NovelToon NovelToon
Heir To Immortality

Heir To Immortality

Status: sedang berlangsung
Genre:Misteri / Fantasi / Wuxia
Popularitas:3.3k
Nilai: 5
Nama Author: Danzo28

Pria Terbuang, Topeng Hitam, dan Kekuatan Kuno yang Mengguncang Alam Kultivasi!

​Dibuang oleh keluarga sendiri karena dianggap sampah tanpa masa depan, Lu Mingseng bangkit bersama warisan tiga pembimbing kuno. Dengan topeng hitam separuh wajah dan anomali struktur energi di tubuhnya, ia siap menuntaskan dendam masa lalu dan membakar jalurnya menuju puncak keabadian!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Danzo28, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Deraan Lapangan dan Bayangan Rahasia

​DONG! DONG! DONG!

​Suara dentang lonceng besar Sekte Pedang Awan menggema tiga kali di antara puncaknya yang berkabut, membangunkan ribuan murid luar yang terlelap.

​Di Kamar Nomor Tujuh, Gao Shun melompat turun dari ranjangnya. "Bangun! Kalau kita terlambat ikut barisan latihan pagi, Instruktur Ma Zhen bisa menghukum kita setengah mati!"

​Qian He mengeluh malas sambil menarik selimutnya. "Baru saja aku tidur nyenyak... kenapa harus sepagi ini?"

​"Matahari tidak akan menunggumu jadi kuat!" sahut Gao Shun cepat.

​Sementara itu, Sun Tao telah berdiri rapi di dekat pintu dengan pedang kayu terikat di pinggang. Matanya melirik dingin ke arah Lu Mingseng yang masih duduk bermeditasi di atas ranjang. "Kau juga harus ikut. Jangan jadi beban di hari pertama."

​Mingseng perlahan membuka matanya. "Aku tahu."

​Semalam, ia hampir tidak tidur. Sepanjang malam ia memusatkan pikiran untuk menyelaraskan aliran energi spiritual di bawah bimbingan Kaisar Keabadian. Meski belum membuat lompatan besar, ia mulai merasakan kehangatan yang mengalir stabil di dalam dadanya.

​Ia segera merapikan pakaian latihan seragam sekte yang dibagikan kemarin. Kain abu-abu itu tampak sedikit kedodoran, memperlihatkan bahunya yang kurus dan tegap.

​Wajah Mingseng dipenuhi bekas luka masa lalu. Kulitnya kusam, pipinya tirus, dan ada goresan luka memanjang di dekat alis kirinya. Di dunia kultivasi tempat keturunan dan penampilan dipuja, fisik yang penuh cacat dan status miskin adalah sasaran empuk untuk ditindas.

​Mingseng paham betul hal itu. Namun, ia memilih mengunci rapat rasa sakitnya di balik tatapan matanya yang datar.

​Lapangan Latihan Utama.

​Ratusan murid luar telah berbaris rapi di lapangan batu pualam yang luas. Di hadapan barisan, berdiri seorang instruktur berbadan tegap bernama Ma Zhen, dengan bekas luka sayatan melintang di pipinya.

​"Mulai hari ini, kalian digembleng di bawah aturan besi Sekte Pedang Awan!" gertak Ma Zhen dengan suara menggelegar. "Di sini, hanya ada dua hal yang berlaku: Ketekunan dan Kekuatan! Kalau kalian malas, kalian akan mati tertindas!"

​"Paham, Instruktur!" seru para murid serempak.

​"Bagus! Sebagai pemanasan, lari dua puluh putaran mengelilingi lapangan! Mulai!"

​Tanpa berani membantah, ratusan murid langsung berhamburan berlari. Mingseng mengambil posisi di barisan belakang.

​Putaran pertama hingga ketiga masih bisa ia atasi. Namun memasuki putaran kelima, napasnya mulai terasa sesak. Tubuhnya belum pulih sepenuhnya dari siksaan Jalur Tekanan kemarin.

​Bruk!

​Di tengah lari, seorang pemuda berbadan tinggi sengaja menyenggol bahu Mingseng hingga ia hampir terjerembap.

