Di tinggal meninggal dunia oleh suami bukan keinginanku. namun terkadang ketika sebuah pilihan datang manusia tidak dapat menolaknya.
Saat pak Burhan dan Bu Salma menemui ku, agar aku menikahi anaknya Prasetio yang sudah beristri aku tidak punya jalan lain kecuali menerimanya.
karena keterbatasanku dalam mencari nafkah, dan demi menolong Prasetio yang kata ibunya butuh pendamping lantaran istrinya sakit parah.
Disinilah letak kesalahanku, tetapi ternyata justru kesalahanku ini adalah petunjuk terang tentang kematian ibuku.
Suatu hari tak sengaja aku menemukan selembaran dokumen, yang tercantum nama ayahku di lemari Pak Burhan, akhirnya sejarah kelam masa lalu terbongkar, aku tahu siapa sebenarnya suamiku Prasetio, Pak Burhan, Prilia istri pertama suamiku, ibunya Prilia, dan Bu Salma ibu mertuaku.
Ada apa sebenarnya di balik kematian ibuku?
Bagai mana selanjutnya hubunganku dengan Prasetio setelah semua terkuak?
Simak kisah panjangku dalam WANITA YANG TIDAK LAGI SAMA
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon aina susiyanti77, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kekosongan Pemimpin
"Terima kasih banyak sudah menemani langkahku sampai di bab ini. Mari sejenak melihat ke belakang masa lalu ku, saat Prasetio memutuskan pergi, hanya meninggalkan selembar kertas putih, pesan untukku, Maya istri keduanya.
************************************************
Aku membaca surat itu.....
Maya saat kau baca surat ini mas sudah jauh pergi, mas dan ayah akan menebus dosa dan kesalahan kami, kau baik baiklah di rumah, bukan mas dan ayah tidak mau tinggal, tapi kami tidak pantas lagi berada si sana.
kamu tetap istriku, selama kamu tidak minta, mas tidak akan pernah menceraikan, namun bila suatu hari nanti kau bertemu seseorang yang jauh lebih baik, kalau kau ingin menikah mas tidak akan melarang mu.
Prasetio
Aku tidak bereaksi apapun atas surat yang di tinggalkan oleh Pras suamiku itu. Tidak ada rasa sedih karena dia pergi, tidak juga empathy.
Entahlah apakah karena selama ini aku terlalu banyak memendam rasa sakit, tapi aku juga tidak gembira atas kepergiannya.
Atau sebenarnya aku benci dan dendam padanya? karena keluarga Prasetio yang kerja sama dengan ibunya Prilia yang ternyata adalah ibu tiriku, dan Prilia yang justru masih terhitung saudariku beda ibu. Aku menarik nafas panjang melepaskan beban berat yang ada di dadaku
Ingatanku kembali melayang pada sosok Pak Burhan, ayah mertuaku itu sudah membuktikan perjuangannya membelaku, dan bersikap seperti laki laki kesatria yang mau jujur menceritakan semua yang terjadi di masa lalu yang aku sama sekali tidak tahu.
Aku merenung membaca kembali bait-bait tulisan itu, tapi sebenarnya Prasetio pun tidak tahu apa-apa tentang masa lalu itu, ternyata Pak Burhan dan Bu Salma tidak pernah memberitahu tentang Pak Hendra ayahku yang menjalankan usaha keluarga ini, apa lagi Prilia yang sebenarnya sangat tahu siapa aku karena pikiran dan hatinya yang sudah di penuhi sifat Iblis itu, semakin memanfaatkan keadaan.
Dia sengaja meminta Pak Burhan agar Prasetio menikahi ku, hingga tetangga dan semua kerabat bebas memanggil ku dengan sebutan 'pelakor' demi menyiksa mentalku, namun tujuan utamanya dia ingin membunuhku.
Seperti Ibuku yang dulu berpulang pelan pelan setelah minum jamu sepesial dari Bu Salma atas perintah ibunya Prilia istri pertama ayahku, Ibunya Prasetio, dan terhitung Ibu mertuaku. Benar benar satu putaran keluarga dengan masalah yang rumit.
Aku menghela nafas panjang, "Bu Halimah aku bukan Ibuku yang terlalu polos dan baik hati itu, hingga kau bisa merampas semua darinya, termasuk merusak masa depanku, hari ini masa depan yang kau ambil itu kini aku tarik kembali, akan ku putus karma ini agar tidak ada kejadian pada anak anak ku. " Janjiku dalam hati.
Ku lirik jam dinding yang menggantung di sudut ruangan tempat di sana ku pajang foto anak -anakku Siska dan rian, jam menunjuk kan pukul enam tepat sudah pagi ternyata, batinku.
Siska yang kemarin tubuhnya sudah normal kembali karena demam, tapi karena syok atas datangnya dua penyusup yang masuk ke rumah Bu Aminah di siang itu, malam harinya anakku itu kambuh lagi demamnya.
