Tuan!, kau masih saja ya setampan dulu, suara itu menyapa dengan senyum lembut .
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lili Pinarsih, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 13 (warning )
“Li, Aku tidak tahan lagi.”
Bisikan Satoshi terdengar rendah di dekat telinga Lily. Kedua lengannya masih melingkari pinggang perempuan itu, membuatnya sulit bergerak. Lily menelan ludah, berusaha mengendalikan napasnya yang mulai tidak teratur.
“Lepaskan saya, Tuan,” pintanya sembari mencoba melepaskan tangan Satoshi yang mulai merayap kearea dadanya.
"Li, kau benar-benar cantik sekali." Bisiknya ketelinga Lily sambil menggigit kecil.
“Tu, tuan , emh, lepass."
“Sayang, lihat aku, jangan membelakangi ku."
Karena katanya tidak diiyakan Satoshi langsung saja menarik badan Lily agar tidak membelakanginya menindihnya dengan berat badannya.
"Apa yang anda mau, emhh tolong lepaskan saya."
Lily terus memberontak, menghindari bibir Satoshi yang begitu dekat dengan bibirnya. Nafas Satoshi yang hangat seakan membakar kulit Lily, perlawanan Lily seperti sia-sia. Tenaganya tentu kalah jauh dari Satoshi, tak hanya itu, Satoshi berhasil menempelkan bibirnya yang hangat kebibir Lily. Lidahnya yang basah dan hangat berhasil masuk kemulut Lily menyesap manisnya rongga mulut Lily.
“Emm, to-long, ugh, tu-tuan."
"ugh, berikan lidahmu Li," ujar Satoshi dengan memaksa.
Satoshi mencium seperti orang kesetanan, benar-benar kehilangan kendalinya. Kakinya terus melebarkan kaki Lil, agar terbuka mengangkang.
Lily terus memukul mukul bahunya agar Satoshi mau berhenti namun pukulan tangan yang kecil itu tidak berarti apa apa baginya, selesai menjelajahi rongga mulut Lily, ia kembali menyusuri leher jenjang Lily yang sangat putih.
"Ah, sakit tuan," ucapnya sambil meringis.
Kata sakit yang diucapkan Lily tak terdengar oleh Satoshi yang seperti orang kesetanan, kecupannya membekas jejak merah dileher putih Lily sebagai tanda kepemilikan.
Tidak berhenti disitu, tangan Satoshi terus menyesap kedalam gaun tidur Lily, berjalan perlahan dipunggung Lily menciptakan sensasi geli.
"Tolong, jangan lakukan tuan."
Satoshi yang sudah hilang akal tidak mendengarkan kata-kata Lily lagi, tangannya yang sudah sampai kepengait bra langsung melepaskan kait bra Lily.
Kait branya terlepas gaun Lily ditarik keatas lalu dicopot, begitu juga dengan branya yang sudah dilepas. Celana dalam putih milik Lily juga ikut ditarik kebawah, Lily sudah tidak memakai sehelai benang pun dibadannya.
Satoshi terperangah melihat keindahan lekuk tubuh istrinya itu yang 3 tahun tidak dipedulikannya, beberapa kali ia meneguk salivanya, merasakan bagiannya semakin membengkak dan berkedut.
Lily menatap dalam mata Satoshi air matanya seakan tumpah, ia pasrah, karena tidak mungkin ia mampu melawan Satoshi yang ukuran badannya besar.
Pandangan mereka bertemu, Satoshi yang sebelumnya seperti kesetanan mencoba melembut ketika melihat mata Lily yang mulai berkaca-kaca.
"Jangan takut Li, anakku cuman akan lahir lewat rahimmu." ucapnya dengan mencengkram paha Lily agar lebih terbuka.
Lily tidak menjawab, hanya memalingkan wajahnya dengan air mata yang sudah berjatuhan.
"Akh , t-tolong perlahan, sakit tuan."
“kau benar-benar sangat sempit Li, ugh, tahan sayang, ini mungkin akan sakit sebentar."
Bunyi gemericik shower dikamar mandi menandakan aktivitas mereka telah usai. Jam menunjukkan angka 4, dimana pergulatan Satoshi cukup lama. Tangannya yang besar membelai pipi Lily yang terlelap kelelahan, tanpa mandi.
Lalu mengecup kening Lily, memeluknya dari samping. Matanya terus tertuju pada darah di sprei yang lumayan banyak, itu berarti keperawanan Lily sudah diambil olehnya, senyumnya sumringah dengan muka merona mengingat kejadian tadi. Tidak lama kemudian Satoshi memejamkan matanya sambil memeluk Lily yang membelakanginya.
Pukul sembilan pagi, cahaya matahari menembus celah tirai kamar. Suara burung terdengar dari pepohonan di sekitar kediaman persembunyian, menandai dimulainya hari yang baru.
Satoshi terbangun perlahan. Ia mengulurkan tangan ke sisi ranjang, tetapi tidak menemukan siapa pun di sana. Dahinya berkerut ketika menyadari bahwa Lily sudah tidak berada di kamar.
