NovelToon NovelToon
Madu Yang Pahit

Madu Yang Pahit

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan
Popularitas:1.8k
Nilai: 5
Nama Author: Nittagiu

Alya Kirana menerima Arga Pratama sebagai suaminya dengan harapan membangun rumah tangga yang bahagia. Namun, dia tidak pernah tahu bahwa sebelum menikah dengannya, Arga telah lebih dahulu memiliki seorang istri bernama Nadira Permata. Di antara rahasia yang disembunyikan, janji yang tak kunjung ditepati, dan cinta yang terbagi, Alya dihadapkan pada kenyataan pahit yang tak pernah dia bayangkan. Dia tidak ingin menjadi musuh bagi perempuan lain. Namun, apakah itu berarti dia harus mengorbankan kebahagiaannya sendiri? Sementara Arga berusaha mempertahankan dua pernikahannya, seorang pria dari masa lalu Alya kembali hadir membawa perasaan yang tak pernah benar-benar padam. Ketika cinta terasa manis di awal, siapa yang harus menanggung pahitnya di akhir?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nittagiu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Batas yang Mulai Berubah

Pagi itu, Alya sedang menyiapkan sarapan ketika Arga keluar dari kamar tamu. Laki-laki itu sudah mengenakan kemeja kerja, sementara rambutnya masih sedikit basah setelah mandi.

Aroma nasi goreng memenuhi ruang makan. Alya meletakkan dua piring di atas meja, kemudian mengambil segelas air putih untuk dirinya sendiri.

“Mas, sarapannya sudah siap,” katanya sambil merapikan sendok.

Arga mengangguk dan duduk di kursi yang biasa ditempatinya. “Kamu tidak sarapan?”

“Sebentar lagi. Aku mau membuat teh dulu.”

Alya kembali ke dapur. Tidak ada percakapan panjang di antara mereka. Arga makan sambil sesekali memeriksa ponselnya, berharap menemukan pesan dari Nadira. Namun, layar itu tetap tidak menunjukkan sesuatu yang ditunggunya.

Sejak kembali malam sebelumnya, pikirannya memang belum tenang. Dia ingin menghubungi Nadira, tetapi teringat permintaan perempuan itu agar dirinya diberi waktu untuk berpikir.

Arga akhirnya meletakkan ponsel di samping piring.

“Kamu hari ini ada rencana?” tanyanya ketika Alya kembali duduk.

“Tidak ada yang khusus. Mungkin aku mau merapikan beberapa barang di kamar.”

Percakapan itu kembali berhenti. Alya tidak berusaha mencari bahan pembicaraan lain. Dia tahu Arga sedang memiliki banyak pikiran dan tidak ingin membuat laki-laki itu merasa harus menemaninya berbicara.

Setelah sarapan, Alya membereskan meja sementara Arga bersiap berangkat kerja. Sebelum meninggalkan apartemen, laki-laki itu sempat berhenti di dekat pintu.

“Aku mungkin pulang agak malam.”

“Iya, Mas. Hati-hati di jalan.”

Arga menatap Alya sesaat sebelum mengangguk. Entah mengapa, sambutan sederhana itu membuatnya merasa sedikit lebih tenang. Namun, perasaan tersebut segera dia kesampingkan. Dia tidak ingin terlalu memikirkan hal-hal kecil ketika persoalannya dengan Nadira belum selesai.

Pintu apartemen tertutup setelah Arga pergi.

Alya kembali ke kegiatannya. Dia tidak merasa kecewa karena Arga tidak banyak bicara. Sejak awal, dia memang tidak mengharapkan kehidupan pernikahan yang penuh perhatian atau kemesraan. Untuk sementara, menjalani hari dengan tenang sudah cukup baginya. Setidaknya, itulah yang masih dia yakini.

***

Di apartemennya sendiri, Nadira duduk di sofa dengan secangkir teh yang mulai dingin. Sejak Arga pergi sehari sebelumnya, pikirannya tidak pernah benar-benar berhenti.

Dia masih mengingat pemandangan di lobi gedung itu. Arga berdiri bersama seorang perempuan yang ternyata merupakan istri resminya. Tangan mereka saling menggenggam, seolah tidak ada sesuatu yang perlu disembunyikan.

Padahal selama ini, Nadira percaya bahwa dialah perempuan yang akan menjadi pendamping Arga.

Nadira memejamkan mata sebentar. Dadanya terasa sesak setiap kali mengingat bagaimana Arga menjelaskan pernikahannya. Laki-laki itu mengatakan bahwa dirinya takut kehilangan Nadira, tetapi justru melakukan sesuatu yang membuat Nadira mempertanyakan seluruh hubungan mereka.

Apa artinya cinta jika Arga bisa mengambil keputusan sebesar itu tanpa memberitahunya?

Nadira bangkit untuk membawa cangkir ke dapur. Namun, baru beberapa langkah, tubuhnya terasa lemas. Dia berhenti dan berpegangan pada meja di dekatnya.

Napasnya terasa sedikit pendek.

Nadira menunggu beberapa saat sampai tubuhnya terasa lebih baik. Belakangan ini dia memang lebih mudah lelah, tetapi dia menganggapnya akibat kurang tidur dan terlalu banyak pikiran. Sejak pertengkarannya dengan Arga, dia juga tidak berselera makan.