Ku tempelkan telapak tanganku di keningnya, "Alhamdulilah badan nya sudah normal kembali. " ucapku menarik nafas lega.
"Siska." ucapku lembut membangunkan putri sulungku itu.
"Siska bangun nak. " Ku ulang sekali lagi seraya menepuk nepuk punggungnya pelan. Siska perlahan membuka kan matanya dengan pandangan nya sangat lugu. " Iya bu? " Jawabnya sambil mengucek ke dua matanya yang belum terbuka semua.
"Bagai mana badan Siska sudah enakan belum?" Tanyaku lembut.
"Sudah Bu, Siska sudah tidak pusing lagi, Siska mau sekolah hari ini. " Ucapnya.
"Oh ya sudah kalau sudah tidak pusing lagi, sekarang Siska bangun dan mandi ya? "
"Iya bu. " jawabnya pelan ku tinggal anakku yang masi di kamar bersama Rian yang masih tidur, sengaja aku tidak membangunkan nya terlalu pagi kalau dia harus bangun sekarang, paling nanti hanya nangis minta gendong.
Aku melangkah ke dapur melakukan aktifitas seperti biasa, tapi pagi ini ada yang kurang, tidak ada lagi Pak Burhan ayah mertuaku, yang biasanya tiap pagi ku buatkan teh hangat, sarapan nya kadang minta nasi goreng kesukaannya.
Atau minta di belikan nasi uduk yang di jual di perempatan jalan. Tapi sekarang pagi ini aku hanya menyiapkan cuma buat keperluan kami bertiga.
Aku sudah menyusun rencana hari ini bertemu Pak Baskoro ke kantor CV ABADI PERMAI guna mengesahkan tentang dokumen kepemilikan asli. Sekalian meninjau langsung perkebunan yang selama ini di kelola Prasetio.
"Ibu." Terdengar suara kecil serak dan manja di belakang. Hem sudah bangun saja si bocil ini pikirku, pasti minta susu.
"Ibu, Ian mau susu haus. ", benar saja tebakanku batinku tersenyum.
"Iya bentar ini ibu buatin, Rian duduk dulu di kursi itu ya sayang. "Rian mengangguk
Aku membuat tiga gelas minuman hangat buat Siska dan Rian, aku cukup minum teh saja, dan memasak mi instan buat kami sarapan.
Tiba tiba aku teringat uang satu juta yang kemarin aku pinjam dari Ibu Aminah untuk pegangan, ku pikir akan memerlukan uang untuk mengurus segala dokumen penting itu, ternyata semua sudah di persiapkan matang oleh ayahku, akan ku kembalikan uangnya nanti sekalian aku nitip Rian dulu karena akan ke kantor bersama Pak Baskoro.
Setelah siap ku berikan susu hangat pada Rian, dan meletakkan dua porsi mi goreng instan di atas meja, buat Siska sarapan.
" Siska sudah belum mandinya kalau sudah cepat sarapan dulu sini. " Panggilku pada putri sulungku itu.
"Iya Bu sudah siap. " terdengar jawaban dari arah kamar dan langkah kaki mendekat ke arah ku, siska sudah siap lengkap dengan seragam sekolahnya, Putriku itu langsung menyantap sarapan yang sudah sedia di atas meja.
"Rian kita mandi dulu ya, nanti Rian sama Mbah Mina lagi ya, Ibu mau ada urusan dulu sebentar." Bujuk ku halus
"Ibu mau ke mana? " Sela Siska.
"Ibu ada urusan dulu nak, nanti kalau Siska pulang sama bang Ujang ya langsung ke rumah Mbah Mina, mulai sekarang Siska ibu pesankan ojek langganan nak, jadi Siska tidak perlu jalan kaki lagi. " Jelas ku.
"Benar Bu. " Siska berteriak gembira.
"Iya Sis, Ibu janji mulai sekarang Siska tidak akan kelaparan lagi. " Aku tersenyum getir mengingat semua kejadian kemarin, transferan uang satu juta itu masih terukir jelas dalam ingatanku, bagai mana Prilia menghinaku, dan Prasetio suamiku itu, hanya iya iya saja manut apapun yang di ucapkan Prilia.
"Hem." Tidak sengaja aku menghembuskan nafas dengan sinis, padahal uang yang di kirim kan mereka itu adalah uangku sendiri, batinku.
Aku meninggalkan Siska yang sedang sarapan menggendong Rian menuju kamar mandi. Dengan tenang ku mandikan si bungsuku dengan telaten, tidak lupa menyikat giginya, lalu menuangkan sampo di kepalanya.
"Harum ibu harum. " teriaknya gembira, sambil memukul mukul air yang ku guyur pelan di kepala membasahi rambutnya.
Setelah selesai aku langsung mengeringkan Rian dengan handuk lalu menggendong nya ke kamar, membuka lemari mengambil pakaian bersih nya dan memakaikan langsung.
