruma sama Rumi justru senang bisa antar Niza berangkat sekolah. Pekerjaan rumahnya kan sudah selesai semua."

"Ya sudah, hati-hati di jalan ya, Nak," pesan Nisa hangat.

.....

.....

Brummm...

Mesin SUV abu-abu gelap milik dinas kepolisian menderu halus.

Harumi duduk di balik kemudi, sementara Haruma duduk di kursi penumpang depan.

Dek Niza duduk dengan sangat bangga di kursi belakang, melongokkan kepalanya ke arah depan seraya memegangi sabuk pengaman.

Mobil melaju perlahan menembus jalanan perdesaan yang masih sejuk dan lengang. Sinar matahari pagi menembus dedaunan pohon angsana di sepanjang tepi jalan.

Di tengah perjalanan, Dek Niza yang berada di kursi belakang mendadak melontarkan pertanyaan polos yang mengusik rasa ingin tahunya.

"Kak Harumi... Kak Haruma..." panggil Niza seraya menopang dagunya di sandaran kursi depan.

"Iya, Dek?" sahut Haruma menoleh menatap adiknya dari kaca spion tengah.

"Niza mau tanya dong..." tutur Niza dengan bahasa polosnya. "Kenapa mobil hitam milik Kakak yang bagus itu nggak dibawa pulang ke rumah kemarin? Kenapa Kakak pulangnya malah bawa mobil polisi abu-abu ini?"

Harumi yang sedang memegang kemudi tertawa renyah, melirik adiknya lewat kaca spion tengah.

"Oalah... kamu nanyain mobil MPV hitam kita toh, Dek?" ujar Harumi. "Mobil MPV hitam milik Kakak itu kan lagi diparkir aman di dalam garasi Markas Kepolisian, Niza."

"Iya, Niza," sambung Haruma menjelaskan dengan bahasa yang sangat mudah dimengerti anak SD. "Mobil MPV hitam itu kan kendaraan pribadi Kakak buat kegiatan sehari-hari kalau lagi nggak bertugas dinas. Tapi kemarin karena Kakak ada tugas penggerebekan mendadak dan harus langsung jalan dari kantor, jadi Kakak pakainya mobil dinas kepolisian ini. Lagian mobil dinas ini kan fasilitas resmi negara buat menjaga keselamatan Kakak selama bertugas."

Niza mengangguk-angguk paham, matanya berbinar-binar. "Oh... gitu. Tapi mobil dinas ini keren banget lho, Kak! Warnanya gagah, ada lampu sirinenya di atas. Niza berasa kaya penumpang penting banget!"

Haruma dan Harumi tertawa renyah mendengar kepolosan adik bungsu mereka.

"Kamu memang penumpang paling penting buat Kakak kok, Dek," puji Haruma lembut tersenyum manis.

.....

.....

Lima belas menit kemudian, kendaraan SUV dinas kepolisian itu tiba di kawasan jalan utama kecamatan, tepat di depan gerbang besi Sekolah Dasar Negeri 01 Parung.

Suasana di depan gerbang sekolah tampak sangat riuh dan ramai oleh hiruk pikuk anak-anak SD berseragam putih-merah, para orang tua yang mengantar, serta pedagang jajanan keliling yang menjajakan kue cubit, cilok, dan es sirup.

Begitu mobil SUV dinas kepolisian abu-abu gelap itu berhenti perlahan tepat lima meter di depan gerbang sekolah...

Perhatian puluhan siswa, orang tua murid, dan para guru yang berdiri di halaman seketika tertuju ke arah kendaraan tersebut!

Klek.

Harumi dan Haruma melangkah keluar dari dalam mobil.

Kehadiran dua wanita berparas anggun dan tegap itu seketika memancing decak kagum dari para warga yang berada di sekitar gerbang.

Harumi membukakan pintu belakang, membantu Dek Niza melangkah turun.

"Nah... sudah sampai di sekolah nih, Dek," ujar Harumi seraya merapikan kerah kemeja seragam adik bungsunya.

Haruma membungkuk di hadapan Niza, merapikan tas punggungnya seraya memberikan pesan-pesan penuh kasih sayang.

