NovelToon NovelToon
Wanita Yang Kubuat Janda

Wanita Yang Kubuat Janda

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Angst / Amnesia
Popularitas:1.1k
Nilai: 5
Nama Author: Aurora.playgame

Bagaimana rasanya dicintai oleh orang yang telah merenggut kebahagiaan keluarga kecilnya? Dan bagaimana jika ia juga terlanjur mencintai pria yang telah menghilangkan nyawa suaminya?
Dalam keadaan amnesia total, Raya menjalani hidupnya dalam ketidaktahuan akan siapa dirinya yang sebenarnya. Di balik kehangatan dan kemewahan hidup yang diberikan oleh pria di sisinya, tersembunyi kebohongan besar yang merenggut masa lalunya.
Ketika benih cinta mulai tumbuh di atas tanah kebohongan dan rasa bersalah, kenyataan kelam perlahan terkuak. Bisakah cinta bertahan saat fakta terungkap bahwa pria yang dipujanya adalah dalang di balik kehancuran hidupnya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aurora.playgame, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 33: Duri di dalam madu

Dua minggu kemudian, sebuah kejutan kecil disiapkan oleh Aris. Hari itu adalah hari Sabtu, dan Aris berjanji akan membawa Raya dan Cyla mengunjungi pameran bunga musiman di Botanical Garden kota, sebuah tempat terbuka yang sudah diperiksa keamanannya secara ketat oleh tim Hendra untuk memastikan tidak ada gangguan atau orang asing dari masa lalu yang bisa mendekat.

Pukul tiga sore, mereka tiba di lokasi pameran.

Suasana di Botanical Garden sangat indah. Hamparan bunga tulip, mawar, dan lavender beraneka warna terbentang luas di bawah naungan pohon-pohon besar yang rindang. Angin sore bertiup sepoi-sepoi membawa aroma harum bunga yang menyegarkan.

Cyla yang duduk di dalam stroller tampak sangat gembira, sambil menunjuk-nunjuk kupu-kupu yang terbang di atas hamparan bunga kuning. Sementara Raya berjalan di samping Aris, dengan jemari mereka yang saling bertautan erat.

"Aris, lihat itu! Bunga matahari raksasa!" seru Raya antusias, menarik lengan Aris agar berjalan lebih cepat menuju sudut taman yang dipenuhi bunga berwarna kuning cerah.

Aris membiarkan dirinya ditarik oleh wanita itu. Di balik kacamata hitam kasual yang dipakainya, mata Aris tidak pernah lepas dari wajah Raya.

Ia melihat bagaimana binar kebahagiaan terpancar begitu terang dari mata bening wanita itu, senyuman lebar yang tulus, tawa renyah yang merdu, dan rona merah di pipinya karena udara sore yang dingin.

Melihat Raya begitu bahagia, dada Aris berdesir perih sekaligus lega. "Setidaknya... aku berhasil memberikan kebahagiaan ini di sisa waktu kita," batin Aris pilu.

"Sebentar ya, Raya. Duduklah di bangku taman itu bersama Cyla. Aku mau membeli dua botol air mineral dingin di kafe seberang jalan," pamit Aris sambil menunjuk sebuah kafe kaca berdesain modern yang terletak sekitar dua puluh meter dari tempat mereka berdiri.

"Baiklah, jangan lama-lama ya!" pesan Raya seraya tersenyum manis.

Aris melepaskan tautan jemari mereka, lalu melangkah pergi menyeberangi jalur pejalan kaki menuju kafe tersebut.

Raya mendudukkan dirinya di bangku taman kayu berukir putih di bawah pohon rindang, sementara Suster Santi mendorong stroller Cyla mondar-mandir di dekatnya agar balita itu tidak rewel.

Sambil menunggu Aris kembali, Raya tidak langsung duduk diam. Ia menolehkan kepalanya, dan memperhatikan sosok Aris dari kejauhan.

Dari balik dinding kaca kafe, Aris tampak sedang berbicara dengan pelayan kasir. Pria itu berdiri dengan postur tegap, mengenakan kemeja biru muda berlengan digulung dan celana chino gelap.

Meskipun usianya sudah matang, pesona dan karisma yang terpancar dari diri Aris begitu kuat hingga beberapa pengunjung wanita di dalam kafe tampak mencuri-curi pandang ke arahnya.

Melihat hal itu, alih-alih merasa cemburu, sebuah perasaan bangga yang aneh menyelimuti hati Raya.

"Pria hebat itu... adalah kekasihku," batin Raya tersenyum kecil penuh rasa memiliki.

