Sepuluh tahun pernikahan, tujuh tahun penantian panjang yang diwarnai doa dan air mata, hingga akhirnya Aira lahir sebagai keajaiban pertama bagi pasangan Nala (30 tahun) dan Arka (33 tahun).
Arka, seorang Lead Structural Engineer yang tegas, kaku, dan biasa menaklukkan proyek-proyek raksasa di lautan lepas, harus merelakan seluruh gengsinya runtuh tanpa sisa saat melangkah pulang. Kepulangannya ke rumah justru disambut kepolosan Aira (3 tahun) yang cadel dan dengan polosnya memanggil sang ayah "Om asing yang keluar dari HP".
Di saat Arka sibuk meluluhkan hati putri kecilnya dan memanjakan Nala setelah bertahun-tahun terpisah jarak, kebahagiaan mereka kembali diuji dengan kejutan indah: kehadiran calon bayi kedua mereka?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon odee_eeeee15, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
mau papa baru katanya!
Di ruang tengah, suasana masih diliputi rasa takjub bercampur pusing. Nala melangkah mendekati Aira yang sedang asyik mendudukkan boneka kelincinya di atas karpet.
Nala berlutut, menatap putri kecilnya dengan raut wajah serius namun tetap lembut. "Aira sayang... dengar Mama ya. Enggak boleh ngomong soal isi neraka atau sembarangan bicara kayak gitu lagi, Nak. Itu enggak sopan dan enggak baik."
Aira mendongak, mengedipkan matanya polos tanpa merasa bersalah sedikit pun. "Tapi bener kan, Mama ? Kalau semua olang baik, nanti nelakanya sepi dong?"
Nala memegang dadanya, mencoba menahan napas. "Tetap aja enggak boleh, Aira. Anak pinter itu harus penurut, enggak boleh lawan ucapan orang tua atau Bu Guru."
Bocah tiga tahun itu justru menepuk dadanya tegas dengan gaya sok tangguh. "Kalau Aila bener, Aila akan lawan!saya akan lawan! Aila kan anak berani!"
"Pfftt..." Arka yang menyandarkan kepalanya di sandaran sofa seketika memejamkan mata rapat-rapat. Pria tegap itu makin lemas, memegangi kepalanya yang mendadak makin pusing membayangkan masa depan putrinya yang terlalu pemberani dan makin nakal ini.
Setelah makan siang, Nala berusaha membujuk Aira untuk tidur siang. Namun, alih-alih tidur nyenyak sampai sore, Aira ternyata hanya memejamkan mata tepat setengah jam.
Sementara itu di dapur, Arka yang masih lemas akibat insiden di sekolah sedang berdiri mengucurkan air dingin dari dispenser ke dalam gelasnya. Tepat saat Arka hendak meminum airnya, matanya menangkap bayangan mungil melintas pelan di luar jendela dapur.
Bocah kecil bergaun kuning itu berjalan sedikit membungkuk sambil sesekali mengintip ke kanan-kiri, berusaha mengendap-endap keluar dari pintu samping rumah menuju arah toko kue milik Mamanya.
Arka mendadak tersedak air dinginnya. "Uhuk-uhuk! Mau ke mana lagi itu anak...?"
Padahal kalau dipikir-pikir, buah-buahan di rumah sendiri melimpah ruah di kulkas. Tapi buat Aira, sensasi mengambil buah yang bukan milik sendiri itu rasanya luar biasa menantang! Ditambah lagi, Aira sering tidak sengaja menonton video animasi anak-anak di HP Mamanya tentang petualangan memetik buah di kebun orang, jadi rasa penasarannya makin membuncah tinggi.
Sudah lama sekali Aira mengincar buah apel merah milik tetangga sebelah yang posisinya persis dekat toko kue Mama. Pohon apel itu punya dahan rimbun dengan buah merah ranum yang menggantung manis. Tapi selama ini Aira tidak pernah punya kesempatan karena selalu dikawal ketat oleh Papa dan Mamanya.
Nah, berhubung hari ini Mama ketiduran di kamar dan Papa dikira sedang pingsan lemas di sofa, Aira merasa ini adalah saat emas untuk melancarkan misi rahasianya!
Dengan langkah tanpa suara, Aira berlari kecil mendekati pagar kayu rendah tetangga. Tangan mungilnya sudah memegang dahan kayu, bersiap merambat naik demi memetik buah apel impiannya.
Namun... impian hanyalah tinggal impian.
"AIRA!"
Suara berat Arka yang menyusul dari belakang membubarkan seluruh rencana indah itu!