​"Hei, minggir kau, Muka Hancur!" ejek pemuda itu.

​Dialah Fang Rui, murid dari keluarga kaya di Kota Qinghe yang telah mencapai ranah Pengumpulan Qi tahap awal. Mengetahui Mingseng berasal dari kota yang sama, Fang Rui sengaja mencari masalah.

​Fang Rui memperlambat larinya, menyejajari Mingseng dengan senyum sinis. "Lihatlah wajahmu. Bagaimana rasanya hidup membawa muka mengerikan seperti itu? Kalau aku jadi kau, aku lebih baik gantung diri daripada membuat orang lain mual melihatnya!"

​Gelak tawa meledak dari beberapa murid di sekitar mereka.

​Mingseng menoleh sekilas, tatapannya dingin menusuk. "Ada urusan apa?"

​"Nyali juga kau menatapku seperti itu!" Fang Rui mendengus merendahkan.

​Ia menjulurkan kakinya ke depan untuk menjegal Mingseng!

​Brak!

​Mingseng kehilangan keseimbangan dan jatuh tersungkur ke tanah berpasir. Siku dan lututnya lecet menumpahkan darah.

​"Ups, maaf! Jalanan luas ini tidak muat untuk orang seperti mu!" ejek Fang Rui keras-keras diiringi tawa teman-temannya.

​Mingseng bangkit perlahan. Ia menepis debu di pakaiannya, lalu menatap lurus ke dalam mata Fang Rui tanpa ketakutan sedikit pun.

​"Fang Rui..." panggil Mingseng pelan namun berbobot.

​"Kenapa? Mau mengadu pada Instruktur, Cacing?"

​"Aku akan mengingat namamu," ucap Mingseng dingin, lalu berbalik melanjutkan larinya.

​Mendengar itu, tawa Fang Rui seketika terhenti. Ada hawa dingin yang tak biasa merayap di tengkuknya saat melihat sorot mata Mingseng—tatapan seseorang yang siap bertaruh nyawa demi sebuah pembalasan.

​Dua puluh putaran usai. Ma Zhen melempar tumpukan pedang kayu ke lapangan.

​"Ambil senjata kalian! Kita pelajari teknik dasar ayunan pedang!"

​Mingseng memungut sebuah pedang kayu berpermukaan kasar. Tangannya gemetar karena kelelahan, namun ia memaksa dirinya berdiri di barisan.

​"Putar pinggang kalian, alirkan tenaga dari kaki hingga bahu!" instruksi Ma Zhen dari depan.

​Wus! Wus!

​Mingseng mencoba mengayunkan pedangnya. Ayunan pertamanya canggung karena fisiknya yang lemah.

​"Lihat si bodoh itu! Memegang kayu saja seperti orang lumpuh!" cibir Fang Rui dari jarak beberapa meter.

​Mingseng memejamkan mata sejenak, mengabaikan ejekan itu. Di dalam benaknya, ia mengingat petunjuk Kaisar Keabadian: 'Jangan hanya mengandalkan otot. Satukan aliran energimu dari kaki ke bahu...'

​Mingseng menarik napas panjang. Ia meresapi aliran tipis energi dari Meridian Pertama ke lengan kanannya.

​Ia mengambil posisi, lalu mengayunkan pedangnya sekali lagi.

​WUSSS!

​Suara angin berdesing tajam! Gerakannya mendadak presisi dan bertenaga!

​Instruktur Ma Zhen yang berjalan mengawasi sempat melirik heran melihat perbaikan postur Mingseng yang begitu cepat.

​Namun, Fang Rui yang merasa tersaingi sengaja melangkah mendekat, lalu menendang pedang kayu Mingseng hingga terpental ke tanah.

​"Ups, tanganku licin," ujar Fang Rui tanpa dosa, menjejakkan sepatu botnya tepat di atas pedang kayu Mingseng. "Tempat sampah tidak pantas memegang pedang."

​Kesabaran Mingseng mencapai batasnya.

​Ia melangkah maju. Tanpa peringatan, ia melayangkan tinjunya lurus ke arah wajah Fang Rui!

​BUGH!

