NovelToon NovelToon
Air Panas Untuk Selingkuhanmu

Air Panas Untuk Selingkuhanmu

Status: sedang berlangsung
Genre:Crazy Rich/Konglomerat / Balas Dendam / Single Mom
Popularitas:2.4k
Nilai: 5
Nama Author: NinLugas

Ranti merasa hidupnya sempurna. Suaminya, Sony, adalah pria idaman—penyayang, sukses, dan setia. Bahkan, Ranti begitu percaya pada Sony hingga tak pernah sekalipun menaruh curiga.

Namun, kebahagiaan itu hancur dalam sekejap. Kejadian tak terduga mengungkap kenyataan pahit. Ternyata menyimpan makna lain yang menyakitkan. Nama Raya, guru TK anak mereka.

Kekecewaan dan pengkhianatan mengguncang dunia Ranti. Kebohongan Sony selama ini tak hanya menghancurkan biduk rumah tangga mereka, tapi juga persahabatan Ranti dengan Raya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon NinLugas, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 28: KETUKAN PALU KEHORMATAN

Suasana di dalam Ruang Sidang Utama Pengadilan Agama Jakarta Selatan mendadak mencekam. Udara dari pendingin ruangan terasa kian menusuk tulang. Tuduhan liar dan emosional yang diteriakkan oleh Sony di hadapan majelis hakim, wartawan, dan para pengunjung sidang masih menggema di dinding-dinding kayu mahoni ruangan tersebut.

Sony berdiri dengan napas memburu, kedua tangannya yang terborgol bergetar hebat. Di dadanya, rasa dengki dan keputusasaan membakar habis akal sehatnya. Ia menyunggingkan senyum puas yang picik, merasa telah berhasil melayangkan pukulan mematikan untuk menjatuhkan harkat dan martabat Ranti serta hakim yang memimpin perkara ini.

Di meja Penggugat, Ranti tidak menunjukkan raut panik sedikit pun. Ia hanya menghembuskan napas panjang, menatap Sony dengan pandangan dingin yang dipenuhi rasa iba atas kepicikan mantan suaminya. Pak Hendra di sampingnya bersiap mengangkat bicara, namun sebuah ketukan keras dari atas mimbar majelis menghentikan seluruh kegaduhan di ruangan tersebut.

TUK! TUK! TUK!

Suara ketukan palu kayu itu terdengar begitu nyaring, berwibawa, dan menggelegar menembus keheningan.

Hakim Ketua Farhan Arisya merapikan toga hitamnya. Wajahnya yang biasa teduh dan tenang kini tampak sangat tegas, memancarkan wibawa tertinggi dari seorang penegak hukum yang keagungannya baru saja diusik di dalam ruang peradilan. kacamata berbingkai tipis di wajahnya memantulkan pendar lampu ruangan yang dingin.

Farhan tidak langsung berteriak. Pria itu menatap lurus ke arah Sony dengan pendar mata yang begitu tajam, menusuk, dan tak terbantahkan.

"Saudara Tergugat, Sony Kurniawan," suara bariton Farhan mengalun rendah, namun mengandung tekanan hukum yang amat berat. "Tindakan Anda yang melontarkan tuduhan tanpa bukti, memotong jalannya persidangan, serta menyerahkan narasi fitnah secara terbuka di hadapan Majelis Hakim dan khalayak umum adalah bentuk pelanggaran berat terhadap tata tertib peradilan."

Sony menyipitkan mata, mencoba memasang raut menantang. "Saya cuma menyampaikan kebenaran, Yang Mulia! Anda dan Ranti punya hubungan gelap!"

TUK!

Farhan mengetukkan palunya sekali lagi dengan ketukan yang sangat keras.

