Sebagian besar cerita berdasarkan TEORI KONSPIRASI ELIT GLOBAL nyata.
(SERI KE 7 DARI UNIVERSE NOVEL TIRAKAT)
Sepuluh tahun berlalu.
Kini Harumi bertugas sebagai penyidik Jatanras, sementara Haruma menjadi dokter forensik kepolisian. Di balik meja autopsi dan olah TKP, dua bersaudara ini menghadapi serangkaian pembunuhan sadis dan aneh.
Petunjuk misterius pada jasad para korban membawa mereka membongkar konspirasi gelap sebuah keluarga Taipan (penguasa bisnis) yang diam-diam menjadi bagian dari sekte penyembah iblis internasional bernama "THE ONE".
Berbekal keahlian forensik, analisis hukum, serta mata batin spiritual, Haruma dan Harumi berjuang meruntuhkan cengkeraman sihir hitam dan kekuasaan elit global demi menegakkan keadilan.
Sanggupkah mereka berdua menghentikan sekte penyembah iblis "THE ONE" tersebut?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DENI TINT, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 17 (KASUS 1) KEMATIAN FRIDA YANG ANEH DAN MENDADAK
Suara derit kursi kayu yang bergeser nyaring memecah keheningan yang mencekam di dalam ruang rapat utama. Ipda Harumi melangkah tegap menuju pintu utama, memutar tubuhnya menghadap seluruh petinggi yang ada di dalam ruangan.
"Komandan Kasat, Kombes Supriyadi..." panggil Harumi dengan intonasi suara tegas dan penuh rasa hormat. "Izin, Komandan. Demi menjamin kebebasan dan keamanan saksi kunci dalam memberikan kesaksian tanpa adanya rasa tertekan atau intimidasi, saya memohon agar seluruh pihak yang tidak berkepentingan berkenan meninggalkan ruangan ini untuk sementara waktu."
Budiarto yang baru saja merapikan letak kacamatanya seketika melonjak berdiri dari kursi. Wajah borjuisnya memerah padam.
"Tidak bisa begitu!" protes Budiarto dengan nada suara melengking tinggi. "Saya adalah kuasa hukum resmi perusahaan! Saya berhak mendampingi setiap pemeriksaan yang melibatkan staf atau karyawan PT Cipta Buana Investco!"
Harumi menatap Budiarto dengan pandangan dingin yang menohok.
"Pak Budiarto, Saudari Frida Valery baru saja menyatakan secara terbuka bahwa jiwanya terancam dan ia bersedia membongkar fakta di bawah perlindungan kepolisian," pangkas Harumi tanpa ragu. "Kehadiran Anda dan jajaran direksi di ruangan ini secara nyata memicu tekanan psikologis berat bagi saksi. Jika Anda tetap memaksa bertahan, saya akan mencatat tindakan Anda sebagai bentuk perintangan penyidikan!"
"Kamu...!" Budiarto menunjuk Harumi dengan jari gemetar, kehabisan kata-kata.
Kombes Supriyadi berdiri dari kursi pimpinan, mengibaskan tangannya dengan komando tegas. "Cukup, Budiarto! Dengarkan instruksi penyidik! Aipda Rudi, kawal Saudara Budiarto dan para direksi keluar menuju ruang tunggu penyidik!"
"Siap, Komandan!" jawab Aipda Rudi sigap.
Penyidik senior itu melangkah maju bersama dua anggota Jatanras, membentengi Budiarto dan sang Direktur Utama. Dengan wajah yang amat gusar dan bersungut-sungut, Budiarto terpaksa menyambar tas kulit mahalnya lalu melangkah keluar ruangan diikuti oleh jajaran direksi. Kombes Supriyadi dan Kasat Reskrim ikut melangkah keluar untuk memantau dari balik kaca satu arah ruang pemantau.
Klak!
Aipda Rudi menutup pintu kayu tebal ruang rapat dari luar, meninggalkan keheningan yang menenangkan. Kini, di dalam ruang berpendingin udara yang luas itu, hanya tersisa tiga orang: Ipda Harumi, dr. Haruma, dan Frida Valery.
dr. Haruma melangkah mendekati meja sudut, mengambil sebuah cangkir keramik bersih lalu mengisinya dengan air putih hangat dari dispenser. Dengan langkah anggun dan penuh kelembutan, Haruma mendekati Frida yang masih duduk gemetar di kursinya.
