Setiap hari aku difitnah mertuaku.
_"Kamu pembawa sial! Perempuan boros!"_
Aku berharap suamiku, Arman, membelaku. Tapi ia hanya diam.
_"Maafkan Ibu, Alya. Aku gak mau jadi anak durhaka."_
Sampai akhirnya aku diusir dan diceraikan di depan anak-anakku.
_"Talak satu aku jatuhkan padamu."_
Kini aku janda dua anak, hidup dari jualan kue sambil menahan gunjingan.
Saat aku mulai bahagia dengan Farhan, mantan suamiku datang ingin rujuk.
Bukan aku yang jahat, Mas. Kenapa semua menyalahkanku?
Note :
Dilarang boom like ❌
Dilarang lompat bab ❌
Jika kalian suka dengan cerita ini,jangan lupa tinggalkan jejak dengan like ,komen dan jangan pelit-pelit untuk kasih vote & kotak hadiahnya 🥰🥰🥰
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Atha Diyuta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 10 Bertemu Di pasar
Tak terasa kepergian Alya dari rumah sudah satu bulan.
Satu bulan yang mengubah segalanya.
Jika di hari-hari pertama Alya menangis setiap malam sambil memeluk Nisa dan Raffi, sekarang ia sudah mulai terbiasa hidup tanpa suara teriakan dan tanpa harus menunggu uang belanja yang tak kunjung datang.
Pagi-pagi buta, saat azan subuh baru berkumandang, Alya sudah bangun. Ia sholat bersama Ustadzah Munah di rumah besar, lalu ia langsung ke kebun belakang.
Kebun sayur milik Ustadzah Munah itu sekarang jauh lebih rapi dari sebelumnya. Rumput liar sudah dibersihkan, bedengan cabai sudah dipupuk, kangkung dan bayam tumbuh subur, terong ungunya besar-besar.
"Nek, ini kangkungnya sudah bisa dipanen lagi, Nek," teriak Nisa dengan ember kecilnya, ikut membantu Mama nya dikebun.
Ustadzah Munah yang datang membawa cangkul kecil hanya tertawa melihat Nisa.
"Masya Allah, rajin sekali cucu nenek yang cantik ini. Nanti nenek kasih upah es krim ya."
Raffi yang sudah mulai lancar jalannya, duduk di pinggir bedengan sambil memegang tanah, tertawa-tawa sendiri. Wajahnya yang dulu pucat karena sering demam, sekarang sudah cerah dan badannya juga lebih berisi.
Alya tersenyum melihat anak-anaknya. Inilah kebahagiaan yang dulu tidak pernah ia rasakan di rumah mertuanya.
Siang harinya, setelah membantu membersihkan rumah besar dan mencuci piring, Alya duduk di teras rumah kecil bersama Ustadzah Munah.
"Bu Ustadzah, Alya mau ngomong sesuatu, Bu," ucap Alya pelan, agak ragu.
"Iya, Nak, ngomong aja."
"Begini Bu, selama ini kan hasil dari panen dikebun sayur Alya jual kepasar dan selam itu juga ibu tidak pernah mau menerima hasilnya sepeserpu ,tapi Bu Alya merasa tidak enak, Bu. Kebun ini kan punya Ibu, bibitnya punya Ibu, tanahnya punya Ibu. Alya cuma bantu mengurus.Gimana kalau kita bagi hasil aja, Bu? Jadi adil."
Ustadzah Munah menatap Alya dengan haru.
"Alya, Nak... Ibu sudah bilang, anggap saja kebun itu kebunmu juga. Ibu ikhlas."
"Tapi Alya nggak ikhlas kalau ambil semua, Bu. Alya ingin belajar mandiri, Bu. Biar berkah juga buat Alya. Kita bagi dua aja ya, Bu? Lima puluh lima puluh. Gimana Bu?"
Ustadzah Munah mengelus tangan Alya.
"Kamu ini memang anak jujur, ya. Ya sudah, kalau itu maunya kamu, Ibu setuju. Ibu senang berteman dengan kamu, Nak."