Ia menikmati momen mencuri pandang tersebut layaknya seorang remaja perempuan yang sedang mengagumi kekasih pertamanya dari kejauhan. Jantungnya pun kembali berdegup kencang saat Aris tiba-tiba menoleh ke luar jendela kaca, seolah tahu bahwa Raya sedang memperhatikannya.

Begitu mata mereka bertemu dari jarak jauh, Aris langsung menyunggingkan senyuman mautnya, senyuman yang membuat lutut Raya terasa lemas seketika.

Aris melambaikan tangan kanannya pelan, lalu segera berbalik membawa dua botol air mineral dan melangkah cepat kembali menghampiri Raya.

"Ya ampun, jantungku kenapa?," batin Raya sambil memegangi dadanya.

**

Malam harinya, setelah Cyla tertidur pulas di kamarnya dan mansion kembali diselimuti oleh keheningan malam yang hangat, Raya dan Aris menghabiskan waktu berdua di balkon kamar utama lantai dua.

Balkon tersebut menghadap langsung ke arah taman belakang yang diterangi lampu pilar temaram. Udara malam terasa sejuk, hingga membuat Raya merapatkan selendang rajut tipis di bahunya.

Aris melangkah keluar dari kamar sambil membawa dua cangkir cokelat panas beruap tipis. Ia menyerahkan salah satu cangkir kepada Raya, lalu berdiri di samping wanita itu dan menyandarkan pinggulnya di pagar pembatas balkon.

"Terima kasih, Aris," ucap Raya pelan, sambil menyeruput cokelat hangatnya yang manis. "Hari ini benar-benar menyenangkan. Aku sangat menikmati jalan-jalan tadi."

Aris menatap lurus ke depan, dan menikmati keindahan taman di malam hari. "Aku senang kalau kamu bahagia, Raya. Kebahagiaanmu... adalah prioritas utamaku sekarang."

Raya menoleh dan menatap profil wajah Aris yang diterangi cahaya lampu temaram dari dalam kamar. Garis rahang pria itu tampak tegas, hidungnya mancung sempurna, dan bulu matanya yang lentik berbayang di bawah kelopak matanya.

Tanpa sadar, Raya tersenyum kecil. Ia merasa ada begitu banyak cinta di dalam dadanya hingga rasanya hampir tumpah keluar.

"Aris..." panggil Raya lirih.

Aris menoleh dan menatap manik mata Raya yang berkilau di dalam gelap. "Ada apa, Raya?"

Raya meletakkan cangkir cokelatnya di atas meja kecil di samping balkon. Ia melangkah mendekati Aris, lalu melingkarkan kedua tangannya di pinggang tegap pria itu, dan menenggelamkan wajahnya di dada bidang Aris.

Aris terperanjat kecil, namun sepersekian detik kemudian ia merengkuh tubuh Raya dengan kedua tangannya, dan mendekap wanita itu erat-erat ke dalam pelukannya.

"Aris... bolehkah aku jujur tentang sesuatu?" bisik Raya tepat di dada Aris.

"Katakan apa saja, Raya. Aku mendengarkan," jawab Aris, seraya mengelus puncak kepala Raya dengan penuh kasih.

Raya mendongakkan kepalanya dan menatap lurus ke dalam manik mata Aris dengan binar ketulusan yang luar biasa dalam.

"Aku... aku tidak tahu bagaimana cara menjelaskannya," kata Raya dengan suara bergetar manis. "Sejak aku terbangun dari amnesia, duniamu adalah satu-satunya dunia yang aku kenal. Tapi belakangan ini... aku menyadari satu hal yang membuatku ketakutan sekaligus bahagia."

Aris menelan ludahnya yang mendadak kering. "Hal... apa?"

"Aku jatuh cinta padamu, Aris," ucap Raya tanpa keraguan sedikit pun. "Bukan karena kamu menyelamatkanku, bukan karena kamu merawatku saat aku sakit... tapi karena kamu adalah kamu. Setiap kali aku melihatmu tersenyum, setiap kali aku mendengar suaramu lewat telepon, atau bahkan saat aku melihatmu dari kejauhan tadi sore... dadaku terasa penuh."

Raya tersenyum manis, air mata kebahagiaan pun menggenang di pelupuk matanya. "Rasanya seperti... aku baru pertama kali merasakan apa itu jatuh cinta yang sesungguhnya. Aku mencintaimu, Aris. Sangat mencintaimu."

Bagi siapa pun pria di dunia ini, mendengar pengakuan cinta yang begitu tulus dari wanita yang dicintainya adalah puncak kebahagiaan tertinggi.

