Jarot, sang penguasa dunia bawah tanah yang sedang menyamar untuk menikmati masa pensiun santainya, tanpa sengaja terseret ke dalam masalah saat ia menyelamatkan seorang pengusaha wanita bernama Nisa dari kepungan preman. Terkesima oleh kemampuan bertarung Jarot, Nisa langsung menyewanya dengan bayaran fantastis untuk menjadi pengawal pribadi tiga putri angkatnya—Lyly, Tata, dan Melly—gadis-gadis keras kepala yang selalu sukses mengusir pengawal mana pun dalam hitungan jam. Di balik kemewahan rumah tersebut, sebuah permainan rahasia yang konyol namun mematikan dimulai; ketiga nona muda itu berusaha menggunakan kemampuan rahasia mereka sebagai ratu Wall Street, master bela diri, dan peretas dewa untuk mengerjai Jarot, tanpa sadar bahwa pria santai yang sedang mereka hadapi adalah monster paling ditakuti di dunia bawah. Kini, sambil meladeni tingkah laku mereka, Jarot harus menggunakan insting pembunuhnya untuk membantai ancaman nyata dari rival bisnis Nisa yang mulai mendekat dari balik
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kiyoe, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 23
Kriet.
Pintu depan rumah mewah itu terbuka dengan pelan memecah keheningan malam yang larut.
Jarot melangkah masuk sambil meregangkan otot bahu dan lehernya yang terasa sedikit kaku.
Pakaiannya masih utuh tanpa sobekan, hanya ada sedikit noda debu kotor di bagian lutut celananya.
Tiga pasang mata langsung menyambut kedatangannya di ruang tamu dengan tatapan penuh kelegaan.
Lyly, Tata, dan Melly sengaja menunggunya pulang di sofa tanpa ada yang berani beranjak tidur ke kamar.
"Selamat malam, Nona-nona. Belum pada tidur rupanya," sapa Jarot dengan senyum santai seperti biasa.
Tata langsung melompat dari sofa dan berlari kecil mendekati Jarot dengan wajah penuh kekhawatiran.
"Kamu tidak terluka kan? Tidak ada peluru nyasar yang menggores tubuhmu?" tanya Tata memeriksa Jarot dari atas sampai bawah.
"Tidak ada, Mbak Tata. Pelurunya tadi pada takut sama kaos putihku makanya belok semua," jawab Jarot dengan candaan basi.
Tapi anehnya, kali ini tidak ada satu pun dari mereka yang mendengus kesal atau membalas candaan itu dengan sinis.
Melly berjalan mendekat sambil membawa segelas air putih dingin yang langsung ia sodorkan kepada Jarot.
"Minum dulu, Jarot. Pasti kamu sangat haus setelah berkelahi selama itu," tawar Melly dengan nada sangat lembut.
Jarot menerima gelas itu dengan sedikit keheranan melihat perubahan sikap gadis peretas tersebut.
"Terima kasih, Mbak Melly. Pemantauan CCTV-mu tadi sangat akurat dan membantuku banyak di sana," puji Jarot tulus sebelum meminum airnya.
Melly tersenyum lebar mendengar pujian itu dan rona merah kebanggaan menjalar pelan di kedua pipinya.
Lyly yang berdiri di belakang adik-adiknya berdehem pelan untuk mengumpulkan perhatian.
"Air hangatmu sudah aku siapkan di kamar mandimu," ucap Lyly dengan suara pelan dan wajah menunduk menghindari kontak mata.
"Dan aku juga sudah menyiapkan handuk bersih beserta pakaian ganti yang lebih layak dari lemari pakaian tamu," tambah Lyly gengsi mengakui perhatiannya.
Jarot hampir saja tersedak air putih yang sedang ia minum mendengar penuturan wanita berblazer itu.
Ratu keuangan Wall Street yang super sombong ini benar-benar mau repot-repot menyiapkan air mandi untuk seorang pengawal.
