Alvierra Zea Khanza atau biasa dipanggil Zea rela menjadi gubernur demi mewujudkan impian sang nenek. Tapi sejak menjabat, berbagai teror dan ancaman mulai mengincarnya.
Demi keselamatan Zea, sang kakek mengirim seorang pengawal pribadi bernama Sagara Arya, kapten dingin yang ternyata menyimpan misi rahasia yaitu membunuh Zea.
Sayangnya, menghadapi gubernur yang bar-bar, keras kepala, tetapi begitu tulus mencintai rakyatnya membuat Kapten Sagara perlahan melupakan misinya.
Di antara ancaman, rahasia, dan perasaan yang tak seharusnya tumbuh, sang kapten justru jatuh cinta kepada perempuan yang seharusnya menjadi targetnya.
Ketika tugas dan cinta berada di dua sisi yang berlawanan, akankah Sagara memilih perintah atau melindungi perempuan yang telah mencuri hatinya?
Yuk stay tune ya. Yang gak suka silakan skip.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yulianti Azis, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pergi Dalam Keadaan Memalukan
Wajah Reno dan seluruh keluarganya langsung menegang mendengar penolakan Zea. Senyum yang sejak tadi mereka pertahankan perlahan menghilang, terlebih ketika menyadari bahwa keluarga Sultan sama sekali tidak menunjukkan tanda-tanda akan menerima kedatangan mereka.
“Zea, tunggu dulu! Kita bicarakan masalah ini baik-baik,” ujar Reno buru-buru sambil melangkah mendekat. “Aku sudah menyadari semua kesalahanku, dan aku benar-benar mencintaimu.”
Zea hanya mendengus dingin. Ia melipat kedua tangan di depan dada, menatap pria yang selama bertahun-tahun pernah dipercayainya itu tanpa sedikit pun rasa iba.
“Aku tahu kamu marah karena selama ini aku selalu menunda memberikan kepastian dan melamarmu,” lanjut Reno dengan wajah memelas. “Makanya, hari ini aku datang bersama keluarga untuk membuktikan keseriusanku. Aku ingin menikahimu, Zea.”
“Cih!” Zea memalingkan wajah. “Kamu pikir masalah kita cuma karena kamu terlambat melamar?”
Belum sempat Zea melanjutkan ucapannya, Puspa, adik bungsu Reno, tiba-tiba menyela. Gadis itu maju sedikit sambil menunjukkan ponselnya, seolah ingin memastikan semua orang mengetahui bahwa kedatangan mereka bukanlah acara keluarga biasa.
“Kak Zea, kami juga sudah mengundang beberapa influencer untuk meliput acara ini,” katanya dengan nada yang terdengar manis, tetapi menyimpan tekanan. “Masa, sih, Kak Zea tega mempermalukan diri sendiri dengan menolak niat baik kakakku di depan banyak orang?”
Seketika alis Zea terangkat tinggi. Ia akhirnya memahami maksud kedatangan mereka yang membawa rombongan besar, hantaran, bahkan orang-orang yang sengaja merekam seluruh kejadian.
Oh, jadi begini cara mereka bermain? batinnya.
Keluarga Reno rupanya sengaja menciptakan situasi yang membuat Zea seolah tidak memiliki pilihan selain menerima lamaran tersebut.
Mereka mengira keluarga Sultan, terutama Zea yang menjabat sebagai gubernur, akan mati-matian menjaga citra di hadapan publik sehingga tidak berani menolak secara terbuka.
Sayangnya, mereka salah besar.
Keluarga Sultan tidak pernah menjadikan pencitraan sebagai alasan untuk membenarkan sesuatu yang keliru. Bagi mereka, harga diri dan kebenaran jauh lebih penting daripada pujian orang-orang di media sosial.
Wajah Zahra dan Althaf semakin mengeras. Keduanya sudah mendengar langsung cerita Zea mengenai sikap Reno dan keluarganya, termasuk bagaimana pria itu memanfaatkan kebaikan putri mereka serta mengaku memiliki hubungan yang sebenarnya tidak pernah disepakati.
Zahra yang sejak tadi berusaha menahan diri akhirnya maju ke depan. Wanita berusia lima puluh tahun itu menatap Lestari dengan sorot mata tajam, lalu menunjuk seluruh hantaran yang dibawa rombongan tersebut.
“Bawa pulang semuanya!” tegas Zahra. “Keluarga kami tidak menerima lamaran ini. Lagi pula, putriku tidak pernah memiliki hubungan resmi dengan putramu, apalagi sampai menyetujui pernikahan dengannya.”
Lestari langsung melotot. “Bu Zahra, jangan bicara sembarangan! Reno itu pria yang baik, saleh, rajin, bertanggung jawab, dan jujur. Dia datang dengan niat tulus, bukan untuk dipermainkan seperti ini!”
