Clara Nagendra, siswi berprestasi dengan senyum tempelan sempurna, hidup dalam rumah dingin yang hanya memuja adiknya, Thea. Di balik nilai 98 dan piala emas, ia menyembunyikan gagal ginjal kronis stadium 4 dalam diary biru lusuhnya. Hanya Nenek Kamila dan tiga sahabatnya yang melihat lukanya. Pertemuannya dengan Kim Seokjin, ketua geng motor yang ditakuti, mengubah segalanya. Dari musuh jadi rumah. Dari taman belakang yang bersih hingga janji rumah kecil bernomor 7 di Lembang, Clara akhirnya menemukan tempat pulang — bukan gedung, melainkan pelukan yang tidak menuntutnya sempurna. Sebuah kisah tentang luka yang tak terlihat, cinta yang menjadi tempat istirahat, dan rumah yang tertinggal namun tetap menyala.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Senja Juliani Putri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 22 — Cinta yang Tidak Bisa Gue Ceritakan
"Clara?"
Suara Seokjin itu yang terakhir Clara dengar sebelum pandangannya benar-benar gelap.
---
Pas Clara membuka mata lagi, hal pertama yang dia lihat bukan lampu rumah sakit.
Tapi tangan.
Tangan besar dengan urat yang kelihatan jelas, menggenggam tangannya erat.
Seokjin.
Cowok itu duduk di kursi sebelah ranjang. Seragamnya masih sama seperti tadi. Berantakan. Rambutnya juga berantakan. Matanya merah, seperti belum berkedip sejak tadi.
Di ujung ruangan, Mutiara berdiri sambil memeluk tas Clara. Wajahnya sembab.
Clara mencoba bergerak.
Kepalanya langsung berputar.
"Jangan bangun dulu."
Seokjin refleks berdiri dan menahan bahunya pelan.
"Lo baru aja drop."
Clara mengedip beberapa kali.
Langit-langit putih.
Bau obat.
Suara mesin.
Ada infus terpasang di tangannya.
"Gue di mana?"
"Ruang observasi," jawab Mutiara. "Tadi lo hampir nggak sadar. Dokter langsung bawa lo ke sini."
Clara menatap Seokjin.
Cowok itu masih diam.
Tatapannya berbeda dari biasanya.
Bukan tatapan ketua geng yang ditakuti satu sekolah.
Bukan tatapan senior yang suka bercanda seenaknya.
Tapi tatapan seseorang yang ketakutan.
"Jin..."
Seokjin menarik napas.
"Sejak kapan?"
Clara diam.
Dia tahu pertanyaan itu.
"Sejak kapan lo tahu kondisi lo separah ini?"
Clara menunduk.
"Gue..."
"Jangan bohong lagi, Cla."
Suara Seokjin pelan.
Justru itu yang membuat Clara semakin sulit menjawab.
"Gue udah tahu cukup lama."
"Kenapa gue nggak tahu?"
Clara memainkan ujung selimut.
"Karena gue nggak mau lo tahu."
Seokjin menatapnya lama.
"Gue udah tahu sekarang."
Clara menghela napas.
"Gue tahu."
"Gue denger semuanya tadi."
Seokjin berjalan beberapa langkah menjauh dari ranjang.
"Gue denger dokter ngomong soal ureum lo. Gue denger kondisi ginjal lo. Gue denger Mama lo bilang harus pergi karena Thea drop."
Tangannya mengepal.
"Gue juga lihat lo jatuh."
Clara memejamkan mata.
"Jin..."
"Gue takut, Cla."
Seokjin akhirnya berhenti.
Kalimat itu membuat Clara membuka mata lagi.
Seokjin jarang sekali mengaku takut.
"Gue nggak tahu harus ngapain waktu lihat lo kayak tadi."
Clara menelan ludah.
"Itu bukan urusan lo."
Seokjin langsung menoleh.
"Bukan urusan gue?"
"Iya."
"Clara."
"Kita baru pacaran sebentar, Jin. Gue nggak mau hidup lo berubah gara-gara gue."
Seokjin tertawa kecil. Bukan karena lucu.
"Lo pikir hidup gue bakal tetap sama kalau gue pura-pura nggak peduli?"
Clara diam.
"Gue udah tahu lo sakit. Gue nggak bisa pura-pura nggak tahu."
"Tapi gue nggak mau lo kasihan."
"Gue nggak kasihan."
"Terus?"
Seokjin mendekat.
"Gue takut kehilangan lo."
Clara langsung menunduk.
Kalimat itu terlalu berat.
Seokjin duduk kembali di kursi sebelah ranjang.
"Gue marah bukan karena lo sakit."
Dia berhenti sebentar.
"Gue marah karena lo merasa harus menanggung semuanya sendirian."
Air mata Clara mulai jatuh.
"Gue cuma nggak mau lo lihat gue sebagai orang sakit."
"Terus gue harus lihat lo sebagai apa?"
