Ini adalah cerita tentang seorang Putra Suci dari aliran lurus yang dikhianati gurunya sendiri. Tubuhnya dihancurkan dan tulangnya dicabut satu per satu sebelum ia dibuang hidup-hidup ke dasar Kegelapan.
Namun, ia tidak memilih mati.
Dengan sisa kekuatan yang dimilikinya, ia mencabut tulang fananya yang rapuh dan menggantinya dengan tulang para musuh yang telah ia bunuh.
Setiap tulang menjadi sumber kekuatan baru. Setiap rasa sakit membawanya selangkah lebih dekat pada jalan kultivasi yang menentang kehendak langit.
Di sisinya berdiri seorang iblis wanita yang menguasai Seni Darah. Dengan sihir terlarang itu, ia menyatukan kembali tubuh sang Putra Suci yang telah hancur dari dalam.
Bersama, mereka menapaki jalan berdarah menuju Surga Sembilan Lapis.
Ia tidak kembali untuk menuntut keadilan.
Ia kembali untuk mencabut tulang punggung para dewa dan menjadikannya singgasana.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nugraha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 14: Panen di Bawah Tanah
Badai api keemasan melesat dari ujung tombak Tetua Inti Emas. Api Yang membelah udara dan menerangi aula lelang yang telah berubah menjadi puing.
Bagi para kultivator yang bersembunyi di tribun, serangan itu seperti hukuman dari langit.
Namun bagi Mo Xie, kekuatan itu tak lebih dari percikan api.
Tetua pertama mengerahkan seluruh Qi Yang dari Inti Emasnya.
Seni Tombak Matahari Menembus Awan!
Tombaknya melesat lurus menuju dada Mo Xie.
Saat ujung tombak tinggal sejengkal dari tubuhnya, Mo Xie akhirnya bergerak.
Kaki kanannya bergeser dan menghantam tanah.
Bum!
Domain Penghancur Gunung menyebar di bawah kakinya. Gaya berat yang mengerikan menekan tubuhnya hingga seolah-olah ia telah berubah menjadi gunung.
Mo Xie tidak menghindar.
Lengan kirinya yang berlapis tulang obsidian terangkat dan langsung menyambut ujung tombak.
Trang!
Cakar hitamnya mencengkeram tombak yang menyala itu.
Api keemasan mengamuk. Panasnya membuat daging fana di bahu Mo Xie melepuh, tetapi Tulang Harimau Kegelapan sama sekali tidak bergeming.
Mata Tetua itu melebar.
"M-Mustahil! Ini pusaka spiritual tingkat menengah!"
Mo Xie menatapnya dingin.
Krak!
Retakan menjalar di sepanjang tombak.
Dalam sekejap, pusaka spiritual yang telah ditempa selama puluhan tahun pecah menjadi serpihan.
Tetua itu kehilangan keseimbangan.
Mo Xie melangkah maju. "Terlalu lambat."
Cakar obsidiannya menembus pelindung Qi sang Tetua dan menghantam dadanya.
Srak!
Tulang rusuk patah.
Cakar hitam menembus daging dan mencengkeram jantung yang berdetak di dalam rongga dada.
Tubuh Tetua itu bergetar hebat.
Mo Xie menarik tangannya.
Darah menyembur ke udara.
Sebuah jantung yang masih berdenyut kini berada di telapak cakar obsidiannya.
"Satu."
Mayat Tetua itu jatuh ke tanah. Suasana aula berubah menjadi sunyi.
Tetua kedua menatap mayat rekannya dengan wajah pucat.
Hanya dalam beberapa tarikan napas, seorang kultivator Inti Emas telah mati begitu saja.
Ketakutan berubah menjadi kegilaan.
"Iblis!"
Tetua kedua meraung.
Ia membakar esensi darahnya sendiri untuk memaksa kultivasinya mencapai batas puncak Inti Emas.
Kedua tangannya membentuk segel.
Qi Yang bergolak, seketika puluhan pedang emas muncul di udara.
"Mati, Kau!"
Dengan satu gerakan tangannya, seluruh pedang Qi melesat menuju Mo Xie.
Hujan pedang memenuhi aula. Namun Mo Xie tetap berdiri.
Ia mengangkat lengan kanannya yang baru dijahit Xue Ling’er. Tulang fana itu masih lemah. Namun benang darah Ling’er telah menyatukan otot dan uratnya.
Lengan kanannya bersilang di belakang lengan iblisnya.
Domain Penghancur Gunung kembali menekan tubuhnya.
Boom...Boom... Boom...
Puluhan pedang Qi menghantam tubuh Mo Xie.
Api Yang meledak, dan debu seketika memenuhi aula.
Tetua kedua terengah-engah. Wajahnya pucat karena hampir menghabiskan seluruh Qi-nya.