Zahra tertawa pendek, tetapi tidak ada sedikit pun kehangatan dalam tawanya. “Pria saleh dan jujur, katamu? Kalau memang begitu, mengapa dia menjalin hubungan dengan perempuan lain sambil terus memberikan harapan kepada putriku?”
“Jangan menuduh anak saya tanpa bukti!” sergah Lestari.
“Bukti?” Zahra mengulang perkataan itu dengan nada tidak percaya. “Kamu pikir Zea tidak tahu apa yang dilakukan putramu? Dia sudah menceritakan semuanya kepada kami, termasuk bagaimana keluarga kalian memperlakukan kebaikannya selama ini.”
Reno langsung menundukkan kepala. Ia tidak menyangka Zea benar-benar menceritakan semua kejadian tersebut kepada keluarganya.
Zahra melanjutkan dengan suara semakin lantang, “Dengar baik-baik, saya tidak akan menikahkan putri saya dengan pria yang tidak disukainya. Terlebih lagi, kalian sudah menipu dan mempermainkan perasaannya!”
“Bunda, sudah, jangan terlalu emosi,” ujar Zea, meskipun wajahnya sendiri masih menunjukkan kekesalan.
“Bunda tidak bisa diam saja, Nak. Mereka datang ke rumah kita membawa orang-orang dan membuat seolah-olah kamu sudah menyetujui pernikahan ini!” jawab Zahra.
Reno segera maju kembali dengan wajah penuh penyesalan. “Tante Zahra, saya mohon maaf. Saya benar-benar mencintai Zea, dan saya tidak bisa hidup tanpa dia.”
“Preet!”
Zea langsung mengeluarkan suara mengejek sambil mengangkat sebelah alis. “Tidak bisa hidup tanpaku, atau tidak bisa hidup tanpa fasilitas keluargaku?”
“Zea, jangan begitu. Aku sungguh mencintaimu!”
“Cinta?” Zea tertawa sinis. “Kalau kamu memang mencintaiku, kenapa selama ini kamu mempermainkan perasaanku? Kenapa kamu masih menjalin hubungan dengan Citra, sementara di depanku kamu terus berbicara tentang pernikahan?”
Reno kehilangan kata-kata. Lestari pun mulai gelisah ketika beberapa orang dari rombongan mereka tampak saling berbisik.
Zea kemudian menunjuk kamera ponsel yang masih berada di tangan salah seorang influencer. “Dan satu lagi, kamu pikir dengan membawa influencer ke sini aku akan menerima lamaranmu demi menjaga citra sebagai gubernur?”
Ia menggeleng sambil tersenyum mengejek. “Oh, kamu salah, Furguso!”
Beberapa orang yang mendengar ucapan itu nyaris tertawa, tetapi segera menahan diri ketika melihat wajah Reno yang semakin merah.
“Aku tidak peduli orang-orang akan berkata apa setelah ini,” lanjut Zea. “Kalau memang kalian sengaja membawa mereka untuk menekanku, berarti kalian belum mengenal keluarga Sultan dengan baik.”
Kakek Sultan yang sejak tadi diam akhirnya ikut bersuara. “Kami tidak pernah mengajarkan anak dan cucu kami untuk menerima sesuatu hanya karena takut menjadi bahan pembicaraan orang. Kalau memang tidak benar, kami tidak akan membenarkannya.”
Althaf berdiri di samping Zahra, menatap Reno dengan dingin. “Kamu datang ke rumah ini untuk melamar, tetapi bahkan menghormati keputusan putri saya saja kamu tidak mampu.”
Reno kembali menunduk. “Om, saya mohon. Beri saya kesempatan sekali lagi.”
“Kesempatan untuk apa?” tanya Zea. “Untuk kembali meminta uang, barang, atau fasilitas dari keluargaku?”
“Bukan begitu, Zea!”
“Sudah cukup!” potong Zea. “Aku tidak akan menikah dengan pria mokondo sepertimu. Apa perlu aku beberkan semua bukti percakapan kita, termasuk bagaimana kamu berusaha memanfaatkan harta keluargaku?”
Wajah Reno seketika pucat pasi. Lestari dan suaminya juga saling pandang dengan ekspresi panik, sementara Puspa yang sejak tadi berani berbicara kini memilih diam.
“Zea, jangan mempermalukan kakakku seperti ini!” seru Puspa, berusaha membela Reno.
Zea menoleh kepadanya. “Lho, bukannya kalian sendiri yang membawa orang-orang untuk merekam acara ini? Sekarang kenapa takut dipermalukan?”
Puspa langsung bungkam.
Zahra yang sudah benar-benar kehilangan kesabaran kemudian menunjuk gerbang rumah mereka. “Pergi kalian semua dari sini! Sebelum saya siram kalian pakai air comberan!”
“Bu Zahra, jangan begitu. Kami hanya ingin menyelesaikan masalah dengan baik,” ujar Lestari, mencoba mempertahankan senyumnya.
