Dari seorang pangeran yang diagungkan, Jiang Yui kini beralih profesi menjadi "makcomblang sakti" keliling dunia.
Mulai dari pendekar pedang wanita yang dingin dari sekte es, pangeran dari faksi musuh, hingga siluman rubah yang galau—semuanya harus ia satukan dalam ikatan cinta.
Ditemani oleh layar sistem magis yang mengejek setiap kegagalannya, mampukah Jiang Yui merajut kisah cinta orang lain demi menyelamatkan takdir cintanya sendiri, atau ia justru terjebak selamanya sebagai perjaka tua terkuat di dunia kultivasi?
Jangan lupa like,komen dan subscribe ya kakak, biar author ya semangat ,,dukungan kalian sangat berharga... makasih 🫶🫶🫶🫶
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon S. M yanie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 30
Jiang Yui mendengus geli. Ia melirik Murong Chen, lalu memberi gestur dengan jarinya. "Keluarkan suratnya, Murong Chen. Bacakan keras-keras biar kakek tua kurang piknik itu sadar."
Murong Chen maju dua langkah, membuka gulungan surat ber-segel emas, lalu membacakannya dengan suara melengking penuh drama,
"Kepada Yang Terhormat Guru Besar Sekte Pedang Langit yang hobi marah-marah tanpa alasan,
Dengan ini diberitahukan bahwa dua anak didik kesayanganmu sedang menikmati teh manis di sini dan tidak punya waktu untuk dihakimi oleh orang tua yang gagal move on..."
"CUKUP!" teriak Cang Wu murka, wajahnya memerah padam karena menahan malu sekaligus amarah yang luar biasa. "Berani sekali kalian mempermainkan Sekte Pedang Langit! Rasakan ini—Teknik Pedang Pembelah Langit!"
Cang Wu mengangkat tangan kanannya. Ribuan pedang spiritual berkilau emas muncul di udara, melesat turun dengan kecepatan cahaya ke arah halaman Paviliun Damai.
Murong Chen menutup matanya rapat-rapat sambil berteriak histeris, sementara Feng Mo dan Lin Xi pasrah menanti hantaman maut.
Namun, Jiang Yui bahkan tidak bergeming. Ia hanya menghela napas malas, lalu mengangkat jari telunjuknya ke udara dan menjentikkannya ke depan.
BZZZT...!
Sebuah gelombang kejut transparan menyebar dari ujung jari Jiang Yui, menghantam ribuan pedang spiritual emas itu dalam sekejap. Tanpa ledakan besar, tanpa benturan keras, ribuan pedang spiritual itu seketika meleleh menjadi butiran cahaya murni dan menguap begitu saja di udara.
Bahkan, gelombang kejut itu terus melesat naik, menerbangkan awan petir di atas langit, dan meniup jubah Cang Wu hingga compang-camping, memaksa sang Guru Besar terhuyung mundur di udara dengan mata membelalak lebar penuh kengerian.
Cang Wu mendarat darurat di tanah halaman kedai dengan lutut lemas. Ia menatap Jiang Yui dengan tubuh bergetar hebat.
Tidak ada aura kultivasi, tidak ada energi spiritual yang terlihat—tetapi kekuatan mutlak itu mampu melumpuhkan teknik tertingginya hanya dengan satu jentikan jari!
"K-kau... Siapa sebenarnya kau?!" cicit Cang Wu terbata-bata, keringat dingin membasahi seluruh tubuhnya.
Jiang Yui berjalan mendekat, melipat kedua tangannya di dada , lalu tersenyum miring menatap sang guru besar yang kini berlutut dihadapan ku.
"Aku bukan siapa-siapa, Cikgu," ucap Jiang Yui santai.
"Aku cuma seorang Makcomblang Agung yang benci melihat orang tua sok suci mencampuri urusan cinta anak muda.
Sekarang, pilihannya ada dua, duduk manis minum secangkir teh hangat bersama muridmu, atau kuubah seluruh pedang sakti sekte kalian jadi tusuk sate?"
