Rin-pertemuannya dengan Al adalah kebetulan. Tapi Al bisa memberikan rasa manis dan asem di hari-harinya.
Al-kaku dan dingin. Tapi dinginnya bisa meleleh. Pertemuannya dengan Rin seperti roti. hangat di luar empuk di dalam.
Kisah semanis roti buatan Rin, penuh proses, harus dibentuk dengan bahan takaran yang pas. Baru bisa dinikmati.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Renjana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
11
Rin berjalan keluar mengikuti Al. Al jongkok di parkiran. Di sebelah motornya dan membuka bungkus roti, yang ternyata itu roti tawar! Al menggigitnya dalam gigitan besar. Rin menunggu kata-kata dari Al.
"Kok tadi nggak ke bukit?" tanya Al.
"Rapat sampai sore kak, malamnya bantu nenek," jawab Rin. Al kesal lagi, gigit roti lagi.
"Bisa nggak ngomongnya biasa aja?"
"Maksud kak Al?"
Al meletakkan bungkusan roti di motornya dan mendekati Rin.
"Bisa kayak biasa aja? Sorry soal tadi siang. Gue harus profesional di depan mas Reza. Bukan maksud gue untuk bikin jarak," ucap Al.
"bukan karna kak Al marah?"
"Marah kenapa?"
"Soal malam itu. Aku bilang nama band kakak,"
"Oh itu...nggak. Nggak cuma lo yang bilang nama band gue aneh," jawab Al cuek.
"Bener nggak marah?" tanya Rin. Sebenarnya Al mau mengangguk. Dia masih marah. Bukan soal yang lain. Tapi melihat Rin boncengan dengan Tyo. Al membuang napasnya kasar.
"Gue nggak marah. Lo juga jangan kaku gitu. Nggak enak!" ucap Al melunak.
"Iya, ntar nggak gitu lagi. Tapi..." Rin menghentikan omongannya. Al menoleh, menunggu ucapan Rin selanjutnya.
"Lo bohongin gue! Lo nggak mau nemenin gue ke kantor yang ternyata itu kantor lo!" ucap Rin membuang muka. Kesal kembali datang. Rin kena prank hari ini. Betapa kagetnya Rin tadi pas lihat Al di kantornya dengan pakaian rapi dan rambut rapi sampai bikin jantung Rin rasanya mau melompat dari tempatnya.
"Tadinya kalo lo datang sendiri mau gue kasih surprise. Lo malah datang sama..."
"Nggak ada lagi yang bisa nganter! Lagian dia juga panitia!" ucap Rin.
"Ooh... Sama-sama panitia," Al menunduk, terdengar nada kecewa meski tak terlalu kentara.
"Iya, lo kenapa sih?" tanya Rin.
"Nggak kenapa-kenapa!" balas Al.
Keduanya kembali terdiam. Keduanya masih menata emosi. Entah karena apa.
"Besok lo ke bukit?" tanya Al akhirnya.
"Kayaknya nggak sempet, ini udah mepet jadwal pagelaran di kampus. Dan tugas-tugas tetap numpuk," ucap Rin.
"Ya udah kalau gitu, gue pulang! jangan lupa cookiesnya." ucap Al.
"Sebentar!" ucap Rin. Dia masuk ke dalam. Al yang tadinya jongkok kembali berdiri, menyisir rambutnya.
"Harusnya gue profesional!" gumamnya. Al melihat Rin keluar membawa air mineral dingin.
"Lo pasti haus. Seret kan!" Rin menyodorkan sebotol minuman pada Al. Bibir Al terangkat, sedikit. Nyaris tak terlihat.
"Thanks!" Al meneguk minumannya.
"Lagian kalo marah tu jujur aja!" ucap Rin.
"Nggak!" Al kembali meneguk botol air nya sampai habis. "Besok kalo rapat nggak usah bareng Tyo lagi. Gue jemput!" Al memberikan botol kosong pada Rin. Rin menerima botol kosong itu dengan pipi memerah. Al tersenyum di balik helm nya. Untung ketutup helm.
Al pergi. Rin masih memperhatikan jalan sampai Al menghilang.
"Dipandang terus! Udah nggak ada orangnya!" ucap nenek dari belakang. Rin kaget.
"Apa sih nek!" tapi Rin memutar-mutar botol kosong di tangannya salah tingkah.
Sesampainya di rumah, Al memainkan kunci motor di tangannya sambil bersiul.
"Gue liatnya kesel tapi bahagia," komentar Jonas.
"Gue juga ikut happy kalo dia begitu!"
