NovelToon NovelToon
Lima Kakak Valerius

Lima Kakak Valerius

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia / Mengubah Takdir
Popularitas:604
Nilai: 5
Nama Author: mona28

Di mata masyarakat, keluarga Valerius adalah keluarga pengusaha terpandang dan salah satu keluarga terkaya di kota. Namun di balik kemewahan mansion mereka, keluarga Valerius merupakan salah satu keluarga mafia paling berkuasa dan ditakuti.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon mona28, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

HARI PERTAMA DI AKADEMI VALERIUS

Pagi datang terlalu cepat.

Aren terbangun ketika cahaya matahari masuk melalui celah tirai kamarnya.

Untuk beberapa detik, ia hanya menatap langit-langit.

Kemudian ia teringat.

Mansion Valerius.

Keluarga barunya.

Lima kakak laki-laki.

Dan sekolah baru.

Aren menghela napas panjang.

Ia bangkit dari tempat tidur dan berjalan menuju kamar mandi. Setelah selesai bersiap, ia mengenakan seragam Akademi Valerius yang sudah disiapkan oleh para pelayan.

Seragam itu berbeda dengan seragam sekolah lamanya.

Jaket hitam dengan garis perak.

Kemeja putih.

Dasi hitam.

Lambang serigala Valerius terpasang di dada kiri.

Aren berdiri di depan cermin.

"Ini benar-benar seperti masuk ke dunia lain."

Terdengar ketukan dari pintu.

Tok.

Tok.

"Aren?"

Suara Raka.

"Sudah bangun?"

"Sudah, Kak."

Pintu terbuka.

Raka masuk dengan pakaian formal serba hitam.

Ia sudah siap bekerja.

Tatapan Raka langsung tertuju pada Aren.

"Kau sudah sarapan?"

"Belum."

Raka menghela napas.

"Kenapa belum?"

"Aku baru selesai mandi."

Raka mengambil ponselnya.

"Lima menit lagi turun."

Aren mengangguk.

Raka hendak keluar, tetapi kemudian berhenti.

Ia melihat seragam Aren.

"Jaketnya jangan dilepas."

"Kenapa?"

"Karena lambang Valerius harus terlihat."

Aren mengerutkan kening.

"Memangnya penting?"

Raka menatapnya.

"Di sekolah itu, sangat penting."

Aren belum mengerti maksudnya.

Namun ia mengangguk.

"Baik."

Mereka turun ke ruang makan.

Di sana sudah ada Darren, Leon, Kian, dan Riven.

Darren sedang membaca berita ekonomi melalui tablet.

Leon meminum kopi.

Kian sibuk dengan laptop.

Riven duduk santai sambil memainkan kunci motornya.

Begitu Aren masuk, kelima pria tersebut langsung melihatnya.

Riven bersiul pelan.

"Adik kecil kita sudah siap sekolah."

Aren duduk.

"Jangan panggil aku adik kecil terus."

Riven tertawa.

"Kau memang paling kecil."

Darren menyodorkan piring.

"Makan."

Aren melihat isi piring.

Sarapan lengkap sudah tersedia.

Nasi, telur, buah, daging, susu, dan beberapa makanan lainnya.

Aren terdiam.

"Ini terlalu banyak."

Leon langsung menjawab.

"Kau perlu makan."

"Aku tidak mungkin menghabiskan semuanya."

"Kita lihat nanti."

Kian bahkan tidak mengangkat kepala dari laptop.

"Kalau tidak habis, Leon akan memaksamu."

Leon menatapnya.

"Aku tidak memaksa."

Riven tertawa.

"Kau bahkan pernah memaksa aku menghabiskan sayuran."

"Itu karena kau tidak pernah makan sayur."

"Dan aku tetap hidup."

"Karena tubuhmu keras kepala."

Aren tanpa sadar tersenyum.

Suasana di meja makan terasa aneh.

Berisik.

Tetapi hangat.

Sesuatu yang tidak pernah ia rasakan sebelumnya.

Setelah sarapan, mereka keluar menuju halaman mansion.

Beberapa mobil sudah menunggu.

Raka masuk ke mobil pertama.

Darren masuk ke mobil kedua.

Leon masuk ke mobil ketiga.

Kian memilih kendaraan yang berbeda.

Riven berdiri di samping sebuah motor hitam.

Aren bingung.

"Jadi aku naik dengan siapa?"

Lima orang langsung menjawab hampir bersamaan.