"Cukup!" tegur Farhan dingin. "Tindakan Anda secara sah dan meyakinkan telah memenuhi unsur Contempt of Court—penghinaan terhadap institusi peradilan dan kewibawaan Majelis Hakim sebagaimana diatur dalam pasal KUHP serta Undang-Undang Kekuasaan Kehakiman! Anda telah mencoreng marwah persidangan ini dengan prasangka liar yang tidak berdasar!"

Suasana di area pengunjung sidang seketika riuh rendah. Kamera wartawan yang merekam dari barisan belakang makin gencar memancarkan kilatan flash.

Ibu Hendrawan dan Sonya yang duduk di kursi pengunjung belakang seketika pucat pasi. Sonya meremas ponselnya dengan jemari yang mendadak dingin, menyadari bahwa aksi provokasinya justru menyeret kakaknya ke dalam masalah hukum yang jauh lebih mengerikan.

Farhan memajukan sedikit tubuhnya ke arah mimbar, menatap seluruh hadirin di ruang sidang, lalu mengarahkan pandangannya secara langsung kepada Sony dan Kuasa Hukumnya.

"Perlu saya tegaskan di dalam forum resmi yang terhormat ini," ujar Farhan dengan intonasi yang begitu jelas, jernih, dan penuh kejujuran. "Saya, Farhan Arisya, dan Penggugat, Saudari Ranti Anindita, adalah teman masa kecil yang bertetangga sejak kami berusia sepuluh tahun di kawasan Menteng. Ibu kandung saya, Ibu Rida Arisya, adalah sahabat karib dari Mendiang Ibu Kirana."

Farhan jeda sejenak, menatap Ranti dengan pendar hormat yang sangat profesional sebelum kembali mengunci pandangannya pada Sony.

"Ibu saya sudah puluhan tahun mencari kabar tentang keberadaan keluarga Penggugat setelah mereka pindah," lanjut Farhan. "Pertemuan kami di luar koridor persidangan adalah murni silaturahmi kekeluargaan yang dihadiri oleh Ibu kandung saya serta anak Penggugat secara terbuka. Tidak ada satu pun pembahasan terkait perkara hukum, dan tidak ada satu pun norma persidangan yang dilanggar."

Pernyataan lugas dan transparan dari Hakim Farhan bagaikan tamparan keras yang meruntuhkan seluruh narasi konspirasi yang dibangun oleh pihak Sony. Seluruh wartawan di dalam ruangan saling berbisik, mencatat penjelasan resmi sang hakim yang mematahkan tuduhan skandal tersebut.

"Adapun tuduhan Anda bahwa persidangan ini direkayasa," tegas Farhan kembali pada nada dinginnya, "seluruh berkas perkara, bukti pencucian uang, dan laporan kepolisian atas tindak pidana yang Anda lakukan telah diperiksa secara independen oleh tiga Hakim Majelis secara kolektif-kolegial berdasarkan fakta hukum otentik—bukan atas dasar subjektivitas pribadi."

Sony menelan ludah dengan susah payah. Keringat dingin mengucur deras dari pelipisnya. Keberanian palsunya mendadak menguap saat menyadari dampak dari kecerobohannya.

"Mengingat tindakan Saudara Tergugat telah melakukan penghinaan terhadap pengadilan (contempt of court)," ujar Farhan dengan nada berwibawa, "maka Majelis Hakim menjatuhkan Sanksi Peringatan Keras dan Catatan Pelanggaran Etika Persidangan yang akan dilampirkan secara resmi dalam berkas perkara. Jika Saudara mengulangi tindakan serupa, Majelis Hakim tidak akan ragu untuk memproses Saudara secara pidana atas pasal pencemaran nama baik dan penghinaan terhadap lembaga peradilan!"

Kuasa Hukum Sony mendadak panik. Ia menyenggol lengan Sony dan berbisik tergesa-gesa. "Mas! Cepat minta maaf! Kamu bisa kena pasal berlapis kalau melawan hakim!"

