Lyana Shaqiera, mahasiswi fakultas hukum.
Di tahun keduanya menempuh pendidikan, Qiera justru mendapat gelar baru. Bukan gelar Sarjana Hukum, melainkan "istri" dari dosennya, tepatnya dosennya yang sangat menyebalkan, Ravian Aryasatya?!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon syshy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
MAL10. Terima Kasih, Mas
"Qiera, sebenarnya kamu punya hubungan apa sama Pak Ravian?”
Pertanyaan Nisa masih menggantung di antara mereka, membuat Qiera merasa seolah seluruh rahasia yang selama ini dijaganya akan terbongkar hanya dalam satu percakapan.
Ia menatap sahabatnya dengan senyum kaku, sementara pikirannya sibuk mencari jawaban yang terdengar masuk akal. Sayangnya, semakin keras ia berpikir, semakin banyak pula kemungkinan buruk yang bermunculan di kepalanya.
“Hubungan apa, maksudmu?” Qiera berusaha terdengar santai. Ia bahkan sempat meneguk minumannya agar punya waktu beberapa detik untuk menyusun kalimat. “Ya, hubungan dosen dan mahasiswa. Emangnya apa lagi?”
Nisa menyipitkan mata. “Jangan jawab seolah-olah aku baru bertanya apakah langit itu biru. Aku tahu kalian dosen dan mahasiswa. Yang aku tanyakan kenapa belakangan ini kamu terlihat seperti menyimpan sesuatu?”
“Aku memang menyimpan sesuatu.”
Nisa langsung menegakkan tubuh. “Tuh kann! Apa?”
“Rahasia resep mi goreng Mama.”
Hening.
Nisa menatapnya tanpa ekspresi selama beberapa detik sebelum akhirnya mengembuskan napas panjang. “Qiera, aku serius.”
“Aku juga serius! Kamu belum pernah makan mi goreng buatan Mama, jadi kamu tidak tahu betapa pentingnya resep itu.”
“Lyana Shaqiera..”
Qiera meringis ketika Nisa menyebut nama lengkapnya. Kalau sudah begini, biasanya sahabatnya itu tidak akan berhenti sampai mendapatkan jawaban yang memuaskan. Mereka sudah berteman cukup lama untuk mengetahui kapan salah satu dari mereka sedang menghindari topik tertentu. Dan hari ini, Qiera jelas-jelas sedang menghindar.
Nisa menyilangkan tangan. “Kemarin aku melihat Pak Ravi di rumah sakit. Setelah kupikir-pikir, aku juga merasa pernah melihat mobil yang sama menjemputmu. Terus, setiap kali aku bertanya kenapa kamu buru-buru pulang, jawabanmu selalu berubah-ubah. Sekarang kamu malah kelihatan panik hanya karena aku bertanya tentang beliau.”
“Aku engga panik.”
“Tapi sekarang kamu meremas gelasmu.”
Qiera segera melonggarkan genggaman tangannya. “Ini gelas plastik. Memang gampang penyok.”
Nisa memejamkan mata sebentar, seolah sedang mengumpulkan kesabaran. “Baik. Aku ngga bakal maksa kamu cerita kalau emang belum mau. Tapi kalau ada sesuatu yang buat kamu ngga nyaman, kamu bisa bilang aku, ya? Aku sahabatmu.”
Kalimat terakhir itu justru membuat dada Qiera terasa sesak. Ia tahu Nisa tidak sedang berniat menghakiminya. Sahabatnya itu benar-benar khawatir, dan mungkin itulah yang membuat kebohongan kecil yang baru saja ia lontarkan terasa semakin berat.
“Aku tahu,” jawab Qiera lebih pelan. “Aku cuma... belum bisa cerita sekarang.”
Nisa mengamati wajahnya, lalu akhirnya mengangguk. “Oke. Aku tunggu sampai kamu siap. Tapi jangan sampai aku tahu dari orang lain kalau ternyata kamu sedang menghadapi masalah besar.”
Qiera memaksakan senyum. “Ngga akan.”
Ia berharap janji itu tidak akan menjadi sesuatu yang harus ia sesali nanti.
Setelah Nisa pamit pulang, Qiera tetap duduk di bangku taman fakultas selama beberapa menit. Ia memandangi layar ponselnya, membuka percakapan dengan Ravi, lalu mengetik sebuah pesan sebelum menghapusnya lagi. Ia ingin bertanya bagaimana cara menghadapi teman yang mulai curiga, tetapi bagaimana mungkin ia menjelaskan persoalan itu tanpa membuat Ravi ikut memikirkannya?