“Masalah apa lagi yang mau diselesaikan? Lamaran sudah ditolak, putri saya juga sudah mengatakan tidak mau. Apa kalian masih belum mengerti bahasa manusia?”
Keluarga besar Reno mulai merasa tidak nyaman. Satu per satu mereka memilih mundur, kemudian berjalan menuju mobil yang mereka sewa untuk datang ke rumah keluarga Sultan.
Namun, Reno, kedua orang tuanya, dan Puspa tetap bertahan di tempat. Mereka seolah belum rela meninggalkan rumah itu begitu saja, terlebih setelah menyadari bahwa sumber berbagai kemudahan yang selama ini mereka nikmati sudah tidak bisa lagi mereka andalkan.
Althaf mengembuskan napas panjang sebelum berkata tegas, “Saya sarankan kalian pergi sekarang juga. Saya tidak akan menerima lamaran dari pria yang hanya mengincar harta dan fasilitas keluarga kami.”
“Om, saya tidak seperti itu!” Reno menggeleng cepat. “Saya mencintai Zea dengan tulus, tanpa memandang kekayaan keluarganya. Saya bahkan bersedia melakukan apa saja untuk membuktikan itu!”
“Kalau begitu, buktikan dengan menghormati keputusannya,” jawab Althaf. “Jangan memaksakan kehendakmu kepada putri saya.”
Reno masih berusaha memohon. Ia bahkan melangkah mendekati Zea, tetapi Kakek Sultan segera berdiri menghalangi jalannya.
“Cukup. Jangan mendekati cucuku lagi.”
Suasana mendadak tegang. Reno tampak kebingungan mencari cara untuk mempertahankan dirinya, sementara Lestari terus melirik ke arah Zea dengan wajah kesal.
Tiba-tiba, dari arah samping rumah terdengar suara langkah cepat.
Byur!
Air berwarna keruh langsung mengguyur Reno, Lestari, suaminya, dan Puspa. Keempat orang itu sontak menjerit dan mundur dengan wajah terkejut, sementara aroma tidak sedap seketika menyebar di halaman depan.
“AARRGHH! APA INI?!” teriak Lestari sambil mengusap wajahnya.
Reno membelalak, menatap pakaian formalnya yang kini basah kuyup. Puspa bahkan melompat mundur sambil menutup hidung, sedangkan ayah mereka hanya bisa berdiri terpaku karena tidak menyangka kejadian tersebut benar-benar terjadi.
Di hadapan mereka, Zahra berdiri dengan sebuah ember kosong di tangan. Wanita yang selama ini dikenal anggun dan lembut itu kini memasang wajah garang, seolah tidak lagi memiliki kesabaran sedikit pun untuk menghadapi keluarga tersebut.
“Pergi kalian dari sini!” bentak Zahra. “Atau kalian mau saya siram lagi pakai air panas, hah?!”
“Bu Zahra! Anda keterlaluan!” Lestari berteriak dengan suara bergetar.
“Memangnya kalian tidak keterlaluan datang ke rumah orang tanpa persetujuan, lalu memaksa anak saya menerima lamaran?” balas Zahra. “Sekarang masih mau berdebat?”
Reno dan keluarganya langsung saling pandang. Tidak ada satu pun dari mereka yang berani membalas ancaman Zahra, apalagi setelah melihat wanita itu masih memegang ember dengan ekspresi siap melakukan apa saja.
“Sudah, ayo pergi!” ujar ayah Reno panik.
Mereka akhirnya berlari terbirit-birit menuju mobil. Lestari bahkan hampir tersandung ujung gamisnya sendiri karena terlalu terburu-buru, sementara Puspa terus mengomel sambil menutup hidung.
Namun, sebelum masuk ke mobil, Reno sempat berbalik dan menatap Zea dengan wajah penuh amarah.
“Kau akan menyesal, Zea!”
Zea yang berdiri di dekat pintu rumah hanya mengangkat sebelah alis. “Menyesal karena menolak pria sepertimu? Maaf, ya, aku justru sedang bersyukur.”
Reno mengepalkan tangan, tetapi tidak bisa berbuat apa-apa. Ia akhirnya masuk ke mobil rental bersama kedua orang tuanya, lalu kendaraan itu segera meninggalkan halaman rumah keluarga Sultan.
tp psti malu nya luar biasa kan setealh terllu pwrcaya diri ahahahaA🤣🤣🤣
SOOOOOKOOOR
mau tanding apa lagi bel diri gas ken zea
jangan di kira bukan dari militer zea tak tau apa2 justru karna itu dia di latih sedemiaknrup untk melindungi diri nya s dri sudah tajir dari orok kali 🤣🤣🤣🤣
mlh ini pura2 polos
hadeh mboh lah rumit wis asli
piye terusan jal
kyo2 arep meledug kompore 🤣🤣🤣🤣
aaaahhh kira2 apa lagi ya
Zea atau kau Soraya? 😏