"Woi! Kamar mandi disikat dong! Bau banget ini!" komentar Bima lain sendiri. Baru pulang kerja tapi kamar mandi baunya nggak ketolongan karena Jonas beli makan siang pake sambel jengkol.
Al melempar sebungkus roti tawar sisa marahnya. Di tangkap oleh Jonas, direbut Arza lalu keduanya kecewa. Itu cuma roti tawar!
"Siapin tenaga! Malam ini kita rapat!" ucap Al sebelum menutup pintu kamarnya.
"Yeay! Ada job!" Arza dan Jonas tos bareng.
Setengah jam kemudian, Bima memesan pizza untuk rapat malam itu. Al membuka rapat sambil memberikan undangan dari Rin tadi siang.
"Lagunya pilih 3, kalian aja yang pilih!" ucap Al menyesap kopinya. Ketiganya sibuk menentukan lagu apa dan soal fee seperti kata Al tadi. Itu kesepakatan dengan mas Reza sebagai manager. Selain itu mereka juga menentukan apa ada alat yang mau dibawa, kostum. Setelah menentukan lagu, mereka menentukan jadwal latihan. Karena Jonas dan Arza kuliah, jadwal latihan diundur jadi sore dan malam.
Ponsel Al bergetar. Tanda pesan masuk.
Rin : udah nyampe?
Al : udah. Rapat dgn anak-anak. Untuk kampus lo.
Rin : makasih ya, besok daftar rider dan roundown acara gue kirimin via email ke kantor.
Al : gue mau salinan fisiknya. Besok lo anter.
Al senyum-senyum membalas pesan dari Rin. Jonas dan Arza senggol-senggolan.
"Bang! Ini yang ngundang Rin lo itu ya?" Jonas menunjuk undangan yang berisi catatan dari Rin yang di stabilo hijau.
"Iya. Rin gue..." ucap Al masih memandang ponselnya tak menyadari efek dari omongannya.
"Ditawarin cookies, gue mau cookies yang senyum itu dong!" ucap Arza.
"Gue mau yang full coklat taburan kacang itu, dua toples buat gue sendiri!" ucap Jonas.
"Iya, ntar gue bilang ke orangnya!" ucap Al. Jonas dan Arza tos-tosan lagi berdua.
"Mas Reza udah tahu kan?" tanya Bima. Al mengangguk. Mereka kembali sibuk berdebat soal lagu. Hanya Al yang dunianya tak lagi di sana. Dunianya seputar Rin.
Setelah menentukan lagu apa yang akan dibawakan, mereka membubarkan diri. Termasuk Al yang langsung mengunci kamarnya.
Al : lo punya stok cookies banyak kan?
Rin : banyak, lo mau yang mana?
Al : besok gue kabarin. Ditunggu di kantor.
Rin meng-okekan pesan Al.
Al menempel undangan dari kampus Rin di meja kerjanya. Al memotret undangan itu, yang distabilo Rin.
Al : tawaran ini beneran kan?
Rin : Lo mau gue bawain besok?
Al :Cookies yang jualan pertama lo
Rin melirik etalase. Masih ada stok cookies yang diminta Al. Rin menyiapkan dua toples untuk dibawa ke kantor Al besok.
Rin mematikan lampu Roemah Roti dan mengunci pintu. Saat itu datang satu motor lagi. Berhenti di parkiran.
"Tyo? Ngapain?" tanya Rin.
"Gue lewat, sekalian mampir. Gue lupa titipan adek gue. Katanya ada cookies yang viral di sini. Tapi kalo udah tutup nggak apa-apa. Besok aja!"
"Tunggu! Udah nyampe sini juga. Sebentar gue ambilkan!" ucap Rin membuka pintu Roemah Roti lagi. Tyo menggaruk kepalanya, tak enak. Tak berselang lama Rin keluar membawa sebuah bungkusan berisi cookies juga memasukkan dua buah roti isi sebagai bonus.
"Maaf ya, ngerepotin!" Tyo mengulurkan sejumlah uang dan diterima Rin.
"Nggak apa-apa, mumpung gue belum tidur! Itu bonus buat adek lo,"
"Thanks Rin, bonusin segala!"
"Biar cepet abis!" ucap Rin. Tyo pamit dan berlalu. Kali ini Rin cepat-cepat mengunci pintu. Dan berlari masuk. Rin sudah kangen kasurnya. Tapi Rin tak sempat melihat kalau ponselnya bergetar lagi menampilkan pesan dari Al.
Al : Cookiesnya bawain 3 besok
kisah Al dan Rin tak melulu soal cinta, ada sedih, bahagia, lucu dan kadang sedikit kaku🤭
kisahnya nggak berat kok