"Sudah mati..." Ia menatap kabut debu dengan napas tertahan.
Namun dari balik kabut itu, dua mata hitam perlahan terbuka. Cahaya merah berkilat di dalamnya.
Mo Xie melangkah keluar.
Jubahnya telah compang-camping dan beberapa bagian tubuh fananya terbakar. Namun tulang iblis di tubuhnya tetap utuh.
"Hanya gatal."
Wajah Tetua itu langsung kehilangan warna.
Mo Xie mengubah arah gaya berat di bawah kakinya.
Tubuhnya menjadi ringan, dalam sekejap, ia melesat menyeberangi kawah.
Tetua kedua mundur, tetapi sudah terlambat.
Cakar Mo Xie telah mencengkeram lehernya dan mengangkat tubuhnya ke udara.
Tetua itu memukul lengan obsidian tersebut dengan sekuat tenaga, tetapi tidak ada gunanya.
Mo Xie menatap matanya, dan ketakutan telah memenuhi wajah pria itu.
Dengan tangan kanannya yang masih fana, Mo Xie menusuk dada sang Tetua.
Srak!
Tangannya menembus tulang dada.Darah mengalir di sepanjang lengannya.
Mo Xie meraih jantung sang Tetua dan menariknya keluar.
"Sekarang dua."
Ia melemparkan mayat itu ke samping.
Di kedua tangannya, dua jantung kultivator Inti Emas masih berdenyut.
Mo Xie mengangkat keduanya. "Makanlah, Ling’er."
Sesuatu bergerak di balik jubahnya.
Para kultivator yang masih berada di tribun menahan napas.
Sepasang tangan pucat muncul dari balik kerah jubah Mo Xie dan melingkar di lehernya.
Xue Ling’er memperlihatkan wajahnya.
Puluhan benang darah merah keluar dari tubuhnya. Benang-benang itu menari di udara seperti ular haus darah.
Dalam sekejap, semuanya melesat menuju kedua jantung di tangan Mo Xie.
Benang darah menembus jantung-jantung itu. Darah dan Qi Yang tersedot dengan cepat.
Kedua jantung mengering dalam hitungan napas.
Belum berhenti di sana.
Benang darah menjulur ke dua mayat Tetua di lantai. Benang itu menembus tubuh mereka dan merenggut sisa darah serta Qi Inti Emas yang masih tertinggal.
Rona kehidupan kembali ke wajah Xue Ling’er. Aura darahnya menjadi jauh lebih kuat.
"Darah kultivator aliran lurus..." Suara Ling’er terdengar puas. "Rasanya memang lebih lezat."
Mo Xie menjatuhkan sisa jantung yang telah mengering menjadi serpihan.
Para kultivator di tribun akhirnya kehilangan keberanian.
"M-Monster!"
"Lari!"
"Jangan biarkan dia menangkap kita!"
Kerumunan pecah.
Ratusan kultivator, bandit, dan pedagang berebut menuju pintu keluar. Mereka saling mendorong dan menginjak puing demi menyelamatkan nyawa.
Mo Xie tidak mengejar mereka.
Tatapannya tertuju pada sudut aula.
Kotak kristal yang membawa Tulang Lengan Kera Iblis Berwajah Hantu masih berada di sana.
Ia berjalan mendekat.
Kotak itu masih dilindungi segel es kuno. Dari dalamnya, aura iblis berusia seribu tahun terus berdenyut.
Mo Xie berdiri di depannya. Cakar obsidiannya terangkat.
Kekuatan Tulang Harimau Kegelapan berkumpul bersama Domain Penghancur Gunung.
Boom...
Cakarnya menghantam kotak kristal.
Prang...
Segel es pecah.
Kristal hancur menjadi serpihan, dan kabut hitam segera memenuhi udara.
Tulang lengan raksasa itu akhirnya terbebas.
Tulang Kera Iblis Berwajah Hantu terbaring di tengah puing. Sumsum Yin purba berdenyut di dalamnya.
Mo Xie mengulurkan tangan kanannya.
Tangan fana yang selama ini menjadi kelemahannya menyentuh tulang iblis tersebut.
Rasa sakit tajam menjalar ke seluruh tubuh, tubuhnya menolak aura iblis itu. Namun, Mo Xie justru tersenyum.
"Lengan ini sudah terlalu lama menjadi beban." Ia menatap tulang iblis di hadapannya.
"Ling’er."
Benang darah perlahan muncul dari balik jubah.
"Siapkan benangmu."
Senyum Mo Xie semakin lebar. "Malam ini, aku akan mengganti tulang fana ini."
Tawa Xue Ling’er terdengar dari belakangnya.
Lembut, dingin dan penuh kegembiraan.