Kesepakatan itu membuat Alya semakin semangat.
" Sebentar Bu." Alya masuk kedalam rumah dan keluar setelah beberapa saat.
" Bu,ini hasil penjualan selama satu bulan, terhitung semenjak Alya mulai memanen hasil kebun nah uangnya masih utuh,Alya hanya mengambil dua persen dari hasil penjualan tersisa delapan persen,berati lima persen bagian ibu dan yang tiga persen masuk jatah Alya.Mohon diterima Bu." Alya menyodorkan sejumlah uang kepada ustazah Munah ,hasil penjualan beberapa hari.
Semenjak itu setiap dua hari sekali, Alya membawa hasil kebun ke pasar pagi dengan motor bebek milik Ustadzah Munah. Ia boncengkan Nisa di depan, Raffi dititipkan ke Ustadzah Munah setiap kali Alya kepasar.
Dari hasil jualan kangkung, bayam, cabai, dan terong, Alya bisa dapat seratus sampai seratus lima puluh ribu sehari. Itu sudah lebih dari cukup untuk makan sehari-hari. Untuk masak, Alya tinggal ambil dari kebun, jadi lebih irit.
Ia selalu memprioritaskan makanan untuk anak-anaknya. Telur, ayam, daging sesekali, susu kotak untuk Raffi, dan sayur-sayuran segar.
"Nisa, Raffi, makan yang banyak ya. Biar pinter," ucap Alya setiap kali menyuapi mereka.
Dan hari itu adalah hari yang paling membuat Alya merasa bahagia.
Sore itu, Ustadzah Munah memanggil Alya ke dalam rumah besar.
"Nak Alya, sini nak."
Di atas meja ada sebuah amplop cokelat.
"Ini gaji pertama kamu, Nak. Maaf ya cuma dua juta, Ibu belum bisa kasih lebih. Bulan depan kalau panen mangganya bagus, Ibu tambahin lagi ya."
Alya membeku. Tangannya gemetar saat menerima amplop itu.
Dua juta.
Selama lima tahun menikah, ia tidak pernah memegang uang sebanyak ini dari suaminya apa lagi dari hasil keringatnya sendiri. Uang belanja dari Arman paling banyak tiga ratus ribu seminggu, itupun sering telat dan harus diminta sambil dimaki Bu Ratna.
"Bu... ini beneran buat Alya, Bu?"
"Iya, Nak, itu hak kamu. Kamu sudah kerja keras sebulan ini bantu Ibu."
Air mata Alya langsung jatuh. Ia memeluk amplop itu erat-erat.
"Terima kasih Bu, terima kasih banyak."
Malam itu, setelah anak-anak tertidur, Alya membuka amplop itu dan menghitungnya pelan-pelan. Ia tidak berniat memakai semuanya.
Ia ambil buku tulis kecilnya dan menulis.
_Gaji pertama 2.000.000. Untuk tabungan sekolah Nisa._
Ia sudah bertekad, uang gaji tidak akan ia pakai untuk jajan. Uang hasil jualan sayur di pasar sudah cukup untuk kebutuhan sehari-hari. Uang gaji ini akan ia tabung semua untuk masa depan Nisa dan Raffi.
Untuk pertama kalinya, Alya merasa berharga. Merasa mandiri.
Keesokan harinya, Alya pergi ke pasar pagi dengan perasaan bahagia. Ia ingin belanja sedikit lebih banyak. Ia ingin membelikan Nisa kerudung baru dan Raffi sandal baru. Dan ia juga ingin membeli ayam potong untuk lauk seminggu.
Di pasar yang ramai itu, Alya dengan lincah memilih-milih ayam, membeli telur, dan membeli kerudung anak warna pink untuk Nisa. Nisa yang ikut, senang bukan main.
"Bu, Nisa suka yang ini Bu, bagus Bu!" kata Nisa sambil memegang kerudung barunya.
"Iya sayang, nanti pakai buat ngaji ya."
Saat Alya sedang membayar di kios baju, tiba-tiba dari belakang terdengar suara yang sangat ia kenal. Suara yang membuat bulu kuduknya berdiri.
