Ceisya hacker jenius dan ahli bela diri mati konyol gara-gara emosi membaca novel dark romance The Alpha’s Obsession. Takdir gila melempar jiwanya bertransmigrasi ke dalam tubuh figuran cupu bernasib paling sial mati menjadi tumbal sahabatnya sendiri, Belva.
Namun, Ceisya yang sekarang menolak mati! Dengan otak cerdas dan kemampuan, Ceisya membalikkan keadaan. Ia melumpuhkan para pembunuh bayaran di tengah hutan salju, dan mulai membalas permainan licik Belva serta ancaman Bianca satu per satu.
Tetapi, Aksi Cesiya di atas salju memicu insting predator sang Alpha. Fenrir Volkov—Raja Serigala paling kejam, dingin, dan ditakuti di seluruh Kerajaan Valesia mendadak mengklaim Ceisya sebagai tawanan pribadinya, menyeretnya ke dalam kamar sang Raja, dan menguncinya dalam lingkar obsesi yang teramat posesif.
Di tengah intrik berdarah istana dan jeratan sang Raja Serigala, bisakah Ceisya merebut kebebasannya atau ia justru akan menyerahkan dirinya utuh menjadi milik Sang Alpha sepenuhnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon namice, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bentrokan Dua Alpha dan Klaim di Atas Salju
Suhu udara di gang sempit Kota Bawah merosot hingga ke titik beku ekstrem. Tekanan aura membunuh yang menguar dari tubuh Fenrir Volkov begitu pekat, membuat salju halus yang melayang di udara mendadak berhenti dan membeku menjadi kristal-kristal es hitam.
Di dalam lingkar dekapan kekar sang Alpha King, Ceisya bisa merasakan kehangatan yang luar biasa kontras dari dada bidang Fenrir. Namun, tatapan mata merah sang Raja tidak sedang tertuju padanya, melainkan terkunci lurus pada lantai dua kedai teh di seberang gang.
"Suatu kehormatan bisa menyaksikan Sang Alpha King turun tangan langsung hanya untuk menjemput seekor anak domba yang melarikan diri," suara bariton yang dalam dan bernada mengejek mengudara dari atas jendela.
Kaelen Blackwood melangkah maju ke ambang jendela tanpa rasa takut. Jubah bulu serigala putihnya berkibar pelan ditiup angin dingin. Iris mata berwarna kelabu keemasan milik Pemimpin Klan Blackwood itu berkilat terang saat menatap Ceisya yang berada di dalam pelukan Fenrir.
Ceisya mengerjap pelan, mendongak menatap pria di lantai dua itu.
Oalah... jadi ini cowok pemilik suara mahal di lencana sihir semalam? Batin Ceisya menganalisis penampilan Kaelen dengan santai. Ternyata aslinya lumayan juga, tipe-tipe villain ganteng berkarisma gelap. Tapi gaya bicaranya agak sok iyee ya, dikira aku anak domba apa?!
"Kaelen Blackwood..." suara Fenrir terdengar sangat rendah, bergetar bagaikan gemuruh guntur di balik gunung es. Tangan kekarnya di belakang leher Ceisya semakin merapat, mengunci gadis itu tanpa celah. "Kau berani menampakkan wajah busukmu di wilayah kekuasaanku?"
Kaelen tersenyum tipis—sebuah senyuman provokatif yang dipenuhi rasa penasaran mendalam pada Ceisya. "Aku hanya sedang berjalan-jalan, Fenrir. Tapi siapa sangka, aku justru menemukan perhiasan paling indah dan liar yang pernah ada di Valesia... Wanita itu punya ketangkasan dan suara yang sangat memikat."
Mendengar Kaelen memuji Ceisya secara terbuka di hadapannya, gairah cemburu dan keposesifan gila di dalam dada Fenrir meledak seketika. Iris mata merah sang Raja menyala terang bagaikan lahar vulkanik.
BUMMM!
Gelombang tekanan sihir Alpha dari Fenrir menghantam dinding kedai teh, menyebabkan kayu-kayu penyangga lantai dua retak hebat! Kaelen dengan lincah melompat mundur, menahan tekanan aura itu dengan sihir hitamnya sendiri.
