NovelToon NovelToon
Mahar 1 Miliar: Menikahi Pria Tuli

Mahar 1 Miliar: Menikahi Pria Tuli

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Perjodohan / Orang Disabilitas
Popularitas:44.4k
Nilai: 5
Nama Author: Santi Suki

Dara Calya Sania, seorang gadis pincang yang hidupnya penuh dengan penderitaan. Dara dijual pamannya untuk menikahi Gavin Mahardika Abyakta, pria tuli cucu dari pemilik perkebunan teh, Juragan Darmawan, dengan mahar satu miliar rupiah.

Dara yang sejak kecil sudah yatim-piatu, tidak bisa menolak. Terlebih lagi uang mahar itu untuk bayar biaya hidupnya selama tinggal bersama Rama dan Tina.

Bagaimana reaksi Dara ketika tahu Gavin adalah orang yang pernah ditolongnya dahulu dan membuat kakinya pincang?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Santi Suki, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 28

Keesokan paginya, sinar matahari yang hangat menembus jendela ruang makan. Aroma nasi goreng, telur dadar, dan teh hangat memenuhi ruangan. Mbok Darmi sibuk menata beberapa hidangan di atas meja, sementara Sherly sudah duduk sambil menikmati secangkir teh hangat tanpa gula.

Tak lama kemudian, Gavin turun dari lantai atas. Ia sudah mandi dan mengenakan kemeja berwarna biru muda, tetapi ada satu hal yang tidak luput dari perhatian Sherly. Putranya tampak sedikit mengantuk. Mata Gavin masih terlihat berat, bahkan sesekali ia menahan diri untuk tidak menguap.

Sherly menyipitkan mata sambil tersenyum tipis. "Gavin."

"Iya, Ma?" Gavin menarik kursi lalu duduk.

"Semalam kurang tidur?"

Gavin mengambil segelas air putih lebih dulu sebelum menjawab. "Sedikit."

"Kenapa?" tanya Sherly penasaran. Di dalam otaknya sudah terlintas bayangan Gavin yang tak bisa menahan diri melihat Dara yang memakai lingerie.

"Susah tidur."

Jawabannya terdengar santai, seolah tidak terjadi apa-apa. Padahal semalaman ia dua kali mandi demi menenangkan pikirannya.

Sherly menyesap tehnya untuk menutupi senyum yang hampir lolos dari bibirnya. "Oh ...."

Di dalam hati, wanita itu sudah bisa menebak penyebabnya. "Pasti gara-gara Dara."

Sementara itu, Dara yang baru saja duduk di samping Gavin menoleh polos. "Lho? Aku kira semalam Aa tidur nyenyak."

Mendengar ucapan itu, Sherly hampir tersedak teh yang diminumnya. Ia buru-buru menutup mulut dengan cangkir. Batuk kecil beberapa kali.

"Ma, pelan-pelan," ujar Gavin sambil menggeser tisu.

Sherly mengangguk cepat. "Iya ... iya."

Setelah napasnya kembali normal, Sherly memandang putra dan menantunya bergantian. Semakin diperhatikan, keduanya semakin menggemaskan. Satu terlalu pendiam, satunya lagi terlalu polos.

Sherly tersenyum jahil. "Sudahlah. Tapi Mama punya ide."

Baru mendengar kalimat pembuka itu saja, Gavin sudah merasa firasatnya tidak enak. Ia menghentikan gerakan menyendok nasi goreng favoritnya.

"Ide apa lagi, Ma?" tanya Gavin setelah menghela napas.

Sherly tersenyum semakin lebar. "Kalian pergilah kencan."

"Hah?" Suara Gavin dan Dara terdengar bersamaan. Keduanya saling menoleh, lalu saling diam.

Sherly langsung menunjuk mereka sambil tertawa. "Nah! Kompak. Tanda kalian berdua itu sangat cocok."

Dara mengedipkan mata beberapa kali. Wajahnya benar-benar dipenuhi kebingungan.

"Kencan itu ngapain, Ma?"

Sherly yang sedang minum teh langsung berhenti. "Seumur hidup kalian belum pernah kencan?"

Gavin menggeleng pelan. "Belum."

Dara ikut menggeleng. "Aku juga belum pernah."

Sherly memijat pelipisnya pelan. "Astaga! Masa pasangan suami istri belum pernah kencan?"

