"Kamu akan Ayah jodohkan dengan Bian menggantikan Salsa. Daripada kamu di rumah cuma coret-coret kertas nggak jelas, mending ngurusin anaknya tukang kebun itu." ucap Ayah dari seorang gadis yang tengah melukis di sebuah art paper.
"Baik," jawab gadis bernama Aluna Savira Velove itu tanpa perlawanan.
Aluna harus menikah dengan kekasih dari anak tiri Ayah kandungnya. Status calon suami Salsa yang hanya bekerja di kebun buah dan sayuran terbesar di desa itu, membuat perempuan itu menolak saat diajak menikah. Apalagi laki-laki itu juga seorang duda dengan dua anak yang sangat nakal.
Bisa kah Aluna menaklukkan dua anak dari sang duda? Mampu kah dia menjalani pernikahan tanpa cinta dengan sang duda?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon eli_wi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pedas
"Papa, Lopa ndak yakin itu Tante bisa mandikan lho. Nanti bukannya masuk bak mandi, malah Lopa dimasukkan kloset kan bahaya," bisik Elova pada Bian.
"Panggil Mbak Ambal aja sih," lanjutnya.
"Nanti Tante Aluna tersinggung kalau Papa larang. Coba dulu deh," ucap Bian yang tak ingin Aluna tersinggung jika dilarang mengurus Elova.
"Buat anak kok coba-coba," ucap Elova sambil memelototkan matanya ke arah Bian.
Sebenarnya Bian senang kalau Aluna dekat dengan Elova. Hanya saja ini Aluna ingin memandikan Elova. Padahal Aluna tidak bisa melihat area kamar mandi yang mungkin licin atau bagaimana. Elova sendiri takut kalau tiba-tiba malah jatuh atau tergelincir. Namun Aluna begitu bersemangat membuat Bian tak tega jika melarangnya. Aluna pun sudah menyiapkan pakaian ganti dan air hangat untuk Elova.
"Ayo, lobak. Buruan mandi, nanti keburu siang dan Abang Reyhan terlambat sekolah lho." ajak Aluna pada Elova yang belum mendekatinya.
"Papa..." rengek Elova sambil menggelengkan kepalanya.
"Papa awasi," Bian pun langsung menggendong Elova kemudian membawanya ke kamar mandi. Beruntung kamar mandi di kamar itu luas, sehingga tak terlalu sempit jika dimasuki 3 orang.
"Jangan melem lho, Papa. Matanya melotot telus," ucap Elova memberikan peringatan.
"Iya, Lova." Bian pun berdiri di pintu kamar mandi setelah meletakkan Lova di hadapan Aluna. Dengan telaten, Aluna langsung membuka pakaian Elova.
"Ayo masuk sini," ucap Aluna dengan senyum yang tak lepas dari bibirnya.
Elova pun segera masuk ke dalam bath up yang berisi air hangat. Aluna mencium beberapa botol yang tersedia di rak dekatnya agar tak salah mengambil. Dengan telaten, Aluna membantu Elova menyikat giginya kemudian memberikan sabun pada badannya. Bian yang melihat itu hanya bisa menggelengkan kepalanya takjub. Jika dilihat dari belakang begini, Aluna terlihat seperti perempuan normal pada umumnya. Elova yang tadinya takut pun sekarang terlihat biasa saja. Malah dia main-main dengan air yang memenuhi setengah bath upnya.
"Tante kok bisa mandikan olang? Padahal ndak bisa lihat lho ini," tanya Elova dengan tatapan penasarannya.
"Bisa dong. Kan tinggal siram air dan kasih sabun begini," ucap Aluna dengan santainya.
Byar... Byar...
Hahaha...
"Jahil banget sih, lobak." Tiba-tiba saja Elova menepuk air di dalam bath up sehingga airnya mengenai Aluna.
"Bial Tante mandi sekalian. Bial ndak bau kita," ucap Elova sambil terkekeh geli.
"Tante tadi udah mandi ya. Udah rapi malah," ucap Aluna mencoba menghindari cipratan air yang dicipratkan oleh Elova.
"Ayo sudah itu main-mainnya. Keburu terlambat nanti Abang Reyhan," tegur Bian pada keduanya yang malah saling ciprat air.
Ndak selu Papa ini. Papa kaya Mbak Ambal, omel-omel Lopa telus kalau main ail.
Bian tak peduli dengan protes dari Elova. Kasihan nanti Reyhan menunggu lama. Apalagi setelah ini, mereka harus sarapan dulu. Aluna pun memasang handuk pada badan Elova. Bian segera menggendong Elova kemudian disusul Aluna yang keluar dari kamar mandi. Aluna memakaikan pakaian dan menguncir rambut keriting Elova menjadi kuncir dua. Setelah siap, Aluna menggandeng tangan Elova untuk keluar kamar.
"Pelan saja, situ belokan. Nanti nablak tembok," peringat Elova agar Aluna tidak salah jalan.