​Hantaman itu sukses membuat hidung Fang Rui berdarah dan tubuhnya terhuyung ke belakang.

​Seluruh murid di lapangan terbelalak kaget. Seorang murid tanpa kultivasi berani memukul murid senior?!

​Fang Rui menyeka darah di hidungnya, wajahnya memerah padam oleh murka. "Sialan! Kau berani memukulku?!"

​Ia langsung mencabut pedang kayunya, mengarahkannya ke leher Mingseng dengan niat membunuh!

​"Mati kau!"

​PLAK!

​Sebelum tebasan itu mendarat, sebuah tamparan keras dari Instruktur Ma Zhen menghantam pipi Fang Rui hingga ia terpental.

​"Kalian pikir tempat ini arena pasar?!" bentak Ma Zhen menggelegar. "Bertarung tanpa izin di jam latihan adalah pelanggaran berat!"

​Ma Zhen lalu menunjuk ke arah Mingseng. "Dan kau, Lu Mingseng! Menyerang rekan latihan adalah pelanggaran disiplin! Lari sepuluh putaran tambahan setelah latihan usai!"

​Mingseng mengepalkan tangannya, lalu menunduk. "Baik, Instruktur."

​Fang Rui melirik tajam penuh dendam pada Mingseng, berbisik lewat gerakan bibir: 'Kau mati di tanganku nanti.'

​Malam Hari — Asrama Kamar Nomor Tujuh.

​Saat teman-teman sekamarnya sudah terlelap, Mingseng duduk bersila di atas ranjangnya. Ia memejamkan mata, menyelami kesadaran batinnya.

​'Senior, aku gagal menahan emosiku tadi siang,' bisik Mingseng.

​Suara Kaisar Keabadian terdengar tenang di dalam jiwanya. 'Kemarahan adalah bahan bakar yang bagus, Mingseng, selama kau tidak membiarkannya membakar dirimu sendiri. Fang Rui hanyalah kerikil kecil. Fokuslah memperkuat dirimu.'

​Tiba-tiba, saat ia memusatkan fokus pada Tulang Jari Emas di dadanya, sebuah fenomena aneh terjadi.

​Hawa hangat merebak, dan suara halus seorang wanita yang dipenuhi kesedihan mendalam bergema di benaknya:

​'Wajah bukanlah kutukan, Nak... Ketika sembilan meridianmu terbuka sempurna, kau akan mengerti mengapa takdir memilihmu.'

​Bayangan samar seorang wanita berjubah putih suci melintas di hadapan kesadarannya, memicu rasa rindu sekaligus sesak yang teramat sangat di dada Mingseng.

​"Siapa Anda sebenarnya?" batin Mingseng berteriak.

​Namun sosok itu memudar, digantikan oleh suara Kaisar Keabadian yang memperingatkan dengan nada mendesak:

​'Lu Mingseng... jangan sembarangan menyelami lapisan terdalam jiwamu! Ada rahasia besar yang terkunci di dalam warisan ini... dan itu jauh lebih berbahaya dari yang kau bayangkan!'

​Mingseng membuka matanya lebar-lebar. Napasnya memburu di kegelapan kamar.

​Ia menyadari bahwa jalan yang ditempuh bukan sekadar balas dendam pada keluarga Lu atau membungkam Fang Rui. Ia telah terseret ke dalam pusaran takdir masa lalu yang jauh lebih besar.

​Namun, di tengah misteri itu, tekad di dadanya makin berkilat terang.

​Apa pun rahasia di dalam tubuhnya... Lu Mingseng bersumpah akan meruntuhkan setiap rintangan dengan kedua tangannya sendiri!

1
Sri
😍😍😍
Sri
❤️‍🔥❤️‍🔥❤️‍🔥
Sri
😎😎😎
kute
keren
Sri
❤️‍🔥❤️‍🔥❤️‍🔥
Sri
😎😎😎
Sri
😍😍😍
Danzo28
Yuk Like komen vote nya Jangan lupa yahh ❤️❤️❤️🙏👍
Danzo28
pantau terus ya
Jan lupa vote nya 🥳🥳🥳
Uranenantios
langsung up 4 ni thor
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!