"Dek Niza... dengarkan pesan Kak Haruma ya," tutur Haruma dengan suara lembutnya yang jernih. "Belajar yang rajin di dalam kelas, dengarkan penjelasan Bapak dan Ibu Guru. Jangan nakal, jangan bercanda berlebihan sama teman-teman, dan selalu jadi anak yang sopan ya, Sayang."

"Iya, Kak Haruma! Niza janji bakal belajar yang rajin!" sahut Niza gembira dengan mata berbinar-binar.

Harumi menepuk pelan bahu Niza seraya tersenyum bangga. "Sip! Anak pintar! Ya sudah, sana masuk ke sekolah. Kakak sama Kak Haruma mau langsung balik ke rumah."

Namun...

Tepat di saat Haruma dan Harumi hendak memutar tubuh mereka untuk kembali masuk ke dalam mobil dinas...

Shet!

Jemari mungil Dek Niza mendadak mencengkeram erat ujung baju T-shirt Harumi!

Harumi terhenti, memutar tubuhnya kembali seraya menatap adik bungsunya dengan heran. "Eh? Kenapa, Dek? Ada barang yang ketinggalan di mobil?"

Niza menggelengkan kepalanya cepat. Wajah mungilnya menatap kedua kakak perempuan dengan pandangan mata penuh permohonan yang amat sangat.

"Kak Haruma... Kak Harumi... tolong tungguin Niza di sekolah dong!" pinta Niza dengan suara memohon yang polos.

Haruma mengerutkan keningnya pelan, tersenyum heran. "Tungguin? Tapi kan sekolah baru mulai jam tujuh pagi, Dek. Niza kan pulangnya biasa jam satu siang nanti?"

"Nggak, Kak! Hari ini beda!" potong Niza cepat. "Hari ini jam pelajaran cuma sampai jam sepuluh pagi saja! Soalnya jam sepuluh nanti semua Bapak dan Ibu Guru mau ada rapat guru se-kecamatan. Jadi semua murid dipulangin lebih cepat!"

Harumi melirik jam tangan di pergelangan tangannya yang menunjukkan pukul 06.45 WIB.

"Jam sepuluh pagi sudah pulang?" ulang Harumi seraya menatap kakaknya. "Berarti cuma tiga jam dong di dalam kelas?"

Haruma menatap mata polos Niza yang sangat berharap mereka menunggu. Rasa kasih sayang yang melimpah di dalam dada dokter forensik anggun itu tak mampu menolak permohonan adik bungsunya.

Haruma tersenyum manis, memegang kedua pipi Niza. "Ya sudah... Kak Haruma sama Kak Harumi bakal tungguin kamu di sekitar sekolah sampai jam sepuluh pagi nanti ya."

"Serius, Kak?! Kakak nggak bakal pulang duluan, kan?!" seru Niza gembira luar biasa.

"Serius seratus persen, Dek Niza manis!" pangkas Harumi riang. "Kakak bakal nunggu di warung jajan seberang jalan situ. Nanti pas jam sepuluh kamu keluar gerbang, Kakak sudah siap menyambutmu!"

"Horeee! Terima kasih banyak Kak Haruma! Terima kasih Kak Harumi!" seru Niza gembira seraya mencium tangan kedua kakaknya gembira, lalu berlari riang memasuki gerbang sekolah.

Sepeninggal Dek Niza masuk ke area sekolah, Haruma dan Harumi memarkirkan mobil SUV dinas mereka dengan rapi di bahu jalan seberang sekolah, di bawah naungan pohon trembesi yang rimbun.

Di seberang gerbang SD tersebut, berdiri sebuah warung jajan sederhana berdinding bambu dengan atap terpal biru milik seorang ibu paruh baya bernama Bu Jum. Warung itu menyediakan bangku kayu panjang yang menghadap lurus ke arah gerbang sekolah.

Haruma dan Harumi melangkah mendekati warung jajan tersebut.

"Assalamu'alaikum, Bu..." sapa Haruma ramah dan sopan.

Bu Jum—pemilik warung—yang sedang membalik pisang goreng di atas penggorengan seketika mendongak, tersenyum ramah melihat dua pembelinya. "Wa'alaikumussalam, Neng! Mari silakan duduk. Mau jajan apa pagi ini?"

Harumi menarik bangku kayu panjang, duduk leluasa seraya menyunggingkan senyumannya. "Bu... tolong racikkan dua cangkir kopi susu hangat ya. Sama minta gorengan pisang goreng sama bakwan hangat yang baru diangkat dari penggorengan itu lima biji, Bu."

