Zemima dan Arsyad sudah menikah selama dua tahun. Selama itu pula pernikahan mereka baik-baik saja. Apalagi Arsyad juga selalu bersikap baik dan lembut sebagai suami.
Selama itu pula mereka belum di karuniai anak, dan Arsyad tak mempermasalahkan hal itu. Tapi berbeda dengan sang ibu yang menginginkan cucu dengan alasan Arsyad sudah mapan dan memiliki pekerjaan bagus. dia sudah harus punya keturunan.
Namun beberapa bulan terakhir, suaminya sering sekali ke rumah ibunya tanpa mengajak Zemima. Namun suatu hari, saat Arsyad tengah malam pergi diam-diam, Zemima mengikutinya. ternyata Arsyad pulang ke rumah ibunya dan di sambut wanita hamil.
Apa Zemima akan menghancurkan keluarga Arsyad yang sudah membohonginya? padahal pekerjaan bagus yang di dapat Arsyad tak lepas dari bantuan Zemima. Mereka tidak tahu kalau Zemima adalah pewaris tunggal perusahaan besar.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yam_zhie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Zemima 19
Sore itu, suasana kantor Vans Holding Company berangsur tenang saat Zemima merapikan berkas-berkas di meja kerjanya. Setelah kesepakatan dua triliun dengan Rayhanan resmi ditandatangani, Zemima memutuskan untuk menyelesaikannya lebih cepat. Rencana pembalasan bertahapnya sudah dirancang dengan amat presisi.
Zemima memanggil Maya ke ruangannya.
"Maya, tolong mampir ke toko kue premium di Senopati," perintah Zemima tenang namun tegas. "Beli dua hampers kue kering paling mahal dan custom cake berlapis gold leaf edisi terbatas. Pastikan kemasannya mencolok, berlogo emas tebal, dan terlihat sangat bernilai jutaan rupiah."
Maya tersenyum mengerti. "Baik, Bu Zemima. Ada pesan khusus untuk kartu ucapannya?"
"Tulis saja: 'Dari Zemima untuk Ibu Mertua Tersayang'. Biar mereka tahu manisnya kue itu sama pekatnya dengan racun yang sedang mereka telan," ujar Zemima dengan nada datar, namun matanya berkilat dingin.
"Baik, Bu Zemima... Semiga saja mereka segera sadar siapa anda sebenarnya! Sejujurnya kemarin itu saya gemas sekali..." jawab Maya yang memang masih menyimpan ras kesal. Zemima malah terkekeh dengan ucapan asistennya.
"Kamu rupanya bisa emsional juga, Maya!"
Pukul lima sore, Zemima tiba di rumahnya lebih dulu. Ia tidak membuang waktu untuk bersiap-siap. Jika selama ini di depan keluarga mertuanya ia selalu tampil sangat sederhana, bersahaja, dan tidak pernah memamerkan kekayaannya sebagai CEO utama Vans Holding Company demi menjaga perasaan Arsyad, maka sore ini aturan mainnya berubah total.
Zemima memilih gaun midi bahan silk crepe berwarna emerald green buatan perancang busana ternama yang membungkus tubuh elegannya secara sempurna. Di bahunya, ia menyampirkan tas Hermès Birkin edisi terbatas berwarna krem yang harganya setara dengan satu unit rumah subsidi. Jam tangan Patek Philippe bertahtakan berlian melingkar anggun di pergelangan tangannya, memancarkan pendar kemewahan murni yang tak bisa dipalsukan.
Saat Arsyad baru saja menginjakkan kaki di ruang tamu dengan wajah masih diliputi kecemasan sisa tadi pagi, langkahnya mendadak terhenti kaku. Matanya membelalak menatap istrinya.
"Sayang...?" panggil Arsyad gagap, pandangannya menyapu dari ujung kepala hingga ujung kaki Zemima.
"Kamu... kok penampilannya beda banget sore ini? Tas sama jam tangan itu... bukannya barang koleksi mahal?"
Zemima berbalik perlahan, mengulas senyum anggun yang menawan.
"Kenapa, Mas? Aneh ya? Aku cuma ingin tampil rapi di depan Ibu dan adik-adikmu. Lagipula, sekali-kali memakai barang-barang milikku sendiri kan tidak ada salahnya. Ayo berangkat, nanti kuenya keburu dingin."
Arsyad menelan ludah dengan susah payah. Ada perasaan penasaran juga yang melingkupi pikirannya. Darimana Zemima mendapatkan semua barang itu? Ah mungkin saja itu adalah bawang KW. Dan kue yang di bawa juga sepertinya itu adalah KW. Sekarang mudah sekali bukan mendapatkan barang tiruan. Arsyad mencoba untuk menenangkan dirinya. Dia yang baru pulang bahkan belum sempat mengabari ibunya kalau mereka akan datang.
"Kenapa kamu liatin aku seperti itu? Apa aku tampil jelek hari ini?" Tanya Zemima saat mereka berada di dalam mobil.
"Kamu sangat cantik malam ini, Sayang. Sudah lama juga kita tidak menghabiskan waktu bersama...."
"Hampir empat bulan sih... Bersamaan dengan kamu sibuk dengan proyek di Surabaya itu. Kadang aku merasa menjadi seorang janda tapi bersuami," celetuk Zemima sambil terkekeh.
Arsyad tersenyum canggung, menyembunyikan getaran di jemarinya yang menggenggam erat kemudi. Celetukan "janda bersuami" yang keluar dari bibir Zemima barusan terasa bagai sengatan listrik yang menghantam kesadarannya.
Ia mengulurkan tangan kirinya dari kemudi, merengkuh jemari Zemima yang dihiasi jam tangan berlian itu, lalu mengusapnya penuh kelembutan sebelum mendaratkan kecupan hangat di sana.
