Saat Arsenio Malik (29) memilih untuk menikahi kakak kandung Seraphina Allena (25) yang bernama Kalani Gianna (27), hati Seraphina saat itu benar-benar patah. Dia diberi pengkhianatan ganda dari dua orang yang tak pernah ia sangka akan tega menusuknya dari belakang. Kalani ternyata sudah hamil. Dan, kedua orangtua mereka malah berdiri di sisi Kalani untuk membela kesalahan anak pertama mereka.
Saat Seraphina merasa ditinggal sendirian di dunia ini, datanglah Kaivan Lyonel Marvin (30) yang menjadi obat bagi luka hati Seraphina. Karena kelembutan dan perhatian Kaivan, Seraphina akhirnya memutuskan untuk menerima lamaran dari pria itu.
Namun, empat tahun setelah pernikahan mereka, Seraphina baru tahu jika ternyata Kaivan menikahinya hanya supaya Seraphina tidak mengusik pernikahan Kalani dan Arsenio.
Pria yang sudah menjadi suaminya itu ternyata juga mencintai Kalani. Dia bahkan rela berkorban dengan menikahi Seraphina hanya demi memastikan agar Sera tidak balas dendam kepada Kalani.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Itha Sulfiana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 11
"Minum tehmu dulu!"
Marco menyodorkan teh chamomile untuk menenangkan badai emosi Noah. Adrian sudah pulang lima menit yang lalu. Pria tua itu lagi-lagi pulang dengan penyesalan.
Menyesal karena marah tanpa mendengarkan pembelaan putranya terlebih dulu.
Menyesal karena tidak pernah sekalipun memercayai putranya.
"Soal perempuan itu, apa sudah ada kabar?" tanya Noah. Dia berusaha mengalihkan pikirannya ke hal-hal yang lebih menyenangkan untuk diingat.
"Sudah," jawab Marco. Dia mengambil sebuah map berisi laporan lengkap mengenai si 'gadis bukit hijau'.
Begitu Noah dan dirinya menamai perempuan itu.
"Namanya Seraphina Allena Maherza. Tinggi 170 cm, berat 56 kilo. Usianya 25 tahun, hanya tamatan SMA, dan... sudah menikah."
"Sudah... menikah?"
"Sebentar lagi akan bercerai. Hari ini, dia resmi memasukkan gugatan cerai ke pengadilan agama."
"Karena?"
"Suaminya ingin menikahi Kakaknya."
"Bukannya... dulu calon suaminya sudah direbut oleh kakaknya?"
"Pria yang sekarang, menikahi Seraphina setahun setelah insiden itu. Tapi, sekarang sepertinya tragedi itu terulang kembali."
"Benar-benar perempuan yang malang," kata Noah dengan nada prihatin. "Sepertinya, dia tidak pandai menilai laki-laki. Ish, ish, ish....Masa' dua kali terkena jebakan Batman?"
"Setelah ini, kau mau apa?"
Noah berpikir sebentar. "Bagaimana kalau aku melamarnya setelah dia resmi bercerai?"
"KAU GILA!?" pekik Marco.
"Daripada Tuan Adrian terus-menerus mencarikan jodoh untukku, bukankah lebih baik jika aku mencari sendiri?"
"Tapi, bukan dengan perempuan yang sudah menikah juga, Noah."
"Apa salahnya dengan perempuan yang sudah menikah? Selama dia punya 'itu', aku tidak ada masalah."
"Itu apa?" tanya Marco.
Hehehehe.
Noah tertawa nakal.
"Kau tahulah! Jangan pura-pura polos begitu," dia mencubit lengan Marco.
"Noah, kau benar-benar..."
Marco mengusap wajahnya. Si tengil ini memang tak bisa ditolong lagi.
"Dia cantik. Hatinya juga baik. Bukankah, dua hal itusudah cukup?" lanjut Noah.
"Jadi, 'itu' yang kau maksud, adalah soal ini?"
"Ya," angguk Noah. "Memangnya, soal apa lagi?"
Marco diam. Tapi, isi kepalanya ribut.
"Jangan-jangan, kau sedang berpikir mesum, ya?" tebak Noah.
Dan, wajah Marco langsung memerah.
