Dicampakkan Aris karena dianggap tidak selevel, Aura memilih balas dendam paling elegan: Menikahi Hendra (38th), ayah Aris yang tampan dan kaya raya.
Kini, sang mantan harus tunduk di bawah kekuasaan ibu tiri barunya.
"Dulu kamu menginjakku, Aris. Sekarang, panggil aku Ibu!"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nuna_Pena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
SURAT
“Bawakan surat itu ke atas sekarang, Laras.”
—
Suara Aura terdengar tenang dan lugas melalui interkom meja kerjanya. Wanita yang sedang mengandung empat bulan itu tidak memperlihatkan kepanikan sedikit pun. Ia membetulkan posisi duduknya di sofa kulit, merapikan gaun merah anggur (burgundy) yang membingkai lembut perutnya yang membuncit tipis.
—
Hendra berdiri tegap di sampingnya, raut wajahnya seketika mengeras dan dingin. Pria berusia tiga puluh delapan tahun itu melingkarkan tangan kokohnya di bahu Aura secara protektif, memancarkan insting perlindungan mutlak dari seorang suami.
—
KLAK.
—
Pintu ruang kerja terbuka pelan. Laras, sekretaris pribadi Aura, melangkah masuk dengan ragu-ragu seraya membawa sebuah amplop cokelat polos tanpa perangko atau alamat pengirim.
—
“Ini suratnya, Nyonya Aura,” kata Laras sopan sambil menyerahkan amplop tersebut.
—
Hendra langsung mengambil amplop itu sebelum sempat disentuh oleh Aura. Pria matang itu meneliti fisik amplop dengan mata elangnya yang tajam.
—
“Kamu bisa keluar, Laras,” perintah Hendra datar.
—
Setelah Laras melangkah keluar dan menutup pintu ganda kayu jati, Hendra menggunakan pisau pembuka surat perak di meja kerja untuk merobek segel amplop cokelat tersebut. Ia menarik keluar selembar kertas tebal berwarna hitam dengan tulisan ketikan berwarna putih di tengahnya.
—
Dahi Hendra berkerut dalam saat membaca pesan singkat yang tertera di sana.
—
Aura mendekatkan tubuhnya, menyandarkan kepalanya di dada bidang Hendra untuk membaca pesan tersebut bersama:
—
‘Selamat atas kemenanganmu di ruang rapat hari ini, Nyonya Aura Fahreza. Tapi ingatlah... Mahkota yang kamu pakai terlalu berat untuk wanita yang punya rahasia kelam di masa lalu. Sampai jumpa di acara Gala Dinner besok malam.’
—
Aura terkekeh pelan—sebuah tawa halus dan sangat anggun yang memecah ketegangan di ruangan itu.
—
“Ancaman murahan lagi, Mas,” komentar Aura santai sambil mengusap lengan tegap suaminya. “Orang ini cuma mau bikin kita panik sebelum acara Gala Dinner tahunan besok.”
—
Hendra menatap Aura dengan binar rasa cemas yang jujur. Pria itu meremas kertas hitam itu di dalam genggamannya sampai hancur.
—
“Siapa pun yang berani meneror kamu saat kamu sedang mengandung anak saya, akan saya hancurkan sampai ke akar-akarnya, Aura,” tegas Hendra dengan suara rendahnya yang amat berbahaya.
—
Aura mendongak, menatap lurus ke dalam manik mata cokelat gelap milik suaminya. Jemari lentiknya membelai rahang tegas Hendra yang hangat.
—
“Aku punya suami paling hebat di dunia,” bisik Aura tulus. “Kenapa aku harus takut?”
—
Hendra menyunggingkan senyuman menawan, menundukkan kepalanya untuk mengecup bibir merah Aura secara mesra dan penuh kehangatan.
—
—
Keesokan harinya di Ballrom Hotel Grand Hyatt Jakarta.
—
Acara Gala Dinner tahunan Fahreza Group digelar secara amat megah dan mewah. Ratusan pengusaha kelas atas, pejabat tinggi negara, dan awak media nasional memadati ruangan bertabur pendar lampu kristal dan karpet merah tersebut.
—
Pintu utama ballroom terbuka lebar.
—
Hendra Fahreza melangkah masuk dalam balutan tuksedo hitam kustom buatan penjahit Eropa yang sangat menawan. Di sampingnya, Aura berdiri anggun mengenakan gaun malam sutra panjang berwarna hijau zamrud yang sangat memikat, menonjolkan kecantikan keibuannya yang bercahaya di usia kehamilan empat bulan.
—
Lampu kilat kamera wartawan seketika membahana menyambut kedatangan pasangan paling berpengaruh di negeri ini.
—
Hendra melingkarkan tangannya di pinggang Aura dengan protektif, membimbing istrinya berjalan di atas karpet merah menyapa para tamu undangan.
—
Namun, saat mereka sedang berbincang dengan jajaran menteri di tengah ruangan, seorang wanita muda bergaun hitam elegan melangkah mendekati mereka dengan senyuman misterius di bibirnya.
—
Aura menoleh, matanya memicing tipis saat mengenali sosok wanita tersebut.
—
Wanita itu membungkuk sedikit dengan penuh kepura-puraan.
—
“Selamat malam, Pak Hendra... Selamat malam, Nyonya Aura,” sapa wanita itu dengan suara halus yang memancarkan intrik berbahaya. “Perkenalkan, saya Clara... Sekretaris Baru yang diutus langsung oleh dewan komisaris luar negeri untuk mendampingi Anda berdua mulai malam ini.”