Aurel adalah wanita yang kuat, pintar, ceria dan humoris
Dia berteman dengan siapa aja
Tapi dia gagal dalam percintaan
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my queen , isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 14
Di tengah kepalanya yang masih pening karena salah tingkah di dekat Reyhan, pandangan Aurel mendadak teralih ke ujung sofa. Di sana, Bang Edward terlihat sedang membetulkan posisi kacamata Kak Anita yang sedikit melorot, disusul dengan sebuah usapan lembut di puncak kepala wanita itu.
"Nih, diminum dulu tehnya. Dari tadi serius banget koreksi tugas mereka sampai lupa minum," ucap Bang Edward dengan nada suara yang melembut drastis—sangat berbeda dengan modenya saat menjahili para maba.
Kak Anita membalas dengan senyuman termanisnya. "Makasih, ya, Sayang."
Melihat pemandangan yang mendadak berubah menjadi visual drama romantis itu, dada Aurel seketika terasa sesak. Senyum ceria yang sejak tadi menghiasi wajahnya perlahan luntur. Ada rasa cemburu yang teramat besar bergejolak di dalam hatinya. Rasa cemburu yang bukan ditujukan pada keromantisan mereka, melainkan cemburu yang mendalam kepada Kak Anita.
Aurel menunduk, menatap kosong ke arah layar laptopnya yang menyala. Kenapa bukan gue yang ada di posisi Kak Anita? batinnya pilu. Kenapa bukan gue yang dicintai sama Bang Edward? Kenapa selama ini gue cuma dianggap sebagai adik kecil yang berisik?
Perasaan menyakitkan karena mencintai dalam diam itu membuat Aurel terenyak. Mengingat bagaimana Bang Edward selalu memperlakukannya seperti anak kecil, menjahilinya tanpa beban, dan menganggapnya tidak lebih dari sekadar adik menggemaskan. Padahal, bagi Aurel, setiap perhatian kecil dari Bang Edward adalah segalanya.
"Hei, Rel? Lo kenapa melamun?"
Suara berat Reyhan di sebelahnya seketika memecahkan lamunan sedih Aurel. Aurel tersentak, buru-buru mengerjapkan matanya dan mengulas senyum tipis yang dipaksakan agar tidak ada yang menyadari perubahan raut wajahnya.
"Eh? Enggak apa-apa kok, Rey. Cuma... agak pusing aja melihat bagan tugasnya," dusta Aurel, mencoba menetralkan kembali suaranya yang sempat tercekat.
Reyhan tidak langsung percaya. Sepupu Kak Anita itu sempat melirik ke arah Bang Edward dan Anita, lalu kembali menatap Aurel dengan pandangan yang sulit diartikan. Seolah-olah, cowok cerdas itu bisa membaca sekilas rahasia yang baru saja tersimpan di mata Aurel.
Shirin, yang sejak tadi duduk berseberangan dengan Aurel, mulai menangkap ada sesuatu yang tidak beres. Sebagai sahabat yang sudah menghabiskan waktu bertahun-tahun bersama Aurel, ia sangat hafal setiap perubahan riak wajah gadis itu. Aurel yang biasanya bermulut lemas dan menjadi kompor utama, mendadak menjadi terlalu diam setelah kedatangan Reyhan—bahkan setelah digoda oleh Gino sekalipun.
Saat mata Aurel kembali mencuri pandang ke arah sofa tempat Bang Edward dan Kak Anita duduk, Shirin langsung paham. Semburat luka yang samar di mata sahabatnya itu tidak bisa membohongi Shirin.
Shirin perlahan meletakkan pulpen merahnya. Ia meregangkan tubuh sejenak, lalu menatap Aurel. "Rel, temenin gue ke toilet bentar, yuk. Nggak tahu nih, perut gue mendadak agak melilit habis makan sambal terasi tadi."
Aurel tersentak dari lamunannya. "Eh? Oh, iya, yuk."
"Gue tinggal bentar ya, Gin, Rey," pamit Shirin pada kedua cowok yang masih fokus pada laptop masing-masing. Gino hanya mengacungkan jempol tanpa mengalihkan pandangan dari layar.
Begitu pintu toilet di dekat area dapur ditutup rapat dan dikunci, Shirin langsung berbalik badan. Ia bersedekap dada, menatap Aurel yang kini sedang berpura-pura merapikan rambutnya di depan cermin wastafel.
