Rin-pertemuannya dengan Al adalah kebetulan. Tapi Al bisa memberikan rasa manis dan asem di hari-harinya.
Al-kaku dan dingin. Tapi dinginnya bisa meleleh. Pertemuannya dengan Rin seperti roti. hangat di luar empuk di dalam.
Kisah semanis roti buatan Rin, penuh proses, harus dibentuk dengan bahan takaran yang pas. Baru bisa dinikmati.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Renjana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
30
Roemah Roti kembali sepi setelah Zayn pergi. Hanya tersisa aroma kopi dari empat gelas yang ada di atas meja.
Jonas menyenggol lengan Arza keras.
"Aduh! Apaan sih!" Arza protes sambil mengusap lengannya. Jonas ngedipin mata berkali-kali, melirik Al dan Rin bergantian dengan kode yang sangat keras.
"Kak Rin, kita keluar dulu ya, beli minum di warung depan. Haus banget," kata Jonas ngasal.
Arza langsung mengerti, walau aktingnya agak jelek.
"Iya haus, sekalian beli kacang goreng juga. Yang banyak!"
Tring!
Mereka keluar dengan alasan yang nggak masuk akal sebenarnya. Siapa yang haus setelah Rin membuatkan empat cangkir kopi untuk mereka semua? Bahkan kopi Jonas sudah habis.
Sekarang di dalam tinggal Al, Rin dan setumpuk roti yang siap diborong. Heningnya jadi canggung.
Al narik kursinya lebih dekat ke arah Rin. Nggak sedekat tadi tapi cukup bikin Rin tak bisa menghindar. Wangi parfum Al samar tercium lagi, meski tipis.
"Rin," suaranya pelan. Jauh beda sama yang tadi saat masih ada Zayn. Dinginnya hilang, berganti jadi khawatir. "Video dan tangkapan layar yang aku kirim tadi malam udah kamu lihat kan?"
Rin kaget, matanya membulat "Jadi itu kamu yang kirim? Nomor baru? Pantes nggak kesimpen namanya,"
Al mengangguk. "Itu nomor pribadi, hanya sedikit yang tahu. Sekarang nama kamu udah ada di sini," Dia membuka kontaknya dan menunjukkan nama 'Rin - Roemah Roti' dengan emoji roti croissant di ujungnya. " Coba lihat, dan zoom lagi dan lihat talinya," Al menyodorkan ponselnya.
Rin mengambil ponsel yang Al sodorin. Tangannya terasa dingin. Dia zoom bagian pergelangan tangan orang itu. G-Shock. Tali ori yang udah pudar di bagian ujung, jahitannya sedikit terbuka. Persis kayak yang Zayn pakai tadi.
"Enggak... enggak mungkin, Al" Rin menggeleng cepat. "Dia tadi bilang mau bantuin gue. Mau redain gosip dari grup panitia dulu. Nggak mungkin dia yang nyebarin gosip itu di mading. Nggak mungkin! Dia itu ketua panitia!"
"Rin," Al menghela napas, frustasi tapi ditahan mati-matian. Dia nggak mau Rin nangis lagi karena dia. "Pahlawan kesiangan itu cara yang paling gampang dapat simpati. Dia bikin masalahnya, terus dia datang jadi solusinya. Lo jadi ngerasa dia satu-satunya yang bela elo! Itu teknik jadul, Rin!" nada kesal Al kembali.
"Lo suudzon deh, Al!" Rin agak naik suaranya, tapi matanya berkaca-kaca. Bukan marah ke Al, tapi dia takut Al benar. Kalau Al benar berarti selama ini dia buta. "Zayn itu ketua panitia. Dia baik ke semua orang. Nggak mungkin dia sejahat itu cuma buat gue...gue."
Al diam. Rahangnya mengeras sampai garis rahangnya terlihat. Dia tahu berdebat tentang ini nggak akan menang. Rin tidak percaya begitu aja dan dia masih membela Zayn mati-matian.
"Gue cowok, dan gue tahu persis cowok kayak gitu sanggup ngelakuin banyak cara supaya dapat simpati dari...cewek yang dia suka!" ucap Al, suaranya tertahan. Kata terakhir itu dia ucapkan pelan, hampir seperti bisikan. Dan Rin bisa merasakan telinganya memanas.
"Hahahah nggak mungkin! Lo berlebihan hanya karena dia datang kesini, mau bantu gue..." Rin mencoba tertawa tapi gagal.
