NovelToon NovelToon
GADIS KECIL SANG PEMBUNUH BAYARAN

GADIS KECIL SANG PEMBUNUH BAYARAN

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Fantasi Isekai / Romansa Fantasi
Popularitas:441
Nilai: 5
Nama Author: Rienza27

Dendam akibat pembantaian keluarganya menjadikan Leo Cristian Theodore (18) seorang pembunuh bayaran berdarah dingin sejak usia sepuluh tahun. Namun, hidupnya berubah drastis saat ia menjalankan misi membasmi sebuah keluarga dan menemukan seorang anak perempuan bernama Vellora Zavendra (5thn) bersembunyi di dalam lemari.

Alih-alih merasa takut saat ditodong pistol, Vellora justru memeluk erat Leo dan memohon untuk dibawa pergi karena sebatang kara. Pelukan polos tersebut meruntuhkan pertahanan sang pembunuh bayaran, membuatnya melihat bayangan dirinya sendiri di masa lalu.

Sejak pertemuan dengan gadis kecil itu kini mengubah hidupnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rienza27, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

14. TIGA BOCAH

Matahari bersinar terik pada hari kedua Vellora di sekolah TK Mentari. Saat jam istirahat tiba, Vellora, Luna, dan Kenzi duduk melingkar di bawah pohon rindang di sudut taman bermain. Mereka sedang menikmati bekal makan siang masing-masing sambil diselingi obrolan khas anak TK yang dipenuhi tawa renyah.

Di sela-sela kunyahannya, Luna tiba-tiba menaruh kotak bekalnya. Matanya berbinar penuh semangat. "Emm, Vell! Bagaimana kalau aku dan Kenzi main ke rumahmu hari ini sepulang sekolah? Aku sudah bilang pada ibuku lho kalau aku mau main ke rumah teman baruku!" usul Luna dengan nada riang.

Vellora menghentikan kunyahan sosis guritanya. Keningnya berkerut bingung membayangkan rumah kayunya yang besar, dan tentu saja... penghuninya. "Emm... boleh saja sih. Tapi apa dibolehin ya sama Kakek Liam? Soalnya kakek kadang suka marah-marah nggak jelas kalau ada keributan," gumam Vellora dengan raut wajah ragu-ragu.

Sementara itu, Kenzi tidak memedulikan obrolan dua gadis kecil itu. Ia menyuap nasi gorengnya dengan sangat bar-bar, mengunyah dengan pipi menggembung seperti hamster kelaparan, sambil sesekali melirik malas ke arah sepupunya dan Vellora.

"Pasti boleh kok! Kakekmu pasti baik! Coba saja dulu. Nanti Kenzi juga ikut, kan, Kenzi?" ujar Luna dengan senyum tipis yang mencurigakan, melirik bocah laki-laki di sebelahnya.

Nyam nyam nyam... uhuk!

"HAAAAA?! Apa katamu, Luna?! Aku ikut juga?!" pekik Kenzi kaget hingga nasi goreng nyaris menyembur dari hidungnya. Ia menatap horor sepupunya itu.

"Iya! Pokoknya kamu harus menemaniku main ke rumah Vellora hari ini. Titik!" titah Luna tak terbantahkan, layaknya seorang bos mafia kecil.

"Enggaaaak maauuuuuu!" Kenzi mendengus kesal, menyilangkan lengannya di dada menolak keras ajakan itu. Main boneka? Jelas bukan gayanya.

Luna menyeringai licik. "Yaudah. Kalau kamu nggak mau ikut, nanti aku akan lapor pada Tante kalau kemarin kamu diam-diam mengambil uang kembalian sayur untuk beli permen cokelat. Padahal kamu lagi batuk dan dilarang makan cokelat, kan?" ancam Luna dengan suara pelan namun mematikan.

Skakmat. Kenzi langsung pucat pasi. Ia tahu betul amukan ibunya jauh lebih menakutkan daripada banteng yang mengamuk.

Dengan bahu lemas dan helaan napas panjang yang sarat akan penderitaan, Kenzi mengalah. "Iya, iyaaa... aku ikut iya! Dasar cerewet," gerutunya pelan.

"Nah, gitu dong!" Luna tersenyum menang. "Gimana, Vell? Apa boleh?"

"Emm... boleh! Kita jalan kaki saja nanti pas pulang. Arah rumahku nggak jauh kok dari sekolah, kita tinggal menyusuri trotoar" jawab Vellora akhirnya, tersenyum lebar karena untuk pertama kalinya ia akan membawa teman ke rumah.

Tiga bocah itu pun sepakat dengan misi rahasia mereka. Tak lama, bel masuk berbunyi nyaring. Satu jam berlalu dengan sangat lambat saat Bu Kina menjelaskan tentang bentuk-bentuk geometri, hingga akhirnya kelas usai.

Sesuai rencana, Vellora, Luna, dan Kenzi berjalan beriringan menyusuri trotoar batu bata yang memisahkan jalan raya dengan pepohonan. Tas ransel mereka bergoyang seirama dengan langkah kaki-kaki kecil mereka.

Di tengah perjalanan, rasa penasaran sekaligus parno mulai menyerang Kenzi.

"Hee, Vell... apa kakekmu itu galak? Nanti kalau dia lihat kita, apa dia akan mengusir kita pakai sapu lidi?" pekik Kenzi dengan nada cemas, membayangkan kakek tua berwajah menyeramkan yang membenci anak kecil.

Vellora tertawa kecil menutupi mulutnya. "Tidak, kok! Kakek Liam itu orangnya baik banget. Dan yang paling penting... dia jago masak, lho! Kalian pasti salut dan kaget kalau mencicipi masakan Kakek yang super enak!" promosi Vellora bangga.

"Benarkah?! Wah, aku jadi tidak sabar!" seru Luna dengan mata berbinar-binar membayangkan makanan enak.

Kenzi hanya memutar bola matanya malas, tidak terlalu percaya pada omongan anak perempuan. "Paling juga rasanya seperti sayur hambar," batinnya nyinyir.

Setelah beberapa belokan, langkah tiga bocah itu akhirnya terhenti. Di depan mereka, menjulang gerbang kayu raksasa berukir khas arsitektur Jepang kuno. Misi berkunjung ke kediaman Theodore yang legendaris pun resmi dimulai.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!