Terdengar suara motor berhenti di depan rumah, sambil menggendong Rian aku melangkah keluar kamar lalu menuju pintu depan dan keluar halaman, ternyata Siska sudah menunggu di luar lengkap dengan tas nya.
"Bang nanti tolong jemput Siska pulang sekolah jam dua belas ya, antar ke rumah Bu Aminah langsung ya bang. " ujarku pada tukang ojek yang kemarin ku pesan untuk berlangganan.
"Iya mbak siap. " Jawab si tukang ojek ramah.
Siska pamit dengan mencium tanganku, lalu menuju ke arah motor dan naik di jok belakang.
"Ibu, Siska pergi ya. " pamitnya.
"Iya, hati-hati di jalan ya, Sayang. Nanti pulangnya langsung ke rumah Mbah Mina sesuai pesan Ibu tadi."
"Iya, Bu!" Siska tersenyum ceria, sambil melambaikan tangan nya.
Aku kembali masuk ke dalam rumah tidak lupa menutup pintu, melirik jam dinding yang tergantung di ruang keluarga waktu cepat sekali berputar, batinku.
"Aku menurunkan Rian di kursi lalu menghidupkan televisi, " Rian duduk di sini ya, ibu setelkan Upin Ipin, Rian nonton TV ya nak Ibu mau mandi sebentar. " Pintaku pada Rian
Dia mengangguk, lalu ku hidupkan televisi memilih canel khusus pilem anak anak, lalu ku tinggal ke kamar mandi.
Proses mandi ku tidak memakan waktu lama, karena pikiranku sudah tertuju pada Pak Baskoro, dan CV ABADI PERMAI.
Dengan gerak cepat setelah menyiram semua tubuh yang sudah ku lumuri sabun mandi, ku keringkan tubuhku, lalu melangkah ke kamar berganti baju. Setelah selesai aku kembali ke ruang keluarga.
"Rian ayo kita ke rumah Mbah Aminah nak, Rian di sana dulu ya, tunggu Ibu, Ibu ada keperluan sebentar, nanti pulangnya Ibu beli es krem buat Rian mau kan? " bujuk ku.
"Iya iya mau horee es krem. " Ujarnya sambil meloncat girang. Aku langsung mematikan televisi, membawa uang satu juta yang ku pinjam kemarin, untuk ku kembalikan pada Bu Aminah, tak lupa mengunci pintu terlebih dahulu.
Halaman rumahku dengan Bu Aminah hanya di pisahkan pagar kayu saja yang sudah lapuk pula, ku lihat wanita baik hati itu sedang menyapu halaman di luar.
"Mbaaaah." Rian langsung berteriak memanggil manja saat di lihatnya Bu Aminah di halaman.
"Eh cucu mbah sudah ganteng mau ke mana? " Tanyanya ramah dan penuh kasih sayang.
"Ibu mau beli ice krem, Rian di sini dulu sama mbah kata Ibu tadi. " langsung saja anak ku itu memberi laporan.
"Kamu mau ke mana May? " Tanya Bu Aminah yang sudah seperti ibuku itu.
"Aku mau pergi menemui Pak Baskoro lagi Bu, rencanaku hari ini mau lihat langsung ke kantor CV ABADI PERMAI karena Prasetio sudah pergi, jadi sekarang kantor itu tentu saja sedang terjadi kekosongan pemimpin. '' Jelas ku.
" Aku hawatir Prilia dan yang lain lain mengambil tindakan negatip, karena Mas Pras nampaknya sudah tidak mau perduli lagi dengan semua urusan perusahaan, bahkan dia pergi hanya mengajak Ayah, tanpa selembar uang pun Bu. " Jelas ku.
"Ah kasihan Pak Burhan, tapi mungkin ini sudah menjadi jalan nya May. " Ucap Buk Aminah berempati.
"Dut dut dut. "
ponsel di dalam tasku terdengar berdering, aku segera membukanya nama Pak Baskoro tertera di sana memanggil lewat panggilan.
"Iya Pak Baskoro hallo, baru saja saya mau menuju ke kantor bapak sekarang. " jawabku dari dalam ponsel.
"Tidak usah ke kantor Saya May, biar bapak yang jemput kamu di rumah, kita langsung menuju kantor pusat CV ABADI PERMAI, bapak dengar kantor itu setelah Prasetio tidak ada kabar, terjadi kekacauan." Ucapnya dari dalam telpon.
"Kamu sebagai pemilik asli harus segera membenahi kekacauan ini, kalau tidak perusahaan yang susah payah di rintis oleh kakek, dan ayahmu itu akan hancur_
berantakan. " Tegasnya.
"Baik pak saya sudah siap, saya tunggu di depan rumah pak. " jawabku
"Ok." Lalu ponsel pun putus.
"Ah kekacauan apa ini, sepertinya aku sudah langsung di beri PR saja."
Bersambung
kyknya pribahasanya ; "karena setitik TINTA, rusak susu sebelahnya"
atau sudah ganti di era digital?
sekarang prasetyo yg berlutut, lantainya keramik.😇😇😇😇😇