NovelToon NovelToon
Dari Benci Jadi Rindu

Dari Benci Jadi Rindu

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Cinta Seiring Waktu / Idola sekolah
Popularitas:827
Nilai: 5
Nama Author: Aulia Cemmzz

Arka cowok paling populer di sekolah tapi punya sifat yang dingin dan keras kepala. Laras gadis pendiam yang selalu berusaha tampil biasa saja, tapi entah kenapa selalu berakhir berdebat sama Arka. Awalnya mereka saling tidak suka, selalu berselisih paham di mana pun mereka bertemu. Namun seiring waktu berlalu dan berbagai kejadian menyatukan mereka, rasa benci itu perlahan berubah menjadi sesuatu yang jauh lebih dalam rindu yang tak terucap.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aulia Cemmzz, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Perpisahan Sekolah

Hari-hari berlalu menuju hari perpisahan. Ujian akhir sudah selesai dan nilai mereka berdua sangat memuaskan. Namun suasana di sekolah justru terasa semakin tegang.

Riska dan Siska tidak menyerah begitu saja. Mereka merencanakan sesuatu yang jauh lebih besar dan sesuatu yang bisa merusak reputasi Laras sekaligus membuat Arka ragu padanya selamanya.

Tiga hari sebelum Arka berangkat ke luar negeri, sekolah mengadakan pesta perpisahan sederhana di aula sekolah. Malam itu seharusnya menjadi malam yang indah bagi semua orang.

Laras mengenakan gaun sederhana berwarna biru muda yang terlihat anggun. Dia berdiri di sudut aula menunggu Arka yang sedang mengambil minuman di meja depan. Hatinya berdebar apakah ini adalah malam terakhir mereka bisa bersama di tempat ini.

Tiba-tiba lampu di panggung utama meredup dan mikrofon berdecit keras. Semua mata tertuju ke depan. Di sana berdiri Riska dan Siska. Riska memegang selembar kertas besar yang terlihat seperti surat resmi.

"Teman-teman semua, sebelum pesta ini selesai, ada satu hal penting yang harus kita ketahui bersama," suara Riska terdengar bergetar namun cukup lantang didengar seluruh ruangan.

"Selama ini banyak dari kita yang mengagumi Laras, menganggapnya gadis yang tulus dan jujur. Tapi sayangnya, kenyataannya berbeda. Laras telah menyontek saat ujian pidato dan memanipulasi nilai lomba pidato itu. Surat ini adalah bukti dari pihak sekolah yang menemukan kejanggalan pada naskah yang diajukan Laras."

Ruangan langsung riuh rendah. Bisik-bisik terdengar di mana-mana. Beberapa teman menatap Laras dengan pandangan tidak percaya. Laras berdiri terpaku, tubuhnya gemetar hebat.

Dia tidak tahu dari mana mereka mendapatkan surat itu, tapi dia tahu itu tidak benar. Dia berusaha maju ke depan, tapi kakinya terasa berat sekali.

Saat semua mata berpindah ke arahnya, Arka muncul di sampingnya. Dia tidak menatap Laras, tapi berjalan lurus menuju panggung. Dia mengambil alih mikrofon dari tangan Riska dengan tenang.

"Maaf sebentar, boleh gue bicara?" tanyanya tenang namun tegas.

"Kalian semua berhak punya pendapat, tapi tolong dengarkan gue dulu. Laras menulis naskah pidatonya di depan mata gue. Dia mengerjakannya dengan keringat dan ketulusan sendiri. Surat yang Riska pegang itu palsu, karena gue tahu betul isi naskah aslinya karena ada bagian yang Laras tulis khusus dari pengalaman pribadinya yang tidak mungkin ada di internet atau karya orang lain. Kalau kalian masih ragu, gue punya salinan catatan aslinya kok, yang tertulis di buku hariannya yang sudah ada sejak dua minggu sebelum lomba diadakan."

Arka mengeluarkan buku catatan kecil dari saku jasnya, ternyata itu buku yang Laras pernah tinggalkan di mobilnya dan belum sempat dia kembalikan. Dia membukanya dan membacakan paragraf yang sama persis dengan isi naskah pidato Laras.

Keheningan menyelimuti ruangan, lalu perlahan bisik-bisik berubah menjadi tepuk tangan pelan dan tatapan malu dari teman-teman yang tadi sempat meragukannya.

Riska dan Siska berdiri pucat pasi di atas panggung. Mereka tidak menyangka Arka memiliki bukti yang begitu kuat. Mereka turun dari panggung dengan kepala tertunduk dalam dan berjalan keluar dari aula diiringi pandangan kecewa teman-teman lainnya.

Arka kembali ke sisi Laras yang masih berdiri dengan mata berkaca-kaca. Dia menggenggam tangan Laras erat sekali.

"Lu lihat kan? Kebenaran selalu lebih kuat dari kebohongan. Lu tidak perlu membuktikan diri kepada siapa pun, karena gue tahu siapa lu sebenarnya. Dan itu lebih dari cukup," bisik Arka lembut di telinganya.

Malam itu bukan berakhir dengan air mata perpisahan, tapi dengan kebahagiaan karena mereka berhasil melewati ujian terberat sebelum benar-benar berpisah.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!