Dara mengangkat tangan kecil seperti murid yang hendak bertanya. "Soalnya kami baru menikah, Ma."

Jawaban polos itu membuat Sherly kembali tertawa. "Iya, juga."

Gavin dan Dara saling melirik. Selalu saja ada hal yang membuat mereka terkejut oleh ucapan ibu mereka.

"Mulai sekarang kalian harus belajar," kata Sherly dengan nada tegas. Dibalik itu, ada ide jahil yang sudah tersusun di kepalanya.

"Belajar apa, Ma?" tanya Dara.

"Belajar menjadi pasangan, lah!" jawab Sherly tanpa beban.

Dara mengangguk pelan, meski wajahnya masih terlihat bingung. "Iya, Ma."

Setelah sarapan selesai, Gavin dan Dara pindah ke ruang keluarga. Sherly sengaja tidak ikut. Ia pura-pura membaca majalah di teras sambil sesekali mengintip dari balik jendela.

Di ruang keluarga, Gavin duduk di sofa. Dara duduk tepat di sampingnya. Jarak mereka hanya sekitar satu jengkal.

Di atas meja tergeletak sebuah ponsel. Dara memegang ponsel itu sambil membuka mesin pencarian.

"Aa."

"Hm?"

"Aku cari di internet, ya. Saat kencan itu kita melakukan apa saja."

"Boleh."

Beberapa detik kemudian mata Dara berbinar. "Ketemu!" Ia langsung membaca dengan suara lantang. "'Kegiatan yang biasa dilakukan saat kencan.'"

Dara mulai menghitung menggunakan jari telunjuknya. "'Pertama, pegangan tangan.'"

Kalimat itu membuat Dara langsung menoleh kepada Gavin. "Kita harus pegangan tangan, A?"

Gavin yang sedang minum kopi langsung tersedak. "Uhuk ... uhuk!"

Dara buru-buru mengambilkan tisu. "Aa tidak apa-apa?"

"Tidak. Aku baik-baik saja. Lanjutkan saja!" Gavin berdeham pelan.

Dara mengangguk patuh. Ia kembali membaca. "'Kedua, menonton film bersama.'"

Gavin mendengarkan, tetapi tidak memberikan reaksi apapun.

"'Ketiga, makan malam romantis.'"

Dara kembali mengangguk. "Yang ini gampang."

Gavin ikut mengangguk. "Iya."

Namun beberapa detik kemudian, alis Dara perlahan bertaut. Matanya membulat.

"Aa ...."

"Ada apa?"

"Yang ini aneh."

"Apanya?"

Dara melanjutkan membaca artikel di ponselnya. "'Saling menatap mata selama satu menit tanpa berbicara.'" Ia langsung memutar tubuh menghadap Gavin. "Apa kita kuat?"

Gavin langsung memejamkan mata sebentar. Ia mengembuskan napas panjang.

"Entahlah. Tapi harus dicoba, kan?"

Sebelum Gavin sempat menjawab, Dara sudah menghitung. "Satu ... Dua ... Tiga ...."

Mereka saling menatap. Lima detik pertama masih biasa. Detik keenam, Dara mulai salah tingkah. Detik kedelapan, Gavin berusaha tetap tenang. Detik kesepuluh, Dara tiba-tiba tertawa kecil.

"He-he-he. Aa?"

"Apa?"

"Bulu mata Aa panjang."

Gavin berkedip. Dia tidak menyangka istrinya akan bicara seperti itu.

Dara melanjutkan dengan wajah serius. "Bahkan lebih panjang daripada punya saya."

Gavin langsung memalingkan wajah.

"Gagal." Dara tertawa pelan. "Berarti kita belum lulus."

Dari balik pintu ruang tamu Sherly sampai menutup mulutnya agar tawanya tidak terdengar. "Ya, ampun! Mereka benar-benar belajar kencan dari internet."

Menjelang siang, Gavin akhirnya mengajak Dara keluar.

"Kita mau ke mana, Aa?" tanya Dara dengan ekspresi wajah yang polos.

"Makan siang di luar," jawab Gavin.

"Oh."

"Itu termasuk kegiatan kencan," ucap Gavin dengan tenang.

Dara tersenyum lebar. "Berarti kita sedang latihan jadi pasangan."

Gavin ikut tersenyum tipis. "Iya."

Sepanjang perjalanan, Dara terus bercerita tentang berbagai hal yang dilihatnya dari balik jendela mobil. Sesekali Gavin hanya menjawab singkat.

