NovelToon NovelToon
Skandal Jus Jeruk: Istri Sang CEO

Skandal Jus Jeruk: Istri Sang CEO

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Cinta Seiring Waktu / Romansa Fantasi
Popularitas:1.2k
Nilai: 5
Nama Author: Soobin Chan

Sekuel ketiga dari buku sebelumnya: 'Cinderella Ubi Rebus dan Kutukan Mbah Golok Sakti'

Niatnya kuliah desain di Paris, Sella (19 tahun) malah terjebak skandal gara-gara nekat meminum setengah gelas jus jeruk sisa milik Raditama Abraham (25 tahun), seorang CEO muda yang kaku sekaku robot.

Siapa sangka, jus itu ternyata sudah dicampur obat halusinasi oleh musuh bisnis Adit!

Akibat salah kamar dan kehilangan kendali, malam itu berubah jadi bencana. Bukannya romantis, Sella yang berhalusinasi malah menjadikan Adit kuda tunggangan dan mengakhirinya dengan tendangan maut ke area vital Adit sampai sang CEO pingsan!

Kiamat tiba esok paginya. Papa Kaizen, mantan komandan militer yang galak, mendobrak pintu hotel. Melihat kamar berantakan dan bercak merah misterius di seprai, vonis mati langsung dijatuhkan: PULANG KE JAKARTA DAN NIKAH BESOK PAGI!

Bagaimana nasib rumah tangga paksa antara CEO Robot Kaku dan Istri Bar-bar ini? Apalagi, rahasia malam itu sebenarnya murni salah p

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Soobin Chan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 14. Firasat Buruk dan Penerbangan Menuju Tiang Gantungan

"Mulai hari ini dan seterusnya, Abang bakal tinggal lagi di rumah besar ini. Apartemen Abang sudah resmi Abang sewakan ke teman kuliah. Abang kasihan dan gak tega kalau harus melihat kamu sendirian terus di rumah sebesar ini."

Sepasang mata Amel langsung berbinar-binar cerah. "Serius, Bang? Sip, mantap kalau gitu mah! Rumah jadi lebih asyik kalau ada Abang."

Amel kemudian bangkit berdiri dari karpet, merapikan buku-buku pelajarannya ke dalam pelukan dengan senyum yang tidak luntur dari wajahnya. "Ya sudah kalau gitu, mendingan sekarang Abang cepat telepon Kak Sella di Paris, tanyain kabarnya sekarang. Amel mau masuk kamar buat bobo siang dulu, hawa siang ini gerah banget!"

Erlangga hanya melambaikan tangan singkat saat adiknya berjalan melangkah menuju kamar tidur di lantai bawah. Begitu suasana ruang tengah kembali sunyi senyap, Erlangga kembali menatap nomor kontak Sella yang tertera di layar ponselnya. Di Paris sana, jarum jam seharusnya baru menunjukkan pukul enam pagi. Harusnya Sella sudah bangun atau sedang bersiap-siap untuk jalan-jalan menikmati keindahan kota mode.

Namun, sebuah firasat buruk yang sangat pekat mendadak menghimpit rongga dadanya tanpa alasan yang jelas. Ia menekan tombol panggil hijau, namun hanya suara dingin operator maskapai telepon yang menjawab bahwa nomor tujuan sedang tidak aktif atau berada di luar jangkauan. Erlangga sama sekali tidak pernah tahu, bahwa di jam yang sama di Paris, Sella sedang menangis histeris di bawah selimut sebuah hotel bintang lima karena baru saja terbangun di samping seorang pria asing bertelanjang dada.

****

Sementara itu, di area lobi hotel mewah di Paris, ponsel pintar milik Adit akhirnya bergetar nyaring setelah beberapa kali panggilan dialihkan. Nama Reno tertera di layar, sahabatnya itu akhirnya menelepon balik setelah menghilang cukup lama.