"Nggak usah akting depan gue, Rel. Cerita sekarang," tembak Shirin langsung tanpa basa-basi.
Aurel menghentikan gerakan tangannya. Ia menatap pantulan dirinya dan Shirin di cermin, mencoba mempertahankan senyumnya yang kini terlihat sangat rapuh. "Cerita apa sih, Rin? Orang gue nggak apa-apa. Cuma agak pusing aja mikirin variabel tugas—"
"Aurel," potong Shirin dengan nada suara yang melembut namun tegas. Ia melangkah mendekat, lalu memegang kedua pundak sahabatnya itu. "Sejak kapan seorang Aurel pusing gara-gara tugas kuliah? Lo cemburu melihat Bang Edward sama Kak Anita tadi, kan?"
Pertanyaan telak dari Shirin membuat pertahanan yang dibangun Aurel runtuh seketika. Senyum palsunya hilang. Bahunya merosot lemas, dan matanya mendadak berkaca-kaca menahan genangan air mata yang siap tumpah.
"Kelihatan banget, ya, Rin?" bisik Aurel dengan suara yang bergetar pecah.
Shirin tidak menjawab dengan kata-kata. Ia langsung menarik Aurel ke dalam pelukannya, mendekap erat sahabatnya yang selama ini selalu ceria namun ternyata memendam luka sendirian.
"Gue ngerasa bodoh banget, Rin," tangis Aurel tertahan di pundak Shirin. "Gue yang selalu comblangin orang, gue yang selalu berisik. Tapi setiap kali melihat Bang Edward mengusap kepala Kak Anita, rasanya dada gue sesak banget. Kenapa selama ini dia cuma menganggap gue kayak adik kecil yang menggemaskan? Kenapa bukan gue yang dia pilih?"
Shirin mengusap-usap punggung Aurel dengan penuh empati, membiarkan sahabatnya itu menumpahkan seluruh rasa sesak yang selama ini disembunyikan di balik topeng keceriaannya.
Setelah beberapa menit menenangkan diri dan membasuh wajahnya dengan air dingin, Aurel akhirnya merasa cukup siap untuk keluar. Shirin memastikan sekali lagi bahwa tidak ada maskara yang luntur di sekitar mata sahabatnya itu sebelum akhirnya memutar kunci pintu toilet.
Mereka berdua berjalan kembali menuju ruang tengah dengan langkah yang sengaja dibuat santai. Aurel mencoba memasang kembali senyum cerianya, meskipun binar di matanya belum sepenuhnya kembali.
Begitu mereka melangkah mendekati meja kaca, Reyhan yang sejak tadi bersandar malas langsung menegakkan punggungnya. Sepupu Kak Anita itu tidak beralih ke laptop, melainkan langsung mengunci pandangannya tepat pada wajah Aurel. Ketajaman mata Reyhan seketika menangkap lingkaran merah yang samar dan kelopak mata Aurel yang sedikit membengkak.
Aurel yang menyadari tatapan intens itu mendadak salah tingkah. Ia buru-buru mengambil tempat duduknya di samping Reyhan, mencoba menghindari kontak mata. "Kenapa lo lihat-lihat? Ada yang salah sama muka gue?" ketus Aurel, berusaha mengembalikan mode galaknya.
Reyhan tidak langsung menjawab. Cowok itu meraih selembar tisu bersih dari kotak di atas meja, lalu mengulurkannya ke depan wajah Aurel tanpa suara.
Aurel tertegun, menatap lembaran tisu itu lalu beralih menatap Reyhan dengan bingung. "Buat apa?"
"Buat sisa air di sudut mata lo," jawab Reyhan dengan nada suara yang sangat tenang dan rendah, hampir berupa bisikan agar tidak memicu perhatian Bang Edward dan Kak Anita yang sedang asyik berdiskusi di ujung sofa. "Lain kali kalau habis nangis, lapnya yang bersih. Masih ada sisa air mata yang ketinggalan di sana."
Mendengar kalimat blak-blakan dari Reyhan, jantung Aurel seketika mencelos. Wajahnya memerah padam. Ia langsung menyambar tisu dari tangan Reyhan dengan gusar dan menepuk-nepuk sudut matanya dengan asal.
