Sebuah kisah tentang dua dunia yang berpijak pada bumi yang sama, antara kehidupan moderen dan primitif yang akhirnya akan bersatu karena Cinta dua manusia yang saling bertemu dalam gelombang ketidak sengajaan.
Kisah dengan semua yang bercampur aduk, antara logika, cita-cita, cinta dan perburuan yang seru dan menegangkan, degan bumbu tawa yang tak disengaja.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DIFAN2, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Firasat dari Balik Mimpi
Mansion Grahansa diselimuti oleh keheningan yang mencekam setelah tim penyelamat dan Baskara kembali dengan tangan hampa. Kabar mengenai hilangnya dua pohon raksasa berpita merah di Alas Purba telah menyebar ke telinga Leonardo, meninggalkan rasa frustrasi yang mendalam.
Di dalam kamar tidur utama yang bernuansa emas dan putih, suasana terasa begitu berat. Aroma minyak kayu putih berbaur dengan bau obat-obatan cair yang menyengat.
Soraya berbaring lemas di atas ranjang besarnya yang empuk.
Wajahnya yang kaku dan pucat tampak semakin tirus di bawah temaram lampu tidur yang temaram. Selang infus terpasang di punggung tangan kirinya, mengalirkan cairan penahan rasa sakit untuk meredam efek kanker otak stadium 3 yang terus menggerogoti fisiknya.
Di samping ranjang, Leonardo duduk di sebuah kursi kayu jati, menggenggam erat tangan kanan istrinya yang terasa sangat dingin. Mata pria berkuasa itu sembap dan merah, sisa dari tangisan frustrasinya yang tidak kunjung reda.
Tiba-tiba, jemari tangan Soraya bergetar hebat.
Kelopak matanya bergerak-gerak gelisah di balik tidurnya yang tidak tenang. Napasnya mendadak tersengal-sengal, pendek dan cepat, seolah-olah dia sedang berlari menembus badai di dalam tidurnya.
"Hera, jangan_Hera!" igau Soraya, suaranya parau dan terputus-putus.
"Mama? Mama, bangun!" Leonardo langsung menegakkan tubuhnya, kepanikan melanda wajahnya. Dia menepuk-nepuk pipi Soraya dengan lembut. "Mama, ini Papa di sini. Bangun, Sayang."
Dengan satu sentakan napas yang panjang, Soraya mendadak membuka kedua matanya lebar-lebar. Manik matanya yang sayu berkedip-kedip cepat, menatap langit-langit kamar dengan pandangan yang kosong dan penuh ketakutan. Keringat dingin bercucuran dari pelipisnya, membasahi sebagian turban sutra marun yang membungkus kepalanya.
"Papa." bisik Soraya setelah kesadarannya perlahan kembali sepenuhnya. Dia langsung mencengkeram lengan baju Leonardo dengan kekuatan yang mengejutkan untuk ukuran orang yang sedang sakit sakral.
"Iya, Mah. Papa di sini. Mama tenang dulu, ya? Papa ambilkan air hangat," ujar Leonardo, hendak berdiri meraih gelas di atas nakas, namun Soraya menahannya dengan gelengan kepala yang mantap.
"Tidak perlu, Pa. Dengar Pa, dengarkan Mama dulu," ucap Soraya, suaranya bergetar hebat penuh emosi yang meluap-luap. "Hera masih hidup, Pa. Putri kita, Hera masih hidup di suatu tempat!"
Leonardo menghela napas panjang yang terasa sangat berat. Dia kembali mendudukkan tubuhnya di kursi, menatap istrinya dengan pandangan yang dipenuhi rasa iba sekaligus keputusasaan.
Dia mengira Soraya hanya sedang mengigau atau berhalusinasi akibat pengaruh obat dosis tinggi dari dokter keluarga.
"Mama tim SAR baru saja kembali sejam yang lalu," kata Leonardo dengan nada yang diusahakan selembut mungkin, meskipun hatinya sendiri hancur lebur saat mengatakannya.
"Baskara dan tim penyelamat kota tidak menemukan apa-apa di hutan itu. Pohon pembatasnya hilang, jejaknya terputus total. Pak Danu bilang—"
"Jangan dengarkan apa kata orang lain, Pa!" potong Soraya dengan tegas, matanya berkilat memancarkan keyakinan mutlak seorang ibu. Watak keras kepala yang biasanya ada pada diri Hera, mendadak terpancar kuat dari wajah lemah Soraya malam itu.
"Mama tahu ini kedengarannya tidak masuk akal bagi logikamu. Tapi Mama baru saja melihatnya dengan mata kepala Mama sendiri di dalam mimpi tadi!"
Leonardo meremas jemari Soraya, mencoba menenangkannya. "Itu hanya mimpi karena Mama terlalu memikirkan Hera, Sayang. Pikiranmu sedang lelah."
"Bukan, Leo! Ini bukan sekadar bunga tidur!" seru Soraya, air matanya akhirnya menetes bebas, membasahi pipinya yang cekung.
Dia memajukan tubuhnya sedikit, bersandar pada bantal yang ditumpuk Leonardo di belakang punggungnya.
