NovelToon NovelToon
Vendetta

Vendetta

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Mafia / Action
Popularitas:229
Nilai: 5
Nama Author: Cukstaw

Season pertama mengisahkan kejatuhan tragis klan mafia termasyhur, Valenti, akibat pengkhianatan terencana pada malam penyerahan takhta kepemimpinan. Leo Valenti, pewaris tunggal yang dituduh membunuh ayahnya sendiri, diburu oleh gabungan faksi rival dan terlempar ke titik terendah setelah terluka parah. Di tengah keputusasaan, Leo bersimpangan jalan dengan Elena, seorang peretas dan pemilik jaringan informasi independen yang memiliki masa lalu kelam dengan pelaku kudeta tersebut. Mereka sepakat membentuk aliansi rahasia yang dingin dan saling memanfaatkan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cukstaw, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

MEREKRUT MONTIR SENJATA

Sinar matahari pagi yang pucat memaksa masuk melalui celah gorden motel yang berdebu. Suara bising dari truk sampah yang lewat di jalanan depan membuat Leo perlahan membuka matanya. Rasa sakit langsung menyambutnya. Punggung dan dadanya terasa kaku, seolah ia baru saja dilindas traktor semalaman.

Leo memaksakan diri untuk duduk bersandar pada kepala ranjang. Ia menoleh ke samping dan melihat Elena sudah bangun. Gadis itu duduk bersila di lantai beralaskan karpet, tablet menyala di pangkuannya, dan sebuah cangkir kopi styrofoam yang mengeluarkan kepulan asap tipis ada di sebelahnya. Gadis itu sudah mengganti gaun malamnya yang hancur dengan kaus oblong hitam kebesaran dan celana jins pudar yang sepertinya ia beli dari toko loak di seberang jalan pagi ini.

"Kau tidur seperti orang mati," sapa Elena tanpa mengalihkan pandangannya dari layar tablet.

"Berapa lama aku pingsan?" tanya Leo mengusap wajahnya dengan tangan kiri.

"Sekitar delapan jam. Aku sempat berpikir untuk membuangmu ke tempat sampah kalau kau tidak bangun sebelum jam sepuluh," jawab Elena tersenyum miring, akhirnya menatap pria itu. "Ngomong-ngomong, aku sudah mengecek sisa uang kita dan membuang semua alat pelacak mikroskopis yang mungkin terselip di bendelan uang Marco. Kita bersih."

"Bagus," gumam Leo mencoba menggerakkan bahu kanannya secara perlahan. Jahitannya terasa kencang, tapi setidaknya darahnya sudah berhenti mengalir. "Apa ada kabar dari teman lama kita?"

Elena mengetuk layar tabletnya beberapa kali, lalu memutarnya ke arah Leo.

"Marco benar-benar kehilangan akal sehatnya," ucap Elena menunjukkan rekaman audio dan log komunikasi yang berhasil ia sadap. "Dia menahan tiga kapten seniornya di Valenti Tower. Sepanjang malam, anak buahnya mengobrak-abrik distrik timur mencari pria bertopeng silikon. Dia memicu perang dingin di dalam organisasinya sendiri."

"Sesuai rencana," balas Leo menyeringai tipis, matanya memancarkan kepuasan dingin. "Tapi kita tidak bisa cuma duduk di sini dan menonton. Kita harus terus menekan sebelum dia sadar bahwa dia sedang menghancurkan dirinya sendiri."

"Setuju," sahut Elena mengangguk. "Tapi ada satu masalah kecil. Senjata apimu tertinggal di dalam mobil yang terbakar semalam, dan senjata utamaku cuma laptop dan koneksi internet. Kecuali kau berencana melempar uang seratus dolar ini ke kepala anak buah Marco sampai mereka mati, kita butuh pasokan senjata."