Senyum di wajah pria itu tidak pernah benar-benar hilang. Ia mulai menikmati kepolosan istrinya.

"Aa, ternyata makan di luar itu mahal sekali. Besok aku masakan Aa seafood yang enak, sampai Aa puas makannya," bisik Dara setelah ke luar dari restoran. "Sayang sekali uang sebanyak itu cuma buat makan berdua."

"Tidak apa-apa kalau cuma sesekali," balas Gavin. "Tapi, aku menantikan seafood buatan masakan kamu."

"Oke!"

Usai makan siang, mereka berjalan santai di sebuah pusat perbelanjaan. Dara beberapa kali berhenti hanya karena melihat hiasan toko yang menarik.

Dara tertawa kecil. "Ternyata jalan-jalan begini menyenangkan."

Melihat senyum Dara yang begitu tulus, Gavin tanpa sadar ikut merasa lebih ringan.

Namun, saat mereka hendak keluar dari sebuah toko pakaian, langkah Dara mendadak berhenti.

Matanya membulat. "Aa," bisiknya.

Gavin mengikuti arah pandangan istrinya. Di seberang lorong mal, deorang wanita muda berjalan sambil bergelayut manja di lengan seorang pria. Wanita itu mengenakan gaun pendek tanpa lengan dengan riasan wajah yang sangat mencolok. Sepatu hak tinggi menambah kesan dewasa pada penampilannya.

Di sampingnya, seorang pria berjaket kulit hitam berjalan santai sambil mengunyah permen karet.

Rambutnya dicat terang. Telinganya dipenuhi anting. Penampilannya benar-benar seperti anak badung.

Dara mengerutkan dahi.

Gavin juga langsung mengenali wajah wanita tersebut. Ekspresinya berubah datar.

"Itu, Kiara," ucap Dara merasa tak percaya.

Pada saat yang hampir bersamaan, Kiara yang sedang tertawa bersama pria itu juga menoleh. Senyumnya perlahan menghilang. Tatapan mereka pun bertemu. Udara di antara kedua belah pihak seolah mendadak berubah tegang.

1
@$~~~tINy-pOnY~~~$@
astagaahhhb
@$~~~tINy-pOnY~~~$@
apa2an itu
Sribundanya Gifran
lanjut
Risma Hye Chan
sudah aku ksih vote yaa kak aku bacanya sampe nangis
Ummee
Dara dan Gavin poloosss sekaliii, ya Allah lucunya...
Ummee
suruh bulan madu aja Ma...
Aditya hp/ bunda Lia
rasain kau anak lampir berasa jadi korban padahal kamu penjahatnya
Ita rahmawati
mantab dara,, orang seperti Kiara SM ortunya emang harus dikasih faham walaupun GK akan berubah sih tp segknya mereka harus dibantah biar GK makin makin 😏
Ita rahmawati
ucul bgt sih mereka berdua 🤣🤣
Ita rahmawati
payah lah kalo masih sm2 polos mah,,harusnya lgsg tubruk kan 🤣🤣
Mutaharotin Rotin
gitu Dara,balas ucapan Kiara biar tau rasa 👍👍👍
Mutaharotin Rotin
laaannjjuut 🥰🥰🥰🥰🥰🌹🌹🌹
Risma Hye Chan
lucu banget mrka brdua sumpah wkwkwk
Nar Sih
istri kecil mu yg polos pinter kan ,jdi kmu bnr,,beruntung dan pilihan jodoh yg tepat untuk mu gavin👍🥰
Mutaharotin Rotin
🌹🌹🌹🌹🥰🥰🥰🥰
Nar Sih
hahaha😂😂kencan ala internet sedang di mulai
Sugiharti Rusli
semoga cakrawala berpikir kamu semakin bertambah dengan melihat siapa Dara sekarang yah,,,
Sugiharti Rusli
kamu benar Vin, kamu ga salah pilih istri, karena di balik kepolosan dan sifat sederhana Dara, dia pribadi yang kuat dan pantang menyerah oleh keadaan,,,
Nar Sih
psngn yg bnr,,bikin ngakak ,gavin dan dara yg sama,,msih polos
Sugiharti Rusli
jadi sebetulnya sejak kecil Dara sudah struggle sendiri, dan mereka hanya mendampingi kan sebagai orang dewasa
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!