"Wah, terima kasih banyak pelayanannya, Mbak Lyly. Aku sangat menghargainya," balas Jarot tersenyum tulus tanpa nada mengejek sama sekali.
Jarot kemudian menyerahkan gelas kosongnya kembali kepada Melly.
"Kalian bertiga sekarang masuklah ke kamar dan tidur yang nyenyak. Rumah ini sudah aman dari tikus-tikus kecil itu," perintah Jarot dengan nada lembut tapi tegas.
"Baik, selamat malam, Jarot," jawab ketiga gadis itu hampir serempak dengan nada yang sangat patuh.
Mereka pun berbalik badan dan berjalan menaiki tangga menuju lantai dua untuk beristirahat.
Jarot menatap punggung ketiga gadis itu sampai mereka benar-benar hilang dari pandangan di ujung lorong lantai dua.
"Anak singa yang diajari disiplin ternyata cepat juga patuhnya," gumam Jarot di dalam hati dengan perasaan cukup puas.
Jarot kemudian melangkah menuju kamarnya sendiri untuk membersihkan diri dari keringat dan sisa-sisa perkelahian.
Byuurrr.
Air hangat dari bak mandi langsung merilekskan otot-otot Jarot yang tadinya menegang karena adrenalin bertarung.
Ia berendam santai sambil memejamkan mata dan menikmati ketenangan sementara yang ia dapatkan malam ini.
Ting.
Suara notifikasi dari ponsel bututnya yang ia letakkan di tepi bak mandi berbunyi nyaring.
Jarot mengambil ponsel itu dengan sebelah tangan yang basah lalu membuka pesan yang baru masuk.
Pesan itu berasal dari nomor informan rahasia yang sama dengan yang menghubunginya tadi pagi.
"Bos, kami sudah membersihkan semua sisa kekacauan di gudang pelabuhan sesuai protokol standar pembersihan," isi pesan pertama melaporkan hasil kerja tim.
"Tidak ada polisi yang akan menemukan jejak pertarungan di sana besok pagi," lanjut laporan tersebut dengan sangat rapi.
Jarot hanya membalas dengan sebuah emoji jempol yang sangat kasual.
Ting.
Namun satu pesan susulan kembali masuk sebelum Jarot sempat meletakkan ponselnya kembali.
Mata Jarot sedikit menyipit saat ia membaca isi pesan baris kedua yang lebih panjang itu.
"Namun kami menemukan sebuah simbol rajah Hitam di dada Bos Naga yang sedang tidak sadarkan diri."
"Simbol itu persis sama dengan lambang Sindikat Tengkorak Hitam yang Bos hancurkan tiga bulan lalu."
Udara di dalam kamar mandi yang tadinya hangat mendadak terasa dingin menusuk tulang-tulang Jarot.
Sindikat Tengkorak Hitam adalah kelompok mafia paling kejam yang mengatur hampir semua kejahatan terorganisir di negara ini.
Tiga bulan lalu, Jarot telah membantai seluruh pemimpin inti mereka seorang diri sebelum akhirnya memutuskan untuk pensiun sejenak.
"Ternyata Bos Naga cuma anjing peliharaan kecil dari sisa-sisa anggota sindikat itu," gumam Jarot dengan nada suara yang sangat kelam.
Hal ini berarti masalah yang menimpa perusahaan Nisa bukanlah sekadar persaingan bisnis biasa antar pengusaha lokal.
Sindikat Tengkorak Hitam sengaja menggunakan tangan rival bisnis Nisa untuk mencari modal dan membangun kembali kekuatan mereka yang hancur.
"Pantas saja mereka sangat bernafsu mau menghancurkan bisnis Nisa dan merampas semua hartanya," analisis Jarot menyambungkan benang merah kejadian.
Jika sindikat itu tahu bahwa Jarot yang merupakan malaikat maut pelenyap mereka ada di rumah ini, skala serangannya pasti akan berubah drastis.
Mereka tidak akan lagi mengirim preman bergolok atau penembak amatiran ke rumah mewah tersebut.