NovelToon NovelToon
Jatuhkan Talakmu, Gus

Jatuhkan Talakmu, Gus

Status: sedang berlangsung
Genre:Cerai / Kehidupan Manis Setelah Patah Hati / Dijodohkan Orang Tua / Penyesalan Suami
Popularitas:547.9k
Nilai: 5
Nama Author: SunRise510k

"Satu tahun aku menjaga kehormatan pernikahan ini. Satu tahun aku bersabar menanti kesiapanmu menyentuhku. Namun, di hari jadi pernikahan kita, Allah justru menyentakku dengan kebenaran yang mengoyak dada. Kau tidak menyentuhku bukan karena belum siap, Gus...tapi karena hatimu telah kau habiskan untuk santrimu sendiri."
Demi menjadi istri berbakti bagi Gus Reyhan, Adskhania Nayara melepas impian besarnya menjadi seorang dokter psikiater. Dia mengabdi di pesantren, dicintai mertua, dan dihormati para santri. Namun, predikat 'Ning' ternyata hanya mahkota berduri. Tepat di usia pernikahan yang pertama, Naya mendapati fakta bahwa suaminya telah menikah siri dengan seorang santriwati.
Di hadapan Sang Mertua yang menangis menahan malu atas kelakuan putranya, Naya berdiri tegak dengan sisa-sisa harga dirinya yang hancur. Tidak ada lagi air mata untuk penolakan yang sia-sia.
Dengan lantang, di atas kesuciannya yang masih utuh, Naya bersuara: "Di depan Abi dan Umi, jatuhkan talakmu, Gus!"

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon SunRise510k, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 14

Bau aroma terapi kayu cendana yang biasanya menenangkan di dalam ruang kerja Kyai Ahmad sore itu justru terasa seperti menghimpit dada Reyhan. Di balik meja jati utuh yang mengkilap, Kyai Ahmad duduk dengan punggung tegap. Raut wajah pimpinan tertinggi Pesantren Al-Anwar itu begitu tenang, namun dari balik kelopak matanya yang menua, terpancar ketegasan yang tak sanggup ditawar oleh siapa pun. Di samping beliau, Bu Nyai Khadijah duduk menyandar, mengusap pelan matanya yang masih sembap.

Reyhan berdiri kaku beberapa detik di ambang pintu sebelum melangkah pelan. Untuk pertama kali dalam hidupnya, setiap jengkal ubin ndalem yang ia pijak terasa begitu asing. Pria dua puluh tujuh tahun yang biasanya melangkah penuh percaya diri dengan jubah rapinya itu kini menunduk rapat.

"Duduk, Reyhan," suara Kyai Ahmad terdengar rendah, bergaung di ruangan yang hening.

Reyhan mengambil tempat di kursi kayu bersandar tinggi di hadapan ayahnya. Ia tak berani mendongak sedikit pun.

"Abi tidak akan membentakmu lagi," buka Kyai Ahmad, menatap putra tunggalnya tanpa kedipan. "Semua luapan marah tidak akan mengembalikan kehormatan yang sudah kamu hancurkan sendiri. Tapi mulai hari ini, ada konsekuensi yang harus kamu tanggung sebagai seorang laki-laki dan sebagai orang yang diberi amanah ilmu."

Kyai Ahmad menggeser sebuah kitab tebal bersepuh keemasan di meja kerjanya, lalu menghembuskan napas panjang.

"Mulai besok pagi, seluruh jadwal mengajar kitab Fathul Mu'in dan Tafsir Jalalain di kompleks santri putra Abi cabut. Jabatanmu sebagai ketua harian pengurus pesantren juga diserahkan kembali kepada pamanmu, Gus Yahya."

Deg.

Dada Reyhan bagai dihantam bongkahan batu besar. Gelar pengajar utama dan wewenang kepemimpinan yang selama ini melekat pada dirinya—sebuah kehormatan yang ia bangun sejak pulang dari Al-Azhar—dicabut dalam hitungan detik.

"Abi..." suara Reyhan tercekat di tenggorokan, amat parau. "Reyhan mohon, Bi... Biarkan Reyhan tetap mengajar. Santri-santri—"

"Santri butuh teladan, Reyhan, bukan sekadar lidah yang mahir mengutip ayat!" potong Kyai Ahmad tegas, tidak memberikan ruang untuk bantahan. "Bagaimana kamu bisa mengajarkan tentang kejujuran, amanah, dan hukum muamalah di hadapan ribuan santri jika kehidupan pribadimu penuh dengan manipulasi dan kebohongan?"

