'Hati manusia seluas samudra.'
Di dalamnya terdapat banyak hal baik dan buruk.
》Kadang bahagia, sedih, cemburu, emosi, marah, benci, kecewa, datang silih berganti.
》Kadang merasa ragu-ragu dan sulit membuat keputusan, karena isi kepala dan perasaan saling bertentangan.
》Kadang harus berjuang untuk memulihkan rasa sakit, kecewa akan masa lalu yang penuh luka. Oleh sebab itu :
~••°°••~
"Jagalah hatimu dengan segala kewaspadaan, karena dari situlah terpancar kehidupan."
~••°°••~
》Ikuti kisah perjuangan dan pemulihan hati orang-orang berintegritas mempertahankan kredibilitasnya di Novel : "LIKA LIKU HATI"
Karya ini didedikasikan untuk yang selalu mendukungku berkarya. Tetaplah sehat dan bahagia di mana pun berada. ❤️ U 🤗
Selamat Membaca
❤️🙏🏻💚
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sopaatta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 14. Keluarga Nelson.
...~•Happy Reading•~...
Ya, gak banyak, Ma. Cuma..." Nelson tidak melanjutkan, tapi yang ada di pikirannya membuat dia tersenyum.
"Godaan seperti apa yang membuatmu tersenyum, tapi sekaligus mengusik hati dan pikiranmu, hingga terbelah?" Bu Weny makin penasaran.
"Sudah, Ma. Gak usah dibahas cara anak muda jaman now merai cita dan cinta. Mereka sangat kreatif walau itu memalukan." Nelson menggerakan tangan agar Mamanya berhenti bertanya.
"Kau memadamkan api semangat ingin tahu Mama yang baru menyala. Walau memalukan, semoga itu pertanda baik bagimu."
"Pertanda baik, gimana, Ma? Memalukan ya, memalukan. Apanya yang baik dari tindakan itu?" Nelson heran dengan harapan Mamanya.
"Dia rela melakukan sesuatu yang memalukan, agar bisa menarik perhatianmu. Dia mau menunjukan padamu, dia ada dan suka padamu. Kalau dia gak lakukan itu, apa hatimu gatal dan kau pikirkan dia?" Bu Weny tidak bisa menyembunyikan rasa senangnya, mengetahui Nelson mulai terusik oleh wanita.
Nelson tersentak, karena tidak memikirkan seperti yang dikatakan Mamanya. "Ok, deal, ya, Ma. Mama ijinin aku ke gunung temui Kakek." Nelson mengalihkan topik pembicaraan, lalu menghabiskan minuman dan menutup wadah plastik tempat terigu goreng yang masih tersisa.
Bu Weny jadi fokus pada permintaan Nelson, sebab dia menunjukan niatnya serius mau ke gunung. "Kapan mau ke sana?"
"Rencananya besok pagi-pagi, Ma. Supaya gak terlalu panas di jalan. Kasihan kulitku, bisa seperti ikan dipanggang dalam oven." Nelson mengusap lengannya yang gampang terbakar sinar matahari langsung di siang hari.
"Kau mau naik motor?" Bu Weny terkejut dan panik mengetahui niat Nelson yang mau naik motor ke gunung pagi-pagi.
"Iya, Ma. Supaya lebih mudah bawa bawaanku dan bisa digunakan kalau mau ke mana-mana di atas..." Nelson menjelaskan alasan dia mau membawa motor.
"Tunggu Papa pulang kerja, baru kita bicarakan lagi." Bu Weny tidak bisa langsung memutuskan, karena Nelson mau memakai motor ke gunung.
"Ayolah, Ma. Kalau Mama sudah ok, Papa ok." Nelson terus mendesak, sebab dia yakin Papanya setuju. Karena yang akan ditemui Kakek dari Papanya. Jadi Papanya pasti mengizinkan.
"Bukan begitu, kau akan pakai motor ke atas. Itu yang harus tunggu persetujuan Papa." Bu Weny agak ragu, karena Nelson anak mereka satu-satunya, setelah beberapa kali alami keguguran.
"Gadis mana saja yang tiba-tiba mengganggumu, hingga harus segera ke tempat Kakek?" Bu Weny kembali bertanya tentang penyebab anaknya menuntut mau menyepi.
"Gadis mana saja?" Nelson jadi berpikir. "Gadis kampus atau gadis mana, ya?" Nelson jadi bingung menjawab.
"Kau belum tahu siapa mereka?" Mamanya terkejut.
"Belum tahu asal usulnya, Ma. Lagian baru ketemu mereka di kampus." Nelson jadi serba salah. Terganggu pada wanita yang belum jelas.
"Apa selama ini, mereka tidak tahu, kau layak diperebutkan?"
"Mama, apa, sih. Memangnya aku piala yang harus direbut?"
"Mama heran saja. Selama ini mereka kemana saja, sampai gak lihat anak Mama ini?"
"Selama ini, aku transparan, Ma. Yang bisa lihat cuma Angga, Monce dan Evie, karna aku kasih akses." Nelson menjawab asal, agar terhindar dari interogasi Mamanya.
