Selama sepuluh tahun, Kayana Wiratama mengabdikan segalanya untuk satu pria. Ia menyusun setiap kontrak, memenangkan setiap pertempuran bisnis, dan mengubah "anak papa" bernama Kevin Santoso menjadi seorang raja korporat—hanya untuk dicampakkan, ditampar, dan dipermalukan di depan seluruh kalangan atas demi seorang perempuan berwajah malaikat. Malam itu, hati Kayana mati. Tapi seorang perempuan yang jatuh dari puncak selalu punya dua pilihan: hancur, atau bangkit sebagai sesuatu yang jauh lebih menakutkan.
Di balik topeng "tunangan terbuang" yang dikasihani semua orang, tersembunyi kebenaran yang tak seorang pun berani bayangkan: otak paling cemerlang di negeri ini, seorang perempuan dengan kecerdasan yang mengerikan dan masa lalu yang berdarah. Dan ketika takdir mempertemukannya kembali dengan Darian Adiwangsa—pria yang dijuluki "sang Iblis", penguasa dunia yang dingin, mematikan, dan tak tersentuh—dunia mulai berubah.
Di mata semua orang, Darian adalah momok yang membuat kota gemetar. Tapi di hadapan Kayana, iblis itu rela berlutut. "Cukup minta, dan seluruh dunia akan kuletakkan di kakimu." Semakin dalam Kayana terseret ke dalam kehidupannya, semakin banyak rahasia terkuak: pengkhianatan keluarga yang membesarkannya, sebuah "kecelakaan" yang menyembunyikan cinta masa kecil yang terlupakan, dan ingatan yang sengaja dirampas darinya.
Sementara para mantan dan pengkhianat menuai balasan setimpal satu per satu, Kayana harus memilih: terus melarikan diri dari masa lalunya, atau merebut kembali takhta, nama, dan hati yang pernah dirampas darinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ashly Garcia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 15: Hidangan Manis, Kenangan Masa Kecil, Kecerdasan Tinggi
"Hidangan yang dimasak dengan baik menyimpan cita rasa halus yang harus ditahan di mulut agar bisa dinikmati."
Kata orang, makanan membawa kenangan manis dan getir. Hartono tiba di rumahnya, dan aroma yang begitu lezat langsung menyapa penciumannya.
"Kakek, selamat datang." Kayana menyambutnya riang dengan senyuman sambil menata meja.
"Kau datang untuk minta maaf, ya?" Hartono menggodanya. "Dasar gadis nakal."
Kayana tahu betul selera kakeknya. Ia sengaja memasak hidangan-hidangan yang dulu digemari mendiang neneknya bersama Hartono.
"Apa sih pandangan Kakek yang buruk soal aku ini?" Keduanya tertawa bersama.
Sebenarnya, banyak sanak saudara yang lancang mengirim koki-koki ternama untuk memasak bagi Hartono, berharap memperoleh keuntungan darinya.
Kita harus mencari orang untuk diajak makan dan minum sebelum mencari apa yang akan dimakan dan diminum, sebab makan sendirian sama saja menjalani hidup seekor singa atau serigala.
Kedua orang tua Kayana tak pernah punya waktu untuk berbagi meja dengannya, sehingga Kayana tak memiliki satu pun kenangan masa kecil sarapan, makan siang, atau makan malam bersama mereka.
"Kalau kau selalu membayangkan yang terburuk, jatuhnya jadi tak terlalu sakit," ucap Hartono sambil duduk di kepala meja.
"Kakek, jatuhnya takkan sakit, jangan khawatir." Kayana meletakkan gelas terakhir dan duduk di samping kakeknya. "Ini semua hidangan kesukaan Kakek. Sayurnya sangat segar, baru dipetik dari kebun."
Kayana bercerita riang pada Hartono sambil menaruh daging, nasi, wortel, buncis, jagung, dan mentimun ke piring kakeknya.
Kalau saja Kayana orang asing, sudah lama Hartono menyingkirkannya. Ia benci orang menyuapinya makanan seolah dirinya anak kecil. Bukankah ia belum jadi lelaki tua renta? Namun ia takkan pernah menyakiti hati Penyihir Kecilnya yang berharga.
Bagi Hartono maupun Kayana, jamuan itu terasa menyenangkan. Keduanya melupakan masa lalu, ketika saat makan selalu terasa getir.
Para pelayan yang berdiri diam terheran-heran. Hartono, pria berhati dingin, kini justru tersenyum?
Hartono melarang menerima kunjungan sanak keluarga; jawabannya selalu sama. Mereka hanya membawa darahku, tetapi tak diterima di mansionku.
Sejak Kayana bisa mengerti, ia selalu ingat untuk berada di belakang Hartono. Bahkan ketika Hartono mendorongnya menjauh, ia tetap membuntutinya.
Cucu-cucunya yang lain takut padanya. Hanya dengan melihat wajahnya, anak-anak itu langsung menangis. Kayana justru menampakkan perasaannya di wajah. Suatu hari Hartono mencoba menakutinya, bersembunyi di balik pintu. Namun ketika Kayana melihatnya, alih-alih menjerit, ia malah tersenyum dan berkata,
"Ketahuan."
Sejak hari itu, Hartono mencoba mengabaikannya. Namun Kayana kecil tak pernah menyerah. Ia bukan sekadar gadis berwajah malaikat yang bisa memikat Hartono.
Pada usia lima tahun, tingkat kecerdasan Kayana ternyata mencapai 190.
Hartono melihat sosok penerusnya. Gadis yang kelak menjadi bintang paling gemilang di keluarganya.
Pada usia dua puluh tahun, sementara cucu-cucunya yang lain sibuk berpesta dari satu tempat ke tempat lain, Kayana justru bergadang di tengah tumpukan berkas, mengambil alih kendali Santoso Corporation. Hartono tak pernah tahu apa yang Kayana korbankan di malam-malam gelap itu.