Untuk keluar dari penjara keluarga, Charoen Torrer harus menerima pinangan dari seorang mafia ternama. Walau hanya jadi istri sementara, tetapi demi kebebasannya. Char menerima tawaran itu tanpa berpikir dua kali.
Tanpa ia tahu ke depannya, hidupnya jauh lebih rumit di banding rumah yang rasanya seperti penjara itu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Maya Melinda Damayanty, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab. 14
Pagi hari, kastil mewah milik Alexander masih diselimuti kabut tipis. Hujan deras yang mengguyur kota Seradam semalam meninggalkan hawa dingin dan aroma tanah basah di seluruh halaman.
Suara ketukan terdengar cukup kuat dari luar kamar.
"Nyonya, anda ditunggu Tuan Besar!' suara maid cukup keras memanggilnya.
"Iya, sebentar!" seru Char yang sudah bersiap.
Ia menatap seprei yang baru saja ia ganti.
Setelah malam pertama mereka, pria itu terpaksa berangkat ke luar kota karena masalah mendadak pada proyek pembangunan jembatan raksasa di Lore'i—jembatan yang menghubungkan dua pulau di wilayah Montana.
Tubuhnya masih sedikit ngilu akibat ulah suaminya semalam. Char merona, ia meraba pipinya yang memanas.
"Astaga ... Apa-apaan sih!" gumamnya malu sendiri.
Ia pun gegas turun ke bawah, takut sang kakek terlalu lama menunggu.
Ketika sudah di bawah, tatapan para maid memindainya secara sinis.
"Tak tahu malu. Dia membuat Tuan Besar lama menunggu!" bisik salah satu maid tak suka.
"Nona ...."
"Rovelet! Dia adalah Nyonya Romanov. Jaga bicaramu!" seru Rudolph mengingatkan.
"Maaf Tuan Besar. Selama ini, kami diterapkan disiplin. Tidak boleh terlambat sama sekali!" ujar Rovelet membela diri.
"Itu karena kamu ingin gaji, Rovelet!" perempuan kurus berkacamata itu terdiam.
"Jika kalian ingin bersantai. Kastil ini terbuka untuk kalian keluar!" sambung Rudolph tenang.
"Duduklah, Cu. Jangan hiraukan mereka. Kamu nyonya di rumah ini," perintahnya pada Char dengan nada lembut.
Char hendak duduk, tapi melihat piringnya ada di ujung lain meja makan. Ia tertegun, Rudolph ikut menatap piring Char di ujung meja.
"Rovelet. Pindahkan piring cucu menantuku di sini!' suruhnya sambil menunjuk kursi dekat sisinya.
"Tuan Besar kami bekerja ...."
Tok!
Rudolph menghentakkan tongkat kayunya dengan kuat. Rovelet langsung terkejut, ia menunduk dalam-dalam.
"Kau rupanya mau diusir dari sini ya? Kau pikir, Tuan Muda kalian akan membela kalian?" tanyanya penuh amarah.
"Grandpa, tenanglah. Jangan dibesar-besarkan masalah sepele," ujar Char lembut lalu ia menggeser piringnya sendiri dekat dengan kakek mertuanya. Rudolph mengangguk sambil tersenyum lebar.
"Good girl!" pujinya puas.
"Biar aku layani, Grandpa. Kau sarapan apa?" tanya Char lalu melayani Rudolph penuh kesabaran.
"Mana anak itu?" tanya Rudolph lalu mengigit roti lapisnya.
"Alex sudah pergi tadi malam. Mata Raph ada masalah di Lore'i. Jembatan hendak disabotase beberapa oknum," jawab Char memakan sarapan yang sama dengan Rudolph.
"Anak itu. Benar-benar!" geram Rudolph.
Mata kelabu rabunnya menelisik tubuh Char. Tak ada bekas tanda-tanda kemesraan di sana. Char mengenakan baju kaos model sweater dengan kerah tinggi menutupi lehernya dan celana traning yang sempat ia bawa di tasnya. Ia sama sekali tak membawa pakaian ganti ke rumah itu.
"Tapi kalian sudah memproduksi bayi semalam kan?" tanya Rudolph yang membuat Char tersedak.
"Uhuk! Uhuk!" Rudolph buru-buru memberikan minum.
"Terima kasih Grandpa," ujar Char dengan pipi merona.
Rudolph tersenyum lega. "Rupanya warisan burung klan Romanov bekerja juga," sahutnya nyeleneh.
"Grandpa. Malu," cicit Char malu setengah mati.
"Hei ... Kalian suami istri. Tidak ada salah melakukan itu!' sahut Rudolph santai.
"Apa kau dipuaskan oleh peninggalan dari nenek moyang suamimu?" tanyanya lagi penasaran.
"Demi Tuhan, Grandpa!" seru Char makin menunduk karena malu.
"Oh ... Aku paham kenapa kau bangun sedikit siang!" angguk Rudolph masih betah menggoda cucu menantunya.
Charoen rasanya ingin menghilang saat itu juga ke dalam gulungan karpet ruang makan. Wajahnya sudah membara merah padam, menyebar hingga ke telinga dan lehernya yang tersembunyi di balik kerah tinggi sweater-nya. Tawa kekeh Rudolph bergema renyah di dalam aula makan yang luas itu, merasa sangat puas berhasil menggoda cucu menantunya hingga tak berani mendongak.