"Siap, Neng cantik! Segera diracikkan!" sahut Bu Jum penuh semangat.

Tidak sampai lima menit kemudian, dua cangkir berisi kopi susu hangat yang aroma manisnya menyengat harum serta satu piring berisi gorengan hangat yang renyah telah tersaji di atas meja kayu warung.

"Silakan diminum kopi susunya, Neng," ujar Bu Jum ramah.

"Terima kasih banyak ya, Bu," balas Haruma tersenyum manis.

Haruma menjangkau cangkirnya, menyesap kopi susu hangat tersebut perlahan. Rasa manis susu beradu gurih dengan pahitnya kopi lokal, membasahi tenggorokannya dengan kehangatan yang amat menenangkan.

"Ahhh... segar banget kopi susunya, Dek," puji Haruma renyah seraya tersenyum bahagia.

Harumi mengambil sepotong bakwan hangat yang renyah, menggigitnya nikmat seraya tertawa.

"Iya kan, Kak?! Mumpung kita lagi libur dua hari nih, rasanya nikmat banget nongkrong di warung jajan begini," kata Harumi seraya menunjuk ke arah halaman SD di seberang jalan. "Lihat deh anak-anak SD itu, Kak... ramai banget lari-larian sebelum bel masuk. Bikin Rumi ingat zaman kita sekolah dulu ya."

Haruma menatap keceriaan anak-anak SD di seberang jalan dengan pandangan mata yang sangat sejuk dan penuh kenangan.

"Iya, Dek..." tutur Haruma lembut. "Masa kecil itu masa yang paling polos dan menyenangkan. Nggak ada beban pikiran soal kejahatan, sihir pencuri usia, atau persekongkolan pejabat berkuasa. Yang ada cuma canda tawa sama teman sekelas."

Harumi meminum kopi susunya, lalu menatap kakaknya dengan intonasi serius namun santai.

"Tapi Kak..." bisik Harumi. "Justru karena anak-anak polos kaya Dek Niza inilah... alasan kenapa kita harus berjuang keras menumpas Sekte THE ONE sama Keluarga Taipan itu sampai ke akar-akarnya. Kita harus pastikan negeri ini aman dari iblis-iblis pencuri usia itu, biar anak-anak generasi selanjutnya bisa tumbuh dengan damai."

Haruma menatap adiknya dengan rasa bangga yang melimpah ruah, mengusap lembut jemari tangan Harumi di atas meja.

"Kamu benar seratus persen, Rumi," puji Haruma. "Pekerjaan kita di kepolisian dan kedokteran forensik adalah pelindung bagi kedamaian mereka semua."

Dua bersaudari itu menikmati suasana pagi di seberang sekolah SD dengan penuh kedamaian.

Obrolan hangat, canda tawa renyah, seruputan kopi susu manis, serta kerenyahan pisang goreng hangat membuat waktu tiga jam menunggu terasa berlalu dengan sangat cepat dan menyenangkan.

.....

.....

Teng... teng... teng...!

Pukul 10.00 WIB tepat.

Suara dentangan bel besi sekolah bergema nyaring dari arah kantor guru SD Negeri 01 Parung, menandakan jam pelajaran hari itu telah berakhir sesuai jadwal rapat para guru.

Seketika itu juga, ratusan murid SD berseragam putih-merah berseru riang gembira dari balik pintu-pintu kelas!

Suara riuh sorak sorai anak-anak yang menyambut kepulangan awal bergema membelah udara pagi. Gerbang besi sekolah dibuka lebar-lebar oleh penjaga sekolah.

Ratusan anak-anak SD berlarian keluar gerbang dengan wajah-wajah ceria, melambaikan tangan ke arah teman-teman mereka seraya menghampiri para orang tua yang menjemput.

Harumi dan Haruma berdiri dari bangku warung jajan Bu Jum, melangkah mendekati tepi jalan di dekat mobil dinas mereka untuk menyambut Dek Niza.

"Nah... itu anak-anak sudah pada keluar, Kak!" ujar Harumi gembira seraya menyapu pandangan matanya ke arah kerumunan murid.

Namun...

Tepat di saat Haruma dan Harumi sedang mencari sosok adik bungsu mereka di antara kerumunan anak-anak yang bersorak riang...

