NovelToon NovelToon
Transmigrasi Si Remaja Berisik: Pangeran Dingin Bisa Dengar Suara Hatiku!

Transmigrasi Si Remaja Berisik: Pangeran Dingin Bisa Dengar Suara Hatiku!

Status: sedang berlangsung
Genre:Transmigrasi / Cinta Istana/Kuno / Fantasi
Popularitas:3.1k
Nilai: 5
Nama Author: heldahell

Xie Yufei (17 tahun), remaja Gen-Z yang hobi julid, tewas tersedak boba dan bertransmigrasi ke zaman kuno menjadi Nona Muda yang lemah lembut.

Demi bertahan hidup, Yufei berakting super anggun dan polos. Namun, dia tidak tahu kalau suara hatinya yang sangat berisik dan penuh istilah modern bisa terdengar jelas oleh Pangeran Mo Cheng yang kejam, kakak kandungnya, dan pelayan setianya!

Kekacauan dimulai saat Yufei membungkuk takzim, sementara isi kepalanya sibuk mengomel: (Buset, ini Pangeran mukanya ditekuk mulu kayak belum bayar kontrakan. Ganteng sih spek drakor, tapi auranya psikopat banget!)

Mendengar itu, sang Pangeran dingin seketika tersedak teh. Di saat Yufei merasa akting polosnya sempurna, orang-orang di sekitarnya justru sedang berjuang setengah mati menahan tawa mendengar isi kepalanya yang super kocak!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon heldahell, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 7: Ruang interogasi dan taktik ujian akhir semester

Setelah insiden racun sianida di Perjamuan Teh Musim Semi yang gagal total, atmosfer Istana Barat menjadi sangat tegang. Pelayan yang menyajikan teh beracun itu langsung diseret ke ruang tahanan bawah tanah oleh pengawal pribadi Pangeran Mo Cheng.

Alih-alih memulangkan Xie Yufei ke kediaman keluarga Xie demi keselamatannya, Pangeran Mo Cheng justru mengambil keputusan yang membuat semua orang heran. Dengan dalih "melindungi saksi kunci dan meminta kesaksian", sang pangeran membawa Yufei masuk ke dalam kompleks militer istana tepatnya ke ruang interogasi khusus yang terkenal dingin dan menyeramkan.

Yufei berjalan mengekor di belakang Pangeran Mo Cheng dengan langkah kaki yang sengaja dibuat gemetar, wajahnya menunduk ketakutan, dan tangannya meremas saputangan merah mudanya erat-erat. Aktingnya sebagai nona bangsawan yang trauma hampir saja mendapat nilai sempurna, kalau saja isi kepalanya tidak seberisik ini:

(Gokil... ini toh yang namanya ruang interogasi zaman kuno? Vibes-nya mirip banget kayak ruangan kepsek pas gue ketahuan bawa HP ke sekolah waktu SMA. Dingin, pengap, mana banyak alat-alat besi serem bergantungan lagi. Tapi bentar, Mas Jenderal kalau dilihat dari belakang gini, pundaknya tegap bener ya. Pinggangnya juga ramping berotot. Duh, jalannya berwibawa banget, berasa lagi catwalk di Paris Fashion Week!)

Pangeran Mo Cheng yang berjalan di depan hampir saja tersandung undukan lantai batu. Dia menarik napas dalam-dalam, menahan otot wajahnya agar tidak berkedut. "Paris Fashion Week? Tempat macam apa lagi itu? Dan bisa-bisanya dia memikirkan bentuk pinggangku di tempat eksekusi seperti ini!"

Pangeran Mo Cheng duduk di kursi giok hitam yang berada di tengah ruangan. Di hadapannya, si pelayan beracun sudah diikat di tiang kayu dengan kondisi gemetar ketakutan. Xie Jian berdiri di sisi kiri pangeran sebagai wakil komandan, sementara Xiao Mei menunggu di luar ruangan dengan cemas karena tidak diizinkan masuk.

"Nona Xie, silakan berdiri di sampingku," ucap Pangeran Mo Cheng dengan suara berat dan dingin. "Aku butuh kau menyaksikan interogasi ini. Siapa tahu ada detail yang kau ingat tentang pelaku yang menyuruhnya."

"B-baik, Yang Mulia..." jawab Yufei dengan suara cicitan kecil yang terdengar sangat rapuh.

Namun, begitu Yufei berdiri di posisi yang ditentukan, dia langsung menatap tajam ke arah pelayan yang diikat itu. Di dalam otaknya, mode detektif dadakan langsung menyala berkat memori pelajaran Sejarah Nasional dan Sosiologi SMA yang mendadak recall.

