NovelToon NovelToon
Maaf, Aku Tak Mengemis Cinta

Maaf, Aku Tak Mengemis Cinta

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Masuk ke dalam novel / Transmigrasi
Popularitas:150.3k
Nilai: 4.9
Nama Author: 𝕯𝖍𝖆𝖓𝖆𝖆𝟕𝟐𝟒

Ia masuk ke tubuh wanita yang ia anggap bodoh, dan memilih mengubah takdirnya, bukan mengulangnya

Dina, yatim piatu cerdas yang selalu diremehkan karena penampilan, meninggal dalam kecelakaan dan terbangun sebagai Belvina Laurent, sosialita cantik yang dulu ia anggap bodoh. Terjebak dalam pernikahan tanpa cinta dengan Alden Virel, pria dingin yang membencinya,

Dina dalam tubuh Belvina memutuskan berhenti mengejar cinta yang bukan miliknya.

Perubahannya membuat Alden gelisah, sementara Seraphina, wanita yang tampak lembut, perlahan menunjukkan sisi tersembunyi.

Dengan kecerdasan yang kini jadi senjata, Belvina mulai membalik keadaan, mengungkap kebohongan, dan membuktikan bahwa harga diri lebih berharga daripada cinta sepihak.

Namun semakin ia menjauh, semakin Alden tak mampu melepaskannya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon 𝕯𝖍𝖆𝖓𝖆𝖆𝟕𝟐𝟒, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

7. Dunia yang Terlalu Mahal

Sebelum Belvina berpikir jauh soal ajakan itu, Alden sudah berhenti di samping kursinya. Terlalu dekat untuk sekadar lewat.

“Kalau tidak suka,” ucapnya pelan, cukup keras untuk didengar orang lain, “tidak perlu dipaksakan.”

Kalimat itu terdengar biasa. Namun nadanya, menekan. Menguji.

Belvina berhenti makan. Ia mengangkat kepalanya, menatap Alden. Tenang.

“Siapa bilang aku tidak suka?” jawabnya. Nada suaranya ringan. Hampir santai.

Alden menyipitkan mata.

Belvina melanjutkan dengan tenang. “Justru karena enak, sayang kalau disia-siakan.”

Jawaban tersebut datang apa adanya, tanpa ornamen apa pun. Dan justru itu yang terasa janggal.

Beberapa pelayan saling bertukar pandang.

Alden tidak langsung mengalihkan pandangan. Ada jeda, cukup untuk memastikan ini bukan kebetulan.

“Begitu,” gumamnya pelan. Namun kali ini bukan sindiran. Lebih seperti… mencatat.

Terlalu rapi.

Seperti seseorang yang sengaja tidak meninggalkan celah.

Dulu, ia selalu tahu apa yang akan dikatakan wanita itu. Sekarang—tidak lagi.

Belvina menghabiskan sarapannya tanpa banyak bicara.

Tak lama kemudian, ia sudah berdiri dan pergi.

Alden mengangkat pandangannya. Tatapannya mengikuti langkah wanita itu hingga menghilang di balik pintu. Rahangnya mengeras samar.

Biasanya, Belvina tidak akan pergi tanpa memastikan dirinya diperhatikan.

Sekarang?

Tidak ada jeda sama sekali. Seolah kehadirannya tidak lagi diperhitungkan.

Jari Alden mengetuk meja sekali, pelan.

“Semakin jauh…” gumamnya rendah. Bukan marah. Lebih ke… terusik. Dan itu tidak ia sukai.

-

Di luar, Belvina berjalan menuju garasi. Pintu terbuka otomatis, menampilkan deretan mobil mewah yang berkilau rapi. Langkahnya melambat. Matanya menyapu satu per satu.

“Ya ampun…” batinnya. “Ini garasi atau showroom?”

Jantungnya berdetak sedikit lebih cepat. Sebagai Dina, ia memang bisa menyetir. Dulu ia belajar dari relawan panti, sekadar untuk membantu belanja atau antar barang. Bukan ahli, tapi cukup untuk tidak menabrak apa pun.

Namun ini berbeda.

Mobil-mobil di depannya bukan mobil biasa. Semua terlihat mahal. Terlalu mahal.

