Sinta Maharani dijual ayah kandungnya seharga Rp 500 juta untuk lunasi hutang judi.
Pembelinya adalah Arga Wijaya, CEO Rogue terkaya dan paling kejam di Jakarta. Pernikahan kontrak 1 tahun demi warisan triliunan.
Namun di malam pertama, Arga berbisik dingin, "Keluarga Maharani adalah pembunuh keluargaku. Sekarang giliranmu yang membayarnya."
Sinta terjebak. Menikah dengan musuh yang membenci darahnya, sambil menyembunyikan rahasia bahwa dia adalah serigala terakhir berdarah murni.
Mampukah Sinta bertahan di tengah dendam dan cinta terlarang? Ataukah dia akan hancur oleh masa lalu keluarganya sendiri?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon R. AL, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 10: TERJEBAK HUJAN DAN PELUKAN PERTAMA YANG TULUS
Sejak kejadian kartu diblokir kemarin, suasana di penthouse 50 miliar itu menjadi sangat dingin, lebih dingin dari AC 16 derajat.
Arga tidak bicara padaku. Aku juga tidak bicara padanya. Kami seperti dua orang asing yang tinggal di istana yang sama.
Pagi ini, Arga sudah berangkat ke kantor jam 5 subuh, bahkan sebelum aku bangun. Di meja makan, hanya ada sarapan yang sudah disiapkan Bibi Sari dan secarik kertas kecil.
Kertas itu tulisannya tegas dan dingin.
"Jemputan sopir jam 7. Jangan naik Transjakarta. - A.W"
Aku meremas kertas itu. Bahkan untuk menyuruh sopir saja dia tidak mau bicara langsung padaku.
Aku berangkat ke kampus dengan mobil mewah itu, tapi hatiku hampa. Teman-temanku di kampus melihatku dengan tatapan iri, mereka pikir hidupku sempurna karena menikah dengan CEO ganteng dan kaya. Mereka tidak tahu aku menangis setiap malam di atas ranjang king size yang dingin.
Siang harinya, jam 2 siang, langit Jakarta yang tadinya terik tiba-tiba menjadi gelap gulita. Mendung hitam tebal menggantung.
Dosen mengumumkan, "Sepertinya akan hujan badai besar, kuliah kita akhiri sampai sini ya, hati-hati di jalan."
Aku bergegas membereskan buku skripsiku. Aku mencoba menelepon sopir pribadi Arga untuk menjemput lebih awal.
"Halo Pak, bisa jemput sekarang? Soalnya mau hujan besar..."
"Maaf Nyonya, mobil Rolls-Royce sedang dipakai Tuan Arga untuk meeting di luar kota, di daerah Puncak. Tuan Arga bawa mobilnya sendiri tadi pagi. Saya tidak bisa jemput Nyonya sekarang karena hujan, jalanan macet total. Mungkin Nyonya bisa pesan taksi online?"
Puncak? Arga ke Puncak? Padahal dia bilang meeting di Jakarta.
Aku mencoba pesan taksi online, tapi karena hujan badai yang akan datang, semua taksi online tarifnya melonjak 5 kali lipat dan tidak ada yang mau ambil orderan ke SCBD yang macet.
Akhirnya aku memutuskan untuk menunggu hujan reda di perpustakaan kampus.
Jam 3 sore, hujan turun. Bukan hujan biasa. Ini hujan badai yang sangat deras disertai petir yang menggelegar. Angin kencang membuat pohon-pohon di kampus bergoyang.
Listrik kampus mati. Perpustakaan menjadi gelap.
Semua mahasiswa sudah pulang, hanya tinggal aku dan beberapa petugas kebersihan.
Aku takut. Aku sangat takut petir sejak kecil.
Aku mencoba menelepon Arga. Tidak diangkat. Aku telepon lagi. Tidak diangkat. Aku telepon 10 kali, tetap tidak diangkat.
Apakah dia masih marah padaku sampai tidak mau angkat teleponku saat aku terjebak hujan badai?
Air mataku mulai jatuh. Aku memeluk tas ku di sudut perpustakaan yang gelap, setiap petir menyambar, aku terlonjak ketakutan.
Jam 5 sore, hujan tidak reda, malah semakin deras. Banjir mulai masuk ke area kampus.
Tiba-tiba dari luar perpustakaan, aku mendengar suara mobil sport meraung keras menerobos genangan banjir.
Pintu perpustakaan dibuka dengan keras.
Seorang pria tinggi besar dengan jas hitam yang basah kuyup berdiri di sana, napasnya terengah-engah, rambutnya berantakan basah.
Arga Wijaya.
Dia menerobos hujan badai dan banjir hanya untuk menjemputku?
"SINTA!" Dia berteriak memanggil namaku di tengah gelapnya perpustakaan.
Aku langsung berlari menghampirinya dan tanpa sadar langsung memeluk pinggangnya erat karena takut petir.
"Pak... Bapak datang... saya takut... petirnya besar..."
Arga terkejut aku memeluknya, tapi kemudian dia membalas pelukanku dengan sangat erat. Pelukannya hangat, sangat hangat, berbeda dengan pelukan-pelukan akting kami sebelumnya. Pelukan ini tulus, pelukan yang melindungi.
"Maaf saya lama. Jalanan banjir semua. Mobil saya mogok di tengah jalan, saya harus ganti mobil jeep satpam untuk sampai sini," bisik Arga di atas kepalaku, suaranya terdengar khawatir dan tulus.
Dia melepas jasnya yang basah dan memakaikannya ke tubuhku agar aku tidak kedinginan.
"Ayo pulang, sayang," katanya, dan kali ini kata sayang itu terdengar tidak dibuat-buat.