Akhirnya, ia hanya mengirim pesan singkat.
Mas, nanti pulang jam berapa?
Balasan Ravi datang beberapa menit kemudian.
Sekitar pukul lima. Ada apa?
Qiera menatap layar cukup lama sebelum menjawab.
Ngga ada. Cuma tanya.
Baik. Jangan lupa makan siang.
Qiera mendengus kecil. Bahkan melalui pesan singkat pun, Ravi masih sempat mengingatkannya untuk makan. Ia meletakkan ponsel di pangkuan, lalu menyandarkan kepala ke bangku. Entah mengapa, membaca pesan sederhana itu sedikit mengurangi kegelisahannya.
Setidaknya, ada satu orang yang bisa ia ajak bicara ketika waktunya tiba. Ia hanya belum tahu kapan keberanian itu akan muncul.
...🌇🌇🌇...
Menjelang sore, Qiera kembali disibukkan oleh urusan BEM. Laporan dugaan pelecehan yang sebelumnya mereka kawal mulai memasuki tahap penting.
Setelah pemeriksaan dan pengumpulan bukti dilakukan oleh pihak berwenang di kampus, dosen yang dilaporkan akhirnya ditetapkan sebagai tersangka dan proses hukum berlanjut. BEM tetap berkoordinasi dengan pihak fakultas untuk memastikan mahasiswa yang melapor mendapat perlindungan serta tidak mengalami tekanan selama proses berlangsung.
Qiera membaca ulang pengumuman resmi yang akan disampaikan kepada mahasiswa. Ia memastikan tidak ada informasi pribadi pelapor yang tercantum, sementara Arga memeriksa kembali jadwal dan prosedur yang telah disepakati bersama pihak fakultas.
“Sudah aman?” tanya Arga sambil menarik kursi di sebelahnya.
Qiera mengangguk. “Aku sudah memeriksa tiga kali. Tidak ada identitas pelapor, dan kalimatnya juga tidak menyimpulkan sesuatu di luar pernyataan resmi.”
“Bagus. Kita ngga boleh membuat informasi yang beredar justru merugikan mahasiswa yang melapor.”
“Aku setuju. Kita harus memastikan mereka tahu bahwa prosesnya tetap berjalan, tanpa membuat mereka merasa menjadi tontonan.”
Arga tersenyum tipis. “Itu sebabnya aku tenang kalau kamu yang memeriksa dokumen.”
Qiera mengangkat wajah. “Karena aku teliti?”
“Karena kamu akan mengomeliku kalau aku salah satu kata saja.”
Qiera tertawa. “Setidaknya Kak Arga sadar.”
Arga ikut tertawa sebelum kembali memusatkan perhatian pada berkas. Hubungan mereka memang sudah lama seperti itu, saling mengingatkan, berdebat soal keputusan organisasi, kemudian kembali bekerja tanpa menyimpan persoalan pribadi. Bagi Qiera, Arga adalah senior yang bisa diandalkan. Tidak lebih, tidak kurang.
Namun, bagi beberapa mahasiswa yang kebetulan melihat mereka dari luar sekretariat, kedekatan itu tampak berbeda.
“Ketua sama wakilnya cocok banget, ya,” bisik seorang anggota BEM kepada temannya.
“Dari dulu juga begitu. Tinggal tunggu salah satunya ungkapin perasaan.”
Qiera yang mendengar percakapan itu langsung menoleh. “Aku masih bisa dengar, ya!”
Keduanya tertawa canggung, lalu buru-buru berpura-pura sibuk. Arga hanya menggeleng sambil tersenyum, sudah terbiasa dengan godaan serupa.
“Jangan dimasukkan ke hati,” katanya.
“Aku engga memasukkannya ke hati. Aku cuma heran kenapa orang-orang lebih tertarik jodohin kita daripada bantu selesaikan pekerjaan.”
“Mungkin karena pekerjaan kita terlalu membosankan buat dijadikan bahan gosip.”
“Kalau begitu, besok aku beri mereka tugas menyusun kronologi kasus. Biar tahu betapa engga romantisnya pekerjaan kita.”
Arga tertawa lagi, dan Qiera ikut tersenyum sebelum kembali menunduk pada dokumennya.
