Ophelia (31), karyawan biasa di perusahaan terkaya di Indonesia, sudah kebal dengan pertanyaan "kapan nikah?" di setiap pertemuan keluarga. Ia tidak anti-cinta, ia hanya terlalu sering mendengar keluhan tentang beratnya pernikahan.
Lalu datanglah Navin (28), CEO dingin dengan lidah setajam silet. Dalam pertemuan pertama, kalimatnya melukai Lia. Yang tidak Lia tahu, sejak detik itu Navin tidak bisa berhenti memikirkannya. Navin jatuh lebih dulu, menyangkalnya, lalu jatuh jauh lebih dalam dari yang pernah ia bayangkan. Ketika restu keluarga menjadi tembok, dialah yang hancur paling parah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ratna Jivana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 4. Pukul Tujuh Empat Puluh Dua
Lia bangun pukul empat pagi, lebih awal dari alarmnya, dan menyadari bahwa tubuhnya lebih gugup daripada pikirannya. Ia memilih blazer abu-abu tua, blus putih, dan rok pensil hitam, seragam perang yang selalu ia kenakan ketika harus terlihat tenang. Ibu mengirim pesan singkat sebelum ia berangkat: Sarapan dulu. Jangan takut sama siapa pun. Lia membalas dengan gambar hati, meski ia sendiri tidak yakin apakah ia takut atau justru siap berperang.
Pukul 06.30, lobi kantor cabang Bandung berkilau seperti belum pernah dipijak siapa pun. Petugas kebersihan mengepel sejak subuh. Tanaman hias di sudut ruangan diganti dengan yang baru, dan resepsionis bernama Sinta berulang kali memeriksa lipstiknya di cermin kecil.
Semua staf berbaris rapi di dua sisi lobi, seperti pengawal upacara yang tidak tahu kapan tamunya tiba. Lia berdiri di barisan kedua. Di sampingnya, Dinda menggenggam map laporan dengan kedua tangan sampai buku jarinya memutih.
"Kalau aku pingsan, tolong seret aku ke pantry," bisik Dinda.
"Kalau kamu pingsan, aku bilang kamu sedang meditasi."
"Lia, jangan bikin aku ketawa."
"Aku serius."
Pukul tujuh. Tujuh lewat lima belas. Kaki mulai pegal. Bu Retno berdiri di depan, punggung tegak seperti tiang bendera, sesekali melirik jam tangannya. Pak Harto mengipasi diri dengan map. Seseorang di barisan belakang bergumam, "Katanya jam delapan. Kita berdiri satu jam lebih awal untuk apa?"
"Untuk jaga-jaga," jawab Lia pelan, tanpa menoleh. Ia sudah cukup lama bekerja untuk tahu bahwa orang berkuasa jarang mengumumkan kedatangan mereka. Yang mengumumkan biasanya hanya ingin disambut. Yang datang tanpa kabar ingin melihat apa yang terjadi ketika tidak ada yang bersiap.
Ternyata jaga-jaga itulah yang menyelamatkan mereka. Pukul 07.42, sebuah mobil hitam meluncur tanpa suara ke depan pintu kaca lobi. Pintu belakang terbuka sebelum Bu Retno sempat bergerak.
Seketika lobi membeku.
Pria itu keluar dengan gerakan yang tidak terburu-buru, seperti seseorang yang tahu semua orang akan menunggunya. Jas gelap, kemeja putih tanpa dasi, rahang tegas, dan mata setajam pisau yang menyapu ruangan sekali saja, lalu tidak singgah di mana pun. Lia mendengar Dinda menahan napas.
Foto majalah tidak berbohong. Navin Sundara memang tampan. Tapi yang tidak bisa ditangkap foto adalah tekanan yang ia bawa masuk, seperti udara yang mendadak menipis begitu ia melangkah melewati ambang pintu.
"Selamat pagi, Pak," kata Bu Retno, suaranya sedikit bergetar. "Selamat datang di..."
"Saya tidak mengatakan pukul berapa."
Bu Retno mengerjap. "Maaf, Pak?"
"Saya tidak mengatakan pukul berapa. Asisten saya hanya bilang Kamis pagi." Navin menoleh sebentar ke arah barisan staf, lalu kembali pada kepala cabang. "Tapi kalian sudah berdiri di sini sejak sebelum pukul tujuh. Artinya ada yang membocorkan jadwal, atau kalian tidak punya pekerjaan lain pagi ini."
Bu Retno membuka mulut, lalu menutupnya lagi. Di sampingnya, Pak Harto tampak ingin mengecil menjadi debu. Lia melirik jam dinding: 07.43. Satu menit, dan pria ini sudah menjadi masalah terbesar hari itu.