Ia berhenti sejenak. Bukan ingatan yang jelas. Lebih seperti… kebiasaan yang tertinggal. Mana yang sering dipakai, mana yang jarang disentuh.

Tangannya akhirnya berhenti pada satu mobil. Tidak terlalu mencolok dibanding yang lain, tapi tetap… jauh di atas standar hidupnya dulu.

“Kalau yang ini… harusnya aman,” gumamnya pelan.

Ia membuka pintu, duduk di kursi kemudi, menatap panel di depannya sedikit lebih lama.

Tombol-tombolnya… terlalu banyak. Tidak semuanya ia kenal. Tangannya sempat salah menekan tombol. Lampu hazard menyala tiba-tiba.

“Bukan ini…”

Ia langsung mematikannya, napasnya sedikit tidak stabil. Spion ia atur dua kali. Posisi duduk ia geser lagi. Baru setelah itu, ia menyalakan mesin.

Halus. Terlalu halus.

Kakinya sempat terlalu dalam menekan pedal, mobil langsung maju lebih cepat. VIa mengerem.

“Oke… pelan.”

Mobil melaju keluar.

Dan tanpa ia sadari, di balik jendela rumah itu, sepasang mata masih memerhatikannya.

Alden berdiri diam.

Matanya mengikuti mobil yang semakin menjauh. Ekspresinya tetap tenang. Tapi kali ini, ia tidak mengalihkan pandangan lebih cepat dari biasanya.

“Apa lagi yang kamu rencanakan…” gumamnya seolah bicara pada dirinya sendiri.

Tapi kali ini, bukan hanya curiga. Ada sesuatu yang lain. Yang belum ia akui.

***

Belvina melajukan mobilnya tanpa tujuan pasti. Sekadar menikmati jalanan. Udara.

Dan perasaan… bebas.

Hingga akhirnya mobil itu melambat… lalu berhenti.

Belvina mengerjap. Alisnya sedikit berkerut saat melihat bangunan di depannya.

“Aku… berhenti di sini?” gumamnya pelan.

Ia tidak ingat memilih tempat ini. Tangannya tadi hanya mengikuti arah. Perhatiannya tertuju papan nama di depan.

Aurelia.

Nama itu… tidak terasa familiar di kepalanya. Tapi anehnya, dadanya tidak menolak.

Seperti ada dorongan samar. Bukan ingatan. Lebih seperti… kebiasaan yang belum hilang sepenuhnya.

Ia terdiam beberapa detik. Menimbang. Lalu akhirnya membuka pintu mobil.

“Ya sudah… lihat saja dulu.”

Belvina turun. Saat masuk, ia memperlambat langkah. Bukan karena familiar, tapi karena semuanya terasa terlalu rapi. Terlalu mahal.

Seolah ia masuk ke dunia yang bukan miliknya.

Sesaat kemudian, matanya langsung berbinar.

“Ini… surga ya?” gumamnya pelan.

Deretan pakaian tersusun rapi. Elegan. Mahal.

Mata Belvina langsung bergerak cepat, dari satu rak ke rak lain.

Dua pelayan butik yang mengenalnya langsung menoleh. Alis mereka sedikit mengernyit. Tatapan mereka berhenti pada wajah Belvina. Lalu saling bertukar pandang.

Ini… Nyonya Belvina?

Penampilannya berbeda. Lebih sederhana. Makeup tipis. Aura… juga berbeda.

Namun mereka tetap profesional. Keduanya segera mendekat.

“Selamat datang, Nyonya,” sapa salah satu dengan senyum sopan.

Belvina menoleh. Sedikit kaku. Lalu membalas dengan senyum kecil.

“Iya… eh, terima kasih.”

Pelayan itu sempat terdiam sepersekian detik.

Dia… ramah?

“Apakah Nyonya ingin melihat koleksi terbaru?” tanya pelayan lain.

Belvina mengangguk cepat.

“Iya, boleh. Yang… nyaman dipakai. Tidak terlalu ribet.”

Kedua pelayan itu kembali saling melirik.

Tidak ribet?

Biasanya, Belvina selalu memilih yang paling mencolok. Paling berani. Paling… menarik perhatian.