Shirin yang duduk di seberang mereka hanya bisa menahan napas, sedikit terkejut melihat betapa peka dan perhatiannya seorang Reyhan terhadap perubahan sekecil apa pun pada diri Aurel.
Gino yang baru saja menyelesaikan satu bab analisis datanya mendadak mendongak dan ikut menyenggol lengan Reyhan. "Wah, modus lo halus banget ya, Rey. Baru juga satu kelompok beberapa jam, perhatiannya udah kayak pawang singa profesional."
Reyhan hanya mengulas senyum tipis yang penuh arti tanpa berniat membantah ucapan Gino. Ia kembali menggeser laptopnya agar posisinya lebih nyaman untuk dilihat berdua dengan Aurel. "Yuk, kita lanjutin bab dua kita, Rel. Biar lo nggak perlu berlama-lama pasang muka sembap begini."
Aurel tidak bisa membalas kata-kata itu. Di balik rasa malunya karena ketahuan habis menangis, ada kehangatan aneh yang perlahan menyelimuti hatinya, membuat luka akibat rasa cemburunya pada Bang Edward perlahan tersamarkan oleh kehadiran cowok di sebelahnya ini.
Di tengah keheningan yang mulai kembali menyelimuti ruang tengah, Bang Edward tiba-tiba meletakkan bolpoinnya. Pandangannya yang tajam tidak sengaja menangkap garis wajah Aurel yang tampak berbeda sejak keluar dari toilet tadi. Sebagai orang yang sudah menganggap Aurel seperti adiknya sendiri, ia langsung menangkap ada yang tidak beres.
"Eh, Rel," panggil Bang Edward, mencondongkan tubuhnya ke depan meja kaca. "Muka lo kok agak pucat? Itu mata juga kenapa merah begitu? Sembap banget kayak habis nangis semalaman."
Pertanyaan yang dilontarkan Bang Edward dengan nada sangat tulus dan penuh perhatian itu seketika membuat Aurel membeku. Jantungnya berdegup kencang karena panik. Rasa sesak yang baru saja berhasil ia redam di toilet kini mendadak mencuat kembali, siap meruntuhkan pertahanannya. Aurel hanya bisa meremas ujung kemejanya di bawah meja, tidak tahu harus menjawab apa.
Melihat Aurel yang mendadak mati kutu dan tampak semakin terluka, Reyhan tidak tinggal diam. Sebelum Bang Edward sempat menginterogasi lebih jauh, Reyhan dengan sigap langsung memotong pembicaraan.
"Kena asap dapur tadi, Bang," dusta Reyhan dengan nada suara yang sangat tenang namun tegas, mengalihkan perhatian semua orang di ruangan itu kepada dirinya.
"Hah? Asap dapur?" Bang Edward mengernyitkan dahi, tampak bingung.
"Iya," lanjut Reyhan dengan ekspresi wajah yang sangat meyakinkan. "Tadi pas Aurel nemenin Shirin ke toilet, dia sempat lewat dapur dan bantuin Tante Olivia sebentar yang lagi numis sambal cobek. Makanya matanya langsung merah karena perih dan sensitif sama asap cabai.
"Shirin yang duduk di seberang mereka langsung menangkap maksud Reyhan. Ia dengan cepat ikut mengangguk kuat demi menyelamatkan sahabatnya. "Ah, iya, bener, Bang! Tadi sambal masakan Tante Olivia emang menyengat banget pas kami lewat depan dapur. Mata Aurel kan emang gampang iritasi kalau kena asap."
"Oh... begitu," ucap Bang Edward akhirnya, manggut-manggut percaya. Ia mengulas senyum tipis lalu menatap Aurel lagi. "Lagian lo ada-ada aja sih, Rel. Udah tahu mata sensitif malah sok-sokan ikut nengok ke dapur. Ya udah, kalau perih banget, pakai obat tetes mata gih. Ada di kotak P3K deket TV."
"Iya, Bang. Nanti aja, sekarang udah mendingan, kok," jawab Aurel dengan suara yang diusahakan senormal mungkin, meskipun di dalam hatinya ia merasa sangat lega sekaligus bersyukur.
Diam-diam di bawah meja, Reyhan menyenggol pelan punggung tangan Aurel yang masih meremas kemejanya. Ketika Aurel memberanikan diri melirik ke samping, ia mendapati Reyhan sedang fokus menatap layar laptop seolah tidak terjadi apa-apa. Namun, sudut bibir cowok itu terangkat membentuk senyuman tipis yang sangat menenangkan.