"Terimakasih lobak yang perhatian sama Tante Aluna. Terharu nih Tante," ucap Aluna menggoda Elova yang mengarahkan jalan kepadanya.
"Ish... Menyebalkan. Kalau ndak sebagai utang budi, ndak mau Lopa ini. Udah dimandikan dan diajak jalan-jalan, masa diam saja." gerutu Elova yang merasa berhutang budi pada Aluna.
Sretttt...
Eh...
"Ngapain kamu dekat-dekat sama si buta goa hantu itu sih, Lova? Nanti kamu kena pelet lho," seru Reyhan yang langsung menarik tangan Lova.
Elova dan Aluna sampai terkejut dengan tarikan tangan Reyhan. Bahkan Aluna sampai akan terjatuh. Bian sama sekali tidak melihat kejadian ini karena dia tadi pergi mengambil barang di kamar. Beruntung Aluna langsung memegang tembok di sampingnya. Elova sampai melihat ke arah tangan Aluna yang tampak gemetaran karena shock. Elova ingin marah pada Reyhan tapi tidak berani. Apalagi Reyhan langsung memelototinya.
"Ayo sarapan," ajak Aluna yang tak ingin memperpanjang masalah.
"Habis ini Tante mau ajak lobak buat jalan-jalan. Besok kalau weekend, Abang Reyhan juga ikut dari pagi. Hari ini, Abang Reyhan menyusul setelah pulang sekolah." lanjutnya sambil tersenyum.
"Nggak minat,"
"Lova, dijual kamu nanti kalau pergi sama dia. Modus ajaknya jalan-jalan, padahal mau buang dan jual kamu." ucap Reyhan mempengaruhi Elova. Bahkan Elova sampai membulatkan matanya karena takut dengan ucapan Reyhan.
"Tante nggak akan buang lobak. Masa anak selucu lobak begitu mau dibuang, mending disayang dong." ucap Aluna sambil terkekeh pelan mencoba membela diri.
Modus... Sok baik,
Aluna sampai mengelus dadanya sabar saat mendengar ucapan Reyhan yang terlalu pedas itu. Reyhan segera pergi membawa Elova ke ruang makan. Meninggalkan Aluna yang hanya bisa menghela nafasnya pelan. Namun entah mengapa, Aluna tidak sakit hati sama sekali. Padahal jika ada yang berkata kasar padanya dan itu keluarganya sendiri, Aluna akan merasa sakit hati. Aluna berpikir mungkin karena hati anak kecil itu masih suci. Pikirannya pasti dipengaruhi sesuatu sehingga bisa berucap hal menyakitkan itu.
"Aluna, kamu ngapain berdiri di situ? Nyasar?" tanya Bian dari arah belakang Aluna. Tampak sekali Bian khawatir kalau Aluna tiba-tiba tersesat di rumah ini.
"Enggak, Mas. Aku lagi hafalin jalan aja," ucap Aluna sambil cengengesan.
"Baik lah. Ayo kita ke ruang makan," ajak Bian dengan menjaga Aluna dari belakang.
"Itu pengasuhnya Lova udah datang. Kamu yakin mau ajak Lova pergi jalan-jalan? Pengasuhnya ikut juga kan? Biar nanti aku minta Mbak Ambar siapkan perlengkapan Lova," lanjutnya.
"Minta Mbak Ambar siapkan perlengkapan lobak aja, Mas. Mbak Ambar nggak usah ikut. Kan nanti kita cuma mau ke KUA dan kebun. Di sana juga ada Mama dan Papa, banyak yang jagain lobak." ucap Aluna dengan santainya.
"Apa nggak repot?" tanya Bian tak yakin.
Pasalnya Bian nanti pasti sibuk di kebun sehingga tidak bisa mengawasi Elova dan Aluna. Jalanan area kebun juga tidak ramah untuk tuna netra seperti Aluna. Namun Aluna tidak mau kebersamaan bersama keluarganya ini terganggu oleh kehadiran oranglain. Aluna langsung menggelengkan sebagai jawaban.
"Tidak repot. Aku juga sudah menyiapkan alat lukis untuk melukis di sana. Aku ingin menemani suamiku bekerja. Kalau perlu, nanti aku juga ikut ke toko." ucap Aluna yang ingin mendampingi suaminya.
"Tidak perlu. Tokonya sempit, susah nanti kamu geraknya. Jadi ke kebun saja," ucap Bian menolak usulan dari Aluna.
Baik lah,
Tante, ayo belangkat. Lama sekali malah ngoblol sama Papa,
Hehehe...
coba klau anaknya Pak Dayat digituin, emang mau nerima? yang ada Pak Dayat juga bakalan emosi sama seperti Bian.
klau ngomong tuh disaring dulu Pak, jangan asal ceplos aja, emang semua orang bisa nerima apa yang bapak ucapkan?! /Panic//Drowsy/
..