NovelToon NovelToon
Sugar Daddy-ku Sang Mafia

Sugar Daddy-ku Sang Mafia

Status: tamat
Genre:Romantis / Mafia / Cinta Terlarang / Obsesi / Beda Usia / Tamat
Popularitas:1.9k
Nilai: 5
Nama Author: Celina González ♥️

Zaira Montes tumbuh di lingkungan kumuh dengan satu tekad: keluar dari kemiskinan lewat kuliah dan pekerjaan yang menguras habis tenaganya. Tapi malam ketika sahabatnya sendiri "menjualnya" ke sebuah klub eksklusif, hidup gadis itu berubah selamanya—karena di balik pintu ruang VIP, seorang lelaki menunggunya.

Leonardo Santos. Taipan berusia lima puluh tahun, dingin, berkuasa, dan menyimpan luka yang tak pernah sembuh. Dunia mengenalnya sebagai hartawan tak tersentuh; hanya sedikit yang tahu kerajaannya berdiri di atas bisnis-bisnis kelam dan rahasia berdarah. Ia tak mencari cinta. Ia hanya ingin memiliki Zaira—dan lelaki seperti dia selalu mendapatkan apa yang ia inginkan.

Zaira bersumpah dirinya bukan barang yang bisa dibeli. Namun antara penolakan dan gairah yang tak sanggup ia bendung, garis itu perlahan kabur. Dari kesepakatan penuh nafsu, tumbuh sesuatu yang jauh lebih berbahaya: perasaan yang bisa menghancurkan mereka berdua.

Sebab di dunia Leonardo, mencintai berarti menjadi kelemahan. Dan seseorang dari masa lalunya telah lama menunggu—menanti Sang Mafia jatuh cinta, agar akhirnya ia punya sesuatu untuk direnggut.

Ketika peluru mulai berbicara dan pengkhianatan menampakkan wajahnya, Zaira harus memilih: lari dari pria paling berbahaya yang pernah ia kenal, atau mempertaruhkan segalanya demi cinta yang lahir dari kegelapan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Celina González ♥️, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 27

Pagi datang tanpa Leonardo sempat tidur lebih dari dua jam. Matahari menyusup lewat jendela-jendela besar penthouse-nya, tapi cahayanya tak membawa ketenangan. Hanya hari baru yang sarat keputusan. Ia melangkah tanpa alas kaki di atas lantai kayu yang dipoles menuju mesin kopi, menyalakannya tanpa berpikir, mekanis, lalu menumpukan kedua lengan di atas meja granit. Ponselnya masih membisu.

Zaira tak menelepon.

Dan meski ketidaksabaran membakarnya dari dalam, ia memaksa diri menghormati keputusan perempuan itu. Tak mencarinya, tak menyelidikinya. Kalau ia ingin bicara, ia akan melakukannya. Kalau tidak... akan kuterima.

Ia meneguk kopi hitam tanpa gula, membiarkan rasa pahit membangunkan inderanya. Berbalut kemeja linen putih yang terbuka di bagian dada, dan celana gelap, ia keluar ke balkon untuk merokok. Angin pagi terasa sejuk, tapi tak sanggup menenangkannya. Asap rokok mengular di antara jemarinya sementara pandangannya hilang di kota yang mulai berdenyut.

Ponselnya bergetar.

Dari Marcelo.

"Ya?" ucapnya tanpa basa-basi.

"Bos. Kami dapat salah satu orang yang mengawasi gudang di kawasan pelabuhan. Kami menangkapnya subuh tadi. Dia ada di gudang lama La Curva. Bos mau kami apakan dia?"

Leonardo menegakkan tubuh, matanya menyala dengan percik gelap.

"Aku ke sana. Ikat dia yang kuat. Aku ingin melihatnya langsung."

Ia menutup telepon.

Bangunan gudang industri itu menjulang bagai kerangka berkarat di tengah tanah kosong. Di luar, kerikil berderak di bawah ban Mercedes hitam Leonardo. Ia turun tanpa menunggu siapa pun membukakan pintu, dengan lengan kemeja tergulung sampai siku dan tatapan yang berubah menjadi bilah-bilah pisau.