Tindakan cepat dan protektif dari Reyhan barusan tidak hanya menyelamatkan rahasia Aurel, tetapi juga mulai mengikis sisa-sisa rasa sesak di dadanya, menggantikannya dengan sebuah debaran baru yang jauh lebih hangat.
Di saat Bang Edward dan Kak Anita kembali fokus memeriksa dokumen, Gino justru menaruh kedua tangannya di atas kibor laptop tanpa mengetik satu huruf pun. Sepasang matanya menyipit, bergantian menatap Reyhan, Shirin, dan Aurel dengan pandangan menyelidik.
Sebagai cowok yang terbiasa membaca situasi—terutama gerak-gerik perempuan—Gino jelas tidak sebodoh itu untuk percaya begitu saja dengan dongeng "asap dapur" milik Reyhan.
Asap dapur dari mana? batin Gino geli. Jelas-jelas sejak mereka selesai makan siang tadi, Mama Olivia sama sekali tidak menyalakan kompor lagi karena semua hidangan sudah matang sejak siang. Ditambah lagi, respons Shirin yang mendadak terlalu cepat mengiyakan alasan Reyhan justru memperkuat kecurigaan Gino bahwa ada rahasia besar yang sedang ditutupi oleh ketiga orang di sekelilingnya ini.
Gino mencondongkan tubuhnya ke arah Shirin, lalu berbisik sangat pelan hingga nyaris tak terdengar. "Rin, bohongnya kompak bener, ya. Sejak kapan Mama Olivia bikin sambal cobek habis makan siang kelar? Kompornya aja udah dingin dari tadi."
Shirin seketika menegang. Ia melirik Gino dengan tatapan memperingatkan, lalu menginjak pelan ujung sepatu Gino di bawah meja sebagai kode agar cowok itu menutup mulutnya. "Gino, diem atau laptop lo gue banting," ancam Shirin lewat gerak bibir tanpa suara.
Gino justru terkekeh tanpa polusi suara. Bukannya takut, ia malah merasa mendapat teka-teki baru yang menarik. Pandangannya kini beralih menatap Reyhan yang masih bersikap sok tenang seolah tidak terjadi apa-apa di samping Aurel.
"Boleh juga taktik lo, Rey," bisik Gino pelan, sengaja melempar umpan ke arah sepupu Kak Anita tersebut. "Skenario asap cabainya rapi banget. Hampir aja gue mau ikutan nangis denger akting lo berdua."
Reyhan menghentikan jemarinya di atas kibor sejenak. Ia menoleh, menatap Gino dengan tatapan datar yang sulit ditebak, lalu menyunggingkan senyum tipis yang sarat akan makna. "Yang penting targetnya aman, Gin. Tugas kelompok kita juga butuh ketenangan, kan?" sahut Reyhan santai dengan suara rendah, mengindikasikan bahwa ia tahu betul apa yang sedang ia lakukan.
Gino menaikkan sebelah alisnya, lalu manggut-manggut paham. Ia melirik Aurel yang masih menunduk berpura-pura mengetik dengan wajah yang memerah. Di dalam hati, Gino mulai menyusun spekulasi tersendiri. Namun, melihat betapa protektifnya Reyhan menjaga perasaan Aurel, Gino memutuskan untuk ikut menjaga rahasia itu demi kelancaran proyek tugas mereka.
"Oke, paham. Anggap aja gue ikutan kena amnesia dadakan soal kompor," bisik Gino lagi sambil mengedipkan sebelah mata ke arah Reyhan, sebelum akhirnya kembali mengetik draf analisis datanya dengan siulan kecil yang menyebalkan di telinga Shirin.
Tepat saat ketegangan kecil di antara para maba itu mulai mencair, suara langkah kaki yang berat terdengar mendekat dari arah ruang makan. Papa Crish muncul dengan senyum hangat, membawa sebuah nampan besar berisi sepiring penuh pisang goreng kipas yang masih mengepulkan uap panas dan beberapa cangkir teh manis baru.