Ia segera bangkit dan merapikan pakaiannya sebelum keluar untuk mencari perempuan itu.
Dari arah dapur, tercium aroma nasi hangat dan sup yang baru matang. Satoshi mengikuti aroma tersebut hingga menemukan Lily berdiri di depan kompor. Perempuan itu mengenakan pakaian rumah sederhana dengan rambut panjang yang diikat longgar. Ia tampak sibuk mengaduk sup tanpa menyadari kedatangan Satoshi.
Satoshi berhenti sejenak di ambang pintu.
Pemandangan itu mengingatkannya pada pagi-pagi di rumah mereka di Amerika. Dahulu, Lily selalu menyiapkan sarapan untuknya, bahkan ketika Satoshi pulang larut malam bersama perempuan lain. Saat itu, ia menganggap perhatian Lily tidak berarti apa apa.
Sekarang, setelah perempuan itu mati rasa padanya, barulah ia menyadari kalau dirinya jatuh cinta pada Lily.
Satoshi melangkah mendekat.
“Lily.”
Lily menoleh sekilas. “Sarapan hampir siap, Tuan.”
Jawaban formal itu membuat langkah Satoshi terhenti sesaat. Ia berharap Lily setidaknya memanggil namanya setelah malam sebelumnya, tetapi perempuan itu kembali memusatkan perhatian pada masakannya.
Tanpa berpikir panjang, Satoshi merangkul Lily dari belakang.
Tubuh Lily langsung menegang. Tangannya berhenti mengaduk sup, sedangkan bahunya terangkat karena terkejut.
“Lepaskan saya, Tuan.”
Satoshi tidak segera menjawab. Ia menundukkan kepala, berusaha menyembunyikan wajahnya di dekat rambut Lily.
“Terima kasih untuk semalam,” katanya pelan.
Lily terdiam beberapa detik sebelum menjawab singkat, “Iya.”
Tidak ada senyum ataupun kehangatan dalam suaranya.
Satoshi melonggarkan pelukannya sedikit, kemudian pandangannya jatuh pada leher Lily. Tanda kemerahan yang ditinggalkannya malam sebelumnya masih terlihat jelas di kulit perempuan itu.
Senyum tipis yang sempat muncul di wajahnya perlahan menghilang.
Ia menyadari bahwa bekas tersebut bukanlah sesuatu yang patut dibanggakan. Itu adalah jejak dari perbuatannya sendiri, sesuatu yang mungkin akan terus mengingatkan Lily pada malam yang ingin dilupakannya.
“Lehermu masih merah,” gumam Satoshi.
Lily mematikan kompor sebelum menjawab.
“Saya tahu.”
“Kau bisa mengoleskan sesuatu nanti.”
“Saya bisa mengurus diri sendiri.”
Jawaban itu membuat Satoshi terdiam. Ia akhirnya melepaskan pelukannya, tetapi tidak beranjak dari tempatnya.
Lily mengambil mangkuk dari rak, lalu menuangkan sup ke dalamnya. Gerakannya teratur, seolah ia sengaja menyibukkan diri agar tidak perlu berbicara lebih jauh dengan pria tersebut.
“Pelayan rumah sedang pergi ke pasar,” jelas Lily tanpa menoleh. “Bahan makanan mulai habis, jadi dia meminta izin untuk berbelanja pagi ini.”
Satoshi mengangguk kecil.
“Jadi, hanya kita berdua di rumah?”
“Para penjaga masih berada di luar gerbang.”
“Aku tidak bertanya tentang penjaga.”
Lily meletakkan sendok sayur di tempatnya, lalu menatap Satoshi.
“Kalau Anda ingin mengetahui sesuatu, silakan bertanya dengan jelas. Saya tidak ingin menebak-nebak maksud Anda.”
Satoshi mengembuskan napas. Ia ingin membalas ketus, tetapi mengurungkan niatnya ketika melihat tatapan Lily yang begitu berbeda dari sebelumnya.
"kau tadi malam sangat berbeda dengan kau yang sekarang, kau semalam memohon aku melepaskanmu, menangis, dan kemudian memelukku sangat erat."
"Saya tidak mengerti maksud tuan."
“Aku hanya ingin menghabiskan waktu bersamamu, itu maksudku." jawabnya.
“Kalau begitu, Anda bisa duduk dan menunggu sarapan.”
Lily kembali membelakanginya.
Satoshi menatap punggung istrinya beberapa saat. Ia tidak menyukai jarak yang tercipta di antara mereka, tetapi ia juga tahu bahwa dirinya sendiri yang membangun jarak itu selama 3 tahun.
Ketika Lily membungkuk untuk mengambil piring dari lemari bawah, Satoshi tiba-tiba mengulurkan tangan dan mencoba membuka pengait pakaian dalamnya dari balik baju.
Lily langsung tersentak dan berbalik.
“Apa yang Anda lakukan?”
Satoshi menarik tangannya, tetapi ekspresinya masih memperlihatkan kejengkelan karena ditolak.
“mencoba sesuatu yang lembut dan kenyal.”
“Tuan, jangan coba-coba menyentuhku kembali.”
“Aku suamimu, Lily.”