Namun bagi Aris Prakasa... kata-kata itu justru terasa seperti hantaman godam yang meremukkan seluruh tulangnya.

Aku mencintaimu, Aris...

Kalimat itu bergema dahsyat di dalam kepala Aris, berbenturan dengan suara benturan mobil maut, darah segar di aspal basah, dan jeritan kepedihan malam jahanam itu.

Seluruh darah di tubuh Aris mendadak surut. Napasnya tertahan di tenggorokan. Matanya membelalak lebar, memandangi wajah Raya yang sedang tersenyum manis penuh harap di hadapannya, senyuman dari seorang wanita polos yang mencintai pembunuh suaminya dengan sepenuh hati.

"Betapa kejamnya aku..." batin Aris menjerit histeris dalam kegelapan jiwanya. "Aku mencuri ingatannya, aku merenggut suaminya, aku membangun penjara kebohongan... dan sebagai balasannya, ia menyerahkan seluruh hatinya kepadaku tanpa syarat."

Aris tidak bisa berkata apa-apa. Lidahnya terasa kelu, membeku oleh rasa bersalah yang teramat sangat hingga air mata penyesalan menetes tanpa bisa ia cegah dari sudut matanya.

Raya yang melihat air mata jatuh di pipi Aris terperanjat kaget. Ia mengulurkan tangannya, dan menyapu bulir air mata tersebut dengan lembut menggunakan ibu jarinya.

"Aris...? Kenapa kamu menangis?" tanya Raya cemas, suaranya sarat akan kelembutan. "Apakah... apakah aku mengatakan sesuatu yang salah? Apakah cintaku terlalu membebanimu?"

Mendengar pertanyaan itu, Aris segera menggelengkan kepalanya kuat-kuat. Ia menggenggam tangan Raya yang berada di pipinya, dan menempelkannya erat-erat di wajahnya sendiri seolah mencari jangkar terakhir di tengah badai rasa bersalah yang menenggelamkannya.

"Tidak, Raya... Bukan begitu..." suara Aris terdengar parau, pecah, dan bergetar hebat. "Cintamu... cintamu tidak pernah membebaniku."

"Lalu kenapa kamu menangis?" desak Raya lembut, dan menatapnya dengan penuh cinta.

Aris menarik napas panjang, menelan rasa sesak yang membakar tenggorokannya, lalu memaksakan sebuah senyuman paling getir yang pernah ia tunjukkan seumur hidupnya.

Ia merengkuh tubuh Raya kembali ke dalam pelukannya, dan menyembunyikan wajahnya di lekuk leher wanita itu agar Raya tidak bisa melihat kehancuran total di matanya.

"Aku menangis karena... aku merasa begitu bahagia, Raya," bohong Aris dengan suara bergetar di telinga Raya. "Aku tidak pernah menyangka... pria sepertiku bisa dicintai sehebat ini oleh wanita sepertimu."

Raya tersenyum lega di dalam pelukan Aris, dan membalas dekapan pria itu dengan makin erat. Ia sama sekali tidak menyadari bahwa di balik pelukan hangat dan kata-kata manis itu, Aris sedang mendekap seorang wanita yang suatu hari nanti, ketika ingatannya kembali, mungkin akan menghancurkan hidupnya berkeping-keping tanpa ampun.

Bersambung...

1
YuWie
aris jg menderita..klo mental raya sdh kuat..jujur saja pak aris.. drpada broken semuanya
YuWie
masih di kota yg sama mana bisa sembunyi terus menerus pak aris..pindah gih ke luar negri
YuWie
lhaa gimn.. katanya semua sdh dijauhkan..kok malah terbaca tuh berita
YuWie
Luar biasa
YuWie
dang nikahi raya nya pak aris.
YuWie
klo ingatan raya kembali, apa jadinya pak aris
Aurora: kita cari tau jawaban di next episode-episode berikutnya...😃🤗
total 1 replies
YuWie
kebetulan ya ris..cintamu kau dptkan 😁
Aurora: Xixixi... hanya terbalut banyak boong 😅😅
total 1 replies
YuWie
pandangan pertama langsung jatuh cinta, suami nya pas is death..mmg jodohmu si raya ini pak arus..tapi sayang nya..jalannya tragis.
Aurora: yup, cinta pada pandangan pertama tak jarang terjadi 🤗
total 1 replies
YuWie
mabuk kok nyopir sendiri pak aris...
YuWie
secantik apa wanita itu aris..sehingga membuatmu falling inlove in first moment
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!