"Ayo, anak-anak, istirahat dulu! Ini Mama baru saja selesai menggoreng camilan sore," panggil Papa Crish dengan suara lantang, meletakkan nampan itu di tengah-tengah meja kaca hingga aroma adonan gorengan yang gurih langsung menyeruak.
"Wah, asyik! Pisang goreng!" seru Gino yang paling cepat merespons jika menyangkut urusan lambung.
Namun, saat Papa Crish hendak menuangkan teh ke cangkir, pandangannya tidak sengaja tertuju pada Aurel yang duduk tepat di hadapannya. Pria paruh baya itu seketika menghentikan aktivitasnya. Alisnya bertaut rapat, menampilkan raut wajah yang mendadak berubah penuh kecemasan.
"Lho, Aurel? Kamu kenapa, Nak?" tanya Papa Crish dengan nada suara yang meninggi karena panik. Ia menaruh teko tehnya kembali dan mencondongkan tubuh, menatap lekat-lekat mata gadis yang sudah ia anggap seperti anak kandungnya sendiri itu. "Itu matamu kenapa merah sekali begitu? Sembap juga. Kamu sakit? Atau ada yang menjahilimu di sini?"
Pertanyaan beruntun dari Papa Crish yang begitu spontan dan sarat akan rasa khawatir khas seorang ayah langsung membuat seisi ruangan menahan napas. Sebelum Aurel sempat membuka mulut, pandangan Papa Crish tiba-tiba bergeser tajam ke arah anak kandungnya sendiri. Mata pria paruh baya itu menyipit penuh selidik.
"Edward! Kamu apain si Aurel?!" todong Papa Crish galak, menunjuk Bang Edward dengan telunjuknya. "Jangan bilang kamu jailin dia lagi ya, Ward? Kamu apain adiknya sampai nangis begini? Awas kamu, ya!"
"Lho! Kok malah Edward yang dituduh, Pa?" pekik Bang Edward kaget, langsung mengangkat kedua tangannya ke udara karena merasa menjadi korban salah sasaran untuk kesekian kalinya. "Demi Tuhan, Pa, Edward dari tadi cuma duduk manis di sini meriksa tugas mereka. Nggak ada nyolek Aurel sama sekali!"
Kak Anita yang berada di sebelah Bang Edward hanya bisa menutup mulut menahan tawa melihat kekasihnya mendadak diinterogasi.
Melihat situasi yang semakin salah paham dan bisa membuat rahasia Aurel terancam terbongkar, Reyhan kembali menunjukkan aksi tanggapnya. Cowok itu dengan tenang menggeser posisinya sedikit maju, menjadi tameng pelindung bagi Aurel.
"Bukan Bang Edward, Om," sela Reyhan dengan nada suara yang sengaja dibuat sesantai mungkin untuk meredakan emosi omnya itu. "Aurel tadi matanya kemasukan debu halus pas kami berdua beresin draf buku lama di rak atas. Kulit di sekitar matanya memang agak sensitif, jadi langsung merah kalau dikucek."
Shirin yang duduk di seberang langsung menyambar alasan baru itu dengan cepat. "Iya, Om Crish! Tadi Shirin juga lihat pas Aurel bersin-bersin karena debu rak buku. Ini lagi kami kompres pakai tisu biar mendingan. Bukan karena Bang Edward, kok."
Papa Crish menatap Reyhan dan Shirin bergantian, lalu kembali menatap anaknya yang masih memasang tampang terzalimi. Rasa curiga di wajah pria itu perlahan memudar, berganti dengan helaan napas lega.
"Oalah... Papa kira kenapa. Lagian kamu, Edward, punya tamu kok malah dibiarin beresin rak buku berdebu," tegur Papa Crish, tetap tidak mau kalah menyalahkan anaknya. "Ya sudah, Aurel, jangan dikucek lagi ya matanya. Ini dimakan dulu pisang gorengnya selagi hangat biar pusingnya hilang."
"Iya, Pa. Terima kasih banyak," jawab Aurel dengan suara lirih namun tulus.
Diam-diam di balik nampan pisang goreng, Aurel melirik ke arah Reyhan yang sedang mengambilkan sepotong pisang untuknya. Meskipun cowok itu kembali memasang wajah datar andalannya, Aurel tahu betul bahwa untuk kedua kalinya hari ini, Reyhan telah pasang badan demi melindungi rahasia dan harga dirinya di depan Papa Crish.
Tiba-tiba