"Halo, Dit? Kenapa lo tadi nelpon gue berkali-kali pas gue lagi... eh, pas gue lagi sibuk urusan penting?" tanya Reno di seberang telepon sana. Suaranya terdengar agak gugup dan terbata-bata karena hampir saja ia keceplosan soal aksi nekatnya menyusup ke rumah utama keluarga Saputra di Jakarta demi menemui seseorang.

Adit memijat pangkal hidungnya yang terasa sangat pening, berusaha keras agar nada suaranya tetap terdengar berwibawa, tegas, dan profesional meskipun kondisi fisiknya saat ini sudah hancur lebur akibat pukulan Kaizen. "Gue cuma mau memastikan kondisi kantor pusat di Jakarta masih berdiri tegak tanpa masalah. Lo selama gue tinggal ke Paris gak bikin kebijakan aneh-aneh kan selama Pak Ardi sedang sakit?"

Reno menyandarkan kepalanya ke sandaran kursi kebesaran milik Adit di kantor pusat, menyelonjorkan kedua kakinya yang agak lecet ke atas meja kaca mewah tanpa beban moral sedikit pun. "Tenang aja kali, Bos. Semuanya aman terkendali di bawah pengawasan gue. Gedung kantor nggak bakal gue gadai ke bank kok, masih kokoh di tempatnya."

"Lo yakin semuanya aman? Perasaan gue dari semalam beneran gak enak banget, Reno. Jangan bilang lo malah sibuk menyusahkan dan menggoda Sindy lagi?" tanya Adit penuh curiga. Insting protektifnya terhadap sekretaris barunya itu mendadak menajam, mengabaikan fakta bahwa dirinya sendiri sedang berada dalam masalah yang jauh lebih besar.

Reno menyengir kuda di seberang sana, teringat bagaimana perjuangan Sindy yang harus menyeret tubuhnya semalam karena kelelahan mengurus tumpukan berkas audit. "Ya maklum lah, Dit. Gue kan cuma CEO magang pengganti sementara, masih bau kencur soal dunia korporat. Wajar banget dong kalau gue sering minta bantuan Sindy buat... 'membantu' gue luar dalam urusan pekerjaan kantor."

"Awas aja lo kalau sampai berani bikin Sindy merasa gak nyaman bekerja. Gue di Paris ini lagi pusing setengah mati, belum lagi jadwal audit ke Tokyo minggu depan yang berantakan. Kepala gue berasa mau pecah!" bentak Adit frustrasi.

"Gue bilang juga tenang, Mas Bro. Gue udah mulai paham cara main dunia bisnis," sahut Reno dengan nada meremehkan. "Eh, ngomong-ngomong soal Paris, lo udah dapat cewek bule belum di sana buat oleh-oleh gue ke Jakarta? Yang matanya biru jernih kayak air kolam renang gitu ada gak?"

"Kampret lo! Dalam situasi darurat begini malah nanyain cewek bule!" Adit mendengus kasar dengan penuh emosi. "Gue di sini lagi merana dan tertimpa musibah besar, tahu! Gue baru aja ketemu sama seorang mahasiswi sableng gila yang... ah, sudahlah! Malas gue bahasnya, bikin tensi darah naik. Udah dulu, gue sibuk mau ke bandara!"

Tut!

Adit memutuskan sambungan telepon secara sepihak dengan gerakan kasar. Sang CEO kaku akut itu sama sekali tidak pernah tahu bahwa sosok pria tampan tanpa baju yang melakukan adegan panas di dalam rekaman kamera tersembunyi milik Kaizen adalah Reno, sahabatnya sendiri yang saat itu sedang "membantu" melayani kakak kandung Sella di Jakarta.

****

Setelah Mama Aulia akhirnya berhasil disadarkan dari pingsan singkatnya dengan bantuan aroma minyak kayu putih dan pijatan panik dari Kaizen, suasana di dalam kamar hotel mewah itu langsung berubah menjadi sunyi yang sangat mencekam. Tidak ada lagi suara perdebatan atau pembelaan diri yang tidak berguna. Seluruh kemarahan berapi-api dari Kaizen kini telah membeku menjadi sebuah ketegasan hukum militer yang sangat dingin dan tidak bisa diganggu gugat oleh siapa pun.

