Di usia pernikahan yang baru dua bulan seharusnya pasangan suami sedang hangat-hangatnya memadu kasih. Namun tidak begitu dengan pernikahan Rana dan Jax. Meskipun mereka adalah pengantin baru, tapi tidak ada api cinta diantara keduanya, dingin, kaku, tanpa suara. Apakah ada cinta diantara mereka? atau mungkin semua hanyalah rumah tangga kosong?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ginevra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kesalah Pahaman
Bugh!!
Jason melayangkan tinjunya di pipi kiri Jax, sampai membuatnya terjungkal.
"Jangan bercanda!!!!"
Dengan amarah di matanya, Jason mencengkram kerah Jax dengan kedua tangannya.
"Hehe, kalau sudah kalah jangan mengelak. Kamu terlihat lucu."
Kalimat mengejek itu semakin menyulut kemarahan lawan bicaranya. Sekali lagi Jason mengepalkan tangannya dengan sangat kuat sampai kukunya melukai telapak tangannya.
Buakkkk!!!
Satu pukulan berhasil mendarat di rahangnya hingga membuat bibir Jax mengucurkan cairan merah.
"Benar, seperti itu. Ini baru Jason si tukang pukul. Akhir-akhir ini kamu terlalu lembek sampai aku kira tanganmu berubah menjadi madu."
Jason mendorong Jax sampai punggungnya menabrak tembok sangat keras.
Sepertinya kemarahan Jason kali ini bukan lagi karena Dania. Mulut racun Jax seperti duri yang menusuk harga diri Jason. Memang selama ini dia sudah menahan diri. Semua kelakuan tidak masuk akal Jax selalu ia maklumi karena dia tahu Jax sedang berkabung. Mulai dari mengincar wanitanya sampai merebut pacar yang sudah menjadi tunangannya.
Buakkk!!!
Kali ini Jason meninju perut Jax. Sangat keras, hingga membuat Jax meraung.
"Uhuk, uhuk!!!" Jax terbatuk tapi tidak menyurutkan senyum cekikikannya, membuat Jason semakin ingin meninju bibir merah muda itu hingga tidak bisa lagi tertawa.
"Berhenti!!!! Apa yang kamu lakukan?!!!!"
James seperti biasa, menjadi wasit ketika keduanya bertengkar.
"Cukup!"
Dia menahan tinju Jason dengan memegangi lengan dan mendorongnya pelan.
"Sudah cukup Jason." Lalu ia menoleh ke arah Jax yang sudah babak belur dengan memar biru di pipinya dan bibirnya yang sobek.
"Ayo!" James memapah Jax yang kesakitan sampai memegangi perutnya. Mereka berjalan melewati Jason yang masih menderu, tak habis pikir James lebih memilih menolong Jax daripada menenangkan dirinya yang sedang marah.
Lalu Jax menepis kedua tangan James, "aku bisa sendiri."
Meski pelan, Jax melangkahkan kakinya keluar dari basecamp penuh warna itu. Sedangkan James masih terpaku melihat kepergian Jax.
"Kenapa kamu selalu membelanya? Padahal kamu sendiri tahu apa yang sudah dia perbuat." Ucap Jason masih di posisinya berdiri.
James menoleh pelan.
"Iya, aku tahu. Makanya aku membelanya."
Mata Jason terbelalak heran. Apakah sekarang dia sedang dipermainkan oleh kedua sahabatnya? Diantara keduanya, James lah yang seharusnya paling tahu tentang Jason, karena padanya-lah Jason selalu menceritakan keluh kesahnya.
"James..." Lirih James.
"Siapa namanya? Lena? Aku pernah melihatnya bersama laki-laki lain sedang bermesraan." James mengatakan sesuatu yang sudah jelas.
"Iya, sama Jax kan?"
James menggeleng.
"Bukan, tapi seseorang yang sangat dekat denganmu."
"Apa? Jangan ngelantur! Sangat dekat denganku itu artinya Jax kan?"
"Itu setelahnya. Aku melihatnya dan menceritakannya pada Jax, lalu Jax datang ke tunanganmu berpura-pura seolah telah merebutnya."
"Hah!!! Berhenti berbicara omong kosong!!! Untuk apa Jax melakukannya. Kayak kurang kerjaan saja!!"
"Tentu saja untuk menutupi orang yang sangat dekat denganmu itu! Jax takut kamu tidak bisa mengatasinya. Katanya yang penting kamu bisa lepas dari cewek murahan itu, tidak masalah kalau dia yang disalahkan."
Pukulan fakta itu sangat mengejutkannya, hingga Jason memundurkan tubuhnya dan terduduk lemas.
Jason tahu betul kalau James bukan orang yang bisa membohonginya. Semua yang keluar dari mulutnya pasti sudah terverifikasi berkali-kali sampai bisa dilontarkan.
"Siapa?"
James hanya menatap lirih sahabatnya yang terkulai penuh kekalahan, berbanding terbalik dengan semua pukulan kuat yang telah ia layangkan.
"Sudahlah..." James ikut duduk disampingnya.