"Mimpi itu begitu nyata. Mama berada di dalam hutan yang sangat gelap dan besar, jauh lebih besar dari hutan mana pun di dunia kita. Di sana, Mama melihat Hera sedang berjalan."
Leonardo terdiam, membiarkan istrinya meluapkan isi hatinya terlebih dahulu.
"Hera mengenakan pakaian gunungnya yang kotor oleh tanah merah," lanjut Soraya, napasnya naik-turun menahan haru.
"Dia memegang tas ranselnya yang penuh berisi bunga ungu dengan tepian emas, bunga yang dia cari untuk menyembuhkan Mama. Wajahnya sempat kelihatan sangat kesal dan marah, tapi dia tidak terluka, Pa. Dia aman."
"Di mana dia, Mah? Apa Mama melihat lokasinya?" tanya Leonardo, tanpa sadar mulai terpancing oleh detail cerita istrinya.
Soraya menggelengkan kepala perlahan, air matanya kian deras mengalir.
"Tempat itu sangat aneh. Rumah-rumahnya dibangun di atas pohon-pohon yang sangat tinggi hingga menembus awan. Ada jembatan gantung dari jalinan akar di mana-mana. Dan di sana_,Hera tidak sendirian, Pa. Ada sesosok pria tinggi berambut panjang yang berjalan di depannya. Pria itu menjaga Hera dari kegelapan hutan."
Leonardo mengerutkan dahinya, rasa skeptisnya sebagai pria berlatar belakang bisnis dan sains kembali muncul.
"Pria berambut panjang? Di atas pohon? Mama itu terdengar seperti cerita dongeng atau takhayul penduduk desa Wana Asri tentang klan di atas awan. Obat-obatan dari dokter mungkin membuat analisismu agak rancu."
"Leo, demi Tuhan, dengarkan insting seorang ibu!" bentak Soraya lemah namun sarat akan penekanan mutlak. Dia menatap lurus ke dalam manik mata suaminya yang merah. "Seorang ibu tidak akan pernah salah merasakan detak jantung anaknya
Jika Hera sudah tiada, Mama pasti bisa merasakan kekosongan itu di dalam dada Mama sekarang juga. Tapi yang Mama rasakan saat ini adalah aliran kehidupan. Jiwa Hera masih menyala kuat di suatu tempat, dia sedang berjuang untuk pulang membawa obat untukku!"
Melihat keyakinan yang begitu masif dari mata istrinya, benteng pertahanan logika Leonardo perlahan-lahan mulai runtuh. Dia menatap wajah Soraya yang dipenuhi air mata, lalu melihat ke arah jendela kamar yang menampilkan kegelapan malam kota metropolitan.
Di balik semua kemarahan dan keputusasaannya sejak semalam, jauh di dalam lubuk hatinya, dia sangat ingin memercayai kata-kata Soraya.
Dia sangat ingin memercayai bahwa putri tunggalnya yang keras kepala itu masih bernapas di luar sana.
Leonardo menundukkan kepalanya, menyandarkan dahinya di atas punggung tangan Soraya yang terinfus.
Bahunya kembali bergetar pelan saat air matanya kembali jatuh.
"Mama bensi Hera itu anak yang keras kepala. Dia tidak akan pernah membiarkan dirinya kalah dengan mudah oleh hutan mana pun. Dia pasti tahu cara untuk bertahan hidup."
"Iya, Pa," bisik Soraya lembut, tangan kanannya bergerak mengusap rambut suaminya yang mulai memutih dengan penuh kasih sayang. "Hera kita sangat pintar. Dia profesor paling jenius yang kita miliki. Kita hanya harus memberinya waktu, dan Papa tidak boleh menghentikan pencarian di perbatasan hutan itu."
"Papa janji, Mah. Papa tidak akan menghentikan tim SAR," ujar Leonardo, mendongakkan kepalanya kembali dan menyeka air matanya dengan tegas. Otoritas kepemimpinannya kembali bangkit.
"Besok pagi, Papa akan memerintahkan Baskara untuk mendirikan posko permanen di Desa Wana Asri. Kita akan memetakan ulang seluruh wilayah Alas Purba, mencari setiap celah atau kemungkinan gua bawah tanah yang tersembunyi.
Jika Hera berada di dunia lain seperti kata penduduk desa, Papa akan memastikan gerbang itu terbuka kembali untuk membawanya pulang."
Soraya tersenyum tipis, sebuah senyuman penuh kelegaan yang mengembalikan sedikit rona kehidupan di wajah pucatnya. "Terima kasih, Papa. Tolong sampaikan juga pada Kevin dan Amara untuk tidak menyalahkan diri mereka sendiri. Ini adalah garis takdir yang dipilih oleh anak kita."
Leonardo mengangguk mantap, menggenggam erat tangan istrinya dengan tekad yang baru. Di luar mansion, kegelapan malam perlahan mulai memudar, bersiap digantikan oleh fajar baru di dunia nyata.
Meskipun misteri hilangnya Hera di Alas Purba belum terpecahkan oleh akal sehat manusia modern, sebuah harapan gaib yang ditiupkan dari balik mimpi seorang ibu yang sedang sekarat kini telah menjadi bahan bakar baru bagi keluarga Grahansa untuk menolak menyerah pada takdir buruk yang membentang di depan mereka.