Bu Nyai Khadijah memalingkan wajahnya ke jendela, tak sanggup melihat putranya yang kini terduduk lesu bagai kehilangan tulang punggung.

"Dan satu hal lagi," lanjut Kyai Ahmad, tatapannya menghujam makin dalam. "Soal Zahrani."

Nama itu disebut, membuat ketegangan di ruangan makin memuncak. Reyhan meremas ujung kain sarungnya, menahan sesak yang merayap naik ke dada.

"Kamu yang membawa anak itu keluar dari garis hidupnya yang tenang. Kamu yang datang membawa janji-janji manis atas nama kemanusiaan dan takdir Allah, sampai dia mau menikah siri denganmu di Kediri," tutur Kyai Ahmad dengan nada bicara yang amat berbobot. "Sekarang, begitu Naya menuntut cerai dan perbuatanmu terbongkar, kamu mau mencampakkannya begitu saja? Mau lari dari tanggung jawab?"

"Reyhan tidak pernah berniat jahat pada Rani, Bi..." bisik Reyhan, suaranya gemetar hebat. "Tapi Reyhan sadar... Reyhan cuma melarikan diri. Hati Reyhan cuma buat Naya..."

"Jangan jadi pria pengecut, Reyhan!" tegah Kyai Ahmad, nada suaranya naik satu oktav. "Penyesalanmu pada Naya itu terlambat karena egomu sendiri! Naya sudah mengambil keputusan yang sangat terhormat untuk keluar dari hidupmu, dan Abi sepenuhnya merestui langkahnya. Tapi untuk Zahrani... kamu yang memulai jalur ini, maka kamu harus menuntaskannya."

Kyai Ahmad mengetukkan jemarinya di atas meja jati. "Setelah seluruh proses perceraianmu dengan Naya selesai di Pengadilan Agama, kamu harus meresmikan pernikahanmu dengan Zahrani secara hukum negara. Beri dia kepastian status. Jangan biarkan dia menggantung tanpa kejelasan di kompleks pesantren ini."

"Tapi, Bi—"

"Ini bukan penawaran, Reyhan. Ini keputusan Abi," pangkas sang ayah tanpa celah. "Kembalilah tinggal di ndalem utama mulai malam ini. Bawa barang-barangmu dari ndalem timur. Selesaikan semua urusanmu dengan dewasa. Perbaiki hubunganmu dengan Zahrani, dan hadapi proses hukum perceraianmu dengan Naya tanpa membuat keributan lagi. Paham?"

Reyhan memejamkan mata rapat-rapat. Air mata kebasahan akhirnya meluncur membasahi pipinya. Kehilangan Naya adalah luka mematikan bagi jiwanya, namun dipaksa mengikat diri selamanya dengan Rani—wanita yang kini ia sadari hanya menjadi manifestasi dari ego dan obsesi sesaatnya—terasa seperti hukuman mati yang lambat.

"Inggih... Abi," sahit Reyhan pasrah, kepalanya makin terkulai.

Kabut tebal benar-benar telah membungkus kawasan Pacet ketika Reyhan melangkah keluar dari ruang kerja ayahnya. Udara malam yang menembus tulang tak sanggup mendinginkan otaknya yang mendidih oleh kekacauan batin.

Ia berjalan menyusuri lorong tengah ndalem menuju kamarnya yang dulu. Kamar yang pernah ia bagi bersama Naya.

Ketika pintu kayu berukir itu didorong terbuka, aroma wangi lavender lembut masih tertinggal tipis di udara—wangi khas Naya yang selalu menyambutnya saban malam. Reyhan melangkah masuk dengan kaki gemetar. Ia menatap dipan bersepuh cokelat tua yang rapi tanpa cela. Di atas meja rias, tak ada lagi botol-botol perawatan kulit atau tumpukan buku jurnal psikologi milik istrinya. Semuanya telah bersih. Naya membawa pergi seluruh keberadaannya, tak menyisakan satu pun jejak untuk Reyhan kenang.