Sony menggigit bibir bawahnya erat-erat. Wajahnya yang tirus berubah merah padam antara rasa malu yang luar biasa dan amarah yang tertahan. Dengan leher yang kaku, Sony terpaksa menundukkan kepalanya sedikit.

"Ma... maafkan saya, Yang Mulia..." cicit Sony dengan suara yang mendadak parau dan lemas.

Meskipun sanksi contempt of court telah dijatuhkan dan tuduhan Sony berhasil dipatahkan secara telak, jalannya persidangan mengenai klaim banding dan sengketa eksekusi harta bersama tetap berlangsung amat alot.

Pengacara Sony yang tidak mau kehilangan muka di depan kumpulannya mencoba memanfaatkan situasi dengan mengajukan puluhan eksepsi tambahan, menuntut penundaan penandatanganan berkas eksekusi aset, serta meminta audit ulang independen atas nilai saham perusahaan yang telah disita oleh pihak kepolisian.

"Izin menyampaikan, Yang Mulia!" potong Kuasa Hukum Sony seraya berdiri memegang berkas tebal. "Mengingat adanya sengketa nilai appraisal aset yang masih berjalan di Pengadilan Negeri terkait kasus pidana Klien kami, kami memohon agar Majelis Hakim menunda putusan eksekusi hak asuh dan pembagian harta ini sampai ada putusan pidana yang berkekuatan hukum tetap!"

Pak Hendra langsung berdiri dari meja Penggugat, memukul mejanya pelan dengan penekanan hukum yang tajam.

"Keberatan, Yang Mulia!" seru Pak Hendra bariton. "Penundaan ini murni iktikad buruk dari pihak Tergugat untuk mengulur-ulur waktu dan mengganggu stabilitas operasional PT Anindita Gemilang Utama! Perkara perdata perceraian dan hak asuh anak sama sekali tidak ada hubungannya dengan proses pidana pencucian uang yang sedang ditangani Polda!"

Debat kusir dan saling silang argumen hukum antara kedua kuasa hukum berlangsung sengit selama hampir dua jam. Udara di dalam ruang sidang makin tegang. Masing-masing pihak menyodorkan berkas yurisprudensi dan pasal-pasal pembelaan yang saling mengunci.

Ranti duduk tenang memandangi perdebatan tersebut. Ia melirik jam tangannya yang melingkar elegan di pergelangan tangan. Keteguhannya tidak goyah sedikit pun. Ranti tahu bahwa upaya Sony ini hanyalah tarikan napas terakhir dari seorang pengkhianat yang enggan menerima kenyataan bahwa dirinya telah kalah total.

Hakim Farhan yang duduk di mimbar utama berdiskusi secara intensif dengan dua hakim anggota di sisi kiri dan kanannya. Mereka meneliti lembaran eksepsi baru yang diajukan oleh pengacara Sony serta memeriksa kesesuaian berkas acara pemeriksaan.

Setelah berdiskusi selama lima belas menit, Hakim Farhan meraih kembali palunya.

"Harap tenang seluruh Pihak!" perintahkan Farhan dengan suara yang memutus ketegangan perdebatan.

Ruang sidang kembali hening seketika.

"Menimbang bahwa Pihak Tergugat mengajukan eksepsi tambahan terkait penyesuaian berkas appraisal aset, serta demi menjamin kepastian hukum yang adil dan menyeluruh bagi kedua belah pihak tanpa ada celah cacat hukum di kemudian hari..." ujar Farhan tenang dan penuh kehati-hatian.

Farhan memandangi Ranti dan Pak Hendra, lalu beralih menatap Sony.

"...Maka Majelis Hakim menetapkan bahwa persidangan hari ini TIDAK DAPAT DILANJUTKAN hingga pembacaan putusan akhir," putus Farhan.

Ranti menaikkan alisnya tipis, sementara Sony sempat mendongak dengan riak harapan palsu di matanya.