"Minum dulu air hangatnya ya, Frida..." ujar Haruma dengan suara yang sangat lembut dan menenangkan.
Frida menengadah, menatap Haruma dengan mata yang sembap oleh air mata. Jemari tangannya yang kurus menerima cangkir keramik tersebut dengan gemetar.
"T-terima kasih, Dokter..." bisik Frida parau. Ia meminum air hangat itu beberapa tegukan, mencoba menetralkan rasa sesak di dadanya.
Harumi menarik kursi kayu di samping Frida, lalu duduk dengan posisi tubuh yang sangat ramah. Wajah garang sang polwan Jatanras seketika luntur, berganti dengan kepedulian yang hangat.
"Frida... sekarang di ruangan ini cuma ada kita bertiga," kata Harumi dengan bahasa sehari-hari yang menenangkan. "Kamu nggak usah takut lagi. Budiarto sama direksi perusahaan sudah di luar. Tidak ada satu pun orang yang bisa menyakitimu di sini."
Frida meletakkan cangkir keramik itu di atas meja, menarik napas panjang berulang kali untuk menguasai napasnya.
"Terima kasih banyak, Bu Polisi... Bu Dokter..." ucap Frida tulus, air matanya perlahan mengering. "Saya... saya beneran takut banget tadi. Pak Budiarto sama Direktur Utama sudah mewanti-wanti saya sejak kemarin sore. Kata mereka, kalau saya sampai bocorin soal transaksi lima puluh miliar itu ke polisi, bukan cuma saya yang dipecat... tapi keluarga saya di kampung juga bakal ditindak."
Haruma yang mendengar hal itu mengelus pelan bahu Frida. "Kamu sangat berani, Frida. Menyampaikan kebenaran memang butuh keberanian besar."
"Iya, Frida," timpal Harumi mendukung. "Sekarang, mumpung cuma kita bertiga, ceritakan pada saya dan Kak Haruma... Siapa orang yang sebenarnya menyuruhmu membawa lembar transaksi 50 miliar itu ke kamar Pak Jonathan pada hari Rabu sore?"
Frida menundukkan kepalanya sejenak, memejamkan mata rapat-rapat seraya memantapkan hatinya.
"Sebenarnya... transaksi 50 miliar rupiah ke rekening perusahaan cangkang itu bukan cuma kemauan Direktur Utama atau Pak Budiarto, Bu..." cerita Frida dengan suara yang mulai terdengar stabil.
Harumi dan Haruma saling bertukar pandangan, mencerna informasi penting tersebut.
"Bukan kemauan direksi?" cecar Harumi penasaran. "Lalu kemauan siapa, Frida?"
"Ada sosok orang kuat yang ada di atas jajaran direksi kami..." ungkap Frida membocorkan rahasia tertinggi perusahaan. "Direksi kami hanyalah boneka formalitas. Seluruh keputusan aliran dana besar di PT. Cipta Buana Investco dikendalikan oleh sebuah keluarga pengusaha yang sangat berkuasa..."
"Keluarga pengusaha?" potong Haruma mengerutkan kening.
"Iya, Bu Dokter... Orang yang telepon saya pada hari Rabu jam 2 siang untuk memaksa Pak Jonathan tanda tangan adalah..."
Namun, tepat di saat bibir Frida Valery baru saja hendak menyebutkan sebuah nama...
Tiba-tiba saja...
Wussshhh!!!
Secara yang teramat sangat mendadak dan tidak masuk akal, suhu udara di dalam ruang rapat utama mendadak anjlok drastis hingga mencapai titik beku yang amat ekstrem!
Buih uap dingin membumbung keluar dari embusan napas Haruma dan Harumi.
Pendaran lampu neon di plafon ruangan mendadak berkedip-kedip liar, memancarkan pendaran cahaya merah pucat yang mengerikan.
Hawa busuk percampuran antara uap belerang, bangkai busuk, dan hawa es yang tajam meledak hebat menembus dinding-dinding ruang rapat yang kedap udara!
Deg!!!
dr. Haruma yang berdiri di samping Frida seketika membeku. Saraf mata batin sang dokter forensik berdesir hebat.