Kedua mata tajam Haruma dan Harumi seketika mengunci sosok Dek Niza yang melangkah keluar dari sudut gerbang besi.

Beda seratus delapan puluh derajat dari teman-teman sebayanya yang pulang dengan wajah riang gembira...

Dek Niza melangkah keluar gerbang dengan tubuh yang sedikit membungkuk lesu, kepala tertunduk, dan raut wajah yang tampak sangat kesal, sedih, serta menahan tangis!

Tas punggungnya tampak miring tidak teratur, kemeja putih seragamnya agak kusut di bagian dada, dan kedua matanya yang memerah berkaca-kaca menahan air mata yang hendak menetes!

Deg!

Saraf insting perlindungan Harumi dan kepekaan Haruma seketika berdesir hebat!

"Dek Niza...?" gumam Haruma terperanjat pelan.

Harumi langsung melangkah cepat menyeberangi jalan, menghampiri adik bungsunya yang berjalan lunglai.

"Niza?!" panggil Harumi seraya berlutut di hadapan anak laki-laki itu. "Kamu kenapa, Dek?! Kok mukamu cemberut dan mau menangis begini?!"

Dek Niza yang melihat keberadaan kedua kakak perempuannya seketika tidak mampu lagi menahan bendungan air matanya. Air mata bening meluncur deras membahas pipi mungilnya.

"Kak Harumi... Kak Haruma..." rintih Dek Niza sesenggukan parau, langsung menyembunyikan wajahnya di dada Harumi.

Haruma ikut berlutut di samping adiknya, mengusap-usap punggung Dek Niza dengan kelembutan yang cemas. "Ada apa, Sayang? Siapa yang bikin Dek Niza sedih begini? Bilang sama Kakak..."

Niza mendongakkan kepalanya yang basah oleh air mata, menunjuk dengan jemari mungilnya yang gemetar ke arah dua orang anak laki-laki bertubuh jauh lebih besar yang sedang berdiri tertawa-tawa di dekat tiang bendera halaman sekolah.

Dua anak laki-laki bertubuh besar itu mengenakan seragam SD dengan bet angka 5 (Kelas 5) di lengan kemeja mereka.

"T-tadi pas bel pulang bunyi..." cerita Dek Niza terisak-isak dengan nada kesal dan terluka. "Niza mau jalan keluar kelas... Tapi di lorong dekat tangga, dua anak kelas lima itu mendadak menghalangi Niza! M-mereka dorong bahu Niza sampai Niza jatuh menabrak tembok... Terus uang jajan Niza lima ribu ditarik paksa dari saku celana Niza!"

DEG!!!

Mendengar pengakuan jujur dari adik bungsunya... bahwa Dek Niza baru saja MENJADI KORBAN PERLAKUAN PERUNDUNGAN (BULLYING) DAN PEMERASAN oleh kakak kelas lima SD-nya sendiri...

Seketika itu juga...

Mata Harumi berkilat-kilat oleh api kemurkaan yang teramat sangat dahsyat!

Hawa aura dingin nan tegap milik seorang Kanit Jatanras kasta tertinggi meledak dari dalam dada polwan muda tersebut.

Harumi mengepalkan kedua tangannya rapat-rapat hingga buku-buku jarinya memutih!

Rasa tidak terima dan amarah karena adik bungsunya disakiti serta diperas di lingkungan sekolah seketika membakar jiwanya!

"Bocah-bocah kelas lima itu berani merundung sama memeras Dek Niza?!" bentak Harumi dengan suara rendah yang begitu dingin dan mengintimidasi.

Harumi seketika berdiri tegap, pandangan matanya yang tajam bagaikan elang mengunci dua anak kelas lima di halaman sekolah, hendak melangkah menerjang masuk untuk memberi teguran keras pada dua perundung tersebut.

Namun, Haruma yang berdiri di sampingnya dengan sangat lincah memegang pergelangan tangan Harumi.

"Rumi... tahan, Dek!" tegur Haruma jernih dengan suara lembut namun tegas. "Ingat, ini lingkungan sekolah, bukan olah TKP. Jangan gunakan amarah emosional. Kita harus selesaikan ini lewat jalur edukasi hukum dan pembinaan resmi sekolah."