"Sidang ditunda dan akan dilanjutkan kembali pada Minggu Depan, hari Selasa, dengan agenda penyerahan bukti audit final dari Pihak Penggugat serta Pembacaan Putusan Akhir yang bersifat inkrah dan tidak dapat diganggu gugat lagi," tegas Farhan.

TUK!

"Dengan ini persidangan ditunda!"

Hakim Farhan mengetukkan palunya, menutup jalannya persidangan hari itu.

Para majelis hakim berdiri dan melangkah meninggalkan ruang sidang menuju pintu khusus. Sebelum menghilang di balik pintu kayu jati, pandangan mata Farhan sempat tertahan sejenak pada Ranti—sebuah tatapan yang memancarkan permohonan maaf atas penundaan ini, sekaligus janji perlindungan bahwa hukum akan tetap berdiri tegap membela kebenaran pada minggu depan.

Saat ruang sidang mulai dibubarkan, Sony ditarik oleh dua orang petugas kepolisian untuk dibawa kembali ke mobil tahanan polda.

Saat melewati meja Ranti, Sony menatap mantan istrinya itu dengan raut wajah gusar. "Kamu pikir kamu sudah menang, Ranti?! Minggu depan aku bakal seret kamu lebih dalam!" desis Sony penuh rasa dendam.

Ranti berdiri dari kursinya, merapikan blazer putih gadingnya dengan gerakan yang teramat anggun. Ia menatap Sony dari ujung kepala hingga ujung kaki dengan pandangan yang penuh wibawa dan rasa iba.

"Ulangi terus kebohonganmu, Sony," tutur Ranti dengan suara yang begitu tenang, jernih, dan tidak bergetar sedikit pun. "Makin banyak kamu berbohong dan mengulur waktu, makin dalam lubang kehancuran yang kamu gali untuk dirimu sendiri."

Ranti tersenyum tipis—sebuah senyuman dingin yang meremukkan sisa-sisa kesombongan Sony.

"Sampai bertemu minggu depan di hari eksekusimu," bisik Ranti pelan namun menusuk.

Sony tertegun, mulutnya terkunci rapat saat petugas polisi menghentakkan lengannya dan menyeretnya keluar dari ruangan.

Sore Hari – Pelataran Pengadilan Agama

Sinar matahari sore yang hangat membiaskan warna kemerahan di sepanjang tangga luar gedung Pengadilan Agama. Ranti melangkah turun didampingi oleh Pak Hendra dan Tasya yang sudah menunggu di luar.

Di dasar tangga, belasan wartawan langsung mengerumuni mereka dengan mikrofon terulur.

"Bu Ranti! Bagaimana tanggapan Anda mengenai penundaan sidang hingga minggu depan dan sanksi contempt of court yang dijatuhkan hakim pada mantan suami Anda?!" seru seorang juru warta.

Ranti menghentikan langkahnya di anak tangga ketiga, menatap lurus ke arah kamera-kamera yang menyorotnya.

"Penundaan ini hanyalah prosedur hukum biasa untuk memastikan keadilan berdiri tanpa celah," jawab Ranti dengan senyuman tenang dan percaya diri. "Sanksi yang dijatuhkan Majelis Hakim hari ini adalah bukti nyata bahwa hukum tidak akan pernah bisa diintimidasi oleh fitnah murahan atau drama yang dibuat-buat."

"Apakah Anda yakin minggu depan putusan akan berpihak penuh pada Anda, Bu Ranti?" tanya wartawan lain.

Ranti merapikan kerah kemejanya, membiarkan angin sore mempermainkan rambut bob-nya.

"Kebenaran tidak pernah terburu-buru," tutur Ranti tegas dan berwibawa. "Saya sudah menunggu lima tahun untuk mendapatkan kebebasan dan keadilan ini. Menunggu satu minggu lagi bukanlah masalah besar. Saya sangat siap menyambut hari Selasa minggu depan."

Usai memberikan tanggapan singkat, Ranti melangkah masuk ke dalam sedan hitamnya. Pintu mobil tertutup kedap, meninggalkan keriuhan wartawan di luar.