"Yang penting kamu sudah bebas darinya," lanjut James.
"Sepertinya aku tahu orangnya," tangisannya mengalir begitu saja, seperti sudah lama tertahan.
.
.
.
.
Sore itu Jax benar-benar kacau hingga membuat sopir Taxi menelitinya dibalik kaca depan.
"Ahh..." Rintihnya.
Setelah sok kuat di depan Jason, sekarang semua baru terasa sakit sebadan-badan. Sahabatnya itu berhasil melampiaskan kekesalannya yang menumpuk berminggu-minggu itu.
"Kalau begini, gimana bisa aku berhadapan dengan Dania?" Ucapnya sembari melihat bayangannya di layar hitam HP.
Ia kembali merebahkan punggungnya.
Dari jendela mobil, ia melihat cerminan dirinya yang berantakan. Apakah ini akhir hidupnya? Seperti semua usahanya untuk menarik perhatian Dania sudah gagal sepenuhnya. Sepertinya Dania benar-benar tidak mencintainya.
Tatapannya meneliti setiap bagian wajahnya yang tertangkap di kaca.
"Kenapa? Padahal aku sangat menarik," ucapnya sambil bercermin, membuat Pak Sopir bergidik.
"Apa kurangnya aku? Tampan, tubuh sexy sixpack."
Tingkahnya mendadak berhenti.
"Benar, aku masih mahasiswa. Aku hanya anak kecil baginya."
Jax kembali beringsut, menundukkan kepalanya.
Bahkan Pak Sopir sampai geleng-geleng melihat tingkah aneh anak muda itu. Pasti ada yang salah dengan otaknya, pikirnya.
"Cepat Pak, aku tidak boleh telat hari ini..." Pintanya pada Sopir yang sedari tadi malah fokus pada kustomernya.
Suara ban menderu kencang, sedikit membuat Jax terkantuk. Atau mungkin itu karena babak belur yang dideritanya. Hingga ia sampai ke rumah, tempat tujuannya.
"Ehem!"
Jax merapikan kerahnya yang sempat kusut karena cengkraman Jason. Dia juga membasuh wajahnya dengan air keran depan rumah. Semua dia lakukan untuk menutupi sisa-sisa pertikaiannya. Bagaimanapun, hanya wajah tampannya yang menjadi satu-satunya daya tarik. Jadi dia harus memaksimalkannya.
Dari balik pintu, sudah tercium wangi harum masakan Dania. Membuat Jax tidak sabar untuk menyantapnya, begitu juga Dania.
Tapi dia harus tetap tenang.
"Dania.."
Jax berharap istrinya akan menyambutnya seperti biasa. Meski bukan sambutan yang hangat dan memabukkan, tapi Dania yang datar cukup memuaskannya.
Akan tetapi, Dania tidak menoleh.
"Dania..." Kali ini lebih keras.
"Hm..."
Ternyata bukan karena tidak mendengar. Dania benar mengacuhkannya.
"Duduklah!" Dania mengatakannya tanpa menoleh.
"Oke," jawab Jax.
Setelah menunggu hampir lima menit,
"Mau aku bantu?"
"Tidak, duduk saja disana."
Kesunyian kembali membumbung.
"Oke."
Waktu berlalu, berdetak tanpa bisa dihentikan. Tapi Dania dan Jax seperti sedang membeku dipikirannya masing-masing. Saling menebak apa yang ada di kepala keduanya.
Diam memang bukan solusi, tapi apa lagi yang mereka lakukan.
Dania sibuk menata hatinya, sedangkan Jax merasa dirinya tidak berhak berbicara.
"Ini..."
Dania menyalurkan masakan yang telah menyibukkannya sore itu.
Sepiring steik daging premium dengan mash potato di pinggirnya. Asparagus yang matang sempurna, tidak layu maupun mentah juga ikut meramaikan piringnya.
"Makanlah...."
Seperti biasa, Dania duduk di depan Jax sambil memastikannya menghabiskan makanannya.
Setelah menelusuri wajah suaminya, Dania melihat sesuatu yang seharusnya tidak ada di sana.
"Apa ini? Kamu kena--"
Jax menahan tangan Dania yang ingin menyentuh memar di sudut bibirnya.
Ia menggenggam erat tangan itu seolah tak ingin kehilangan kehangatannya.
"Bukan urusanmu..." Dia menghempaskannya dengan penuh penyesalan.
'Bodoh, kenapa kamu bicara seperti itu?' batinnya meronta, memprotes tindakan yang tidak mencerminkan isi hatinya.
Sunyi kembali menyergap.
"Aku..."
Jax memfokuskan pendengarannya pada suara lirih Dania.
"Aku mengizinkanmu membawa pacarmu ke rumah."
Seperti tersengat listrik tegangan tinggi. Tubuh Jax kaku tak bergerak. Telinganya berdengung seolah tidak mampu menangkap kata yang mengejutkan itu.
Sementara Dania tersenyum tipis dengan kening yang berkerut.
.
.
.momen yang ditunggu pembaca 🤭