"milik saya masih sakit, jika anda terus menginginkannya, kemungkinan dia akan membengkak dan saya tidak dapat berjalan."
Suara Lily terdengar tegas. Ia menjauh beberapa langkah, memastikan ada jarak yang cukup di antara mereka.
Satoshi mengatupkan rahang.
“bagaimana jika mencoba didapur, hm?”
Lily menatapnya lama sebelum menjawab.
“Tidak akan lagi.”
Kalimat itu membuat dapur mendadak sunyi.
Satoshi tidak menemukan jawaban yang dapat membantahnya. Ia teringat bagaimana Lily dahulu selalu menundukkan kepala setiap kali dirinya marah. Ia juga teringat pintu kamar kecil yang pernah ia jadikan tempat tinggal istrinya, serta malam-malam ketika ia sengaja membuat Lily merasa tidak memiliki tempat di rumah mereka.
Lily mengambil dua piring dan meletakkannya di atas meja.
“Silakan sarapan. Setelah itu, saya ingin berbicara dengan Kakek Mahito.”
Satoshi mengangkat wajah.
“Untuk apa?”
“Itu urusan saya.”
“Lily, aku datang ke Jepang karena ingin memastikan keselamatanmu.”
“Kalau memang begitu, hormati batasan saya.”
Lily membawa mangkuk sup ke meja makan. Ia tidak menunggu jawaban Satoshi sebelum kembali ke dapur untuk mengambil hidangan lainnya.
Satoshi berdiri sendirian di dekat meja. Untuk pertama kalinya, ia menyadari bahwa meminta maaf saja tidak akan cukup untuk memperbaiki keadaan. Bahkan jika ia benar-benar ingin berubah, Lily tidak memiliki kewajiban untuk langsung memercayainya.
Mereka akhirnya duduk berhadapan.
Lily makan dalam diam, sedangkan Satoshi beberapa kali meliriknya. Ia ingin bertanya apakah perempuan itu merasa sakit, apakah ia tidur nyenyak, atau apakah ada sesuatu yang dibutuhkannya. Namun, semua pertanyaan itu terasa terlambat setelah apa yang telah ia lakukan.
Ponsel Lily tiba-tiba bergetar di samping piringnya.
Sebuah pesan masuk dari nomor yang tidak tersimpan.
Jangan mengira kau bisa terus bersembunyi .
Lily membeku. Ia segera membuka pesan berikutnya.
Sebuah foto muncul di layar. Foto itu memperlihatkan bagian luar kediaman persembunyian, diambil dari sudut yang cukup dekat dengan jendela dapur.
Wajah Lily memucat.
Seseorang telah mengawasi mereka.
Satoshi menyadari perubahan ekspresinya.
“Ada apa?”
Lily tidak langsung menjawab. Ia memutar layar ponselnya agar Satoshi dapat melihat foto tersebut.
Dalam sekejap, ekspresi Satoshi berubah serius.
“Siapa yang mengirim ini?”
“Saya tidak tahu.”
Satoshi mengambil ponselnya sendiri dan segera menghubungi kepala penjaga.
“Periksa seluruh kamera pengawas di sekitar kediaman. Jangan biarkan siapa pun meninggalkan kawasan ini sebelum pemeriksaan selesai. Periksa juga kendaraan yang keluar masuk sejak tadi malam.”
Ia mengakhiri panggilan, kemudian kembali menatap Lily.
“Kau harus tetap di dalam rumah.”
Lily mengangkat wajahnya dengan sorot mata dingin.
“Saya akan tetap berada di sini karena Kakek Mahito yang memintanya, bukan karena perintah Anda.”
Satoshi terdiam. Ia hampir membalas, tetapi akhirnya mengangguk.
“Baik.”
Lily kembali memandang pesan di ponselnya. Ancaman itu bukan sekadar peringatan. Pengirimnya mengetahui apa yang terjadi di dalam rumah, bahkan mungkin mengetahui lebih banyak daripada yang mereka bayangkan.
Di luar, seorang penjaga berdiri di dekat gerbang sambil mengamati layar ponselnya. Setelah memastikan tidak ada orang yang memperhatikan, ia menghapus riwayat panggilan dari nomor tak dikenal.
Kemudian, sebuah pesan baru muncul di layarnya.
Apakah mereka sudah melihat foto itu?
Penjaga tersebut melirik bangunan utama sebelum mengetik balasan singkat.
Sudah. Mereka mulai curiga.
Ia memasukkan ponsel ke dalam saku dan kembali mengambil posisi berjaga.
Sementara itu, di dalam rumah, Lily dan Satoshi masih duduk di meja makan yang sama. Sarapan di hadapan mereka perlahan mendingin, tidak lagi menggugah selera.
Lily memahami satu hal: ancaman terhadap dirinya bukanlah sesuatu yang akan selesai hanya dengan bersembunyi selama lima hari.
Dan jika seseorang benar-benar berada di antara para penjaga yang seharusnya melindunginya, kediaman itu mungkin tidak seaman yang selama ini ia percayai.
mampir juga yuk kak ke new sc akuu😁