Arga menggendongku dengan gaya bridal style menerobos hujan badai menuju mobil jeep hitam yang tinggi. Sepatu hak tinggiku terlepas di genangan banjir, tapi Arga tidak peduli.
Di dalam mobil jeep, aku masih gemetar kedinginan dan ketakutan. Arga langsung menyalakan penghangat mobil dengan suhu paling tinggi.
Dia mengambil handuk kecil dari dashboard dan dengan lembut mengeringkan rambutku yang basah.
"Kenapa tidak dari tadi telepon saya? Kenapa baru telepon pas hujan sudah besar?" tanya Arga, tapi nadanya bukan marah, melainkan khawatir.
"Saya sudah telepon Bapak 10 kali dari jam 2 siang Pak... tapi tidak diangkat... saya kira Bapak masih marah soal kemarin..."
Arga langsung mengambil ponselnya dari saku celananya yang basah. Ponselnya mati total.
"Astaga, ponsel saya mati kehabisan baterai di Puncak tadi. Meeting dengan investor Singapura molor sampai 5 jam di tengah hutan. Saya baru lihat ada 10 missed call dari kamu pas nyalakan powerbank di jalan. Maafkan saya, Sinta."
Maaf lagi. Untuk kedua kalinya, Arga Wijaya minta maaf padaku. Pria yang tidak pernah minta maaf pada siapa pun.
Perjalanan pulang dari kampus ke penthouse yang biasanya hanya 30 menit, malam itu memakan waktu 3 jam karena banjir di mana-mana. Jakarta lumpuh total.
Selama di perjalanan, Arga terus menggenggam tanganku erat agar aku tidak takut petir. Setiap petir menyambar, aku meremas tangannya kuat.
"Jangan takut, ada saya di sini," bisik Arga setiap kali aku ketakutan.
Kata-kata sederhana itu, tapi membuat hatiku hangat.
Jam 9 malam, kami akhirnya sampai di The Wijaya Tower. Listrik di gedung itu juga sempat mati, tapi genset langsung menyala.
Bibi Sari sudah menunggu dengan panik di lobi penthouse.
"Tuan! Nyonya! Syukurlah selamat! Di TV bilang banjir besar di mana-mana!"
Arga langsung membawaku masuk ke kamar utama. Ya, sekarang aku tidur di kamar utama, bukan kamar tamu lagi sejak kejadian di Bandung.
"Ganti baju, kamu basah kuyup, nanti sakit," perintah Arga, tapi kali ini nadanya lembut.
Aku masuk ke kamar mandi dan berganti dengan piyama sutra yang hangat.
Saat aku keluar, Arga sudah berganti dengan kaos oblong hitam dan celana pendek, rambutnya masih basah. Dia sedang membuatkan teh hangat untukku di pantry kamar.
Ini pertama kalinya aku melihat Arga membuatkan sesuatu untukku.
"Minum ini, biar hangat," katanya sambil menyodorkan cangkir teh jahe hangat.
Aku menerima teh itu dengan tangan gemetar. Teh itu manis dan hangat, menghangatkan tubuhku yang kedinginan.
"Terima kasih Pak..."
"Jangan panggil Bapak terus, panggil Mas. Kita sudah menikah, aneh kalau di rumah masih panggil Bapak."
Mas. Dia minta dipanggil Mas.
"Terima kasih... Mas..."
Arga tersenyum. Senyum tulus pertamanya yang aku lihat sejak kami menikah. Senyum itu sangat tampan, membuat lesung pipitnya terlihat.
"Sama-sama, istriku."
Malam itu, hujan masih deras mengguyur Jakarta. Petir masih sesekali menyambar.
Kami tidur di ranjang king size yang sama, tapi kali ini tidak ada garis bantal lagi. Arga sendiri yang membuang bantal pembatas itu.
"Tidak perlu garis lagi. Toh kamu selalu melewatinya juga tiap malam," katanya dengan nada menggoda.
Wajahku merah padam.
Aku mencoba tidur membelakangi Arga seperti biasa, tapi petir yang sangat keras tiba-tiba menyambar tepat di atas gedung, membuat seluruh gedung bergetar.
"AAAK!" Aku terlonjak ketakutan dan tanpa sadar langsung berbalik dan memeluk Arga erat.
Arga yang kaget langsung membalas pelukanku. Dia mengelus punggungku dengan lembut.
"Shhh... tidak apa-apa... ada Mas di sini... tidak usah takut..."
Aku menangis di dadanya. Bukan karena takut petir saja, tapi karena semua emosi yang tertahan selama 10 hari menjadi istri kontrak ini tumpah.
Tangis karena dihina, karena dibeli, karena takut, karena cemburu pada Luna, karena bingung dengan perasaanku sendiri pada Arga.
Arga tidak melepas pelukannya. Dia terus mengelus punggungku dan rambutku dengan lembut, seperti menenangkan anak kecil.
"Tidur di pelukan Mas saja malam ini, biar tidak takut petir lagi ya," bisik Arga.
Dan untuk pertama kalinya dalam 10 hari pernikahan kontrak kami, aku tertidur bukan karena kelelahan menangis sendirian, tapi karena merasa aman dan hangat di dalam pelukan Arga Wijaya.
Pelukan yang tulus. Bukan akting untuk Kakek, bukan akting untuk warisan 2 Triliun.
Tapi pelukan seorang suami pada istrinya.
Di luar, hujan badai masih mengguyur Jakarta. Tapi di dalam penthouse 50 miliar itu, di atas ranjang king size, dua orang yang seharusnya saling membenci, kini terlelap dalam pelukan yang penuh kehangatan.
Apakah es di hati Arga Wijaya akhirnya mulai mencair karena hujan badai malam ini?
(Bersambung...)
"" Penasaran ya, Kita lanjut bab nya."""^_^^_^