Harumi menatap kakak sulungnya, membuang napas panjang berulang kali untuk menetralkan emosi membara di dadanya.

"Iya, Kak..." sahut Harumi dengan intonasi yang mulai terkontrol. "Tenang saja. Rumi nggak akan main fisik sama anak SD. Tapi Rumi NGGAK AKAN BIARKAN perlakuan bullying keji kaya gini dibiarkan tumbuh di sekolah ini!"

Harumi menggandeng erat jemari tangan Dek Niza dengan hangat dan penuh kepastian perlindungan.

"Niza... ikut Kak Harumi sama Kak Haruma masuk ke dalam!" tegas Harumi. "Hari ini Kakak bakal pastikan nggak ada satu pun anak di sekolah ini yang berani merundungmu lagi!"

Harumi dan Haruma melangkah tegap memasuki koridor utama gedung SD Negeri 01 Parung.

Langkah kaki Harumi yang mantap dan tegap memancarkan wibawa perwira polisi yang amat disegani, membuat beberapa guru piket yang melintas di koridor seketika menoleh penuh rasa hormat.

Harumi mengarahkan langkahnya lurus menuju sebuah pintu kayu bertuliskan RUANG KEPALA SEKOLAH.

Tok... tok... tok...

Harumi mengetuk pintu kayu tersebut dengan ketukan yang tegas dan teratur.

"Masuk!" panggil sebuah suara pria paruh baya dari dalam ruangan.

Harumi mendorong pintu kayu tersebut.

Di dalam ruang kerja yang cukup luas dan berpendingin udara itu, duduk seorang pria paruh baya berusia lima puluh delapan tahun berkacamata minus, mengenakan seragam dinas PNS warna cokelat muda.

Pria itu adalah Pak Subandi, M.Pd.—Kepala Sekolah SD Negeri 01 Parung.

Pak Subandi yang sedang memeriksa tumpukan berkas laporan menghentikan kegiatannya, menengadah menatap dua tamu wanitanya yang melangkah masuk.

"Selamat pagi, Pak Kepala Sekolah," sapa Haruma dengan bahasa yang sangat santai, sopan, dan anggun.

Pak Subandi berdiri dari kursinya, merapikan kacamata minusnya dengan raut wajah heran namun ramah. "Selamat pagi... Mari silakan masuk, Ibu-ibu. Ada yang bisa saya bantu?"

Harumi melangkah tegap mendekati meja kerja Kepala Sekolah. Walaupun hatinya sempat terbakar oleh amarah atas kejadian bullying yang menimpa adiknya, Harumi tetap mempertahankan kesopanan tertinggi, etika hukum yang profesional, dan wibawa resminya sebagai Kanit Jatanras Kepolisian.

Harumi merogoh dompetnya, memperlihatkan Kartu Tanda Anggota (KTA) Resmi Kepolisian Republik Indonesia berlogo Inspektur Dua Polisi di hadapan Pak Subandi.

"Izin memperkenalkan diri, Pak Subandi," tutur Harumi dengan suara jernih, tegas, berbobot, namun sangat santai dan sopan. "Saya Inspektur Dua Polisi Harumi, Kepala Unit Jatanras Satreskrim Kepolisian Resor. Dan ini kakak saya, dr. Haruma, Dokter Spesialis Forensik Dokpol Bhayangkara."

Pak Subandi yang membaca nama dan pangkat pada KTA resmi kepolisian tersebut seketika terbelalak kaget. Wajahnya berubah penuh hormat dan sedikit tegang.

"M-Masya Allah... Ibu Inspektur Harumi... Ibu Dokter Haruma..." seru Pak Subandi membungkuk hormat seraya menjabat tangan kedua srikandi tersebut. "Mohon maaf sekali, Ibu... Saya nggak tahu kalau ada perwira polisi dan dokter yang berkunjung. Silakan duduk, Bu! Silakan!"

Haruma, Harumi, dan Dek Niza duduk tegap di kursi berbusa di hadapan meja Kepala Sekolah.

Pak Subandi memberikan air mineral kemasan gelas untuk para tamunya. "Mohon izin, Bu Harumi... Ada perihal penting apa ya sampai Ibu berkenan hadir ke ruangan saya pagi ini?"

Harumi memajukan posisinya, menopang kedua tangannya di atas meja. Pandangan matanya yang tajam menatap Pak Subandi lurus-lurus dengan ketegasan hukum dan kelembutan edukatif yang amat seimbang.