Di dalam, cahaya masuk lewat jendela-jendela yang pecah, meninggalkan berkas-berkas terang berdebu yang menyilang udara yang sarat bau oli, lembap, dan karat. Bau pengap, logam yang memanas, mengingatkannya pada masa lalu. Di sekelilingnya, tiga orang kepercayaannya menjaga seorang lelaki yang terikat di kursi logam, wajahnya berlumur darah dan bibirnya membengkak.

"Ini orangnya?" tanya Leonardo tanpa mengeraskan suara, nadanya lebih membekukan daripada teriakan.

"Ya, Bos. Kami melihatnya berkeliaran di sekitar kontainer dua malam berturut-turut. Kemarin anak-anak mengikutinya sampai ke sebuah gudang terbengkalai, dan subuh tadi kami menangkapnya. Dia tak mau bicara."

Leonardo mendekati lelaki itu. Ia mengamatinya lekat-lekat. Wajah kurus, mata merah berurat, bau ketakutan.

"Siapa yang mengirimmu?" tanyanya dengan ketenangan yang menyakitkan.

Lelaki itu meludahkan darah ke lantai dan memalingkan pandangan.

"Saya tidak tahu apa yang Anda bicarakan..."

Leonardo melepaskan tawa hambar.

"Tidak tahu?"

Dalam satu gerakan cepat, ia melayangkan tinju telak ke rahang lelaki itu. Bunyi hantamannya menggema di keheningan gudang. Lelaki itu mengerang, menggoyang-goyangkan kepalanya. Leonardo berjalan mengitarinya bagai pemangsa yang letih.

"Aku sedang bersuasana hati baik hari ini. Jadi kuberi kau kesempatan kedua. Siapa yang mengirimmu?"

"Sudah saya bilang saya tidak tahu..." lelaki itu tergagap, dengan suara patah.

Leonardo berdecak, jengkel. Ia berbalik ke salah satu anak buahnya dan mengulurkan tangan. Lelaki itu menyodorkan sebilah pisau kecil berbilah melengkung, bersih. Bilahnya berkilau di bawah cahaya kotor yang jatuh dari langit-langit.

"Jangan khawatir, ini cuma sebuah pesan."

Sang tawanan mulai gemetar, meronta sia-sia.

"Jangan, jangan, jangan! Tunggu! Saya tidak tahu apa-apa! Saya bersumpah!"

Tapi Leonardo sudah mencengkeram tangan kirinya. Dan tanpa membuang waktu lagi, ia menempelkan bilah pisau ke jari kelingking lelaki itu lalu menekannya.

Jerit lelaki itu memecah kesenyapan bagai kaca yang meledak. Darah muncrat ke kursi, ke lantai, ke sepatu bot Leonardo. Jari itu jatuh ke lantai semen dengan bunyi basah.

Leonardo mundur selangkah, mengamati lelaki yang terengah-engah itu, menahan murkanya.

"Katakan pada bosmu," ucapnya, dengan suara rendah, mantap, tanpa ampun, "bahwa lain kali aku tak akan memotong jarinya. Aku akan mencabut jiwanya. Dan kalau ia berani lagi mendekati barang daganganku, tak akan ada yang tersisa untuk menguburkan mayatnya."

Ia mengangkat pandangan ke arah Marcelo.

"Lepaskan bajingan ini. Biar ia pergi jalan kaki. Kalau masih sanggup."

Beberapa menit kemudian, sementara membasuh tangannya di wastafel berkarat sebuah ruang belakang, Leonardo menatap pantulan dirinya di cermin yang retak.

Ada darah di bawah kukunya. Di pergelangan tangannya. Di jiwanya.

Ia menarik napas dalam-dalam. Memejamkan mata.

Zaira tak boleh melihat ini, pikirnya. Ia tak boleh mengenal sisi diriku yang ini.