Leo terdiam sejenak. Otaknya memutar kembali ingatan masa lalu, menyisir daftar orang-orang yang pernah bekerja untuk klan Valenti. Ayahnya, Don Valenti, selalu mengajarkan bahwa kekuatan sejati bukan pada jumlah pasukan, melainkan pada kesetiaan orang-orang di baliknya.

"Bantu aku berdiri," pinta Leo mengulurkan tangan kirinya.

Elena meletakkan tabletnya dan berjalan mendekat, menarik lengan Leo hingga pria itu berdiri, meski harus meringis menahan nyeri di tulang rusuknya.

"Aku sudah membelikanmu jaket hoodie abu-abu tebal dan celana kargo dari toko depan. Pakai itu. Setidaknya itu bisa menutupi perbanmu," ujar Elena menunjuk setumpuk pakaian yang terlipat di atas kursi kayu.

"Kita mau ke mana?" tanya Elena mengamati Leo yang sedang bersusah payah memakai kaus dan hoodie.

"Ke distrik selatan, perbatasan kawasan industri," jawab Leo menarik tudung hoodienya ke atas untuk menyembunyikan wajahnya yang kini tanpa topeng. "Aku kenal seseorang yang bisa memberi kita persenjataan. Seseorang yang tidak bisa dibeli oleh uang Marco."

Satu jam kemudian, setelah menyewa sebuah mobil sedan bekas tahun 90-an yang mesinnya berbunyi kasar menggunakan uang tunai, mereka tiba di sebuah area kumuh di pinggiran kota. Bau oli kotor, besi berkarat, dan asap pabrik langsung menyengat hidung.

Elena memarkirkan mobil itu di depan sebuah bengkel mobil tua yang terlihat seperti tempat pembuangan rongsokan. Papan nama kayunya sudah miring, bertuliskan 'Arturo & Sons Garage' dengan cat yang mengelupas. Halaman depannya dipenuhi tumpukan bangkai mobil yang berkarat dan ban bekas yang menggunung.

"Kau yakin ini tempatnya? Kelihatannya tempat ini lebih cocok untuk membuang mayat daripada mencari senjata tempur," komentar Elena mematikan mesin mobil.

"Penampilan bisa menipu," balas Leo membuka pintu mobil dan melangkah keluar, diikuti oleh Elena yang membawa tas ransel berisi beberapa bendel uang tunai.

Mereka berjalan memasuki area bengkel yang remang-remang. Suara dentingan logam dan percikan api dari mesin las terdengar dari sudut ruangan. Seorang pria tua bertubuh kekar, dengan rambut putih tipis dan celemek kulit yang dipenuhi noda oli tebal, sedang sibuk mengelas bagian bawah sebuah mobil van yang diangkat menggunakan dongkrak hidrolik.

"Bengkel tutup. Balik lagi besok kalau mau ganti oli," seru pria tua itu kasar tanpa menghentikan pekerjaan lasnya.

Leo melangkah lebih dekat, menyingkirkan beberapa kunci pas yang berserakan di atas meja kerja.

"Kudengar kau bisa memperbaiki lebih dari sekadar mesin V8, Arturo," ucap Leo suaranya datar namun menggema di bengkel yang pengap itu.

Mesin las itu tiba-tiba mati. Arturo menurunkan pelindung wajahnya, menatap kedua tamunya dengan mata kirinya yang juling dan mata kanan yang tajam mengintimidasi. Pria tua itu meraih sebuah kunci inggris raksasa dari atas meja, menggenggamnya erat-erat seperti sebuah palu godam.

"Siapa kalian? Anak buah si bajingan Marco?" bentak Arturo suaranya berat dan mengancam. "Sudah kubilang pada anjing-anjing itu, aku tidak mau berurusan dengan klan Valenti lagi sejak Don tua meninggal! Pergi dari bengkelku sebelum kupecahkan kepala kalian!"

Alih-alih mundur, Leo justru melangkah maju. Ia mengangkat kedua tangannya ke udara, lalu perlahan menurunkan tudung hoodie yang menutupi wajahnya.