Melihat dua penguasa serigala ini siap saling bantai di tengah pasar, Ceisya yang berada di tengah-tengah hanya bisa menghembuskan napas panjang dan menepuk bahu kokoh Fenrir.
"Aduh, King Alpha... tolong ya," celetuk Ceisya blak-blakan dengan nada santainya yang kocak, memecah ketegangan mencekam di antara mereka. "Kalau mau tawuran massal antar klan, tolong saya diturunkan dulu. Dikira saya ini perisai hidup apa berdiri di tengah-tengah aura es kalian?! Dingin nih, pipi saya bisa kaku kayak es lilin!"
Mendengar celotehan berani dan tidak sopan dari Ceisya di tengah situasi hidup-mati, Kaelen Blackwood terperangah. Tawa rendah meluncur dari tenggorokan Kaelen. Iris keemasannya menatap Ceisya dengan obsesi yang kian membara.
Gadis yang benar-benar memikat dan tidak punya rasa takut... Aku harus mendapatkannya! Batin Kaelen terkekeh.
Fenrir tidak memberi kesempatan sedikit pun bagi Kaelen untuk terus menatap wanita pilihannya. Dengan satu gerakan cepat yang teramat dominan, Fenrir menyusupkan tangan kirinya di bawah lipatan lutut Ceisya, lalu mengangkat tubuh gadis itu dalam gendongan bridal style yang sangat kokoh.
"Eh! Eh! King Alpha! Kan saya bilang bisa jalan sendiri!" seru Ceisya kaget, tangannya refleks melingkar di leher Fenrir agar tidak terjatuh.
"Tutup mulutmu, manis," bisik Fenrir posesif.
Di hadapan pandangan mata Kaelen yang mengawasi dari atas dan warga Kota Bawah yang mengintip dari balik jendela rumah, Fenrir menundukkan kepalanya secara terang-terangan. Pria itu mendaratkan ciuman dalam dan basah tepat di lekukan leher Ceisya—menempelkan bibirnya di atas scent-mark yang masih kemerahan, menegaskan kepemilikan mutlaknya di depan seluruh dunia.
"Ngh... Fenrir!" desah Ceisya pelan, wajahnya memerah padam akibat tindakan nekat sang Raja di tempat umum.
Kaelen mengepalkan tangannya di lantai dua, matanya menyipit tajam menatap adegan klaim tersebut dengan rasa iri dan amarah yang mulai membakar dadanya.
"Bawa kereta kuda ke depan," perintah Fenrir dingin pada pengawal bayangan yang mendadak muncul dari balik salju.
Tanpa memedulikan Kaelen lagi, Fenrir melangkah dengan tenang namun tegas membawa Ceisya dalam gendongannya menuju kereta kuda kerajaan berlabur emas yang sudah bersiaga di ujung jalan.
BLEK!
Pintu kereta kuda kerajaan yang dilapisi bahan kedap suara dan kain sutra tebal tertutup rapat. Kereta beroda besi itu mulai bergerak perlahan menembus jalanan bersalju menuju Kastil Valesia.
Di dalam kereta yang hangat beraroma kayu cendana, Ceisya duduk bersandar di kursi empuk, mencoba membetulkan kerah bajunya yang agak tersingkap sambil meratapi nasibnya dengan wajah cemberut.
"Anda itu beneran nggak punya rasa malu ya, King Alpha?!" omel Ceisya langsung, melotot pada Fenrir yang duduk di hadapannya dengan posisi sangat santai. "Ngapain coba main cium leher di tengah pasar?! Dikira leher saya ini papan pengumuman gratisan apa?!"
Fenrir yang duduk berseberangan dengannya hanya menatap Ceisya dengan tenang. Pria itu menuangkan teh hangat ke dalam cangkir porselen, lalu menggeser duduknya pindah ke samping Ceisya, melingkarkan lengan besarnya di pinggang gadis itu dan menariknya kembali merapat.