"Denganku."

Aren membeku.

Kelima kakaknya saling memandang.

Raka akhirnya berkata,

"Aren ikut denganku."

Riven protes.

"Kenapa selalu Kak Raka?"

"Karena aku yang bertanggung jawab."

Darren ikut menyela.

"Padahal aku bisa mengantar."

Leon berkata,

"Jangan berdebat pagi-pagi."

Kian mengangkat tangan.

"Aku punya kendaraan."

Aren menatap mereka semua.

"Kalian seperti anak kecil."

Hening.

Kemudian Riven tertawa paling keras.

"Dia mulai berani."

Raka menatap Aren beberapa detik.

Kemudian sudut bibirnya sedikit terangkat.

"Bagus."

Aren akhirnya masuk ke mobil Raka.

Perjalanan menuju Akademi Valerius berlangsung sekitar tiga puluh menit.

Sepanjang perjalanan, Aren memperhatikan kota dari balik kaca.

Bangunan tinggi.

Pusat perbelanjaan.

Hotel mewah.

Kantor-kantor besar.

Semua terasa jauh berbeda dari lingkungan tempat ia dibesarkan.

Kemudian sebuah bangunan besar muncul di kejauhan.

Akademi Valerius.

Sekolah elit yang berdiri di atas tanah luas.

Bangunannya memiliki beberapa gedung utama, lapangan olahraga, aula besar, perpustakaan, gedung seni, dan area parkir yang dipenuhi kendaraan mahal.

Ketika mobil Raka masuk, beberapa siswa langsung menoleh.

Kemudian mereka melihat lambang Valerius di mobil.

Suasana berubah.

Siswa-siswa yang tadinya bercanda langsung diam.

Aren memperhatikan dari balik jendela.

"Kenapa semua orang melihat?"

Raka tidak menjawab.

Mobil berhenti di depan gedung utama.

Raka turun.

Aren mengikutinya.

Begitu mereka berjalan masuk, bisikan mulai terdengar.

"Itu Raka Valerius."

"Kenapa dia datang ke sekolah?"

"Siapa anak yang bersamanya?"

"Tunggu..."

"Jangan-jangan..."

Berita menyebar sangat cepat.

Aren baru berjalan beberapa meter ketika Darren datang dari arah lain.

Ia melambaikan tangan.

"Aren."

Beberapa siswa kembali berbisik.

"Darren Valerius juga?"

Kemudian Leon datang.

Disusul Kian.

Dan terakhir Riven.

Dalam waktu kurang dari lima menit, kelima kakak Aren sudah berada di sekelilingnya.

Aren mulai merasa tidak nyaman.

"Kalian semua mau mengantarku sampai kelas?"

Riven mengangguk.

"Ya."

Aren menatap mereka satu per satu.

"Aku bukan anak SD."

Darren tertawa.

Raka akhirnya berkata,

"Kami hanya memastikan kau sampai."

Aren menghela napas.

"Baiklah."

Mereka mengantarnya sampai depan kelas.

Guru wali kelas keluar.

"Selamat pagi."

Raka mengangguk.

"Kami menitipkan adik kami."

Guru tersebut langsung tersenyum gugup.

"Tentu, Tuan Raka."

Aren masuk ke kelas.

Begitu pintu tertutup, suasana kelas langsung hening.

Puluhan pasang mata menatapnya.

Guru berdiri di depan.

"Anak-anak, hari ini kita memiliki siswa baru."

Aren berdiri di samping guru.

"Silakan perkenalkan diri."

Aren menarik napas.

"Nama saya Aren Valerius."

Hening.

Seseorang di belakang langsung berbisik.

"Valerius?"

Temannya membalas.

"Serius?"

Guru melanjutkan.

"Aren adalah siswa pindahan."

Aren membungkuk sedikit.

"Senang bertemu dengan kalian."

Guru menunjuk sebuah kursi kosong di dekat jendela.

"Silakan duduk di sana."

Aren berjalan menuju tempat duduknya.

Namun baru beberapa langkah, seorang siswa laki-laki berdiri.

"Pak."

Guru menoleh.

"Ya?"

"Saya ingin bertanya."

"Apa?"

"Dia benar-benar keluarga Valerius?"

Kelas langsung ramai.

Guru terlihat tidak nyaman.

Aren diam.

Siswa tersebut tersenyum.

"Karena kalau dia benar keluarga Valerius, bukankah seharusnya dia punya pengawal?"