"Tapi, kau tetap tidak bisa menikah dengannya," kata Marco.
"Kenapa?" tanya Noah. "Apa karena Tuan Adrian tidak akan setuju?" tebaknya. "Ayolah, Kawan! Kau pikir, aku peduli dengan pendapatnya?"
"Bukan itu."
"Lalu?"
"Orangtuanya sudah menyiapkan pernikahan untuknya dengan laki-laki lain."
"Siapa?"
"Lelaki pertama yang direbut oleh kakaknya."
Noah reflek menutup mulutnya.
"Wah, gila! Apa orangtuanya sudah kehilangan akal sehat? Dia ingin memberikan putrinya kepada laki-laki yang sudah mengkhianatinya? Terlebih lagi, bukankah itu berarti, dia akan dinikahkan dengan mantan kakak iparnya sendiri?"
Marco mengangguk. Ikut prihatin.
"Berarti, aku memang harus ikut campur."
"Apa maksudmu dengan ikut campur?" Perasaan Marco mendadak tak enak.
"Pantau terus jalannya proses perceraian itu. Begitu palu diketuk, kau harus segera menyiapkan mahar."
"Noah, kau benar-benar sudah tidak waras, ya?"
"Oh, kau baru tahu? Padahal, kita bersahabat dari kecil, loh."
Marco menghela napas panjang.
"Sudah. Masalah ini aku anggap selesai. Sekarang, cepat kembali bekerja!" tegas Noah, tak mau dibantah.
*****
Dua bulan kemudian, perceraian Seraphina dan Kaivan akhirnya disahkan oleh pengadilan agama. Keduanya sama-sama memegang akta cerai meski dengan ekspresi yang berbeda-beda.
Seraphina tersenyum lega.
Kaivan justru terlihat sedih.
"Sera," panggil Kaivan.
Perempuan itu pun menoleh. "Ya?"
"Kamu... baik-baik saja?"
Seraphina mengangguk.
"Apa kau tidak merasa sedih dengan perpisahan kita?"
"Tidak," geleng Seraphina.
Jawaban itu membuat Kaivan merasa getir.
"Kenapa kamu tidak sedih? Tidakkah kamu merasa jika semua kenangan yang pernah kita lalui begitu berharga?"
"Semua kenangan itu hanya kepalsuan. Jadi, aku tidak perlu bersedih untuk sesuatu yang tidak pernah benar-benar ada."
Seraphina menyampirkan anak rambutnya ke belakang telinga. Setiap gerakannya terlihat anggun. Ciri khas wanita berkelas dan dewasa.
"Kaivan, selamat! Akhirnya, cintamu berhasil kau gapai."
Mendengar itu, Kaivan berusaha memaksakan diri untuk tersenyum.
Entah kenapa, hatinya tidak senang sama sekali.
Entah kenapa, hatinya malah berdenyut nyeri saat berusaha menerima kenyataan.
Seraphina sudah melepasnya.
Seraphina sudah mengikhlaskannya.
"Sera, apa kamu sudah tidak mencintaiku lagi?"
Pertanyaan itu membuat Seraphina sedikit memiringkan kepalanya, heran.
"Tidak," jawabnya singkat.
Tepat disaat jawaban itu keluar dari mulut Seraphina, Kalani dan juga Arsenio datang menghampiri mereka.
Kalani tampak tersenyum puas. Dia langsung menghambur memeluk Kaivan.
"Sayang, akta cerainya sudah aku dapatkan," kata Kalani.
Dia memamerkan dokumen yang ada ditangannya dengan bangga. Seolah-olah benda itu adalah harta Karun paling berharga yang pernah dia dapatkan.
Arsenio yang melihat itu tampak tersenyum sinis. Dia muak melihat Kalani yang seperti itu.
Untungnya, ada Seraphina di sana. Sekarang, Arsenio benar-benar sadar jika tak ada perempuan lain yang bisa melebihi Seraphina.
Seraphina tak kalah cantik dari Kalani. Pembawaan perempuan itu juga lebih tenang dan dewasa. Tidak seperti Kalani yang justru suka marah-marah dan menangis jika ada hal yang berjalan tidak sesuai dengan kehendaknya.