Setelah duduk kembali, Nadira mengambil ponselnya. Percakapan terakhir mereka masih terpampang di layar. Ada beberapa kali dia membuka ruang obrolan itu, berharap menemukan pesan dari Arga. Namun, dia sendiri belum tahu apa yang ingin dikatakannya jika laki-laki itu benar-benar menghubunginya.

Dia mencintai Arga. Kenyataan itu tidak berubah hanya karena dirinya sedang marah.

Namun, apakah dia masih sanggup melanjutkan hubungan mereka setelah mengetahui bahwa Arga sudah menikah secara resmi dengan perempuan lain?

Nadira selama ini menerima pernikahan sirri mereka karena percaya pada janji Arga. Dia tahu hubungan mereka belum tercatat secara resmi, tetapi dia tidak pernah menganggap hal itu sebagai alasan untuk meragukan kesungguhan laki-laki tersebut.

Sekarang, keadaan mereka berbeda.

Alya memiliki kedudukan sebagai istri resmi Arga. Keluarga mereka mengetahui pernikahan itu, dan mereka tinggal bersama di apartemen yang telah disiapkan untuk kehidupan baru mereka.

Sementara Nadira?

Dia bahkan tidak pernah diberi kesempatan untuk mengetahui bahwa Arga sedang mempersiapkan pernikahan lain.

Air mata menggenang di sudut matanya. Nadira segera mengusapnya, lalu menarik napas panjang.

Mungkin selama ini dia terlalu percaya bahwa cinta saja cukup untuk membuat hubungan mereka bertahan.

Dia tidak ingin menjadi perempuan yang terus menunggu tanpa mengetahui seperti apa masa depannya. Dia juga tidak ingin menghabiskan hidupnya dengan mencemaskan kapan Arga akan kembali kepadanya atau kapan laki-laki itu harus pergi menemui istrinya.

Jika Arga sudah memilih menjalani pernikahan lain, mungkin dirinya harus mulai memikirkan jalan keluar.

Pikiran itu terasa menyakitkan, tetapi semakin lama semakin sulit diabaikan.

Nadira membuka ruang obrolan Arga sekali lagi. Jemarinya sempat bergerak, hendak menulis pesan. Namun, setelah beberapa saat, dia mengurungkan niatnya dan meletakkan ponsel di meja.

Dia belum siap berbicara dengan Arga. Untuk saat ini, Nadira hanya ingin memikirkan dirinya sendiri dan menentukan apa yang sebenarnya dia inginkan dari kehidupan mereka.

Dia tidak tahu berapa lama waktu yang dibutuhkan untuk mengambil keputusan itu. Yang dia tahu, perasaannya sudah terlanjur terluka.

Ketika hendak berdiri untuk mengambil air minum, Nadira kembali merasakan tubuhnya melemah. Kali ini, napasnya terasa lebih pendek daripada sebelumnya. Dia berpegangan pada tepi meja, berusaha menenangkan diri sambil menunggu sensasi tidak nyaman itu mereda.

Namun, beberapa saat berlalu dan tubuhnya belum juga terasa benar-benar pulih.

Nadira akhirnya duduk kembali. Pandangannya jatuh pada ponsel yang tergeletak di meja. Dia sempat berpikir untuk menghubungi Arga, tetapi segera mengurungkan niatnya.

Dia tidak ingin mencari laki-laki itu hanya karena dirinya sedang tidak baik-baik saja. Setidaknya, bukan sekarang, ketika hatinya masih begitu terluka.

Nadira menarik napas perlahan, lalu memejamkan mata. Mungkin dia hanya terlalu lelah. Mungkin tubuhnya membutuhkan istirahat setelah beberapa hari yang melelahkan secara emosional.

Namun, jauh di dalam hatinya, muncul perasaan ganjil yang sulit dijelaskan. Dan tanpa disadarinya, keputusan yang sedang berusaha dia ambil tentang hubungannya dengan Arga mungkin akan segera dihadapkan pada sesuatu yang sama sekali tidak pernah dia bayangkan.

1
Setyowati Setyowati
dari kemarin ngintip trs sy kira keman Thor ...tp syukurnya up juga ..jangan Hiatus Thor 🙏🙏
Setyowati Setyowati
kalau bisa jangan simpan semua sendiri Nadira...karena kamu akan banyak pikiran jadi akan berimbas pada janinmu dan dirimu ..bagi bebanmu pada Arga juga ..biar sama " mencari solusinya
Setyowati Setyowati
lanjut 🙏🙏
Setyowati Setyowati
kemungkinan Nadira hamil ..dan tidak ada alasan untuk minta pisah ...Alya dan Nadira sama" terjebak pada laki" yg egois ..tidak ada pemenang maupun yg kalah ..karena kedua" nya posisinya sama ..di tipu di sembunyikan dari istri lainnya
Setyowati Setyowati
maaf .. sampai lupa kasih bintang 5 ..keasikan baca
Setyowati Setyowati
masih merasa enak ya si Arga Tengo sana sini masih oke ..tp kalau semua sudah ketahuan sama orangtua dan Nadira ...apa alasan yg keluar dari mulutmu
Setyowati Setyowati
angga lagi mampir ya thor
Anita Giu: Ah typo 🤣🤣🤣
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!