NovelToon NovelToon
My Ex Brother In Law

My Ex Brother In Law

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Cinta Terlarang / Beda Usia
Popularitas:892
Nilai: 5
Nama Author: MeNickname

Rasa yang tidak seharusnya ada itu kian tumbuh pada Carol, dari sebuah kekaguman berubah menjadi cinta. Carol mengubur semua itu dalam-dalam karena cinta itu tidak akan pernah bisa dia gapai. Sampai suatu hari dimana ternyata semesta seperti memberinya sebuah kesempatan. Dan Carol tidak mau menyia-nyiakannya, dia berjuang mendapatkan sesuatu yang sebelumnya terasa sangat mustahil itu. Dia mengambilnya meski harus menghadapi banyaknya sudut pandang.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon MeNickname, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 7

"Andrew.."

Pria tua itu melotot tak percaya, "Tu-tuan Andrew."

Bugh!!

Bugh!!

Bugh!!

Andrew menyerang pria tua itu tanpa ampun, sampai dia tergeletak tidak berdaya.

"Saya tidak tau kalau dia adalah milik anda. Ampuni saya Tuan." ucapnya terbatuk-batuk.

Tanpa ingin mendengar apapun, Andrew langsung membuka pintu mobilnya, dia bisa melihat jelas tatapan Carol yang ketakutan.

"Carl!"

Andrew membuka ikatan menyakitkan itu.

"Tidak apa-apa. Aku disini sekarang. Kau aman." ucapnya menenangkan.

"Andrew, bawa aku pergi dari sini. Aku takut." lirih Carol.

"Baiklah, ayo kita pulang."

Andrew menggendong tubuh kecil Carol dan Carolpun langsung menyenderkan kepalanya di bahu Andrew. Masih dengan reaksi aneh dari tubuhnya gadis itu ingin mencari ketenangan disana.

Saat Andrew mendudukannya di dalam mobil, Carol tiba-tiba menarik pria itu ke dalam sampai wajah mereka bertemu.

"Kau datang. Kau peduli padaku. Aku yakin kau juga mempunyai perasaan yang sama denganku."

"Aku.."

Carol menarik dasi pria itu lagi sampai hidung mereka saling menyentuh.

"Katakan!"

"Carol, aku sudah berjanji pada ibu dan kakakmu untuk menjagamu."

"Aku menyimpan alat pelacak di mobilmu dan aku hanya merasa harus menyusulmu karena ini janggal kau yang baru beberapa hari tinggal di London tiba-tiba pergi ke restoran dengan jarak sejauh ini."

Carol tidak puas dengan jawaban itu, dia mendorong Andrew sampai pria itu terbaring. Kali ini dia yang menindih Andrew.

Tangan lentiknya membuka kancing kemeja Andrew, dia membelai dada bidang pria itu.

"Kau masih menganggapku sebagai gadis kecil yang harus dilindungi itu? Bagaimana sekarang? Apa aku masih terlihat seperti itu?"

"Carol, stop!"

"Aku hanya ingin kau mengingatnya. Aku bukan gadis kecil itu lagi. Aku wanita yang sangat menginginkanmu." bisiknya lembut pada telinga Andrew.

Andrew melenguh saat Carol berusaha meninggalkan jejak di lehernya.

"Tubuhmu lebih jujur daripada ucapanmu. Membuatku lebih yakin kau juga merasakan itu."

Carol membelai jakun Andrew yang membuat pria itu mendesis sampai akhirnya dia menekan tubuh Carol padanya.

"Jangan menggoda pria dewasa sepertiku, kau jelas tahu akibatnya."

"Aku sudah siap dengan akibatnya."

Mendengar itu Andrew langsung mendorong tubuh Carol sampai terduduk di jok.

"Andrew!"

"Kau pikir aku akan membiarkanmu bertindak lebih jauh?"

"Kau.."

Andrew langsung keluar dari mobil, dia melepaskan dasi yang sedari tadi terasa menjeratnya kemudian pergi meninggalkan gadis itu sejenak.

Jujur saja nafsunya sangat terpancing, jadi dia harus menetralkan semua itu terlebih dahulu.

...----------------...

Setelah menenangkan diri sejenak, Andrew kembali lagi untuk mengantar Carol pulang ke apartemen, dia memapah tubuh Carol yang masih sedikit pusing setelah meminum minuman yang katanya penawar.

"Hati-hati." peringatnya saat pintu penthouse itu terbuka.

Dia mendudukan Carol di sofa ruang tamu.

"Istirahatlah. Aku harus pulang."

Carol menarik tangan Andrew dengan cepat, "No, kau tidak boleh pergi."

"Aku lapar." lanjutnya memberi alasan.