"Pak Subandi yang saya hormati..." pangkas Harumi dengan intonasi suara yang begitu teratur dan berbobot. "Kedatangan kami berdua ke sini adalah untuk menyampaikan sebuah temuan krusial mengenai keselamatan dan perlindungan mental anak-anak didik di sekolah yang Bapak pimpin."

Pak Subandi mengerutkan keningnya cemas. "Perlindungan mental anak didik, Bu?"

"Tepat sekali, Pak," lanjut Harumi tajam namun tetap menjaga bahasa yang sangat sopan. "Baru saja, sepuluh menit yang lalu saat bel kepulangan berbunyi... adik bungsu kami, Niza, yang duduk di kelas tiga SD ini... menjadi korban tindakan PERUNDUNGAN (BULLYING) DAN PEMERASAN FISIK oleh dua orang siswa kelas lima SD di lorong kelas!"

Pak Subandi terperanjat. Wajahnya mendadak pucat pasi. "A-Astagfirullahal'adzim! Perundungan dan pemerasan?!"

Harumi merangkul bahu Dek Niza yang duduk di sebelahnya.

"Niza didorong hingga jatuh menabrak tembok, dan uang jajannya ditarik paksa di bawah ancaman intimidasi," tegas Harumi dengan nada berbobot. "Sebagai seorang perwira penegak hukum dan sekaligus sebagai kakak dari Niza di sekolah ini... saya sangat prihatin dan NGGAK BISA MEMBIARKAN hal ini dianggap sebagai 'bercandaan anak kecil biasa'!"

Pak Subandi menundukkan kepalanya dalam-dalam, raut wajahnya dipenuhi rasa malu, bersalah, dan kecemasan yang luar biasa.

Haruma menyambung dengan suara lembutnya yang jernih dan penuh kearifan medis-psikologis.

"Pak Subandi..." tutur Haruma ramah. "Secara ilmu psikologi perkembangan anak dan kedokteran, perlakuan bullying yang dibiarkan di tingkat Sekolah Dasar adalah benih awal dari lahirnya perilaku kriminalitas di masa depan. Anak yang menjadi korban akan mengalami trauma mental yang merusak rasa percaya dirinya, sementara anak yang menjadi pelaku perundung akan merasa bahwa kekerasan dan pemerasan adalah hal yang wajar karena tidak pernah ditindak tegas."

Harumi menegakkan posisi duduknya, menatap Pak Subandi dengan ketegasan seorang Kanit Jatanras yang membangun.

"Oleh karena itu, Pak Subandi..." pinta Harumi dengan ketegasan yang sangat sopan dan profesional. "Saya memohon dengan sangat, agar Bapak sebagai Kepala Sekolah untuk segera membina, mengarahkan, dan menginstruksikan seluruh jajaran Bapak dan Ibu Guru di SD Negeri 01 Parung ini untuk LEBIH PEKA, LEBIH WASPADA, DAN AKTIF MEMINIMALISIR, SERTA MENGHAPUS SEGALA BENTUK PERILAKU BULLYING DI LINGKUNGAN SEKOLAH INI!"

Harumi mengepalkan tangannya di meja dengan wibawa hukum yang tak terhentikan.

"Pengawasan di lorong-lorong saat jam istirahat dan jam pulang harus ditingkatkan!" pangkas Harumi. "Berikan pemahaman dan edukasi karakter kepada seluruh siswa bahwa perundungan adalah tindakan yang salah dan tidak terpuji! Jangan sampai ada lagi anak-anak lain di sekolah ini yang harus menangis ketakutan karena dirundung oleh teman atau kakak kelasnya sendiri!"

Kata-kata Harumi dan Haruma yang disampaikan dengan begitu sopan, berbobot, profesional, dan penuh nilai edukasi tinggi itu seketika menembus langsung ke dalam sanubari Pak Subandi.

Pak Subandi menganggukkan kepalanya berkali-kali dengan rasa haru dan hormat yang amat sangat tinggi. Air mata keinsafan menggenang di pelupuk mata sang Kepala Sekolah.