Mata Mamanya membulat. "Jangan diperpanjang, Ma. Ini sesuatu yang baru pernah terjadi. Aku cuma mau fokus, karna bertepatan mau ujian. Mama mau aku gagal ujian, karna gak bisa konsentrasi?" Ancam Nelson. Bu Weny terdiam sambil menatapnya.
Nelson berkata demikian karena selama ini teman kuliah, adik atau kakak tingkat hanya menggoda dengan ajak senyum, menyapa, tanpa melakukan tindakan ekstrim. Berbeda yang dilakukan Alena dan Lisa yang langsung berinteraksi dengannya.
"Sudah kejawab, ya, Ma? Sambil tunggu Papa pulang, aku mau siapin perlengkapan tempur di gunung." Nelson berdiri, menghindari pertanyaan lanjutan Mamanya.
Namun ketika hendak melangkah, dia teringat sesuatu dari pertanyaan Mamanya yang membuat dia tersadar. "Oh, iya, Ma. Jadi aku sudah boleh pacaran, ya?"
Bu Weny terkejut dengan pertanyaan Nelson. "Jadi selama ini, kau bikin dirimu transparan karna ancaman Mama yang dulu itu?" Bu Weny ingat yang dikatakan kepada Nelson saat masih remaja untuk fokus belajar, jangan ikut-ikutan pacaran seperti teman-temannya. Hingga tidak berprestasi bahkan tidak naik kelas.
"Ya, di antaranya, itu. Pokoknya sudah boleh pacaran dan pergi ke gunung, ya? Sudah deal, ya, Ma." Nelson mengangkat tangan senang, sebagai isyarat telah terjadi kesepakatan.
"Duduk di sini lagi. Mama mau bicara." Bu Weny mencegah Nelson keluar dari ruang makan.
Nelson kembali duduk sambil menggaruk kepala yang tidak gatal, karena terjebak oleh pertanyaannya sendiri. Dia tadi hanya mau memastikan, supaya yang dilakukan direstui oleh Mamanya.
"Begini, Nel. Bukan boleh dan tidak boleh. Sekarang kau sudah dewasa. Kalau ada yang pas di hati, pacaran dulu, kenali dengan benar. Supaya saat menikah tidak jadi beban, dan bisa jalani fase berikutnya dengan baik dan tidak banyak terjadi benturan."
"Kalau tidak pacaran dulu, bagaimana kau tahu sifatnya bisa sesuai denganmu?" Bu Weny bertanya serius.
"Apa dia bisa seiring sejalan denganmu yang lebih sering di rumah? Apa dia bisa terima kau yang kutu buku, sering lakukan penelitian sana, sini. Atau kumpul dengan keluarga dan teman yang cuma segelintir?"
"Bagaimana kalau pasanganmu suka berada di luar rumah? Bagaimana kalau dia lebih utamakan teman-temannya dari padamu? Hubungan kalian bisa Ambyar sebelum hitungan jari habis." Bu Weny pergunakan kesempatan untuk membuka cakrawala pikiran Nelson untuk cari pasangan hidup.
"Trims, Ma, sudah ingatkan. Tapi sepertinya aku baru singgung ada yang mengganggu, deh. Kalau untuk menikah, jauuuuu.... Kuliah saja belum selesai. Jauuuuu..." Nelson menggerakan tangan seperti tokoh dalam film super hero.
"Pokoknya, Mama sudah setuju aku pacaran dan ke gunung, ya." Nelson mendekat dan memeluk Mamanya dari belakang dengan sayang.
"Hati-hati saja. Mama bukan mau cerewet..." Nelson langsung mencium pipi Mamanya. "Aku mengerti, Ma." Mamanya berhenti bicara dan mengangguk.
Nelson melepaskan pelukan. "Aku mau turunin backpacker." Ucap Nelson riang. Bu Weny hanya bisa menggeleng.
"Nel, ganti baju. Mama habis mandi, kita keluar." Teriak Bu Weny sambil berdiri.
"Keluar? Kita mau kemana, Ma?" Nelson tidak jadi masuk ke kamar.
"Cari sesuatu yang diperlukan Kakekmu. Kau mau Mama dibilang mantu tidak peduli sama Mertua?" Bu Weny mendorong Nelson masuk kamar sambil lewat ke kamarnya.
"Mamaku, emang the best." Nelson mengangkat dua jempol sambil tersenyum girang.
"Jangan lupa kirim pesan buat Papa, kunci di tempat biasa dan tempat Mama simpan tegor." Bu Weny ingatkan sebelum masuk ke kamar.
"Siap, Ma." Nelson sangat senang, Mamanya sudah mengizinkan dia ke gunung.
Ketika dia hendak mengambil ponsel untuk menghubungi Papanya, alis Nelson bertaut melihat misscall dari nomor yang tidak dikenal.
Nelson menggenggam ponsel dalam tangan sambil berpikir. Dia tidak telpon balik, tapi nomornya disave dengan nama Hantu. Karena pemilik nomor tidak kirim pesan untuk memperkenalkan diri dan agak mencurigakan.
...~•••~...
...~•○♡○•~...