(Oke, mari kita analisis pakai logika. Pelayan ini gemetaran parah, tapi matanya sesekali ngelirik ke arah jendela luar. Dari gestur tubuhnya yang gelisah tiap kali nama 'Selir Agung' disebut, dia kayaknya sengaja dikorbankan buat jadi kambing hitam. Gak mungkin Selir Agung sebodoh itu ngirim racun pakai nama aslinya terang-terangan di perjamuan terbuka. Ini mah taktik false flag alias adu domba klasik! Siapa faksi yang paling diuntungkan kalau Selir Agung dan keluarga Xie musuhan? Jelas faksi Perdana Menteri Lin!)

Deg!

Pangeran Mo Cheng dan Xie Jian seketika menahan napas secara bersamaan.

Taktik false flag? Adu domba? Pangeran Mo Cheng menatap pelayan itu dengan pandangan yang jauh lebih tajam. Selama ini, intelijen militer miliknya memang mencurigai Perdana Menteri Lin, namun mereka kekurangan bukti konkrit dan selalu terjebak pada petunjuk yang mengarah ke Selir Agung. Analisis instan di dalam kepala Yufei justru langsung membuka tabir kabut yang selama ini membingungkan mereka.

"Cheat code ini benar-benar luar biasa nyata," batin Pangeran Mo Cheng, merasa sangat beruntung telah membawa "ensiklopedia berjalan" ini ke ruang interogasi.

Pangeran Mo Cheng sengaja memancing suasana. Dia menggebrak meja dengan keras. "Katakan! Apakah Selir Agung yang memerintahkanmu untuk meracuni Nona Xie?!" bentaknya, sengaja memberikan umpan lambung.

Pelayan itu langsung menangis histeris. "Benar, Yang Mulia! Hamba hanya menjalankan perintah dari kediaman Selir Agung! Hamba tidak tahu apa-apa lagi!"

Xie Jian diam-diam melirik adiknya, menunggu "siaran langsung" analisis berikutnya. Dan benar saja, Yufei langsung mencibir habis-habisan di dalam hati.

(Tuh, kan! Jawabannya cepet banget kayak bocah yang udah ngafalin kunci jawaban sebelum Ujian Akhir Semester! Kalau emang dia setia sama majikannya, minimal ada fase denial atau ketakutan dulu sebelum ngaku. Ini mah kayak dapet teks skrip dari sutradara. Mana pas ngomong kata 'Selir Agung', intonasinya agak dipaksain. Fix, ini mata-mata bayaran yang keluarganya pasti lagi disandera sama Perdana Menteri Lin buat tutup mulut!)

Mendengar frasa "kunci jawaban Ujian Akhir Semester" dan "teks skrip sutradara", Pangeran Mo Cheng menahan senyum tipisnya. Namun informasi tentang "keluarga yang disandera" langsung membuat insting militernya bergerak cepat.

Pangeran Mo Cheng langsung berdiri, menatap dingin ke arah pelayan itu, lalu menoleh ke arah Xie Jian. "Xie Jian, bawa pasukan rahasia. Geledah pinggiran kota sektor barat, cari seluruh anggota keluarga dari pelayan ini dalam waktu dua jam. Pastikan mereka selamat."

Pelayan yang diikat itu seketika membelalakkan mata dengan wajah pucat pasi. Dia tidak menyangka Pangeran Mo Cheng bisa menebak titik kelemahannya dengan begitu akurat, padahal dia belum mengatakan sepatah kata pun tentang keluarganya!

"B-baik, Yang Mulia! Hamba laksanakan sekarang juga!" ucap Xie Jian dengan semangat membara, langsung melesat keluar ruangan setelah mendapat petunjuk emas dari isi kepala adiknya.

Sementara itu, Yufei yang sama sekali tidak sadar kalau analisis batinnya baru saja dicontek mentah-mentah, hanya bisa melongo di dalam hati dengan wajah polosnya yang pura-pura takut di luar.

(Loh? Kok Mas Jenderal bisa tahu kalau keluarga itu pelayan disandera di pinggiran kota barat? Padahal pelayannya belum ngomong apa-apa? Wah... gila sih, ini Mas Jenderal bukan cuma modal tampang aktor Oscar doang, tapi otaknya juga setara Albert Einstein ditambah kekuatan dukun sakti! Bisa baca pikiran orang apa gimana sih?! Serem tapi kok makin hot ya, bund...)

Uhuk!

Pangeran Mo Cheng yang baru saja ingin melangkah mendekati Yufei, kembali tersedak udara kosong untuk yang kesekian kalinya. Wajahnya yang dingin mendadak berubah menjadi merah samar karena frustrasi sekaligus salah tingkah mendengar pujian "serem tapi hot" dari gadis ajaib di depannya ini.

1
paijo londo
🤣🤣🤣🤣🤣🤦🤦🤦🤦kocak....kocak
paijo londo
🤭🤭🤭yeee pangeran mo Cheng salah tingkah tuh
Siskasuryaningsih
bagus thor, tapi jangan terlalu lebay iya thor, mcam novel mu yg lalu
heldahell: novelku yg mana ya kak? apa udah ku hapus ya?
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!