Cahaya lampu neon bengkel yang berkedip-kedip menyinari wajah Leo. Garis rahangnya, sorot matanya yang tajam, dan auranya yang dingin langsung membuat napas Arturo tertahan.

Kunci inggris di tangan pria tua itu meluncur jatuh, menghantam lantai beton dengan bunyi dentingan keras.

"T-Tuan Muda?" bisik Arturo matanya membelalak lebar, seolah baru saja melihat hantu yang bangkit dari kubur. Kaki pria tua itu gemetar, ia buru-buru menyeka tangannya yang kotor ke celemek, tidak peduli pada oli yang menempel. "Demi Bunda Maria... mereka bilang kau sudah mati malam itu."

"Aku terlalu keras kepala untuk mati, Arturo," jawab Leo tersenyum tipis, sebuah senyuman yang persis seperti milik mendiang ayahnya.

Arturo berjalan gontai mendekati Leo. Pria tua yang terkenal kasar dan ditakuti oleh geng-geng jalanan itu tiba-tiba jatuh berlutut di hadapan Leo. Air mata menggenang di pelupuk matanya yang keriput.

"Maafkan aku, Tuan Muda. Maafkan aku tidak ada di sana malam itu untuk melindungi ayahmu," isak Arturo suaranya pecah oleh duka yang mendalam. "Don Valenti menyelamatkan hidupku dua puluh tahun lalu... dan Marco si pengkhianat itu menghancurkan semuanya."

Leo membungkuk, menggunakan tangan kirinya yang sehat untuk memegang bahu pria tua itu dan memaksanya berdiri.

"Berdirilah, teman lama. Ini bukan salahmu," ucap Leo suaranya melembut, menyiratkan rasa hormat. "Ayahku selalu bilang, kalau dunia sedang kiamat dan kau butuh peluru terakhir, Arturo adalah orang yang harus kau temui."

Arturo mengusap air matanya dengan lengan baju, matanya kini berkobar oleh kebencian yang sama dengan yang dirasakan Leo. Ia melirik ke arah Elena yang berdiri diam di belakang Leo.

"Siapa nona ini?" tanya Arturo penasaran.

"Dia yang menarikku dari sungai dan menjahit lukaku. Dia rekanku," jawab Leo tegas.

"Kalau begitu dia temanku juga," sahut Arturo mengangguk hormat pada Elena. Pria tua itu kemudian menatap Leo dengan penuh antisipasi. "Kau tidak datang ke sini cuma untuk reuni, kan, Tuan Muda? Kau butuh mainan untuk menghabisi Marco."

"Aku butuh senjata yang cukup untuk memulai sebuah perang gerilya," tegas Leo matanya berubah menjadi gelap. "Senjata tanpa nomor seri. Sesuatu yang tidak bisa dilacak oleh anjing pelacak Marco."

Arturo menyeringai lebar, memperlihatkan deretan giginya yang tidak rata. Senyum itu terlihat mengerikan tapi melegakan.

"Ikut aku," perintah Arturo berbalik dan berjalan menuju bagian belakang bengkel.

Ia membawa mereka ke sebuah ruangan yang dipenuhi rak-rak suku cadang mobil yang berdebu. Arturo berjalan ke sebuah lemari perkakas baja berukuran besar yang menempel di dinding. Ia merogoh ke bagian belakang lemari itu, memutar sebuah sekrup yang ternyata adalah tuas tersembunyi.

Terdengar bunyi klik hidrolik yang berat. Lemari perkakas itu perlahan bergeser ke samping, mengungkap sebuah pintu baja tebal yang mirip seperti pintu brankas bank tua.

Elena mengangkat alisnya, merasa terkesan. "Kau menyembunyikan fasilitas militer di balik bengkel rongsokan?"

