NovelToon NovelToon
Mengandung Benih Mafia

Mengandung Benih Mafia

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia / Single Mom / Action
Popularitas:2.1k
Nilai: 5
Nama Author: Kholifah Lifah

Bagi Amanda Millen, patah hati terburuknya bukanlah saat melihat tunangannya berselingkuh di depan mata. Patah hati itu hanyalah awal mula dari sebuah bencana yang jauh lebih gelap. Dalam pelariannya mencari pelampiasan di kelab malam paling terlarang di kota, Amanda melakukan satu kesalahan fatal: ia menampar pria yang salah.
​Pria itu bukan mantan kekasihnya yang brengsek. Pria itu adalah Aldebaran Hendrick.
​Pemimpin The Iron Crown, klan mafia paling kejam, berdarah dingin, dan tak tersentuh oleh hukum mana pun. Malam itu, di bawah pengaruh alkohol dan keputusasaan, Amanda menyerahkan dirinya pada sang iblis. Pagi harinya, ia terbangun sendirian dalam kehampaan, hanya ditemani memori kabur, sebuah kartu platinum tanpa limit, dan cincin berkepala tengkorak yang dingin di atas bantal.
​Lima tahun berlalu. Amanda mengubur malam gila itu dalam-dalam, menganggapnya sebagai musibah yang tak akan pernah terulang. Ia membangun hidup baru, menyembunyikan Lily—buah dari benih sang penguasa ke

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kholifah Lifah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

27

Keheningan yang elegan di dalam kamar bernuansa emas dan marmer hitam itu tiba-tiba dirobek oleh dering telepon seluler. Bukan telepon milik Amanda, melainkan ponsel layar sentuh dengan enkripsi tingkat militer yang ditinggalkan Aldebaran di atas nakas pagi tadi.

Amanda yang tengah duduk melamun di tepi ranjang, menatap kosong pada layar yang menyala. Sebuah nomor tak dikenal berkedip-kedip di sana. Dengan tangan yang sedikit ragu, ia meraih benda pipih bersuhu dingin itu dan menggeser layar hijau.

"Halo?"

"Halo, Amanda. Bagaimana rasanya menjadi tawanan di dalam sangkar emas?"

Darah Amanda seketika membeku. Suara bariton di seberang sana sangat familier. Lembut, tenang, namun kini terdengar begitu artifisial dan beracun. Alan. Pria yang pernah membelikannya kopi di kantor, pria yang menerbangkan layang-layang bersama Lily... pria yang ternyata adalah iblis berdarah dingin dari klan The Dragon Black.

"Apa maumu, Alan?" desis Amanda. Cengkeramannya pada ponsel mengerat, buku-buku jarinya memutih.

Suara kekehan renyah Alan terdengar diiringi bunyi statis. "Oh, tidak banyak, Sayang. Aku hanya ingin mengundangmu ke sebuah reuni keluarga. Coba tebak siapa yang sedang minum teh bersamaku dan Maxim sekarang? Ibumu. Nyonya Sofie Millen."

Jantung Amanda berhenti berdetak selama satu sekon. Udara di sekitarnya seolah tersedot habis. Memori tentang bantingan pintu yang keras dan cacian ibunya tempo hari berkelebat cepat di pelupuk matanya.

"Dia terus menangis dan memaki, Amanda. Sangat berisik," lanjut Alan, nadanya kini berubah menjadi ancaman murni. "Kami tidak butuh uang tebusan dari Aldebaran. Kami hanya butuh kau. Datang ke alamat yang akan kukirimkan, serahkan dirimu, dan wanita tua ini bisa pulang. Kau yang menukar nyawanya."

Amanda memejamkan mata. Kepanikan sempat merayap naik ke tenggorokannya, naluri seorang anak yang ingin menyelamatkan ibunya berteriak keras. Namun, realita masa lalunya jauh lebih kejam. Luka yang digoreskan Sofie terlalu dalam. Dan lebih dari itu, Amanda sadar sepenuhnya; jika ia melangkah keluar dari mansion ini, ia tidak hanya menyerahkan nyawanya, tapi juga menyerahkan nyawa Lily pada monster-monster itu.

Amanda menarik napas panjang. Saat ia membuka mata, sorot kecemasannya telah menguap, digantikan oleh kebekuan yang absolut. Ia meminjam sedikit dari aura gelap pria yang kini menjadi suaminya.

"Kau menculik orang yang salah, Alan," jawab Amanda. Suaranya terdengar begitu datar, tenang, dan tanpa emosi, membuat pria di seberang sana terdiam. "Wanita itu membenciku. Dia sendiri yang mengatakan bahwa putrinya sudah mati lima tahun yang lalu. Jadi... sama sekali tidak ada alasan bagiku untuk menyerahkan nyawaku demi membebaskannya dari kalian. Lakukan apa pun yang kau mau."

Ada jeda yang cukup panjang. Alan jelas tidak menduga reaksi sebeku ini dari seorang wanita yang ia anggap rapuh.

"Kau yakin dengan ucapanmu, Amanda?" geram Alan, topeng ketenangannya mulai retak. "Jangan bermain-main denganku. Aku beri kau waktu satu kali dua puluh empat jam. Jika besok malam kau tidak muncul di hadapanku... jangan salahkan aku jika ibumu yang sangat membencimu itu dikirim ke depan gerbang The Iron Crown dalam bentuk potongan daging."

Klik.

Sambungan diputus sepihak.