Clara mengusap air matanya.
"Sebagai Clara."
"Ya gue lihat lo sebagai Clara."
Seokjin menatapnya.
"Clara yang suka ketawa kalau gue salah ngomong. Clara yang pura-pura kesel kalau gue gangguin. Clara yang dulu nolongin gue waktu gue kecelakaan. Clara yang duduk sama gue di taman belakang sekolah."
Dia tersenyum tipis.
"Clara yang bikin gue nyaman jadi diri gue sendiri."
Air mata Clara semakin deras.
"Gue cuma pengen lo tetap lihat gue kayak gitu."
"Ya udah."
Seokjin menyodorkan tangannya.
"Terus jangan berubah cuma karena lo sakit."
Clara menatap tangan itu.
"Lo nggak takut?"
"Takut."
"Terus?"
"Gue tetap di sini."
Clara perlahan meletakkan tangannya di atas tangan Seokjin.
Hangat.
Mutiara yang sejak tadi diam akhirnya bicara.
"Jin, kondisi Clara memang serius."
Seokjin mengangguk.
"Gue tahu."
"Dia harus benar-benar jaga kondisi. Nggak boleh terlalu capek. Kontrolnya juga harus rutin."
"Gue tahu."
Mutiara menarik napas.
"Dan soal Thea..."
Seokjin menoleh.
"Clara nggak bisa jadi donor."
"Gue juga tahu."
Mutiara terdiam.
Seokjin menatap Clara.
"Gue denger semuanya tadi."
Clara menggigit bibir.
"Jangan bilang siapa-siapa, Jin."
"Gue nggak akan."
"Serius?"
"Serius."
Seokjin mengeratkan genggamannya sedikit.
"Ini cerita lo. Bukan cerita gue buat disebarin."
Clara akhirnya tersenyum kecil.
"Gue takut satu sekolah tahu."
"Kalau ada yang tahu dari gue, gue sendiri yang lo tonjok."
Mutiara mendengus kecil.
"Lo jangan bikin masalah lagi."
Seokjin menatap Mutiara.
"Gue serius."
Clara tertawa kecil.
Untuk pertama kalinya sejak tadi.
Seokjin ikut tersenyum.
"Tuh."
"Apa?"
"Lo ketawa."
"Kenapa?"
"Karena gue lebih suka lihat lo ketawa daripada nangis."
Clara menggeleng.
"Jangan gombal."
"Gue nggak gombal."
"Pembohong."
"Ya udah. Terserah."
Ruangan kembali tenang.
Hanya terdengar suara infus.
Tetes.
Tetes.
Tetes.
Beberapa menit kemudian, pintu terbuka.
Dokter Risa masuk sambil membawa hasil pemeriksaan.
"Gimana sekarang?"
"Udah mendingan, Dok," jawab Clara.
Dokter Risa memeriksa kondisi Clara sebentar.
"Untuk sekarang cukup istirahat. Kondisi kamu tadi drop karena tubuh kamu sedang kelelahan dan fungsi ginjal kamu memang sedang rendah. Jadi jangan memaksakan aktivitas."
Clara mengangguk.
"Untuk dua hari ke depan, kamu istirahat di rumah. Jangan sekolah dulu."
"Iya, Dok."
"Makan dan minum mengikuti aturan yang sudah diberikan. Obat jangan lupa. Kalau mual berat, muntah terus, sesak, atau kondisi kamu makin buruk, langsung kembali ke rumah sakit."
Clara mengangguk lagi.
Dokter Risa lalu menatap Seokjin.
"Dan kamu."
Seokjin langsung duduk tegak.
"Saya, Dok?"
"Jangan bikin pasien saya stres."
Seokjin mengangkat kedua tangan.
"Siap, Dok."
Mutiara tertawa kecil.
"Baru kali ini gue lihat lo nurut."
"Diam."
---
Beberapa saat kemudian, Clara sudah diperbolehkan pulang dengan catatan harus banyak beristirahat.
Suster membantu melepas infusnya.
Clara duduk di kursi roda meskipun awalnya dia menolak.
"Gue masih bisa jalan."
Mutiara menatapnya tajam.
"Lo tadi baru drop."
Clara akhirnya diam.
Seokjin mengambil tasnya.
"Gue bawa."
"Nggak usah."
"Gue bawa."
"Jin..."
"Clara."
Clara menyerah.
"Ya udah."
Mereka baru keluar dari ruang observasi ketika HP Clara berbunyi.
Notifikasi dari grup sekolah.
Dari Bu Wali Kelas.
Selamat! Siswi atas nama Clara Nagendra terpilih mewakili sekolah untuk Olimpiade Sains Nasional minggu depan di Jakarta. Mohon persiapan.
Clara berhenti.
Matanya langsung berubah.
Olimpiade.
Nasional.
Jakarta.
Kesempatan yang selama ini dia tunggu.