"Polisi dan anak buah Marco sudah menggeledah tempat ini tiga kali minggu ini. Mereka cuma menemukan busi mati dan kaleng oli bekas," kekeh Arturo bangga sambil memutar kombinasi angka di pintu baja itu.

Pintu terbuka, dan lampu di dalam ruangan itu otomatis menyala. Begitu mereka melangkah masuk, bau mesiu murni dan minyak senjata langsung menyambut mereka. Ruang bawah tanah itu luas, berpendingin udara, dan dikelilingi oleh dinding beton tebal.

Di sepanjang dinding, berjajar rak-rak senjata yang tertata sangat rapi. Mulai dari deretan pistol Glock dan Beretta, senapan serbu AR-15 dan AK-47 varian modern, *shotgun* taktis tempur jarak dekat, hingga senapan penembak jitu dengan *scope* presisi tinggi. Di sudut ruangan, terdapat beberapa peti kayu berisi granat asap, granat fragmentasi, dan rompi antipeluru kelas militer.

"Selamat datang di surganya para pendosa," ucap Arturo membentangkan kedua tangannya. "Ambil apa saja yang kalian butuhkan. Semuanya sudah diminyaki, bersih dari nomor seri, dan siap memuntahkan maut."

Mata Leo menyapu ruangan itu. Adrenalinnya kembali berdesir. Ia berjalan ke arah rak pistol, mengambil dua buah pistol otomatis Heckler & Koch USP kaliber .45 yang berwarna hitam pekat. Ia mengecek mekanisme kokangnya, suaranya terdengar mulus dan mematikan. Sempurna.

Elena sementara itu berjalan ke arah rak senjata yang lebih ringan. Ia memilih sebuah *Submachine Gun* MP7 yang ringkas namun mematikan untuk pertempuran jarak dekat, serta sabuk taktis untuk menyimpan magasin cadangan.

"Kau punya laptop tempur anti-sadap?" tanya Elena menoleh pada Arturo.

"Di dalam lemari besi ujung sana. Dilengkapi satelit uplink mandiri. Harganya seratus ribu dolar di pasar gelap, tapi buat kalian, gratis," jawab Arturo menunjuk ke sudut ruangan.

Leo mulai mengenakan rompi antipeluru berbahan kevlar yang ringan namun kuat di balik hoodienya. Ia menyelipkan kedua pistol HK USP itu ke dalam sarung pistol di pinggangnya, lalu mengambil sebuah senapan serbu M4A1 yang sudah dimodifikasi dengan peredam suara dan *red dot sight*.

"Kita tidak akan mengambil ini secara gratis, Arturo," ucap Leo.

Ia memberi isyarat pada Elena. Gadis itu membuka tas ranselnya dan mengeluarkan tiga bendel uang seratus dolar—total tiga puluh ribu dolar—lalu meletakkannya di atas meja perakitan senjata.

"Itu uang kasino Marco," jelas Leo tersenyum sinis. "Gunakan ini untuk menambah stok peluru dan bahan peledak. Kami akan sering kembali ke sini. Dan satu lagi, aku butuh kau memodifikasi sedan butut di depan agar mesinnya setara dengan mobil pengejar, dan lapisi bodinya dengan pelat baja ringan."

Arturo menatap uang itu, lalu menatap Leo dengan penuh kebanggaan.

"Akan kuselesaikan mobil itu sebelum matahari terbenam, Tuan Muda," janji Arturo menepuk dadanya sendiri. "Anggap bengkel ini sebagai markas logistikmu. Kita akan buat si pengkhianat Marco menangis darah."

Leo mengangguk mantap. Ia mengokang senapan serbunya, mengisi peluru pertama ke dalam laras pembunuh itu. Kini mereka bukan lagi pelarian yang hanya bermodalkan nyali. Mereka sudah bersenjata penuh, memiliki peretas terbaik, dan logistik tanpa batas.

Waktunya membakar kerajaan Marco dari bayang-bayang telah tiba.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!