Amanda menurunkan ponsel itu perlahan. Tangannya bergetar hebat. Topeng ketenangannya runtuh seketika. Tubuhnya merosot ke lantai, bersandar pada nakas sambil meremas dadanya yang terasa sesak. Ia menangis dalam diam, terjebak dalam dilema yang menyiksa kewarasannya.

Sementara itu, jauh di sayap barat mansion, di sebuah ruangan bawah tanah yang dipenuhi deretan layar monitor raksasa dan server berdengung rendah, belasan peretas elite The Iron Crown tengah bekerja.

Mereka sama sekali tidak butuh laporan dari Amanda. Ponsel yang diberikan kepada wanita itu telah disadap dan terhubung langsung ke sistem saraf pusat markas. Setiap helaan napas, setiap kata, direkam dan dilacak secara real-time.

"Koordinat dikunci. Sektor distrik industri lama, gudang nomor empat," lapor kepala tim cyber dengan jari yang menari di atas keyboard, menampilkan titik merah yang berkedip pada peta satelit di layar utama.

Dante yang berdiri di belakangnya mengangguk puas. "Kirim audionya ke ruang kerja Tuan Aldebaran. Sekarang."

Di dalam ruang kerja bernuansa gotik yang remang, asap dari cerutu Kuba menguar di udara. Aldebaran duduk bersandar di kursi kulit kebesarannya, mendengarkan rekaman percakapan antara Alan dan Amanda yang diputar melalui pelantang suara.

Ketika suara balasan Amanda—yang dingin, sarkas, dan menolak tunduk pada ancaman—menggema di ruangan itu, sebuah senyum tipis, gelap, namun sarat akan kekaguman dan kebanggaan, perlahan merekah di wajah Aldebaran.

Luar biasa, batin sang Raja Iblis, dadanya bergemuruh oleh rasa posesif yang kian menggila.

Banyak wanita akan histeris, menangis, lalu diam-diam menyelinap keluar untuk menyerahkan diri seperti orang bodoh demi menyelamatkan sandera. Tapi tidak dengan wanitanya. Amanda menggunakan otaknya. Ia tidak terprovokasi. Ia bertahan di dalam benteng, mempercayakan posisinya di bawah perlindungan The Iron Crown. Amanda baru saja membuktikan bahwa dirinya sangat layak menyandang gelar Ratu di klan berdarah ini.

Pintu terbuka. Dante dan Flop melangkah masuk dengan sikap siaga penuh.

"Tuan, musuh telah memberikan ultimatum 24 jam. Mereka mengira Anda belum mengetahui pergerakan ini," lapor Dante.

Aldebaran mematikan cerutunya di asbak kristal, lalu bangkit berdiri. Tubuh jangkungnya memancarkan dominasi yang mencekik udara. Matanya yang merah menyala oleh insting membunuh menatap lurus ke arah peta holografik di tengah ruangan.

"Mereka mengira sedang bermain catur dengan orang buta," suara Aldebaran mengalun rendah, sangat berat dan berbahaya. Ia mengusap cincin tengkorak di jarinya dengan ibu jari. "Alan dan Maxim adalah sekumpulan tikus yang berpikir mereka bisa membodohiku."

Aldebaran menatap kedua panglima kepercayaannya. Aura kematian merembes keluar dari setiap pori-porinya.

"Kita ubah strategi," perintah Aldebaran mutlak, suaranya menggelegar penuh kuasa di dalam ruang kerja itu. "Jangan tunggu sampai besok. Mereka mengharapkan seorang wanita rapuh yang datang menangis menyerahkan diri, maka kita akan memberikan mereka hujan peluru dan lautan darah malam ini juga."

Flop menyeringai lebar, mengeluarkan pisau karambit dari balik jasnya dan memutarnya dengan penuh antusiasme. "Perintah eksekusi, Tuan?"

"Hancurkan mereka. Ratakan gudang itu dengan tanah. Jangan biarkan satu nyawa pun dari klan Sinaloa atau The Dragon Black bernapas melewati tengah malam nanti," titah Aldebaran dingin. Matanya menyipit, mengingat kembali tangisan Amanda akibat luka yang disebabkan oleh ibunya di masa lalu. "Dan untuk wanita tua bernama Sofie itu... bawa dia pulang kemari dengan kondisi hidup-hidup. Biar istriku sendiri yang menentukan hukuman untuk wanita yang telah membuangnya."

"Siap laksanakan, Tuan!" Dante dan Flop menunduk hormat secara serempak.

Malam itu, langit kota seolah ikut menggelap. Alan dan Maxim sibuk menatap jam, menanti dengan penuh kemenangan, sama sekali tidak menyadari bahwa mereka baru saja membangunkan sang Naga dari tidurnya. Mereka tidak akan pernah melihat matahari terbit esok hari, karena The Iron Crown sedang dalam perjalanan untuk menagih nyawa.

1
kholifah Montes
happy Reading guys
Ita Putri
ah elah Thor ....masak sad ending kebangetan deh si author 😭
kholifah Montes: izin🤭🤭🤭🤭
total 1 replies
Ita Putri
ya ampun gk kebayang berapa sadis siksaan Aldebaran buat Anastasya
Ita Putri
ya ampun Thor
kejam banget
kenapa Lily yg harus pergi😭
kholifah Montes: kak sebenarnya aku juga nggak tega tapi gimana ya🤭
total 1 replies
Ita Putri
karyamu selalu seru thor
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!