"Jangan ngomong gitu dong, Sayang..." bisik Arsyad dengan intonasi lembut bercampur penyesalan yang dibuat-buat.
"Mas tahu Mas salah karena beberapa bulan terakhir ini pikiran Mas tersita penuh buat proyek Surabaya. Tapi demi Allah, Dek, hati Mas nggak pernah berpaling seincipun dari kamu. Semua rasa capek Mas di luar kota itu langsung hilang tiap kali Mas ingat wajah kamu."
Zemima tidak menarik tangannya. Ia biarkan jemari Arsyad menggenggamnya, merasakan betapa dinginnya telapak tangan suaminya di bawah hangatnya pendingin udara mobil.
"Masa sih, Mas? Bawa-bawa nama Tuhan itu berat loh, jangan sampai kamu kualat!" sahut Zemima tenang, kepalanya menoleh menatap paras tampan Arsyad dari samping.
"Tapi kalau aku lihat-lihat, Mas ini makin pintar merangkai kata-kata manis ya. Dulu sewaktu kita baru merintis, Mas kalau panik atau merasa bersalah sukanya diam. Sekarang, makin sibuk makin puitis."
Arsyad tertawa kecil, tawa yang sedikit dipaksakan untuk mencairkan ketegangan. "Ya namanya juga belajar dari pengalaman, Dek. Mas nggak mau bikin istri cantik Mas ini makin ngambek. Apalagi malam ini... kamu beneran kelihatan beda banget. Cantik, anggun, luar biasa bersinar."
Arsyad melirik sekilas ke arah tas Hermès Birkin di pangkuan Zemima dan kotak kue tebal berlogo emas di jok belakang. Benaknya yang sempat dihinggapi panik kini mulai menyusun alibi logis untuk menenangkan dirinya sendiri. Tidak mungkin Zemima beli barang ori seharga rumah tanpa sepengetahuanku, pikir Arsyad dalam hati. Itu pasti barang tiruan kualitas super yang dibeli Maya, atau mungkin persewaan barang mewah untuk kalangan sosialita. Perempuan kan memang sering pamer begitu demi gengsi.
"Kamu beli tas sama jam tangan itu di mana, Sayang?" tanya Arsyad santai, berpura-pura penasaran.
"Bagus banget kembarannya. Kelihatan kaya barang asli yang ratusan juta itu."
Zemima tersenyum tipis, sebuah senyuman penuh makna yang meloloskan kilat ejekan terselubung di matanya.
"Kenapa, Mas? Mas pikir ini barang KW?"
Arsyad mengusap tengkuknya seraya tersenyum canggung. "Ya... bukannya Mas meremehkan, Dek. Cuma kan kita lagi sama-sama mengencangkan ikat pinggang. Mas tahu kamu istri yang bijak dan hemat. Buat apa juga beli barang asli beratus-ratus juta cuma buat dipamerin, kan? Yang penting kan penampilannya rapi dan bikin kamu senang. Apalagi dengan gaji kamu dan Mas yang..."
Zemima tertawa pelan, sebuah tawa merdu yang terdengar sangat geli di telinga Arsyad.
"Kamu memang paling pintar menilai sesuatu ya, Mas," puji Zemima dengan nada manja yang dibuat-buat. Ia mengusap lengan kemeja Arsyad.
"Iya, Mas benar. Buat apa pamer barang mahal kalau uangnya bisa dipakai untuk hal lain yang lebih berguna... misalnya membiayai hidup orang lain, beli kendaraan mewah untuk keluarga, atau... membelikan perhiasan berlian untuk wanita yang sedang butuh bantuan?"
Ckiidd!
Mobil SUV yang dikendarai Arsyad mendadak oleng sedikit sebelum ia menginjak rem dengan agak keras di persimpangan jalan karena terkejut. Napas Arsyad mendadak memburu, matanya membelalak menatap jalanan di depannya sebelum perlahan menoleh kaku ke arah Zemima.
"Maksud kamu apa, Dek?" suara Arsyad menciut, terdengar amat tegang.
Zemima memiringkan kepalanya dengan raut polos yang amat sempurna, mengedipkan matanya lembut.
"Lho? Kenapa kaget gitu, Mas? Mengemudinya yang tenang dong, nanti kue empat juta di belakang bisa rusak."
"Kamu... kamu ngomong apa tadi soal perhiasan berlian sama wanita?" selidik Arsyad dengan tenggorokan yang mendadak kering. Keringat dingin mulai membasahi telapak tangannya di lingkar kemudi.
Zemima mengibaskan tangannya santai, mengurai pegangannya di lengan Arsyad.
"Maksud aku, itu lho... ilustrasi di sinetron yang tadi pagi aku tonton di kantor! Ada suami yang sok hemat di depan istrinya, ngakunya nggak punya uang, eh ternyata di belakang malah membelikan barang-barang mewah buat selingkuhannya. Lucu ya, Mas? Kok ada pria sekebalik itu moralnya."
Arsyad menghembuskan napas lega yang teramat berat, mengusap dadanya yang berdegup kencang seraya mencoba tersenyum kembali.
"Kamu ini ada-ada saja, Dek... bikin Mas kaget aja," ujar Arsyad, suaranya masih sedikit bergetar. Ia kembali menginjak pedal gas, melajukan mobil membelah kemacetan sore Jakarta.
"Pria kaya gitu mah jahat banget. Mas nggak akan pernah kaya gitu sama kamu. Mas cuma punya kamu, cuma cinta sama kamu..."
"Aku percaya kok, Mas," potong Zemima lembut seraya menyandarkan kepalanya di bahu kiri Arsyad.
Di saat Arsyad mengusap kepala istrinya dengan rasa lega karena Zemima yang sellau percaya dan sangat mencintainya.