Namun hari ini?

Aneh. Sangat aneh.

Mereka mulai menunjukkan beberapa pilihan. Gaun sederhana. Blouse elegan. Warna-warna lembut.

Belvina menyentuh kainnya pelan. Matanya berbinar lagi.

“Ini bagus…”

“Yang ini juga…”

“Yang itu boleh saya lihat?”

Nada suaranya tenang.

Tangannya berhenti saat melihat bandrol kecil yang tergantung di salah satu gaun

Matanya menyipit. Lalu, membeku. Angka itu cukup untuk membuatnya berhenti bernapas sejenak.

Jarinya tanpa sadar mengusap ujung kain itu pelan. Lembut. Ringan. Indah. Dan sangat… tidak masuk akal.

“Gila…” ucapnya nyaris tak terdengar.

Ia menelan ludah. Refleks lamanya muncul. Ingin meletakkan kembali.

Namun, wajah dingin Alden tiba-tiba terlintas di kepalanya.

Sorot mata itu. Penolakan itu. Cara pria itu memperlakukan Belvina asli.

Jari Belvina perlahan mengencang pada kain itu. Sudut bibirnya terangkat tipis. Bukan ragu lagi. Lebih ke… keputusan.

Ia tidak mengembalikannya. Kali ini, ia memilih. Fokusnya kembali ke bandrol itu. Kali ini tanpa gentar.

“Untuk Belvina.”

Ia menarik napas pelan. Lalu mengembuskannya.

Dan untuk dirinya sendiri—

“Lagipula… mumpung kaya.” Ada kilat nakal di matanya.

Tangannya akhirnya melepaskan bandrol itu. Namun bukan untuk menolak. Melainkan, untuk memastikan dia benar-benar memilihnya.

Ia menoleh pada dua pelayan butik.

"Aku ingin lihat yang lain."

Nada suaranya ringan. Antusias. Seperti seseorang yang benar-benar menikmati proses memilih. Bukan sekadar ingin terlihat sempurna.

Kedua pelayan makin… bingung. Karena bukan hanya pilihannya yang berubah. Tapi sikapnya juga.

Biasanya, Belvina akan rewel. Banyak komentar. Sulit puas.

Tapi sekarang?

Ia justru terlihat mudah. Dan… menyenangkan.

“Yang ini sangat cocok dengan Nyonya. Potongannya simpel, tapi tetap elegan,” ujar salah satu pelayan, mulai lebih nyaman.

Belvina menatap cermin setelah mencoba salah satu pakaian. Ia memutar tubuhnya sedikit. Tidak berlebihan. Hanya cukup.

“Ini enak dipakai,” ujarnya jujur.

Lalu tersenyum kecil.

“Aku ambil ini. Dan yang tadi juga.”

Pelayan itu hampir refleks tertegun. Biasanya… butuh waktu lama…

“Baik, Nyonya.”

Di sudut lain butik, seseorang memerhatikan sejak tadi.

Tidak mendekat. Tidak juga ikut berbicara.

Tatapannya berhenti pada Belvina.

Sedikit lebih lama dari seharusnya.

Seolah memastikan sesuatu.

Lalu, ia mengangkat ponselnya tanpa tergesa.

“Dia benar-benar datang ke sini…” gumamnya rendah.

Belvina masih berdiri di depan cermin saat itu.

Namun di luar butik, seseorang sudah bergerak lebih dulu.

Ia tidak menyadari, langkah kecilnya hari ini, sudah menarik perhatian orang yang seharusnya tidak ia temui terlalu cepat.

 

...✨“Ia tidak tertarik pada perubahan, ia tertarik pada hal yang tidak bisa ia jelaskan.”✨...

.

To be continued

1
Kyky ANi
Belvina ingin tahu apakah Alden sedang menemui seseorang,,
Kyky ANi
bagus Belvina,, sikapmu ke Alden, bikin dia penasaran,,
Kyky ANi
pasti Seraphina ingin membuat Belvina cemburu,,,
abimasta
astaga seraphina ngga sadar2 juga
Kyky ANi
emangnya kamu mau ribut Seraphina,,
Anitha Ramto
Masih belum sadar juga tuh si ular betina,jangan salahkan juga jika Alden akan lebih kejam kepadamu jika terjadi sesuatu pada Belvina...