"Ibu Inspektur Harumi... Ibu Dokter Haruma..." ujar Pak Subandi dengan suara bergetar penuh rasa terima kasih dan penyesalan mendalam. "Saya atas nama pribadi, dan seluruh jajaran pengajar SD Negeri 01 Parung... mengucapkan MINTA MAAF YANG SEBESAR-BESARNYA, atas kejadian yang menimpa Ananda Niza!"

Pak Subandi berdiri dari kursinya, membungkuk penuh rasa hormat di hadapan Haruma, Harumi, dan Dek Niza.

"Teguran dan masukan dari Bu Inspektur dan Bu Dokter ini adalah tamparan keras sekaligus karunia luar biasa bagi sekolah kami!" tegas Pak Subandi. "Hari ini juga... Detik ini juga... Dalam rapat guru jam sepuluh ini, agenda utama yang akan saya instruksikan pertama kali adalah PEMBINAAN TOTAL DAN DEKLARASI ZERO-BULLYING DI SELURUH KELAS!"

Pak Subandi melangkah mendekati Dek Niza, mengusap kepala anak laki-laki itu dengan lembut. "Niza... Bapak minta maaf ya, Nak. Dua siswa kelas lima itu bersama orang tuanya dan wali kelasnya akan Bapak panggil ke ruangan ini untuk diberikan sanksi disiplin dan pembinaan tegas! Bapak janji, hal seperti ini nggak akan pernah terjadi lagi!"

Dek Niza yang mendengarkan ucapan Kepala Sekolah seketika mengusap air matanya, tersenyum gembira seraya mengangguk mantap. "Terima kasih banyak, Bapak!"

Harumi dan Haruma berdiri dari kursi mereka, menyunggingkan senyuman manis dan lega.

"Terima kasih banyak atas respon cepat dan komitmen tinggi dari Bapak sebagai Kepala Sekolah," puji Harumi menjabat tangan Pak Subandi penuh hangat. "Kami sangat mengapresiasi kepekaan Bapak demi kebaikan seluruh masa depan anak-anak di sekolah ini."

"Sama-sama, Bu Inspektur Harumi! Terima kasih banyak telah mengingatkan kami!" balas Pak Subandi penuh rasa hormat.

.....

.....

Pukul 10.30 WIB.

Harumi, Haruma, dan Dek Niza melangkah keluar dari gedung SD Negeri 01 Parung.

Langkah kaki Dek Niza kini tidak lagi lunglai atau cemberut, melainkan melangkah sangat gagah dan riang gembira di antara kedua kakak perempuannya!

Wajah mungil anak laki-laki berusia sembilan tahun itu memancarkan rasa bangga dan bahagia yang luar biasa. Di dalam benaknya, ia merasa sangat beruntung dan bangga memiliki dua orang kakak perempuan yang begitu hebat, tegas, dan selalu pasang badan melindunginya dari segala bentuk ketidakadilan.

"Waaah...! Kak Harumi tadi keren banget di depan Pak Kepala Sekolah!" puji Dek Niza gembira seraya melompat-lompat kecil. "Ngomongnya sopan banget, tapi bikin Pak Kepala Sekolah langsung ngangguk-ngangguk nurut!"

Haruma terkekeh renyah, mencubit gemas pipi adik bungsunya. "Tuh kan... Makanya Dek Niza nggak usah takut lagi. Kalau ada yang jahat atau merundungmu lagi di sekolah, langsung lapor sama Bapak atau Ibu Guru, atau cerita sama Kak Haruma dan Kak Harumi ya."

Harumi membukakan pintu mobil SUV dinas kepolisian, membantu Niza naik ke kursi depan. Sedangkan kakak mereka berdua, Haruma, duduk di kursi belakang.

"Sip! Sekarang masalah perundungan di sekolah sudah beres tuntas!" seru Harumi seraya masuk ke kursi kemudi. "Sekarang waktunya kita pulang ke rumah! Ibu pasti sudah bikin pisang goreng hangat buat kita!"

"Horeee! Pulang makan pisang goreng!" seru Dek Niza gembira.

Mesin SUV dinas kepolisian menderu halus. Mobil melaju mulus menembus keramaian jalanan Kecamatan Parung di bawah pendaran sinar matahari pagi yang hangat.

Insiden perundungan di sekolah telah diselesaikan secara bijak, tegas, dan edukatif oleh Ipda Harumi dan dr. Haruma.