"Iya gue berlebihan! Gue suudzon. Anggap aja gitu!" Al akhirnya nyerah. Dia tidak mau kelihatan cemburu, padahal jelas-jelas dia cemburu.
Al berdiri dan mulai mengambil roti dari etalase dan meletakkannya dalam baki agar nanti bisa disusun dalam sebuah kotak. Gerakannya kasar tapi tetap rapi. Keliahatan kalau lagi kesal tapi ditahan.
"Lo ngapain?" Rin bertanya, suaranya melembut.
"Kan udah gue bilang, mau borong! Biar nenek nggak sedih lihat rotinya masih banyak di etalase!" jawab Al ketus. Mode Al yang menyebalkan kembali lagi karena cemburu.
Nenek keluar saat itu membawa satu loyang roti yang baru matang. "Mana pemborong roti nenek yang ganteng-ganteng tadi? Kok tinggal satu?"
Al langsung pasang senyum yang paling manis sedunia. Beda 180 derajat dari dua detik yang lalu. "Siap borong nek! Semua roti hari ini saya bawa ke kantor. Biar yang kangen roti ini tetap bisa makan tanpa mikirin gosip itu," Al memasukkan roti tadi ke dalam box besar yang sudah diambilkan oleh Rin.
"Dan besok saya mau sebanyak roti ini lagi!" Al menutup boxnya setelah roti terakhir masuk. "Dan besoknya lagi,"
Nenek ketawa senang, matanya berkaca-kaca "Terimakasih karena sudah bantu melariskan roti ini. Rejeki itu kadang datangnya lewat orang yang nyebelin dulu, baru lewat orang baik." Mata nenek sesaat tertuju pada Rin.
Rin hanya diam di kasir. Kata-kata nenek seolah ditujukan padanya. Siapa yang nyebelin? Siapa yang baik? Rin tidak bisa membedakannya lagi.
"Tunggu roti ini dingin, nanti nenek ambilkan satu box lagi," nenek kembali ke dalam, memberi mereka berdua waktu lagi
Al menopang tubuhnya di meja kasir dan mendekat ke wajah Rin. Jaraknya berbahaya.
"Jadi... Kamu nggak percaya denganku?" tanyanya lembut. Rin mengangkat wajahnya, kaget wajah Al begitu dekat sampai dia bisa menghitung bulu matanya.
"Bukan nggak percaya Al, tapi... Bukti itu aja belum cukup. Kalau memang dia yang buat berita itu, berarti lo benar. Gue yang salah menilai," ucap Rin lemah, air matanya akhirnya jatuh setetes di pipi.
Al menghapus air mata itu dengan ibu jarinya, cepat dan lembut.
"Jangan nangis. Aku nggak akan ninggalin kamu. Aku bakal buktiin semua omongan aku benar. Aku bakalan nangkep siapa orang yang udah nyebar gosip murahan itu," bisik Al.
Di luar, di seberang jalan. Di sebelah bangunan kosong, Zayn berdiri mengamati dari jauh. Dia memakai helm full face dan masih duduk di atas motornya. Dari balik kaca helm dia melihat interaksi Al, Rin dan nenek. Mereka tertawa bersama dan bahkan Al mengusap pipi Rin!
Tangannya meremas tali jam yang sudah pudar pemberian bapaknya. Kalau itu membuatnya dicurigai, Zayn menarik tali itu kasar dan membuangnya ke tong sampah di sampingnya. Dia sudah sejauh ini dan tak ingin Rin kembali dekat dengan Al.
Dia butuh seseorang. Zayn mengeluarkan ponselnya.
"Gue dicurigai nyebarin gosip. Gue nggak mau ditangkap sebelum Rin jatuh ke tangan gue.
Tak lama sebuah balasan terkirim ke ponselnya.
Lo handle cewek itu. Gue handle Al.
Hanya jawaban singkat tapi membuat Zayn sedikit lega. Dia memasukkan ponselnya ke saku, menstarter motornya dan pergi, meninggalkan tali jam G-Shock pudar itu di dalam tong sampah.
Seseorang datang tiba-tiba dan membungkuk ke tong sampah. Memungut tali jam pudar itu tak lama setelah Zayn pergi. Tali jam tergenggam di tangannya. Dia tersenyum dan mengantongi tali itu.
Haaaah! Siapa ya? Siapa yang mungut tali jam itu?
Tinggalin jejak ya, buat nebak-nebak. Yang bener dapat Roti manis dari Rin🥰
kisah Al dan Rin tak melulu soal cinta, ada sedih, bahagia, lucu dan kadang sedikit kaku🤭
kisahnya nggak berat kok