Tidak ada yang berani menjawab. Lia merasakan kemarahan kecil mulai menyala di perutnya. Mereka disuruh datang pukul enam tiga puluh, dan sekarang dituduh tidak punya kerjaan?
Navin melangkah maju dan berhenti di depan meja resepsionis. Sinta langsung berdiri, tangannya gemetar.
"Selamat pagi, Pak..."
"Tanaman itu." Navin menunjuk pot di sudut. "Kenapa daunnya masih ada label harganya?"
Sinta menoleh, pucat. Di salah satu daun tergantung kertas kecil bertuliskan harga. "Ma... maaf, Pak. Baru diganti pagi tadi."
"Diganti untuk menyenangkan saya?"
"Ti... tidak, Pak. Maksud saya..."
"Kalau kamu tidak bisa memberi senyum yang tulus, jangan duduk di meja depan. Tamu tidak butuh dekorasi. Tamu butuh manusia." Navin menatapnya datar. "Dan kamu ternyata belum bisa jadi keduanya."
Kalimat itu jatuh seperti tamparan. Sinta menunduk, dan Lia melihat air mata menggenang di pelupuk mata perempuan muda itu.
Rahang Lia mengeras. Ia mengepalkan jemari di balik map. Jangan. Jangan bicara. Dia atasanmu. Ia mengulanginya seperti mantra.
Navin mulai berjalan menyusuri barisan, diikuti Bu Retno yang setengah berlari kecil. Ia melewati staf satu per satu tanpa menyapa siapa pun. Ia berhenti sesaat di depan seorang staf laki-laki yang dasinya sedikit miring dan hanya berkata, "Rapikan." Staf itu segera menurut dengan tangan gemetar. Sepatu Navin berbunyi teratur di lantai mengilap, seperti metronom yang menghitung detik hidup mereka.
Lalu ia tiba di barisan kedua.
Lia tidak menunduk. Ia tidak sengaja tidak menunduk. Ia hanya tidak melihat alasan untuk itu. Ia memandang lurus ke depan, pada dinding di belakang bahu pria itu, dan pada saat itulah pandangan mereka sempat bersinggungan selama satu detik.
Satu detik. Mata gelap yang dingin. Tidak ada yang terbaca di sana.
Lalu ia berlalu.
Lia tidak menoleh untuk melihat punggung itu menjauh. Ia terlalu sibuk memerintahkan jantungnya agar berhenti berdegup tidak jelas. Itu pasti hanya adrenalin. Berdiri dua jam di lobi, ditatap pria yang bisa memecat seseorang dalam sepuluh detik, siapa pun akan berdebar. Ada sesuatu yang aneh di dadanya, semacam jengkel yang tidak sepenuhnya jengkel, dan ia memutuskan mengabaikannya. Pria itu persis seperti yang dikatakan orang. Bahkan lebih parah.
"Kamu lihat wajahnya?" desis Dinda begitu Navin dan rombongan menghilang di tangga. "Tampan sekali. Tapi aku takut."
"Aku tidak mau lihat wajahnya lagi," gumam Lia. "Dia baru sepuluh menit di sini dan sudah membuat dua orang hampir menangis."
"Dua?"
"Sinta, dan aku."
"Kamu hampir menangis?"
"Aku hampir melempar map ini ke kepalanya."
Dinda menutup mulut menahan tawa panik. "Bayangkan kalau kamu benar-benar lakukan," bisiknya. "Kita berdua dipecat, tapi setidaknya jadi legenda."
"Aku lebih suka jadi pegawai yang masih hidup."
Dari ujung koridor, Pak Harto berjalan cepat ke arah mereka, dahinya berkeringat. "Lia. Dinda. Rapat pembuka pukul sembilan di ruang utama. Semua kepala divisi presentasi singkat. Lia, kamu ikut mendampingi saya. Bawa data kontrak."
"Baik, Pak."
Pak Harto menatap Lia beberapa detik lebih lama. "Kamu baik-baik saja? Wajahmu..."
"Saya baik-baik saja, Pak."
Tapi ketika ia berbalik menuju tangga, ia melihat Sinta duduk sendirian di balik meja resepsionis, mengusap pipinya diam-diam dengan punggung tangan. Tanpa berpikir, Lia berhenti dan meletakkan sebungkus tisu di depan perempuan itu.
"Label harganya bukan salahmu," katanya pelan. "Yang salah itu orang yang menghitung daun sebelum menyapa manusia."
Sinta menatapnya dengan mata basah, lalu mengangguk kecil. Ia tersenyum, lemah tapi tulus, dan itu cukup membuat Lia merasa pagi yang buruk ini setidaknya punya satu titik terang.
Lia melanjutkan langkahnya. Ia tidak tahu bahwa dari balik dinding kaca di lantai dua, sepasang mata gelap sedang memperhatikan adegan kecil itu.