Dan ingat!!! Belvina selalu dalam Pengawasan keluarga ASTERA.
Oma Gavin
percaya diri banget seraphina untuk kali ini justru kamu yg akan nyungsep dan ancur lebur jgn remehkan alden bila sudah marah
partini
ga ngotak si sere , pasti nya pilih istri nya lah ,,bell hati" nyawa mu di ujung tanduk
Dek Sri
lanjut
Puji Hastuti
si sapi masih belum ngerti juga😤
Kyky ANi
belanja sepuasnya,, Dina,, karna sekarang kamu jadi orang kaya banget,,,
Kyky ANi
mau ke
mana Alden mengajak Belvina,,
Kyky ANi
ya udah Belvina,, sekarang kamu mengalah saja pada Alden,, dari pada kamu diusir,,,
Dew666
🩵🩵🩵🩵
Puji Hastuti
lama² ketauan sifat asli si sapi
anonim
Arsen yang menyebalkan - mengambil satu potong kecil, digigit setengah hati. Arsen sok gengsi - tak mau mengakui kuenya enak - tapi maruk juga mengambil potongan kedua wkwkwk.

Alena masih mengambil potongan terakhir bagian pinggir. Arsen nyebelin 😄.

Alden mengambil satu bagian. Lalu satu lagi. Tidak memberi komentar.

Belvina dengan suara tenang mengatakan ingin berpisah dengan Alden.

Belvina bikin jantung Ayah mertuanya bereaksi. Andreas mendadak menekan dada kirinya, napasnya tertahan sesaat.
anonim
Melihat kue favorit Belvina sudah tersaji di meja - Alena sirik ajah.

Melihat satu piring kecil lain di sisi meja, Alena menanyakan pada Ibundanya apa mencoba resep baru.

Alena memotong satu bagian, memasukkan ke mulut. Ekspresinya berubah - berhenti mengunyah.

Merasa enak - Alena mengambil suapan kedua.

Fransisca menahan senyum - bertanya enak ?

Banget - Alena mengangguk cepat.

Maruk tuh Alana. Mengambil lagi lebih besar 😄.

Tersedak ketika mendengar kue itu buatan kakak iparnya 😄.

Belvina duduk santai di samping Fransisca. Berkata lembut - pelan-pelan. Kalau suka bilang saja.

Alena tak percaya Belvina yang bikin kuenya. Kenyataanya Belvina yang bikin.
anonim
Sarapan telah selesai, Alden dipanggil ke ruang kerja Andreas.

Mereka berdua menuju ke lantai dua.

Fransisca mengajak Belvina ke dapur. Mau membuat kue kesukaannya Belvina yang sudah lama tidak dibuatnya.

Ingatan Belvina kembali ke masa lalu.

Fransisca bilang, Alden suka yang tidak terlalu manis.

Fransisca seorang Ibu mertua ysng baik. Mau meminta maaf untuk adik-adiknya Alden yang juga menjadi adik-adiknya Belvina.

Belvina hatinya menghangat bersama Fransisca yang menerimanya.

Alden turun dari ruang kerja terhenti langkahnya, melihat pemandangan di dapur yang tidak pernah iya bayangkan.
anonim
Belvina ingatan lama muncul - Alden tak pernah membelanya. Barusan membelanya.

Andreas ayahnya Alden memberi komentar positip. Setelahnya pergi begitu saja.

Ibunda Alden memberi tahu - apa yang diucapkan Andreas suatu pujian.

Alden yang berubah, kedua adiknya tidak. Masih sama - inginnya meremehkan, mempermalukan Belvina.
anonim
Belvina dan Alden sudah berada di rumah orang tua Alden. Di sambut Ibunda Alden dengan hangat.

Ibunda Alden mengatakan - Belvina kurusan.

Ternyata Alden yang sering menolak datang bersama Belvina.

Ayahnya yang sudah duduk di ujung meja untuk sarapan bersama - tanpa basa-basi menyuruh duduk ketika melihat Belvina datang.
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!