"RUMI! AWAS!" seru Haruma dengan suara penuh kewaspadaan tinggi. "Ada gelombang serangan sihir hitam masuk ke ruangan ini!"
Belum sempat Harumi berdiri dari kursinya...
"Heegggkkk...! Hssshhhgggkkk...!"
Suara jeritan Frida Valery mendadak terputus secara mengerikan di tengah tenggorokannya!
Mata wanita muda berumur dua 27 tahun itu seketika terbelalak lebar hingga iris matanya memutih kaku!
Kedua telapak tangan Frida mencengkeram erat lehernya sendiri, jari-jarinya meremas kulit leher hingga memar kebiruan.
"Frida?!" seru Harumi terperanjat luar biasa.
Brak! Klotak!
Tubuh Frida Valery mendadak terlempar dari kursinya, jatuh berguling di atas lantai keramik ruang rapat!
Tubuh wanita itu mengalami kejang-kejang yang teramat sangat aneh, dahsyat, dan tidak wajar secara biologis!
Seluruh persendian tulang tangan dan kakinya meliuk kaku ke arah belakang dengan sudut-sudut yang abnormal. Wajah Frida membiru pekat dalam hitungan detik, sementara dari kedua lubang hidung, sudut mata, dan rongga telinganya...
Mengalir keluar cairan darah kental berwarna kehitaman yang berbau cengkeh terbakar!
"Astagfirullahal'adzim! Frida?!" jerit Haruma histeris.
Sebagai dokter spesialis forensik, Haruma langsung berlutut di atas lantai di samping tubuh Frida yang kejang-kejang. Jemari tangan Haruma dengan cepat meraba pembuluh darah di leher (arteri karotis) dan mengecek rongga jalan napas korban.
"Rumi! Bantu Kakak pegang bahunya! Dia mengalami henti napas dan sumbatan pembuluh darah otak mendadak!" seru Haruma dengan kepanikan profesional medis yang memuncak.
Harumi ikut berlutut, memegangi bahu Frida yang berguncang hebat.
Namun saat Harumi menatap wajah Frida dari jarak amat dekat...
Ipda Harumi kembali mengaktifkan Mata Batin Murni milik jiwanya.
Dan apa yang dilihat oleh mata batin Harumi di atas lantai ruang rapat itu sungguh membuat bulu kuduknya berdiri!
Di dalam penglihatan batin Harumi, udara di atas dada Frida tidak lagi kosong. Terlihat puluhan benang-benang aura hitam pekat berduri yang meluncur deras dari arah luar dinding markas kepolisian. Benang-benang sihir jarak jauh itu melilit rapat kerongkongan, dada, dan jaringan otak Frida, mencekik dan menghancurkan pembuluh darah dalam tubuh wanita muda itu secara brutal!
"Sihir pembungkam mulut jarak jauh!" seru Harumi dengan suara bergetar murka. "Seseorang di luar sana mengaktifkan kutukan pembungkam begitu Frida mau sebut nama mereka!"
Wussshhh!!!
Seketika itu juga, dari dalam tubuh dr. Haruma, aura keemasan milik perewangannya, Sekar Arum, meledak keluar secara refleks!
Wujud gaib Sekar Arum memancar redup di sekeliling Haruma, mengibaskan selendang kuningnya untuk memotong benang-benang sihir hitam yang mencekik Frida.
"Hancurkan sihir iblis ini, Sekar Arum!" jerit Haruma di dalam batinnya seraya terus melakukan penekanan dada (RJP/CPR) pada tubuh Frida.
Cahaya keemasan Sekar Arum bertabrakan hebat dengan hawa hitam di udara ruang rapat, memicu dentuman gaib yang membuat meja kayu jati bergetar pelan.
Namun...
Serangan sihir pembungkam itu rupanya telah tertanam sebagai racun gaib di dalam darah Frida sejak wanita itu menerima ancaman kemarin sore. Begitu Frida berniat membocorkan nama "sang MASTERMIND", racun sihir itu meledak dari dalam sel darahnya sendiri!
"Heeeggghhhkkk...!!!"
Tubuh Frida Valery melonjak tinggi untuk terakhir kalinya di atas lantai, darah hitam menyembur tipis dari mulutnya, sebelum akhirnya...
Plek!
Seluruh gerakan kejang di tubuh wanita muda itu terhenti total. Tubuhnya terkulai lemas di atas lantai keramik yang dingin. Matanya membeku dalam posisi melotot lurus ke arah plafon ruangan.