Pria itu merosot di tepi tempat tidur, menutupi wajahnya dengan kedua telapak tangan. Penyesalan yang lambat merayap makin ganas, menggerogoti setiap sudut pikirannya.

Ia teringat bagaimana Naya selalu menyambutnya dengan senyuman tenang setiap kali ia pulang mengajar, meski ia membalasnya dengan wajah dingin dan alasan-alasan spiritual yang dibuat-buat. Ia teringat bagaimana Naya tetap menjaga nama baiknya di depan para ustadzah, tak pernah sekalipun membocorkan bahwa di balik dinding kamar ini, ia tak pernah menyentuh wanita itu sama sekali.

Bagaimana bisa aku membenci permata seperti dirimu, Nay? batin Reyhan menjerit hampa. Hanya karena kamu terlalu cerdas dan membuat egoku merasa kerdil?

Langkah kaki halus yang ragu-ragu terdengar dari ambang pintu kamar yang terbuka sedikit.

Reyhan mendongak pelan. Di balik remang lampu koridor, Rani berdiri mematung. Perempuan muda itu mengenakan gamis sederhana dengan jilbab hitam yang menutupi separuh wajah pucatnya. Matanya yang sembap menatap Reyhan dengan perpaduan rasa takut, bersalah, dan ketidakpastian.

"G-Gus..." panggil Rani lirih, suaranya hampir tenggelam oleh deru angin malam di luar.

Reyhan menatap Rani. Dulu, wajah polos dan tatapan rapuh itu adalah pelarian yang menenangkan baginya. Namun malam ini, menatap Rani justru membuat dadanya sesak oleh kebencian pada dirinya sendiri. Tatapan memuja dari Rani yang dulu memanjakan egonya kini terasa amat dangkal jika dibandingkan dengan kedalaman jiwa dan keteguhan Naya.

"Ada apa, Rani?" tanya Reyhan dengan suara datar, tanpa kehangatan sedikit pun.

Rani melangkah masuk satu tindak, jemarinya meremas kain jilbab di dadanya. "Rani... Rani dengar dari Mbak Zaenab, Ning Naya sudah benar-benar pergi dari sini?"

Reyhan terdiam sejenak, memalingkan wajahnya menatap dinding kosong. "Iya. Itu yang diinginkan Naya."

Air mata menetes pelan di pipi Rani. Perempuan itu menunduk rapat. "Ini semua... salah Rani ya, Gus? Kalau saja sore itu Rani tidak menangis di pinggir jalan... kalau saja Rani tidak menerima ajakan Gus..."

"Sudahlah, Rani," pangkas Reyhan lelah, mengusap wajahnya kasar. "Tidak ada gunanya saling menyalahkan sekarang. Abi sudah memutuskan. Setelah urusan perceraianku dengan Naya selesai, kita akan meresmikan pernikahan kita secara hukum."

Rani tersentak. Ia mendongak, menatap wajah Reyhan yang tampak amat kaku dan berjarak. Tidak ada binar kebahagiaan di mata pria itu saat menyampaikan berita pernikahan resmi mereka. Yang ada hanyalah raut kepasrahan seorang pesakitan yang sedang menjalani hukuman.

Hati Rani mendadak mencelos. Janji pernikahan resmi yang dulu sangat ia impikan, kini terasa amat hampa dan beracun. Ia sadar, ia mungkin akan mendapatkan status sebagai istri sah seorang Gus, namun ia tak akan pernah mendapatkan hati pria itu. Hati Reyhan telah terkunci rapat dan terbawa pergi bersama langkah kaki Naya.

"Gus..." suara Rani bergetar hebat. "Gus Reyhan... membenci Rani sekarang?"

Reyhan tidak menjawab. Pria itu berdiri dari tepi tempat tidur, berjalan mendekati jendela kaca yang tertutup rapat, membelakangi Rani.

"Kamu kembalilah ke kamarmu di lantai satu. Sudah malam. Tidak enak kalau ada pengurus yang lihat kamu di kamar ini."

Penolakan halus yang begitu dingin itu memukul dada Rani. Perempuan itu mengatupkan bibirnya rapat-rapat, menahan isakan yang hendak meledak, sebelum akhirnya berbalik dan berlari pelan meninggalkan ruangan tersebut.