Mobil sedan itu melaju mulus membelah jalanan Jakarta yang mulai dipadati kendaraan pulang kantor. Di dalam mobil, Ranti menyandarkan punggungnya di sofa empuk, memejamkan mata sejenak dengan rasa damai yang utuh.

Penundaan sidang ini tidak sedikit pun menggoyahkan mentalnya. Justru sebaliknya, sanksi contempt of court yang dijatuhkan Farhan dan ketegasan proses hukum hari ini makin memperjelas bahwa kemenangan sejati sudah berada tepat di depan matanya. Ranti Anindita telah siap menyambut Selasa minggu depan—hari di mana riwayat para pengkhianat akan resmi ditutup untuk selamanya, dan lembaran kejayaannya yang baru akan membentang abadi.

1
Lee Mba Young
pengacara Sony keren banget, walau Sony napi ttp bisa memenangkan sidang🤣.
pengacara ranti abal abal cm butuh duit Tok mkne keder mengjadapi pengacara Sony. mkne ranti kalah sidang.

pdhl Sony jelas selingkuh Dan korupsi tp masih bisa dpt hak asuh. 👍
NinLugas: ka baca karya baru aku kak, perlu pembaca kritis kyk KK
total 1 replies
Lee Mba Young
pling enak pelakor Raya gk dpt karma.
Lee Mba Young
Cerita pling aneh. pdhl Sony napi dpt hak asuh.
farhan Dan pengacara ranti memang memgalah agar farhan bebas mndekati ranti tanpa bima. 🤣.
pdhl jelas jelas Sony napi kan 🤣
Lee Mba Young
pengacara Sony best banget pdhl Sony selingkuh, zina korupsi tp dpt bebas Dan dpt hak asuh🤣 .
ranty pengacara ne goblok 🤣
farhan kayak nya gk mau bima, cm mau ranti mkne suruh ranti nyerah.
NinLugas: kalau g gila authornya ya ceritanya yg gila kak🤣🤣🤣🤣
total 1 replies
Lee Mba Young
Ini hukum pling aneh, pdhl korupsi kok bisa bebas bersyarat.
pengacara ranti yg kurang keren
sunaryati jarum
Fitnah jika diselidiki dan ada bukti akurat,maka fitnah akan kalah
sunaryati jarum
Sony Seharus kamu akui dan terima kenyataan,ini semua karena kesalahan kamu.
Lee Mba Young
di sini pengadilan yg gk banget bpk nya napi tp dpt hak asuh itu dah aneh.
trus sekarang bpk nya nikah dng selingkuh annya apa gk di Banting tu anak.

ranti punya kerjaan hidup mapan knp gk dpt hak asuh. pdhl anak di bawah umur itu dng ibunya 🤣.
NinLugas: nnti d jelaskan d episode berikutnya nya y kk 🤣
total 1 replies
Lee Mba Young
Kenapa Sony bisa dpt hak asuh anak kn dia narapidana. kok aneh.
hrse dng status napi Dan gk punya penghasilan gk dpt hak asuh kan.
bukan kah kemarin hak asuh resmi ke ibunya. kok mulek.
sunaryati jarum
Kacang lupa akan kulitnya ,itu kamu Soni dan keluargamu
sunaryati jarum
Kamu malah.tambah cari masalah
NinLugas: terimakasih y kk atas dukungannya, 😍
total 1 replies
sunaryati jarum
Ada temen semasa kecil yang memberi dukungan
sunaryati jarum
Semoga kedepannya tidak ada lagi pengkhianat Ranti
sunaryati jarum
Orang tua Raya , bagus.Tidak membela tapi menyalahkan
sunaryati jarum
Tujuan kamu memang ingin merebut posisi Ranti, sudah pas kamu langsung dapat karma instan
sunaryati jarum
Bagus
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!