Ruang rapat utama seketika kembali hening. Suhu udara yang tadinya membeku perlahan-lahan merambat naik kembali, meninggalkan aroma amis darah dan belerang yang amat menyengat.
dr. Haruma menghentikan penekanan dadanya. Dengan jemari tangan yang bergetar hebat, Haruma memeriksa denyut nadi karotis di leher Frida, lalu menjangkau senter kecil dari saku jasnya untuk mengecek pupil mata korban.
Pupil mata Frida Valery telah melebar maksimal (midriasis total), tidak memberikan respon sedikit pun terhadap pendaran cahaya senter.
Haruma melepaskan senternya, menundukkan kepalanya dalam-dalam di atas lantai. Air mata keharuan dan duka menetes dari pelupuk mata sang dokter forensik.
"Gimana, Kak...?!" bisik Harumi dengan suara parau yang bergetar hebat, menatap kakaknya dengan kecemasan yang membakar. "Frida... Frida gimana, Kak?!"
Haruma menoleh menatap adiknya, mengusap air mata di pipinya.
"Refleks batang otak negatif... Nadi karotis berhenti total..." ujar Haruma dengan suara pelan yang pecah oleh kedukaan. "Frida Valery... meninggal dunia, Rumi."
"Ya Allah...!" jerit Harumi tertahan, memegang kedua pipinya dengan kedua tangan.
Ipda Harumi menatap jasad wanita muda berusia 27 tahun yang terbaring kaku di atas lantai di hadapan mereka. Rasa amarah, kepedihan, dan kejengkelan yang amat sangat meledak membakar dada sang polwan Jatanras.
Saksi kunci yang baru saja menemukan keberanian untuk mempercayakan hidupnya pada kepolisian...
Tewas mengenaskan secara mendadak tepat di depan mata kepala mereka sendiri!
Brak!!!
Pintu kayu ruang rapat didorong terbuka secara paksa dari luar!
Kombes Supriyadi, Kasat Reskrim, Aipda Rudi, bersama Budiarto dan para direksi menerobos masuk ke dalam ruangan setelah mendengar kegaduhan dari luar.
"Ada apa?! Apa yang terjadi?!" seru Kombes Supriyadi panik.
Namun begitu mata mereka menatap ke arah lantai...
Pemandangan di dalam ruang rapat seketika membuat semua orang membeku kaku!
Budiarto melongo dengan muka pucat pasi melihat Frida Valery tergeletak tak bernyawa dengan darah kehitaman keluar dari hidung dan matanya.
"F-Frida...!" bisik Budiarto panik setengah mati, kakinya mundur dua langkah.
Harumi berdiri perlahan dari lantai. Punggungnya tegap, seragam dinas cokelatnya teratur rapi.
Namun, saat Harumi memutar tubuhnya menghadap Budiarto dan seluruh petinggi di dalam ruangan...
Pandangan mata Ipda Harumi memancarkan kilatan kemurkaan dan ketegasan hukum yang teramat sangat mengerikan!
Mata batin Harumi menyala tajam, menembus aura ketakutan para direksi yang ada di depannya.
"Saudari Frida Valery tewas akibat serangan pembunuhan jarak jauh!" tegas Harumi dengan suara berbobot yang menggelegar membelah keheningan ruang rapat. "Dan kematian saksi kunci di dalam markas kepolisian ini adalah bukti paling nyata bahwa sekte iblis pencuri usia di balik PT. Cipta Buana Investco benar-benar ada dan sedang mengincar kita semua!"
Di atas lantai ruang rapat yang dingin itu...
Jasad Frida Valery menjadi korban kedua dari kekejaman sihir "THE ONE".
Namun, kematian tragis sang saksi kunci tidak memadamkan perjuangan.
Justru di tengah tumpahan darah di markas kepolisian tersebut, tekad Haruma dan Harumi semakin membara tajam untuk membongkar dan meruntuhkan kerajaan bisnis para taipan iblis itu hingga ke akar-akarnya.
intinya korbannya itu yg sekiranya bisa jadi saksi kejahatan mereka gitu ya
berat juga ya wkwkwk sihir modern mungkin klo zaman.
penampilan nya udah elit kok nama nya itu