Sebab untuk pertama kalinya dalam bertahun-tahun, ia ingin menjadi lebih baik. Bukan demi bisnis. Bukan demi rasa segan. Melainkan demi perempuan itu. Sebab kalau ia berhadapan lagi dengannya, ia ingin perempuan itu memandangnya dengan mata yang lain. Dengan kehormatan. Dengan keberanian menghadapi bayang-bayang kelamnya.

Ia meletakkan pisau di atas wastafel. Wajahnya yang mengeras kembali menenang. Perang ini belum berakhir.

Kegelapan masih menyelimuti langit ketika Zaira membuka matanya. Jam di atas meja menunjukkan pukul 03.42 dini hari.

Ia bermimpi samar, penuh bayangan dan gumaman. Udara di kamarnya terasa pekat, tapi dingin yang tak nyaman merambati punggungnya. Ia terduduk di ranjang, dengan gaun tidur satin melekat di kulit dan kaki tertekuk, mencoba menenangkan getar aneh di dadanya.

Nyaris tanpa sadar, ia menjulurkan tangan dan meraih ponsel.

Sebuah notifikasi. Pesan suara dari Leonardo.

Jemarinya terhenti di atas layar. Sesaat, jantungnya berdetak lebih keras. Tak ada teks, hanya rekaman suara. Durasinya dua puluh tujuh detik.

Kerongkongannya sedikit tercekat. Ia ragu. Lalu ia menarik napas dalam dan menekan "putar".

Suara Leonardo memenuhi kamar. Berat, kasar, intens. Nadanya menyeret sesuatu yang tertahan... mungkin rasa bersalah, mungkin hasrat. Perut Zaira mengejang. Ia memejamkan mata saat mendengarnya berakhir. Aksennya, kekuatan saat ia mengucapkan namanya... melucuti pertahanannya.

Jemarinya gemetar. Ia belum memaafkannya, tapi suara itu... Ya Tuhan. Suara itu punya kuasa menggetarkannya dari ujung kaki sampai ke relung terdalam.

Ia memutar rekaman itu lagi.

Dan lagi.

Dan lagi.

Setiap kali, dirasakannya kata-kata itu terpahat di kulitnya, seolah lelaki itu ada di sana, membisik di telinganya, dengan nada rendah yang menyerempet batas antara bahaya dan penghiburan.

Ia teringat bagaimana dada lelaki itu bergetar menekan dadanya saat bicara, bagaimana nada yang sama itu telah membuatnya memejamkan mata lebih dari sekali ketika mereka berdua.

Tapi tidak sekarang. Ia tak boleh membiarkan dirinya jatuh ke dalam rasa itu.

Ia mendengarkannya untuk keempat kali lalu meletakkan ponsel di atas bantal. Ia merebahkan diri menyamping, mendekapnya tanpa sadar, seolah kehadiran lelaki itu masih hidup di serat-serat kapasnya.

Setetes air mata, bandel dan senyap, melintasi pelipisnya. Itu bukan kesedihan. Itu amarah. Hasrat. Kebingungan.

Kenapa aku tak bisa begitu saja membencinya?

Ia menggigit bibir kuat-kuat agar tak mengiriminya pesan, agar tak membalasnya. Sebab kalau ia melakukannya, kalau ia menurunkan pertahanan sekarang, lelaki itu akan kembali memegang kuasa atas dirinya. Dan Zaira tak ingin lagi menjadi perempuan yang menanti. Ia ingin menjadi perempuan yang memutuskan.

Tapi suara itu... suaranya yang terkutuk.

Ia memejamkan mata kuat-kuat dan berjanji pada diri sendiri untuk tak menjawab. Tidak untuk sekarang. Tidak selagi masih terasa sakit bahwa lelaki itu telah meninggalkannya sendirian.

Dalam sunyi dini hari, napasnya perlahan menurun.

Dan sementara angin malam menampar lembut jendela, Zaira kembali tertidur, dengan detak jantung yang masih mengulang-ulang nama itu: Leonardo, Suggar-nya yang terkutuk.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!