Suara yang selama satu bulan ini ingin ia lupakan.
"Oh... jadi di sini kamu ngumpetnya ya?"
Alya menoleh pelan. Jantungnya langsung berdegup kencang.
Di depannya berdiri Bu Ratna, ibu mertuanya, dengan tas belanjaan dan wajah sinis yang masih sama seperti dulu.
"Bu Ratna..." bisik Alya, wajahnya langsung pucat.
Bu Ratna menatap Alya dari atas sampai bawah. Menatap baju baru Alya yang bersih, kerudung baru Nisa, dan belanjaan ayam serta telur yang banyak di plastik Alya.
Bu Ratna langsung tersenyum sinis, suaranya dikeraskan sengaja agar didengar orang-orang pasar.
"Pantesan aja betah minggat dari rumah, ternyata sudah ada yang memelihara ya? Jadi simpanan siapa kamu sampai bisa beli baju baru dan belanja banyak di pasar begini, hah?"
Orang-orang di pasar langsung menoleh ke arah mereka.
Alya terdiam, tangannya gemetar memegang tangan Nisa. Nisa ketakutan dan bersembunyi di balik gamis Alya.
"Bu, jaga omongan Ibu, Bu. Alya kerja halal di sini, Bu," ucap Alya dengan suara bergetar.
"Kerja halal? Kerja halal apa? Jual diri? Jangan bohong kamu, Alya! Baru sebulan minggat dari rumah anak saya, sudah bisa belanja kayak orang kaya. Dari mana kamu dapat uang? Pasti dari laki-laki lain kan? Sama seperti yang Ibu bilang ke warga. Ternyata benar firasat Ibu!"
Kata-kata itu seperti petir yang menyambar Alya di tengah keramaian pasar.
Air matanya langsung jatuh. Dada nya terasa sesak. Satu bulan ia membangun kepercayaan dirinya, satu bulan ia merasa bahagia, dan dalam satu menit semua dihancurkan lagi oleh mertuanya.
"Bu, demi Allah Bu, Alya nggak seperti itu, Bu..." Alya menangis.
"Alah, nggak usah bawa-bawa nama Allah! Kamu itu perempuan nggak tahu diuntung! Sudah dikasih tumpangan hidup di rumah saya, malah kabur bawa cucu-cucu saya! Lihat Nisa, dia begitu kurus dan tak terawat.Sini ikut pulang sama Nenek!"
Bu Ratna mencoba menarik tangan Nisa. Nisa menjerit dan memeluk Alya semakin erat.
"Nggak mau! Nisa mau sama Mama! Nenek jahat!"
Teriakan Nisa membuat beberapa pedagang pasar mulai mendekat.
Alya langsung menggendong tas belanjaannya dan menggendong Nisa, lalu pergi setengah berlari meninggalkan pasar. Ia tidak peduli sandal Nisa terlepas satu.
Di belakangnya, Bu Ratna masih berteriak.
"Dasar menantu durhaka! Tunggu azab datang kepadamu Alya!"
Alya terus berlari sampai ke ujung pasar, lalu ia duduk di bawah pohon sambil memeluk Nisa yang menangis ketakutan. Kerudung baru Nisa yang tadi dibeli, jatuh ke tanah dan kotor.
"Nisa maaf ya nak, Mama nggak bisa jaga Nisa..." Alya menangis sambil memeluk anaknya.
Di rumah besar di desa sebelah, Arman yang baru pulang kerja melihat ibunya pulang dengan wajah puas.
"Bu, dari mana?"
"Dari pasar, Man. Ibu ketemu mantan istri sialan kamu itu. Ternyata dia di desa sebelah, seperti nya dia hidup enak dia bisa belanja banyak. Pasti sudah ada laki-laki lain yang biayain hidupnya,Man. Atau dia jadi simpenan suami orang,atau dia jual diri mungkin!"
Arman membeku.
"Desa sebelah." gumamnya lirih.
Jantungnya berdegup kencang. Akhirnya ada petunjuk.
Bersambung