Di lantai yang sama, Ravi baru saja keluar dari ruang dosen setelah menyelesaikan konsultasi akademik. Ia sempat melewati sekretariat BEM dan melihat Qiera tertawa bersama Arga. Langkahnya melambat sesaat, tetapi ia segera melanjutkan perjalanan ketika menyadari dirinya terlalu lama memperhatikan.
Ia tidak punya alasan untuk merasa terganggu. Qiera sedang bekerja, Arga adalah ketua BEM, dan keduanya memang harus berkoordinasi dalam menangani masalah yang cukup serius. Tidak ada yang salah dari pemandangan itu.
Tetap saja, saat kembali ke ruangannya, Ravi mendapati dirinya teringat pada tawa Qiera yang tadi terdengar dari lorong.
Ia menatap berkas di atas meja, kemudian menghela napas pelan. “Tidak masuk akal,” gumamnya kepada diri sendiri.
Sayangnya, ia tahu betul bahwa perasaan tidak selalu menunggu seseorang menemukan alasan yang masuk akal sebelum muncul.
...⏳...
Pukul lima lewat sedikit, Ravi tiba di apartemen. Ia menemukan Qiera duduk di sofa dengan laptop terbuka dan beberapa lembar dokumen BEM di atas meja. Perempuan itu mengangkat kepala ketika mendengar pintu terbuka, lalu segera menutup laptopnya.
“Mas sudah pulang?”
“Seperti yang saya bilang tadi.” Ravi meletakkan tas kerjanya. “Kamu belum selesai?”
“Sebentar lagi. Aku cuma perlu memastikan jadwal pertemuan berikutnya.”
Ravi melirik dokumen yang bertumpuk. “Jangan bekerja sampai malam lagi. Kamu masih belum sepenuhnya beristirahat setelah semalam di rumah sakit.”
Qiera mendengus. “Mas selalu anggap aku gampang tumbang.”
“Saya menganggap kamu sering lupa kalau tubuhmu juga punya batas.”
Kali ini Qiera tidak langsung membantah. Ia teringat malam panjang di rumah sakit, bagaimana Ravi mengangkatnya ke sofa, dan bagaimana pria itu tetap berada di sampingnya meski jelas-jelas kelelahan. Ada banyak hal kecil yang mulai ia perhatikan belakangan ini, hal-hal yang dulu mungkin akan ia anggap biasa saja.
“Mas,” panggilnya setelah jeda singkat.
“Ya?”
“Terima kasih, ya. Untuk semalam. Dan... karena sudah memindahkanku ke sofa.”
Ravi yang sedang membuka jam tangannya menoleh. “Sudah kamu ucapkan tadi pagi.”
“Aku tahu. Tapi aku belum sempat mengatakannya dengan benar.”
Untuk beberapa detik, Ravi hanya menatapnya. Kemudian ia meletakkan jam tangan di meja dan berjalan mendekat.
“Saya tidak keberatan melakukannya, Lily.”
Panggilan itu terdengar begitu lembut sehingga Qiera justru kehilangan keberanian untuk menatapnya lama-lama. Ia buru-buru meraih laptopnya lagi, pura-pura memeriksa sesuatu yang sebenarnya sudah selesai sejak tadi.
“Kalau begitu, aku lanjut kerja sebentar.”
“Lima belas menit.”
“Mas!”
“Sepuluh menit kalau kamu mulai sekarang.”
Qiera menatapnya kesal. “Ini bukan negosiasi!”
“Kalau begitu, lima menit.”
“Mas Ravi, aku benar-benar—”
“Lima belas menit,” potong Ravi, kali ini dengan senyum kecil. “Setelah itu makan malam.”
Qiera mengembuskan napas panjang, lalu kembali menunduk sambil bergumam bahwa suaminya adalah orang paling menyebalkan yang pernah ia kenal. Ravi mendengarnya, tentu saja, tetapi memilih tidak menanggapi. Ia pergi ke dapur untuk menyiapkan makan malam sederhana, meninggalkan Qiera yang diam-diam tersenyum sendiri di balik layar laptopnya.
Untuk beberapa saat, apartemen itu terasa hangat dan tenang. Namun tak satu pun dari mereka tahu bahwa ketenangan itu akan berganti menjadi insiden besar esok hari.
.
.
To be continued
See you🍀
saling support yuk,
biar semangat nulisnya😊