Sebelum jemari mungil Aira sempat menyentuh satu pun kulit buah apel, tubuh mungilnya sudah diangkat tinggi-tinggi ke udara oleh dua lengan kekar Arka. Misi yang sudah lama diincar itu mendadak gagal total hanya dalam hitungan detik!
"Yaaaaah... gagal lagi..." gumam Aira polos sambil cemberut menatap buah apel yang makin menjauh dari pandangannya.
Arka mendekap Aira erat-erat di dadanya, napasnya memburu kencang karena jantungnya hampir melompat keluar melihat kelakuan nekat sang putri.
Arka menurunkan Aira di atas rumput halaman, lalu berlutut di depannya dengan wajah pucat dan lemas. Pria tegap itu memegangi kedua bahu mungil putrinya sambil mengusap dadanya sendiri.
"Aira... astaga, Nak..." bisik Arka dengan suara serak bercampur pasrah. "Kenapa panjat-panjat pohon tetangga? Nyawa Papa rasanya kayak mau melayang... Seperti hidup Papa enggak bakal lama lagi kalau Aira nakal begini terus, Sayang..."
Mendengar keluhan pasrah dari Papanya yang terlihat lemas tak berdaya, Aira menatap Arka dengan wujud polos tanpa dosa. Tangan mungilnya menepuk-nepuk pelan bahu tegap Arka seolah memberi ketenangan.
"Gak apa-apa, Papa..." celoteh Aira santai dengan polosnya. "Nanti kalau Papa udah gak ada, Aila sama Mama tinggal cali Papa balu!"
DEG.
Dunia Arka serasa runtuh seketika.
Pria tegap itu membeku kaku di tempat. Matanya membelalak lebar, bibirnya terkunci rapat, tak sanggup lagi berkata-kata menghadapi kepolosan sang putri yang begitu tega menawarkan opsi 'Papa Baru' dengan wajah sangat imut.
Nala yang baru saja terbangun dan berjalan keluar toko kue mencari mereka seketika terperanjat melihat Arka berlutut kaku di atas rumput dengan wajah seperti habis dihantam badai.
"Mas Arka?! Kamu kenapa berlutut di situ?!" seru Nala cemas sambil berlari mendekat.
Aira menoleh ke arah Nala sambil menyengir lebar. "Mama ! Kata Papa hidupnya gak lama lagi, tluak Aila bilang nanti kita cali Papa balu aja!"
Nala seketika menepuk jidatnya sendiri, antara gemas setengah mati pada Aira dan kasihan melihat suaminya yang sudah kehilangan seluruh tenaga jiwa dan raganya.
"Aira... astaga, mulutnya!" tegur Nala sambil menahan tawa riuh.
Arka perlahan mendongak menatap istrinya dengan pandangan sangat merana. "Nala... tolong Mas... anak kamu ini benar-benar mau bikin Mas pensiun dini dari dunia..."
Nala berlutut di samping Arka, mengusap bahu suaminya yang lemas lalu merangkulnya hangat. "Sabar ya, Pak Engineer... Anak kamu emang pinter banget berargumen."
Nala kemudian mengambil tangan Aira, menatapnya lembut. "Aira, Papa itu cuma satu di dunia. Gak ada yang bisa gantikan Papa . Aira sayang kan sama Papa?"
Aira kedip-kedip mata, lalu tiba-tiba menubruk leher Arka dan memeluknya erat-erat. "Sayang banget sama Papa ! Aila cuma bercanda kok, Papa jangan dicariin pengganti!"
Meskipun hatinya sempat dibuat jantungan dan pusing luar biasa, pelukan hangat dan ciuman beruntun dari bibir mungil Aira di pipinya seketika melelehkan seluruh rasa lelah Arka. Pria itu menghela napas pasrah, membalas pelukan putrinya dengan amat erat.
Namun, saat Nala hendak membantu Arka berdiri, rasa mual yang luar biasa tajam kembali membumbung tinggi dari perut Nala. Nala membeku, menutup mulutnya dengan telapak tangan sambil berusaha menahan gejolak hebat di dadanya.
(Catatan Reporter Cilik: Hari ini Aila gagal metik apel tetangga dekat toko kue Mama padahal udah lama mengincar gara-gara penasaran nonton video di HP Mama! Padahal buah di rumah banyak, tapi sensasi metik punya tetangga beda banget. Papa merusak rencana Aila, terus Papa bilang hidupnya gak lama lagi. Aila cuma mau hibur Papa bia gak pusing, tapi Papa malah makin lemas. Tapi Aila sayang banget kok sama Papa , gak mau cali Papa balu!)
sekarang mama Nala ,juga ikut dramatis
mau di bilang benar tapi nggak benar juga