"Tusuk... tusuk sate?!" gemetar suara Grand Master Cang Wu, wajahnya yang tadinya angker kini pucat pasi bagaikan mayat hidup. Ia menatap telapak tangannya sendiri yang masih mati rasa akibat sisa gelombang kejut dari jentikan jari Jiang Yui.
"Kenapa? Kurang menarik?" Jiang Yui mengangkat sebelah alisnya, lalu menoleh ke arah Murong Chen.
"Murong Chen, catat usul baru. Kalau ada guru besar sekte besar yang keras kepala lagi, kita ubah markas besar mereka jadi pabrik tusuk gigi massal antardimensi."
"Siap, Paman! Usul yang sangat brilian dan ramah lingkungan!" balas Murong Chen cepat, sengaja mengeraskan suaranya agar terdengar oleh sang guru besar yang masih berlutut di tanah.
Feng Mo dan Lin Xi yang berdiri di dekat pintu dapur membuka mulut lebar-lebar, sama sekali tidak percaya dengan apa yang mereka saksikan. Seorang penguasa sekte besar tingkat kesembilan yang ditakuti seantero dataran kini tak berkutik, terduduk lemas di tanah hanya dalam kurun waktu kurang dari satu menit.
Cang Wu menelan ludah susah payah, tenggorokannya terasa kering. Ia mencoba menegakkan tubuhnya, meski lututnya masih gemetar hebat.
"Y-Yang Mulia Makcomblang Agung..." cicit Cang Wu dengan suara tertahan, mencoba mempertahankan sisa-sisa harga dirinya sebagai pemimpin sekte.
"Bukannya saya tidak menghargai niat Anda... tapi aturan sekte adalah hukum mutlak! Jika murid-murid sesat ini dibiarkan melanggar sumpah suci, maka fondasi ribuan tahun Sekte Pedang Langit akan runtuh seketika!"
Jiang Yui mendengus pelan, lalu berjongkok tepat di hadapan sang guru besar yang sedang berlutut. Ia menatap mata Cang Wu lekat-lekat tanpa rasa segan.
"Fondasi sekte runtuh? Coba pikirkan pakai otakmu yang sudah tua itu, Cang Wu," tegur Jiang Yui tajam namun santai.
"Apa gunanya bangunan megah dan aturan ribuan tahun kalau isinya cuma kumpulan orang-orang kesepian yang tidak tahu cara menghargai kebahagiaan hidup? Kau sendiri... kapan terakhir kalinya kau tertawa lepas tanpa memikirkan gelar ketua atau gengsi kultivasi?"
Cang Wu tertegun. Kalimat itu menohok tepat di lubuk hatinya yang paling dalam.
Bayangan masa mudanya—saat ia harus merelakan wanita yang dicintainya demi ambisi menjadi pendekar nomor satu, tiba-tiba melintas kembali di kepalanya.
"Aku... aku hanya..." Cang Wu tergagap, kehilangan kata-kata.
"Sudahlah, tidak usah malu mengakuinya," potong Jiang Yui sambil menepuk-nepuk bahu sang guru besar pelan, seolah-olah ia sedang menasihati keponakan nakal.
"Kau iri kan, karena waktu mudamu dulu kurang beruntung dalam urusan asmara, makanya sekarang giliran anak buahmu yang jatuh cinta malah kauhukum?"
"S-sembarangan!" protes Cang Wu setengah berteriak, wajah tuanya langsung memerah padam antara malu dan tersinggung.
"Mana ada aku iri!"
"Wah, masih ngeles rupanya," ledek Jiang Yui sambil menyeringai lebar. Ia berdiri tegak, lalu melirik ke arah Bai Ling.
"Sayang, ambilkan mangkuk teh herbal khusus dan dua cangkir lagi. Sepertinya tamu agung kita ini butuh terapi kejiwaan sambil minum teh sebelum pembuluh darahnya pecah karena gengsi."