Beberapa siswa tertawa.

Aren tidak membalas.

Ia berjalan menuju kursinya.

Namun siswa itu menghalangi jalan.

"Namamu Aren, kan?"

"Iya."

"Aku Dimas."

Aren mengangguk.

"Senang bertemu."

Dimas tidak bergeser.

"Aku dengar kau anak adopsi."

Aren terdiam.

Kelas mendadak lebih sunyi.

"Benar?"

Aren memandangnya.

"Benar."

Dimas tertawa kecil.

"Berarti kau bukan darah Valerius."

Beberapa siswa mulai berbisik.

Aren mengepalkan tangan.

Namun ia mengingat pesan Raka.

Jangan mencari masalah.

Ia mencoba melewati Dimas.

Dimas tiba-tiba menepuk bahu Aren.

"Jangan tersinggung."

Aren berhenti.

Kemudian melepaskan tangan Dimas dari bahunya.

"Aku tidak tersinggung."

Dimas terlihat sedikit terkejut.

Aren melanjutkan perjalanan.

Ia duduk.

Pelajaran dimulai.

Namun bisikan tidak berhenti.

Selama dua jam pertama, Aren mencoba berkonsentrasi.

Sampai waktu istirahat tiba.

Aren keluar kelas sendirian.

Ia ingin mencari kantin.

Namun ketika melewati lorong belakang, ia mendengar suara keras.

"Hei!"

Aren berhenti.

Beberapa siswa berdiri di ujung lorong.

Dimas berada di antara mereka.

"Anak baru."

Aren menoleh.

"Ada apa?"

Dimas berjalan mendekat.

"Kau tahu aturan sekolah ini?"

"Aturan apa?"

Dimas menunjuk lambang Valerius di dada Aren.

"Kalau kau memakai lambang itu, jangan berpikir kau otomatis menjadi penguasa."

Aren menghela napas.

"Aku tidak pernah menganggap diriku penguasa."

Dimas tersenyum.

"Tapi kami ingin melihat apakah kau benar-benar pantas menjadi adik keluarga Valerius."

Aren mulai memahami.

Mereka sengaja memancingnya.

"Aku tidak tertarik."

Aren hendak pergi.

Namun seorang siswa lain berdiri menghalangi jalan.

Dimas berkata,

"Kau takut?"

Aren menatapnya.

"Bukan takut."

"Lalu?"

"Aku hanya tidak mau berkelahi."

Dimas tertawa.

"Anak baik."

Kemudian ia mendorong bahu Aren.

Aren mundur satu langkah.

"Jangan sentuh aku."

Suara Aren tetap tenang.

Dimas kembali mendorongnya.

Kali ini lebih keras.

Aren hampir kehilangan keseimbangan.

Namun sebelum terjadi sesuatu, terdengar suara langkah kaki.

"Berhenti."

Semua orang menoleh.

Seorang pria berdiri di ujung lorong.

Raka.

Di belakangnya ada Darren dan Riven.

Aren membeku.

Riven terlihat sangat marah.

Darren tetap tenang.

Raka berjalan perlahan.

"Siapa yang menyentuh adikku?"

Tidak ada yang menjawab.

Dimas langsung pucat.

"T-Tuan Raka..."

Raka berhenti di depannya.

"Aku bertanya."

Dimas menunduk.

"Saya hanya bercanda."

Raka menatapnya dingin.

"Menurutmu mendorong orang adalah bercanda?"

Dimas tidak menjawab.

Riven melangkah maju.

"Kalau mau menguji keluarga Valerius, jangan pilih anak paling kecil."

Raka menahan Riven dengan satu tangan.

"Jangan."

Riven mendengus.

Aren mendekati Raka.

"Aku tidak apa-apa."

Raka menatap bahunya.

"Dia mendorongmu."

"Aku masih berdiri."

Darren menghela napas.

"Kau memang keras kepala."

Aren menunduk.

"Maaf."

Raka justru mengusap kepalanya.

"Jangan minta maaf."

Kemudian Raka menatap Dimas.

"Kalau ada masalah, selesaikan dengan aturan sekolah."

Dimas mengangguk cepat.

"Baik."

Namun ketika mereka hendak pergi, suara teriakan terdengar dari luar.

"ADA ANAK SEKOLAH LAIN MASUK!"

Semua orang langsung menoleh.

Kian muncul dari tangga.

