NovelToon NovelToon
Penemu Rahasia Orang Mati

Penemu Rahasia Orang Mati

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi
Popularitas:1.1k
Nilai: 5
Nama Author: Aurora.playgame

Di balik ruang pemulasaraan yang dingin dan sunyi, Arya menyimpan kemampuan magis sekaligus mengerikan. Ia bisa melihat detik-detik terakhir kehidupan dari setiap jenazah yang disentuhnya. Tugasnya bukan sekadar menyucikan jasad, melainkan menjadi saksi bisu bagi suara-suara yang dibungkam kematian.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aurora.playgame, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 10: Kode tak di sengaja

"ARGH!"

Arya menarik tangannya seketika seperti tersengat api mendidih. Tubuhnya berguncang hebat, dadanya naik-turun memburu napas. Lututnya lemas hingga ia harus berpegangan kuat pada sudut meja stainless steel.

Air mata menetes dari sudut matanya, campuran dari syok visual dan rasa teriris yang mendalam atas pengkhianatan tragis itu.

"Dia dibunuh oleh istrinya sendiri..." batin Arya menjerit. "Janji sehidup semati itu dihancurkan oleh ketakutan akan kehilangan harta!"

"Arya? Kamu kenapa lagi?" Teguh berjalan mendekatinya dengan dahi yang berkerut heran. "Kamu megang dada terus dari tadi. Kamu beneran tidak sehat ya?"

Iptu Farhan yang berada di dekat mereka menghentikan percakapannya di telepon dan menoleh penuh rasa ingin tahu. "Ada apa, Petugas?"

Arya dengan cepat berusaha menguasai diri. Ia menyapu air matanya, menarik napas dalam-dalam, dan menatap Iptu Farhan. Ia tahu ia tidak bisa langsung berkata: "Pak Polisi, saya lihat dalam penglihatan magis bahwa istrinya yang membunuh!" Polisi akan menganggapnya gila, atau lebih buruk lagi, mencurigainya sebagai konspirator murder.

Arya harus memberikan "kode" secara tidak langsung, sebuah petunjuk yang tampak seperti analisis logis seorang pemulasara yang jeli.

"Maaf, Pak Iptu... Mas Teguh..." suara Arya bergetar namun diusahakannya terdengar tenang. "Saya cuma... terenyuh melihat pola luka di jasad almarhum."

Iptu Farhan melangkah mendekati brankar. "Pola luka? Maksudmu apa, Mas Arya?" tanyanya seraya melihat nametag Arya.

Arya menunjuk ke arah luka-luka di dada dan leher Rendra tanpa menyentuh jasadnya lagi. "Pak Iptu... tadi saya dan Dr. Reisa membersihkan luka-luka ini. Sebagian besar luka tikaman terkonsentrasi di dada sebelah kiri dan perut atas, dengan sudut tusukan dari atas miring ke bawah."

Farhan menajamkan tatapannya. "Lalu?"

"Kedalaman lukanya bervariasi, Pak. Sebagian besar tidak menembus tulang rusuk secara penuh, tetapi jumlah lukanya puluhan," lanjut Arya, memanfaatkan pengetahuan dasar forensik yang ia pelajari dari buku-bukunya untuk mengemas penglihatannya. "Jika ini dilakukan oleh perampok pria bertubuh tegap atau penjahat profesional, biasanya tusukan akan lebih terarah, dalam, dan tidak sebanyak ini. Tikaman histeris berulang-ulang dengan tenaga yang tidak terlalu besar... lebih menyerupai emosi yang meledak-ledak. Emosi dari seseorang yang sangat dekat dan menyimpan dendam emosional."

Farhan menyilangkan dada, dan mendengarkan dengan penuh perhatian.

Kemudian Arya memberanikan diri melangkah lebih jauh. "Selain itu, Pak... saat saya membasuh bagian leher almarhum tadi, tidak ada tanda-tanda perlawanan besar di sekitar tubuhnya selain bekas tangkisan ringan di tangan. Seolah-olah almarhum sudah dalam kondisi lemas atau terkejut sebelum tikaman pertama terjadi. Apakah ada kemungkinan... almarhum diracun atau dilumpuhkan dulu oleh orang yang dikenalnya sebelum diserang?"

Iptu Farhan terpaku. Matanya berbinar mendengar analisis itu. "Lumpuh dulu? Dan dilakukan oleh orang dekat...?"

"Dan satu hal lagi, Pak..." Arya berpura-pura tampak ragu-ragu. "Tadi ketika tim polisi membawa barang bukti pakaian almarhum, saya tidak melihat ada tanda-tanda pintu rumah dirusak dari luar secara paksa dalam laporan awal. Jika perampok masuk, bagaimana mereka bisa masuk tanpa merusak kunci? Kecuali..."

"...Kecuali pelaku punya akses kunci rumah, atau dibukakan pintu dari dalam!" potong Farhan cepat, dan melanjutkan jalan pikiran yang dipicu oleh kode dari Arya.

Farhan menepuk jidatnya sendiri. "Astaga! Alibi istrinya! Nyonya Siska bilang dia berangkat ke Bandung sejak kemarin sore, tapi pembantu bilang kunci cadangan rumah hanya dipegang oleh Rendra dan Siska!"