"Sudah, sudah, jangan menunduk sampai hidungmu masuk ke mangkuk sup," goda Rudolph lagi sambil terkekeh pelan. Pria tua itu memegang cangkir teh hangatnya, lalu tatapannya yang semula jahil mendadak berubah agak serius. "Tapi bagaimanapun... Alex bertindak cepat. Sabotase jembatan di Lore'i itu bukan main-main, Char. Ada pihak yang mulai cacingan melihat posisi klan Romanov makin kokoh setelah pernikahan kalian."
Charoen perlahan memberanikan diri mengangkat wajahnya yang masih merona. Kecerdasannya seketika menggeser rasa malu di dadanya.
"Apa klan musuh, Grandpa? Atau... ada persaingan bisnis internal di wilayah Montana?" tanya Charoen, matanya memancarkan binar tajam yang penuh rasa ingin tahu.
Rudolph mengangguk pelan, terkesan dengan ketanggapan otak cucu menantunya. "Dua-duanya bisa saja. Tapi Alex bukan pria lemah yang bisa digoyah dengan trik murah seperti itu. Dia akan membereskannya sebelum matahari terbenam hari ini."
Pria tua itu lalu melirik tajam ke arah Rovelet dan para pelayan yang berdiri kaku di dekat dinding, masih mematung ketakutan sejak gertakan Rudolph tadi.
"Ngomong-ngomong, Char..." ujar Rudolph, suaranya sengaja dikencangkan agar terdengar oleh seluruh isi ruangan. "...selagi Alex di luar kota, kau adalah pemilik kekuasaan tertinggi di kastil ini. Jika ada pelayan yang tidak tahu tata krama atau melayani setengah hati seperti tadi, kau punya hak penuh untuk memecat mereka tanpa perlu meminta izin padaku atau pada Alex."
Rovelet menelan ludahnya dengan susah payah. Ia menunduk kian dalam, tak berani lagi memandang sinis ke arah gadis yang kini resmi menjadi Nyonya Romanov tersebut.
Charoen menyunggingkan senyum tipis—senyuman tenang namun sarat akan ketegasan yang sanggup membuat siapa pun bergidik pelan.
"Saya mengerti, Grandpa," sahut Charoen anggun. "Saya tahu persis bagaimana menertibkan orang-orang yang lupa siapa majikannya."
Situasi di Kastil Romanov kini sepenuhnya di bawah kendali Charoen selagi Alexander bertugas di Lore'i.
Jembatan HungBork, Lore'i.
Tubuh Alexander menjulang menutupi sinar matahari yang mulai naik perlahan. Nama HungBork, adalah nama gabungan dua pulau yang terpisah dengan jarak lima kilometer. Pulau Hungola dan pulau Rubork. Dua pulau eksotis dengan kekayaan alam alami yang masih dijaga kelestariannya.
Jembatan raksasa ini diperuntukkan sebagai akses kemudahan perjalanan dan menekan biaya transportasi para turis yang hendak menjelajahi dua pulau indah tersebut.
Pulau Rubork adalah pulau paling dekat dengan pesisir Pantai Dashuri masuk wilayah Kota Seradam, pantai berbentuk hati dengan pasir warna merah muda yang sangat cantik.
Sepuluh pria bertubuh gempal diikat kuat-kuat. Mereka hendak menanam bom waktu untuk menghancurkan jembatan yang menelan biaya satu triliun dolar itu.
Sepuluh pria itu berlutut di atas lantai beton jembatan yang belum sepenuhnya selesai dibangun. Keringat dingin bercampur darah menyapu wajah-wajah kasar mereka, bergidik ketakutan di bawah bayang-bayang tinggi Alexander Philip Romanov.
Laras panjang para prajurit elite Romanov tertuju tepat ke arah kepala mereka tanpa ada keraguan sedikit pun. Angin laut yang berembus kencang dari pesisir Pantai Dashuri membawa aroma asin yang menusuk, menambah keheningan mencekam di atas Selat HungBork.
Alexander mematikan rokok di selongsong peluru kosong, lalu menginjaknya hingga hancur. Tatapan mata kelabunya sedingin es Kutub Utara—tajam, tanpa ampun, dan mematikan.
"Satu triliun dolar," suara berat Alexander bergema pelan, namun sanggup membekukan darah siapa pun yang mendengarnya. Ia melangkah mendekati pria yang tampak sebagai pemimpin komplotan itu.
"Kalian berniat meledakkan proyek kekuasaanku... di hari pertama aku menikahi istriku?"
"Kami ... Kami hanya bayaran ... Kami tidak tahu kalau ini adalah Mega proyek milik Tuan Romanov!" seru salah satu pria bertato.
"Tuan, mereka adalah suruhan Deputi Montana, Sir Lebertto Sinclair," ujar Raph memberikan informasi.
"Oh ... dia lagi? " Alexander menatap asisten pribadinya.
"Sir Sinclair tadinya yang menangani transportasi kapal pesiar mini dengan bayaran tinggi. Dia bisa mengantongi keuntungan satu juta dolar per weekend!" ujar Raph.
"Pantas dia mau merobohkan jembatan ini!' angguk Alexander mengerti.
"Tuan, Sir Sinclair juga bekerja sama dengan beberapa oknum pejabat lain. Transportasi ini, tidak pernah memberikan keuntungan pada negara'!" ujar Raph lagi.
"Siapkan pengacara. Bentuk tim investigasi independen!" suruh Alexander tegas.
"Kita seret para penguasa rakus itu ke penjara bersama antek-anteknya!'
Bersambung
Andai ada orang seberpengaruh Alexander ...
next?
begitu doang,sebut juga dunk si Grace itu biang dari semua fitnahan tersebut
semakin seru nh,gak sabar nunggu reaksi keluar char terutama ayahnya n si grace
si Grace carmuk.banget
gengsi Segede gunung