Wajahnya serius.

"Gerbang belakang dibobol."

Riven langsung tersenyum.

"Siapa?"

Kian menunjukkan layar ponselnya.

"Kelompok Black Ravens."

Suasana berubah.

Black Ravens adalah geng sekolah dari akademi lain yang sudah lama bermusuhan dengan Akademi Valerius.

Darren menghela napas.

"Kenapa mereka datang sekarang?"

Kian menatap Aren.

"Mungkin karena dia."

Aren terkejut.

"Aku?"

Raka langsung berdiri di depan Aren.

"Jangan pergi ke mana-mana."

Namun suara keributan semakin terdengar.

Teriakan.

Suara meja jatuh.

Suara kaca pecah.

Kemudian alarm sekolah berbunyi.

Para siswa berhamburan keluar.

Guru-guru mencoba menghentikan mereka.

Namun jumlah kelompok yang masuk terlalu banyak.

Riven menatap Raka.

"Aku pergi."

Raka mengangguk.

"Jangan berlebihan."

Riven tersenyum.

"Aku tahu."

Kian menutup laptopnya.

"Aku akan mengunci gerbang digital dan menghubungi keamanan."

Darren menatap Aren.

"Kau ikut aku."

Leon tiba dari arah tangga.

"Jangan biarkan dia sendirian."

Aren mulai sadar.

Sekolah yang katanya elit ini ternyata memiliki sisi lain.

Sangat berbeda dari sekolah lamanya.

Riven dan beberapa siswa senior berlari menuju halaman.

Teriakan semakin keras.

Aren melihat dari jendela.

Puluhan siswa saling berhadapan.

Namun sebelum ia sempat melihat lebih jauh, Raka menarik tirai.

"Jangan lihat."

Aren menatapnya.

"Kenapa?"

"Karena aku tidak ingin kau terlibat."

Aren mengangguk.

Tetapi di dalam hati, sesuatu mulai berubah.

Ia tidak ingin terus dilindungi.

Ia ingin tahu mengapa semua orang menganggap dirinya lemah.

Dan untuk pertama kalinya, Aren menyadari bahwa menjadi bagian dari keluarga Valerius berarti dirinya tidak akan pernah memiliki kehidupan normal.

Sementara di halaman sekolah, Riven berdiri menghadapi pemimpin Black Ravens.

Pria itu tersenyum.

"Jadi ini adik baru keluarga Valerius?"

Riven tidak menjawab.

Pemimpin Black Ravens melanjutkan.

"Kami hanya ingin bertemu dengannya."

Tatapan Riven menjadi dingin.

"Kau tidak akan bertemu dengannya."

"Kenapa?"

"Karena dia keluarga kami."

Pemimpin Black Ravens tertawa.

"Justru itu masalahnya."

Riven mengerutkan kening.

"Apa maksudmu?"

Pria tersebut mengeluarkan sebuah foto.

Foto seorang bayi.

Riven membeku.

Di foto itu terdapat gelang hitam yang sangat familiar.

Gelang yang selalu dipakai Aren.

Pria itu tersenyum.

"Kalian tidak tahu siapa sebenarnya adik kalian."

Riven menatap foto tersebut.

Untuk pertama kalinya, wajahnya kehilangan ekspresi santai.

"Siapa kau?"

Pria itu hanya tertawa.

"Besok kau akan tahu."

Kemudian ia berbalik.

Riven mengepalkan tangan.

Ia tidak mengejar.

Karena satu hal sudah jelas.

Kedatangan kelompok Black Ravens bukan sekadar tawuran.

Mereka datang untuk Aren.

Dan rahasia tentang masa lalu Aren ternyata sudah mulai diketahui orang lain.

Di dalam gedung, Kian menerima sebuah pesan anonim di laptopnya.

Hanya ada satu kalimat.

"Jaga anak itu baik-baik, Kian Valerius."

Kian menatap layar.

Pesan berikutnya muncul.

"Karena orang yang mencarinya sudah kembali."

Kian langsung berdiri.

Ia menatap ke arah Aren.

Untuk pertama kalinya sejak Aren datang ke keluarga Valerius, Kian merasa benar-benar khawatir.

Hari pertama Aren di Akademi Valerius belum selesai.

Namun perang pertama untuk melindungi anak bungsu keluarga Valerius sudah dimulai.

1
penggemar_Uangkecil?!
👍👍
penggemar_Uangkecil?!
👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!