"Sera, selamat ya! Sebentar lagi kamu akan menikah dengan Arsenio. Aku doakan semoga kalian berdua bahagia dan langgeng selamanya."
Kalani memberi selamat.
Penuh nada sinis.
Penuh tatapan mengejek.
"Sudah aku bilang kalau aku tidak akan menikah dengannya," timpal Seraphina.
Hal itu membuat Arsenio jadi mengerutkan alisnya. Dia memegang tangan Seraphina.
"Apa maksudmu, Sera?" sentak Arsenio. "Pernikahan kita sudah disepakati oleh dua keluarga. Orangtuaku bahkan sudah menyiapkan semuanya. Dia sangat senang karena akhirnya kamu berhasil masuk ke keluarga kami."
Orangtua Arsenio memang sangat menyukai Seraphina. Saat dulu Seraphina digantikan oleh Kalani di acara pernikahan, mereka bahkan sempat murka dan menganggap Arsenio sebagai anak durhaka.
Kalani yang sudah lima tahun menjadi menantu mereka bahkan tak pernah dianggap. Bagi mereka, posisi Seraphina tak bisa digantikan oleh siapapun, terutama Kalani.
"Aku tidak pernah setuju dengan pernikahan ini," jawab Seraphina. Dia menarik tangannya dari genggaman Arsenio.
"Tapi, keluarga kita..."
"Tidak ada yang berhak memutuskan apapun dalam hidupku kecuali diriku sendiri, Arsen. Jadi, kalau aku bilang tidak, maka tidak," tegas Seraphina.
Arsenio membuang muka ke arah lain. Penolakan Seraphina bagai palu yang menghantam dadanya keras.
"Sera, lagi-lagi kau ingin menentang keputusan Ayah dan Ibu?" celetuk Kalani. "Apa kau ingin mempermalukan keluarga, hah? Rencana pernikahan ini sudah diketahui oleh banyak orang. Kalau batal, muka Ayah dan Ibu mau ditaruh dimana?"
"Bukan urusan ku."
Seraphina sudah memutuskan untuk membuang semuanya. Dia bahkan sudah menyiapkan surat pemutusan hubungan dengan kedua orangtuanya.
Dia ingin semuanya berakhir. Dia ingin mendapatkan hidupnya kembali sekalipun harus menjalaninya seorang diri saja.
"Bagaimana? Apa akta cerainya sudah keluar?" tanya sang Ayah begitu Seraphina sampai di rumah.
"Sudah," jawab Seraphina.
"Bagus," angguk Romi puas. "Sekarang, lupakan masa lalu dan bersiaplah untuk menjalani kehidupan baru. Ayah yakin, Arsen bisa membuatmu bahagia."
"Sekarang, apa uang lima ratus jutanya sudah bisa ditransfer?"
Romi tertawa kecil. "Hahaha.. Kau ini benar-benar tidak mau rugi, Sera. Saat ini, Ayah masih belum memiliki uangnya. Tapi, besok Ayah janji... uang itu pasti akan langsung masuk ke rekening mu sebelum malam."
"Baik Aku mengerti."
"Sera, apa kamu lapar? Ingin Ibu buatkan sesuatu?" celetuk Selly.
Selama dua bulan ini, putrinya tinggal di rumah tapi momen kebersamaan mereka hanya bisa dihitung jari.
Seraphina lebih suka menghabiskan waktu di luar sana. Dan, begitu tiba di rumah, yang dia lakukan hanya mengurung diri di dalam kamar. Asyik melukis hingga lupa waktu.
"Tidak. Terimakasih. Tapi, aku tidak lapar."
"Sera, belakangan ini berat badanmu turun drastis. Makan mu pasti tidak teratur. Ibu akan buat sup ayam. Kamu..."
"Aku bilang, aku tidak lapar," sela Seraphina.
Selly pun seketika terdiam dengan sorot mata kecewa.
"Ibu tidak perlu melakukan apa-apa untukku. Dengan Ibu diam saja dan tidak peduli seperti dulu, itu sudah lebih dari cukup."
menyusun rencana merebut lagi
noah & sera kalian keren sekali 🤭🤭🤭🤭