Keharmonisan, kedamaian, dan rasa aman menyelimuti kembali sanubari salah satu anggota keluarga Zaki, Dek Niza.

Dan dengan perlindungan penuh dari dua srikandi penegak keadilan tersebut, Dek Niza dan seluruh anak-anak di perdesaan siap untuk tumbuh dan belajar dengan tenang, menyongsong keadilan yang bersinar terang.

1
🍾⃝ ᴀsͩᴍᷞᴀͧʀᷡᴀͣ
Seperti apa coba keluarga Taipan itu?

intinya korbannya itu yg sekiranya bisa jadi saksi kejahatan mereka gitu ya
🍾⃝ ᴀsͩᴍᷞᴀͧʀᷡᴀͣ
iyakah medium ship spiritual ini?
🍾⃝ ᴀsͩᴍᷞᴀͧʀᷡᴀͣ
Jadi efek sihir nya nggak ada luka fisik dari luar seperti sihir pada umumnya tapi yg diserang organ dalam nya.

berat juga ya wkwkwk sihir modern mungkin klo zaman.
🍾⃝ ᴀsͩᴍᷞᴀͧʀᷡᴀͣ
Penasaran seperti apa Sakte the one, sihir pengambil usia ini bwt apa? entintas apa yg akan di bangkit kan
Sri Jumiati
bagus ceritanya .👍👍
🍾⃝ ᴀsͩᴍᷞᴀͧʀᷡᴀͣ
Seenggaknya klo terbuka, misal mereka ada apa-apa Nisa bisa membantu
🍾⃝ ᴀsͩᴍᷞᴀͧʀᷡᴀͣ
NiZa putri atw Putra sih ?
🍾⃝ ᴀsͩᴍᷞᴀͧʀᷡᴀͣ
Knp kek yg Mama ku omongin sihh? bwt orang tua ya seperti itu sedewasa apapun, sesukses apapun, bwt mereka anaknya adalah tetep anak kecil mereka.
🍾⃝ ᴀsͩᴍᷞᴀͧʀᷡᴀͣ
Definisi rezeki tak kemana
🍾⃝ ᴀsͩᴍᷞᴀͧʀᷡᴀͣ
Nah iya bener itu ide atasan Rumi, pura-pura tutup kasus dulu, kematian Jonathan dgn tersangka suroto, tapi dibelakang msh diselidiki. masuk logika sih...
🍾⃝ ᴀsͩᴍᷞᴀͧʀᷡᴀͣ
pastinya sakte the one ini di backup orang penting, klo nggak ada backingan yg kuat nggak mungkin trs bertahan bertahun-tahun
🍾⃝ ᴀsͩᴍᷞᴀͧʀᷡᴀͣ
RIP KiSuroto sadis ya cara mati nya
🍾⃝ ᴀsͩᴍᷞᴀͧʀᷡᴀͣ
Hanya sampe disitu ki Suroto? kek nya msh ada yg lebih dari dia ya di sekte the one ini
🍾⃝ ᴀsͩᴍᷞᴀͧʀᷡᴀͣ
Sehebat apakah KiSuroto?
🍾⃝ ᴀsͩᴍᷞᴀͧʀᷡᴀͣ
perantara sihir nya udah elit ya di T7 ini, bukan bangsa lelembut lgi tapi manusia setengah jin mungkin wkwkwk sihir nya udah di darah
🍾⃝ ᴀsͩᴍᷞᴀͧʀᷡᴀͣ
Astaga suroto kek nggak ada nama lain
penampilan nya udah elit kok nama nya itu
🍾⃝ ᴀsͩᴍᷞᴀͧʀᷡᴀͣ
seperti itu ya ruang outopsi baru tau aku, detail betul penggambarannya berasa ada di rumah sakit dokpol wkwkwk
🍾⃝ ᴀsͩᴍᷞᴀͧʀᷡᴀͣ
waduhh serem, dibungkam dari jauh... penasaran the one ini sapa
🍾⃝ ᴀsͩᴍᷞᴀͧʀᷡᴀͣ
Karier udah oke tinggal jodoh ya ruma rumi
🍾⃝ ᴀsͩᴍᷞᴀͧʀᷡᴀͣ
Mereka tidak perlu orang lain lgi bwt jadi partner diskusi Mereka, kna berdua pun Mereka udah saling melengkapi.
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!