***

1
Haula Kartidasari
pelajaran agama hanya teori doang, tapi tidak di terapkan dalam kehidupan, mubazir al azhar menjadikan Reyhan sbg alumninya
irma hidayat
mantap rasa pahitnya yg terasa ya rayhan atas pilihan jalan yg kamu ambil dulu saat menghianati istrimu
yeni kusmiyati
ketemimu sama mantan
Rahma Inaya
nyata nya rey yg blm bisa move on dr naya sedngkan naya sdh jauh lbh lenggowo menerima perpishan dgn rey tnp beban dan perlahan ada yg jauh lbh baik yg bisa menggntikan posisi reyhan di hati naya yaitu zeyad
Rahma Inaya
gmn sih reyham ki dl malu punya istri terlalu sempurna katanya mau pnya istri yg bergantung padanya sdh di lepas naya malh menyseal sdh menyianyiakan naya .malh mengeluh dgn istri yg bergantung pada nya . sekrg naya terlepas dr nya bisa sukses dan menggapai cita2 nya yg sempat tertunda demi pengabdian dr seorang istri tp di blas dgn penghiantan
Ma Em
Reyhan merasa minder mungkin setelah bertemu dgn Naya wanita yg dulu Reyhan sia siakan sekarang makin bersinar , apalagi setelah Reyhan tau bahwa MB Aya aka menikah dgn Zeyad atau Emir pasti Reyhan makin bertambah penyesalan nya karena Rayhan sdh membuang permata yg sangat berharga demi memilih batu kerikil .
Ita Putri
dulu pas Naya masih jadi istrinya GK di gubris ,di cuekin sekarang Naya sdh pergi kamar bekas Naya aja jadi tempat suci yg tak boleh di nodai Rani
hadeeehh
falea sezi
muter doank gk sat set🤣
sunaryati jarum
Kejujuran merupakan landasan kuat dari sebuah hubungan yang serius.Sengguh romantis Zeyad.Tapi siapa mantan suaminya belum diketahui Zehad.i
evana gusani
baru mampir
dewi rofiqoh
Naya udah cerita masa lalunya, bahkan pertemuan nya dengan sang mantan. Jadi penasaran dengan masa lalu zeyad 🤔🤔
dyah EkaPratiwi
mas zeyad😍😍😍 sisain 1 kayak mas zeyad buat calon mantu
Luna
kamu sendiri juga GK mau jujur tentang masa lalu mu yad,,,, bau baunya nanti ada drama mantan nya zeyad datang ,,,diuji lagi deh hatinya Naya 🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣,
Sani Srimulyani
kayanya bentar lagi kondangan nih kita.....🤭
Sri Murtini
kapan zeyad mau cerita masa lalumu ke Naya shg saat lamaran tidak ada rahasia berdua👍👍👍
bibuk Hannan & Afnan
nyesel gak Gus nyesel pasti lah,
Mundri Astuti
kamu sendiri belum jujur zeyad
Agnezz
Yup fondasi yg kuat dalam pernikahan adalah keterbukaan dan kejujuran. Setelah Naya terbuka ttg masa lalunya kini giliranmu Zeyad. Jangan ada yg disembunyikan. Paling tidak kalian berawal dari titik yg sama. Yakni sama2 berusaha menjadikan pernikahan ini berhasil. Jangan seperti pernikahan Naya dan Rayhan dimasa lalu. Mereka menikah karena perjodohan, belum kenal satu sama lain. Ternyata mereka tiidak memulai dari titik yg sama. Hanya Naya saja yg berusaha. Rayhan tidak sepenuhnya menerima pernikahan perjodohan ini. Cenderung mengabaikan bahkan diam2 telah menikah siri dengan wanita lain.
Agnezz: dikira Naya gak akan berani minta cerai, karena selama ini menjadi istri yg diam dan menurut. Dulu Rayhan merasa diatas angin sebagai anak kyai yg berilmu tinggi dan tampan, mana ada wanita yg menolaknya, yg ada malah memujanya. Ternyata Naya ambil sikap tegas, tidak bisa dibujuk rayu oleh tangisan buaya. Good job Naya, kamu ambil langkah yg berani.
total 4 replies
Herman Lim
ne sih blom seberapa blom lagi u lihat tmn u jadi calon suami mantan istri mu u lebih bakal lebih nyesal lagi klo kamu tidak seujung kuku dari zeyad
Rini Maryani
lanjut ka yg bnyk up nya ya semangat
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!