Mutiara ikut membaca layar HP Clara.
Wajahnya langsung berubah.
"Cla..."
Clara tersenyum.
"Ini kesempatan gue."
"Lo baru aja keluar dari ruang observasi."
"Gue tahu."
"Dokter bilang istirahat."
"Gue bisa istirahat sambil belajar."
Mutiara menggeleng.
"Lo serius?"
Clara menggenggam HP-nya.
"Kalau gue menang..."
Dia berhenti.
Seokjin memperhatikannya.
"Kalau gue menang, mungkin Mama bakal bangga sama gue."
Mutiara langsung terdiam.
Seokjin juga nggak langsung menjawab.
Dia tahu kalimat itu bukan tentang olimpiade.
Ini tentang Clara yang masih berusaha membuktikan bahwa dirinya layak dilihat.
Layak dibanggakan.
Layak dipilih.
"Clara," kata Seokjin pelan.
"Gue ikut."
"Tapi kondisi lo..."
"Gue nggak apa-apa."
Seokjin menatap senyumnya.
Senyum itu.
Dia sudah mengenalnya.
Senyum yang muncul setiap kali Clara sebenarnya sedang memaksakan diri.
"Lo bohong."
Clara terdiam.
"Gue nggak bohong."
"Lo selalu bilang begitu kalau sebenarnya lo takut."
Clara memalingkan wajah.
Mutiara menarik napas.
"Cla, kalau lo memang mau ikut, jangan putusin sekarang. Tunggu kondisi lo stabil. Ngomong sama dokter dulu. Jangan langsung maksa."
Clara tidak menjawab.
Dia cuma menatap pesan di HP-nya.
Di kepalanya sudah muncul satu pikiran.
Minggu depan gue harus menang.
Bukan karena sekolah.
Bukan cuma karena olimpiade.
Tapi karena dia ingin sekali mendengar satu kalimat dari Mama.
Mama bangga sama kamu, Clara.
---
Malamnya, setelah sampai rumah, Clara membuka diary birunya.
Tangannya masih sedikit gemetar.
Dia menulis:
«Minggu depan gue harus menang.
Biar Mama lihat gue.
Biar Mama bangga sama gue.
Sekali aja.»
Clara berhenti menulis.
Ada satu tetes air mata jatuh tepat di atas tinta biru.
Dia buru-buru menutup diary.
Dia nggak tahu kalau di luar kamar, Nenek Kamila berdiri sebentar di depan pintu.
Nenek tidak masuk.
Hanya mendengar suara Clara yang sedang menarik napas panjang.
---
Di tempat lain, Seokjin baru sampai rumah.
Begitu masuk, dia langsung melihat Mama sudah menunggu di ruang tamu.
Wajahnya serius.
"Jin."
Seokjin berhenti.
"Iya, Ma?"
"Tadi sekolah telepon Mama."
Seokjin langsung diam.
"Katanya ada polisi datang ke sekolah."
Jantung Seokjin berdegup lebih cepat.
"Mereka cari kamu sama teman-teman kamu."
"Mereka bilang apa?"
Mama Seokjin menghela napas.
"Ada laporan soal perkelahian."
Seokjin menunduk.
"Jin..."
"Mama, gue bisa jelasin."
"Berarti kamu memang berantem lagi?"
Seokjin diam.
Tidak menjawab.
Mama menatap anaknya lama.
"Sejak kapan kamu mulai punya masalah lagi?"
Seokjin mengusap wajah.
"Kemarin."
Mama menghela napas kecewa.
"Jin, Mama nggak minta kamu jadi anak sempurna."
Seokjin menatap mamanya.
"Tapi Mama cuma minta satu."
"Apa?"
"Jangan bikin Mama harus kehilangan kamu gara-gara masalah yang sebenarnya bisa kamu hindari."
Kalimat itu langsung membuat Seokjin terdiam.
Dia teringat Clara.
Teringat tangannya yang dingin.
Teringat wajah pucatnya.
Teringat kalimat Clara.
Gue cuma mau dicintai kayak gue normal.
Seokjin mengepalkan tangannya.
Ada masalah Clara yang belum selesai.
Sekarang masalahnya sendiri datang.
Dan untuk pertama kalinya, Seokjin sadar—
dia nggak bisa terus menjadi orang yang hanya menyelamatkan orang lain sementara hidupnya sendiri berantakan.
HP-nya bergetar.
Pesan dari Clara.
Clara:
Udah sampai rumah?
Seokjin menatap layar beberapa detik.
Lalu membalas.
Seokjin:
Udah.
Beberapa detik kemudian, balasan masuk.
Clara:
Jangan bikin masalah ya.
Seokjin tersenyum kecil.
Seokjin:
Lo juga.
Clara membalas:
Clara:
Janji.
Seokjin menatap kata itu lama.
Entah kenapa, malam itu satu kata sederhana terasa seperti sesuatu yang sangat berat.
Janji.