Di kota London yang basah dan dingin, Hans Lorte bertahan hidup dari ketajaman otaknya. Baginya, kegaiban hanyalah alasan bagi orang bodoh yang malas berpikir.
Namun, sebuah kasus misterius memaksa Hans berhadapan dengan teka-teki paling berbahaya dalam kariernya. Tanpa saksi, tanpa tanda-tanda pembobolan, dan bukti fisik yang janggal, Hans harus berpacu dengan waktu sebelum sang pelaku menghilangkan jejaknya secara permanen.
Sebuah kisah investigasi gelap tentang obsesi, konspirasi, dan batas akhir dari akal sehat manusia.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ashciel, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
10. Teka-Teki Ruang Terkunci
Keheningan di dalam laboratorium bawah tanah Rotherhithe terasa begitu berat, menyerap setiap gema suara hingga menciptakan ilusi kehampaan. Bau ozon amis yang menyengat di udara berpadu dengan uap dingin yang membubung dari selot besi raksasa yang membeku.
Pip berdiri gemetar di samping pintu kayu ganda yang terkunci dari dalam. Tangannya mencengkeram erat pinggiran rompinya, mata liarnya terus bergantian menatap selot besi yang retak dan raut wajah tenang Hans Lorte.
"Tuan Lorte... jika Dr. Finch tidak keluar lewat pintu depan ini dan tidak pula melewati pintu rahasia di belakang..." suara Pip bergetar pelan. "Apakah ilmuwan itu... menguap begitu saja?"
"Akal sehat tidak mengenal istilah menguap tanpa sebab, Pip," sahut Hans datar. Tangan kanannya mengatur pendaran cahaya lentera minyak saku ke arah pusat ruangan. "Setiap materi di alam semesta tunduk pada hukum fisika. Jika sesuatu menghilang dari sebuah ruang tertutup, pasti ada jejak energi atau perpindahan zat yang ditinggalkannya."
Hans melangkah kembali ke tengah aula bawah tanah. Sepatu boot-nya mengetuk bilah-bilah batu yang dilapisi genangan cairan kebiruan. Tuk... tuk...
Hans tidak mengandalkan dugaan emosional. Sebagai mantan juru tulis Royal Navy yang terbiasa mencatat data ilmiah dan log navigasi maritim, matanya yang analitis mulai membedah seluruh laboratorium sebagai sebuah sistem kalkulasi fisik.
Penyelidikan mendalam dimulai dari meja kerja kayu ek milik Dr. Finch yang terguling miring.
Di atas meja tersebut, sebuah botol tinta kaca buatan pabrik London berdiri terbuka tanpa penutup. Namun, alih-alih tumpah melintasi kayu yang miring, cairan tinta hitam pekat di dalamnya justru menyajikan kejanggalan fisik yang mengerikan.
Tetesan-tetesan tinta hitam itu merembes keluar dari mulut botol, tetapi tidak jatuh meluncur ke bawah karena gaya gravitasi. Tetesan tinta itu justru terangkat naik, mengapung bebas di udara sejauh lima sentimeter di atas meja, membentuk kelereng-kelereng cair berwarna hitam yang melayang tanpa bobot.
"Lihat ini, Tuan!" bisik Pip seraya melangkah mundur dua tapak, wajahnya pucat pasi. "Tinta itu... tinta itu terbang!"
Hans memicingkan matanya tajam. Ia mengulurkan ujung besi tongkat jalannya, menyentuh salah satu kelereng tinta yang mengapung di udara.
Sret...
Tetesan tinta yang tersentuh ujung besi itu seketika membelah diri menjadi tiga lingkaran cair yang lebih kecil, tetap mengapung anggun melayang-layang di udara tanpa terpengaruh gravitasi bumi.
Terdapat pembalikan gaya medan gravitasi lokal di radius dua meter di sekitar meja ini. Suatu reaksi energi yang menyerap massa materi dan membelokkan Hukum Gravitasi Newton.