Bai Ling mengangguk kecil, melangkah ke dapur dan kembali membawa nampan berisi teh hangat mengepul.
Ia meletakkan secangkir di hadapan Cang Wu yang masih terduduk di tanah.
"Minumlah, Guru Besar," ucap Bai Ling lembut.
"Teh ini tidak akan merusak kultivasi sekte Anda. Sebaliknya, teh ini terbukti ampuh meredakan stres akibat terlalu lama hidup dalam aturan yang kaku."
Cang Wu melirik cangkir giok berisi teh hangat di hadapannya, lalu menatap Bai Ling dan Jiang Yui bergantian.
Dengan tangan yang masih sedikit gemetar, ia mengambil cangkir tersebut dan menyesapnya sedikit.
Seketika itu juga, ekspresi wajah sang guru besar berubah drastis.
Aliran energi hangat yang menenangkan langsung meresap ke seluruh jalur meridiannya, menjernihkan pikiran dan melunturkan ego serta amarah yang selama ini memenuhi kepalanya.
"Ini..." bisik Cang Wu takjub. "Energi spiritual di dalam teh ini... bagaimana bisa begitu murni?"
"Makanya, jangan suka ngamuk sebelum mencicipi produk dari Paviliun Damai," kata Jiang Yui sambil menyilangkan tangan di dada.
"Nah, sekarang bagaimana? Mau merestui hubungan Feng Mo dan Lin Xi secara baik-baik, atau mau kulaporkan ke Dewan Sembilan Langit kalau ketua Sekte Pedang Langit hobi bikin keributan di pagi hari?"
Cang Wu menarik napas panjang, lalu menghembuskannya perlahan.
Seluruh beban arogansi yang selama ini membelenggu pundaknya seketika runtuh. Ia mendongak, menatap Feng Mo dan Lin Xi yang berdiri berdampingan dengan cemas di dekat pintu.
Cang Wu berdiri dari tanah, merapikan jubah putihnya yang sempat compang-camping, lalu mendehem pelan untuk memperbaiki suaranya.
"Ehem... Feng Mo. Lin Xi," panggil Cang Wu dengan nada wibawa yang kini terdengar jauh lebih bijaksana.
Feng Mo dan Lin Xi langsung berlutut bersama di hadapan guru besar mereka, tubuh mereka menegang siap menerima hukuman apa pun.
"Kalian berdua..." lanjut Cang Wu sambil menggelengkan kepala pelan, meski ada secercah senyum tipis di sudut bibirnya.
"Kalian memang bodoh karena nekat kabur dari sekte. Tapi... melihat kegigihan kalian, serta kekuatan luar biasa dari Yang Mulia Makcomblang... sepertinya aturan kuno tentang larangan elemen itu memang sudah saatnya direvisi."
Kedua muda-mudi itu membelalakkan mata, tidak percaya dengan apa yang baru saja mereka dengar.
"Guru... Anda merestui kami?!" cicit Lin Xi gemetar tak percaya.
"Bukan sekadar merestui," jawab Cang Wu tegas.
"Mulai hari ini, Sekte Pedang Langit dan Lembah Obat akan mendeklarasikan aliansi damai. Dan pernikahan kalian akan menjadi perayaan gabungan pertama dalam sejarah kedua sekte!"
Seketika itu juga, halaman Paviliun Damai meledak dalam sorak-sorai gembira. Feng Mo dan Lin Xi langsung bersujud berulang kali sambil menangis haru, sementara Murong Chen bertepuk tangan meriah sambil bersorak puas.
Jiang Yui tersenyum lebar, merangkul pundak Bai Ling di sisinya.
"Nah, begitu dong, Guru Besar Cang Wu," puji Jiang Yui sambil tertawa renyah. "Jauh lebih baik kan daripada jadi pabrik tusuk sate? Selamat datang di tim pencinta kedamaian asmara!"
sistem kultivasi perjaka/NosePick/ 🤧