"Kau melarikan diri dariku, Ceisya," ujar Fenrir rendah, ibu jarinya mengusap bibir Ceisya yang masih sedikit bengkak. "Hukuman karena kabur dari kamarku seharusnya jauh lebih berat dari sekadar ciuman di leher."
"Saya nggak kabur, cuma jalan-jalan cari udara segar!" bela Ceisya sotoy. "Lagian siapa suruh saya dikurung? Saya ini manusia, butuh sosialisasi! Bukan guling tidur yang bisa diikat di kasur terus-terusan!"
Fenrir menyunggingkan senyum tipis yang sarat akan dominasi. Pria itu menunduk, berbisik tepat di depan bibir Ceisya: "Mulai hari ini, sosialisasimu hanya denganku, sayang."
Buset... Bener-bener cowok posesif tingkat akut tanpa obat, batin Ceisya menjerit, walau dadanya sempat berdesir aneh mendengar nada suara Fenrir yang teramat intim.
"Tapi ngomong-ngomong soal si Kaelen itu," Ceisya mencoba mengalihkan pembicaraan menggunakan otak cerdasnya, "dia pasti lagi merencanakan sesuatu sama Belva. Waktu saya tanding sama preman tadi, Kaelen itu udah ada di kedai teh dari awal. Dia pasti nungguin rute pelarian Belva!"
Mendengar analisis Ceisya, mata merah Fenrir menyipit pelan. Pria itu mengagumi betapa cepatnya otak gadis di dekapannya ini bekerja di dalam situasi apa pun.
"Biarkan mereka berkumpul," jawab Fenrir dingin, mengusap helai rambut cokelat Ceisya. "Semakin banyak tikus yang berkumpul di satu tempat... semakin mudah bagiku untuk memusnahkan mereka dalam satu tebasan."
Kereta kuda kerajaan akhirnya berhenti di pelataran utama Kastil Valesia. Namun, begitu pintu kereta dibuka oleh pengawal, suasana di pelataran kastil tampak sangat tidak biasa.
Dua puluh prajurit berzirah hitam milik Dewan Tetua Kerajaan berdiri berbaris rapi dengan tombak terangkat. Di tengah-tengah mereka, seorang pria tua berwajah licik dengan mahkota perak kecil—Tetua Utama Valesia—melangkah maju membawa gulungan perkamen berstempel darah kerajaan.
Tetua Utama menatap Fenrir dan Ceisya dengan senyuman culas: "Yang Mulia Alpha King! Atas nama Dewan Tetua dan hukum purba Valesia, kami membawa titah pengasingan! Gadis tanpa klan ini telah memicu kekacauan politik dengan Klan Reinhardt dan Klan Blackwood. Jika Anda tidak menyerahkannya untuk diasingkan ke Menara Es malam ini juga... takhta Alpha King Anda resmi dicabut!"
Fenrir menyipitkan matanya tajam, sementara Ceisya yang mendengar ancaman pengasingan itu justru menyunggingkan senyum paling savage di dalam batinnya.
Wah, kakek-kakek satu ini datang-datang mau nyabut takhta? Belum tahu aja dia kalau King Alpha di seblah ku ini tipr cowok yang lebih milih ngeratain kerajaan daripada kehilangan mainan barunya!
visual dan video drama singkat novel ini bisa di lihat di tiktok.com/@ceisyafaizah
Contoh visual Kaelen
saran sedikit Bisa gak kalo gaya Bahasanya Ceisya dirubah lebih Elegan tnpa bawa' istilah kehidupan yg lalu, lebih swag lebih tajem, lebih pintar dn berani ngelawan terutama kalo sama Fenrir jgn terlalu nurutlahh biar fenrir yang ngejar tapi Ceisya kyak gak peduli gitu ada hargadirinya
dan tokohnya tangguh gak menye menye
Seru banget apalagi nnti kalo sudah masuk konflik ditunggu kakak kelanjutanya rajin update yaa
Alurnya Tipe aku bangett
Jangan buat mudah untuk fenrir mendapatkan Ceisya yaa kak buat fenrir gedebak gedebuk dulu sampek kecintaan sama Ceisya 😄😄
aku suka Alurnya🥰🥰🥰
karya baru sepertinya Seru
lanjut thor😊