Hans merogoh saku rompinya, mengeluarkan kompas pelayaran buatan Royal Navy berbingkai kuningan murni. Begitu kompas itu dikeluarkan dari saku mantelnya, jarum tembaga yang biasanya menunjuk stabil ke arah Utara mulai bergetar hebat.
Jarum kompas itu berputar 360 derajat tanpa henti, berosilasi kencang dengan kecepatan gila setiap kali Hans mendekatkan tubuhnya ke area tumpukan pecahan tabung spesimen di tengah aula.
"Fluktuasi medan magnetik di tempat ini melebihi ambang batas alami," gumam Hans pelan, merekam kecepatan putaran jarum jam di balik pandangan matanya. "Bahkan generator listrik industri terbesar di pelabuhan Wapping tidak sanggup mengacaukan kompas pelayaran hingga sejauh ini."
Hans merunduk di antara tumpukan buku dan kertas-kertas kerja yang berhamburan di lantai batu. Tangan kirinya memungut lima lembar kertas catatan milik Dr. Finch yang tersisa, mengibas-ibaskan debu dan serpihan es yang menempel.
Pendaran lampu minyak tanah menerangi baris-baris tulisan tangan Finch yang terburu-buru. Tulisan di atas lembaran kertas itu bukan sekadar catatan harian biasa, melainkan lembaran kalkulasi fisika teoretis yang rumit.
Di sana terhampar rumus-rumus geometri non-Euclidean, persamaan gelombang frekuensi tinggi, dan sketsa diagram lingkaran bersisi gelombang yang persis sama dengan simbol The Abyssal Order.
Hans memindai paragraf terakhir yang ditulis Finch dengan tinta merah sebelum kehilangannya:
Radiasi dari spesimen Palung Atlantik tidak sekadar membekukan materi organik, melainkan melipat ruang tiga dimensi. Pada frekuensi 440 Hertz, struktur ruang di sekitar artefak akan mengalami kebocoran. Pintu itu bukan lagi sarana mekanis, melainkan retakan spasial...
Hans meraba anting perak bulan sabit di telinga kirinya.
Melipat ruang tiga dimensi... retakan spasial. Struktur fisika di ruangan ini dibelokkan oleh frekuensi anomali.
Semua potongan bukti fisik yang ditemukannya kini terhubung membentuk sebuah kalkulasi utuh yang mematikan di dalam benaknya.
Pertama, pintu depan laboratorium terkunci rapat dengan selot besi tebal dari dalam akibat penyerapan kalor mendadak saat energi anomali meledak. Kedua, tinta yang mengapung dan putaran liar jarum kompas membuktikan terjadinya fenomena kebalikan gravitasi serta gangguan medan magnetik yang teramat kuat. Ketiga, tidak ada tanda-tanda penyerobotan fisik dari luar maupun jejak perkelahian darah manusia biasa.
Hans berdiri tegak, memutar tongkat jalan berkepala besinya dengan satu gerakan cepat. Matanya yang kelabu menatap lurus ke titik kosong di tengah ruangan—area di mana pendaran cairan kebiruan memancar paling terang.
"Dr. Finch tidak diculik secara fisik oleh seseorang yang membongkar pintu dari luar, Pip," ujar Hans dengan suara tegas dan dingin yang membelah keheningan laboratorium.
Pip berkedip berkali-kali, mengamati Hans dengan dahi berkerut heran. "Lalu... apa yang terjadi padanya, Tuan?"
"Reaksi ilmiah dari spesimen terlarang itu meledak di ruangan ini," sahut Hans datar, mengunci pandangannya pada pendaran kebiruan di lantai. "Dr. Finch tidak pernah melangkah keluar dari ruangan ini. Tubuh dan fisiknya telah 'dilenyapkan'—dipindahkan secara spasial menembus retakan ruang akibat reaksi anomali The Abyss Heart."