Farhan dengan cepat merogoh ponselnya dan menekan tombol panggilan cepat.

"Halo! Tim Dua! Cek kembali rekaman CCTV di sekitar gerbang komplek Perumahan Permata Indah antara jam sembilan malam sampai jam satu dini hari! Cari mobil yang digunakan Siska atau taksi online yang mungkin mengantarnya secara diam-diam! Dan satu lagi... geledah ulang rumah almarhum! Periksa area kamar tamu, terutama saluran udara tua atau celah tersembunyi di balik lemari! Cari kain berdarah atau racun pelumpuh yang mungkin disembunyikan!"

Iptu Farhan mematikan teleponnya, lalu menatap Arya dengan pandangan kagum dan penuh penghargaan.

"Analisis yang sangat jeli untuk seorang pemulasara jenazah, Arya! Kamu memperhatikan detail kecil yang sempat terlewat oleh tim awal kami karena terfokus pada skenario perampokan!" ujar Farhan seraya menepuk bahu Arya dengan kuat.

Arya hanya mengangguk pelan, dan memberikan senyuman tipis yang dipaksakan. "Saya hanya menyampaikan apa yang terlihat dari kondisi tubuh almarhum, Pak."

Dua jam kemudian, saat hari mulai gelap dan hujan turun makin deras, telepon genggam Iptu Farhan berdering nyaring di ruang tunggu IKKJ.

Farhan mengangkat telepon tersebut dan mendengarkan penjelasan dari anak buahnya di lapangan selama beberapa menit. Wajah polisi tegap itu perlahan berubah menjadi makin tegas.

"Bagus! Amankan barang bukti dan bawa dia ke markas sekarang juga!" perintah Farhan sebelum menutup telepon.

Farhan berjalan kembali ke ruang pemulasaraan tempat Arya dan Teguh sedang menyelesaikan administrasi akhir.

"Pengamatanmu seratus persen tepat, Arya!" seru Farhan dengan suara mantap. "Tim kami baru saja menemukan kantong plastik berisi gaun malam berdarah dan pisau dapur yang disembunyikan di dalam saluran udara kamar tamu rumah korban! Tes DNA cepat mengonfirmasi darah itu milik Rendra."

Teguh melotot kaget. "Jadi... pelakunya bukan perampok, Pak?!"

"Bukan!" jawab Farhan menggelengkan kepala. "Pelakunya adalah Siska, istri almarhum sendiri! Tim kami menemukan rekaman CCTV jalanan yang memperlihatkan Siska kembali ke rumah secara sembunyi-sembunyi menggunakan taksi sewaan pada pukul sebelas malam. Motifnya adalah rasa cemburu dan ketakutan kehilangan harta kekayaan setelah tahu almarhum berniat mengajukan gugatan cerai. Dia sudah merekayasa seolah-olah terjadi perampokan!"

Farhan menatap Arya dengan tatapan penuh hormat. "Kalau kamu tadi tidak memicu kami untuk memeriksa pola luka dan kemungkinan pelumpuhan oleh orang dekat, Siska mungkin sudah lolos terbang ke luar negeri malam ini dengan alibinya. Kamu membantu kami menegakkan keadilan untuk almarhum, Arya."

"Saya senang bisa membantu, Pak Iptu," sahut Arya pelan.

Setelah Iptu Farhan dan tim kepolisian pergi membawa berkas laporan resmi, suasana ruang pemulasaraan kembali hening. Teguh menatap Arya sambil menggeleng-gelengkan kepala dengan takjub.

"Kamu hebat banget hari ini, Ya. Kok bisa kepikiran sampai ke sana?" tanya Teguh heran.

"Cuma firasat dan detail luka aja, Mas," jawab Arya pendek seraya membereskan peralatan mandi.

Malam itu, Arya berdiri di dekat pintu belakang IKKJ, dan membiarkan angin malam yang dingin menyapu wajahnya.

Meskipun kejahatan Siska terbongkar dan pembunuh Rendra Prakasa akan mendapatkan hukuman yang setimpal di hadapan hukum, tidak ada rasa puas atau kemenangan di dalam dada Arya. Yang tersisa hanyalah rasa perih dan duka yang mendalam.

Almarhum Rendra meninggal dalam penderitaan yang tak terbayangkan, bukan hanya luka fisik dari puluhan tikaman pisau, melainkan luka batin karena dikhianati oleh wanita yang paling dicintainya, wanita yang pernah berjanji di hadapan Tuhan untuk saling mengasihi dalam suka dan duka.

Arya lalu menatap telapak tangan kanannya. Kemampuan magis ini telah membantunya menyuarakan kebenaran milik mereka yang tak lagi bisa berbicara.

Namun harga yang harus dibayarnya adalah menyaksikan kebusukan, kejamnya penderitaan, dan sisi tergelap dari hati manusia secara langsung.

Bersambung...

1
𝓐𝓡 𝓐𝓾𝓽𝓱𝓸𝓻 𝓘𝓼𝓽𝓲𝓶𝓮
keren kaya baru ❤️
Aurora: iya kak, semoga bisa menghibur para pembaca 🤗
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!