"Aku akan memesan makanan untukmu."

"Tidak, aku sedang ingin masakan rumahan."

Andrew mendelik tidak percaya, dia tetap ingin pergi namun Carol juga tetap menahannya.

"Aku akan memesan masakan yang sudah siap saji."

"Tidak mau."

"Carol, aku harus benar-benar pulang sekarang." tegas Andrew yang membuat tarikan di tangannya mengendur.

"Kau benar-benar menjadi setega itu padaku hanya karena aku menyukaimu?"

"Carl, aku.."

"Ya sudah, pergi saja!" kali ini Carol melepaskan tarikannya.

Raut wajah kecewa Carol benar-benar membuat Andrew tidak nyaman. Dia membuang nafas dengan kasar, "Baiklah, aku akan memasak untukmu."

Carol tersenyum tipis, tipiiiis sekali.

"Terima kasih, kalau begitu aku ke kamar dulu." gadis itu pun berdiri dan mulai melangkah walau masih terasa sedikit pening.

Dengan terpaksa, Andrew langsung pergi ke dapur dan memeriksa isi kulkas. Mengecek bahan makanan apa yang bisa dia olah.

Namun Andrew dibuat melongo tak percaya, masakan rumahan seperti apa yang Carol maksud sementara bahannya saja tidak ada. Di dalam kulkas hanya ada beberapa makanan instan.

Ini pasti hanya akal-akalan Carol supaya dia tidak buru-buru pergi, tapi baiklah Andrew tetap akan memasakan sesuatu.

Lima belas menit berlalu, Carol keluar dari kamarnya dengan hanya berbalut dress tidur sebatas paha berbahan satin.

Dia tersenyum lebar saat melihat Andrew masih disana. Dia pikir pria itu kabur.

Andrew terdiam, dia sampai menelan ludahnya sendiri saat melihat lekuk tubuh Carol yang cukup terekspos. Namun secepat kilat dia mengusir pikiran-pikiran kotor itu dari otaknya.

Dia yakin Carol memang sengaja menggodanya, oleh karena itu dia tidak boleh tergoda.

Saat Carol duduk di meja makan Andrew langsung menyajikan sepiring spaggheti dan segelas teh hangat.

"Makanlah, aku akan pulang."

"Jangan!" lagi dan lagi Carol menahan tangan Andrew.

"Kita makan dulu, bersama."

"Tidak bisa Carl. Aku hanya membuat satu porsi saja, untukmu."

"Tidak apa-apa. Kita bisa makan sepiring berdua." bujuknya.

"Tidak perlu. Aku harus pergi sekarang." ucap Andrew menolak.

Tidak ingin berbasa-basi lagi Andrew langsung berjalan menuju pintu keluar dengan langkah lebarnya. Namun Carol menghadangnya.

"Apa aku semenjijikan itu sampai kamu terus menghindar? Bahkan kamu sama sekali tidak mau melihat ke arahku."

Kali ini Andrew menoleh, dia menatap kedua mata Carol, "Kumohon hentikan ini, Carl."

"Apanya yang harus berhenti?"

"Semua ini Carl. Ini tidak boleh terjadi, oke? Aku adalah kakak iparmu dan kau masih sangat muda. Kau bahkan belum memahami keinginanmu sendiri." Andrew kembali melangkah melewati Carol.

Dan lagi, Carol menahannya dia memeluk Andrew dari belakang.

"Kau tidak berhak menyangkal perasaanku." ucapnya sambil berkaca-kaca.

Andrew melepas tangan Carol dari perutnya, dia berbicara tanpa menoleh, "Perasaanku padamu adalah perasaan seorang kakak pada adiknya."

"Andrew!"

Sayangnya pria itu tidak peduli, lagi dan lagi dia benar-benar meninggalkan Carol seorang diri.

1
MamDeyh
Duda gk zelaaas
MamDeyh
Ribet bgt sih.. Tinggalin aja. Ngapain jg jd merendahkan diri buat cowok.😒
Ruwi Yah
menarik alur ceritanya semangat updatenya kak
Ruwi Yah
sebagai atasan kamu harus tegas ndrew jangan sampai sikapmu disalah artikan oleh sekretaris seksimu
Ruwi Yah
sekali kali jual mahal dikit Carl
MamDeyh
Km jd kelihatan murahan dg begitu.. Kalo mau membuktikan dia apakah ada perasaan dg pergi menjauh. Bukan kek wanita ...😒
Ruwi Yah
masih nyimak alur ceritanya
Ruwi Yah
lanjut
Ruwi Yah
Terima kasih upnya kak
MamDeyh
Lanjuut
Ruwi Yah
mampir kak
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!