Proses check-out kamar hotel dilakukan dengan sangat kilat. Adit, yang wajah tampannya kini masih dihiasi oleh beberapa noda lebam kebiruan di sudut bibir dan pipi kanan akibat tinju mentah, berjalan di barisan paling belakang dengan kawalan ketat pandangan mata Kaizen, seolah-olah ia adalah seorang tahanan kriminal kelas berat yang siap dieksekusi. Sella berjalan melangkah menunduk dalam, kedua kelopak matanya tampak bengkak sembab karena terlalu banyak menangis, dan kedua tangannya tidak berhenti meremas ujung jaket hoodie cokelatnya yang lecek.

Di dalam area Bandara Charles de Gaulle tepat pukul 11.00 siang waktu Paris, Kaizen bergerak secara taktis dan cepat. Sebagai seorang mantan tentara, ia sangat tahu bagaimana cara mengatur urusan logistik dan tiket perjalanan dalam waktu singkat. Tiket penerbangan kelas satu (first class) menuju Jakarta yang seharusnya baru digunakan minggu depan, dimajukan paksa hari itu juga menggunakan kekuasaan dan jaringan dananya yang luas.

"Jalan yang benar di depan saya, Raditama. Jangan pernah berani berpikir untuk mencoba menghilang atau kabur di tengah kerumunan penumpang," desis Kaizen dengan nada mengancam saat mereka semua sedang berjalan melewati pos pemeriksaan paspor. Adit hanya bisa mengangguk pasrah tanpa kata, melirik ke arah buku paspor miliknya yang saat itu masih digenggam sangat erat oleh tangan kekar Kaizen.

Penerbangan nonstop selama 14 jam dari Paris menuju Jakarta menggunakan maskapai pelat merah itu benar-benar terasa bagaikan sebuah perjalanan panjang menuju tiang eksekutif hukuman mati bagi Adit dan Sella. Di dalam kabin kelas satu yang super mewah, luas, dan nyaman, atmosfer udara justru terasa sangat menyesakkan dada bagi seisi penumpang.

Sella memilih duduk diam di pojok dekat jendela kaca, membelakangi posisi semua orang. Pikirannya kosong melongpong. Gadis berusia 19 tahun itu terus menatap hamparan awan putih di luar sana, sesekali kedua bahunya tampak bergetar kecil karena menahan isak tangis yang tertahan di tenggorokan. Perut bagian bawahnya sebenarnya masih terasa agak nyeri akibat sisa ketegangan akrobatik semalam, namun lubuk hatinya jauh terasa lebih sakit karena merasa seluruh impian masa depannya untuk kuliah desain di Paris telah hancur lebur sebelum sempat dimulai.

Di baris kursi lain, Aulia duduk diam di samping Kaizen. Wajah wanita paruh baya itu tampak sangat pucat dan jemarinya terus bergerak memutar tasbih digital, sesekali tangannya naik memijat pelipis kepalanya yang pening bukan main. Setiap beberapa menit sekali, ingatannya kembali terlempar pada layar ponsel suaminya—teringat akan rekaman adegan panas anak sulung perempuannya bersama pria tak berbaju di Jakarta. Hatinya hancur, ia merasa telah gagal total menjadi sosok ibu yang baik dalam mendidik anak-anaknya.

Sementara itu, Adit dipaksa duduk di baris kursi bagian depan mereka. Sepanjang belasan jam penerbangan, sang CEO muda sama sekali tidak bisa memejamkan mata atau tertidur meski hanya untuk sedetik pun. Setiap kali ia mencoba menutup kelopak matanya, bayangan wajah ketakutan Sella dan noda bercak merah misterius di atas seprai putih hotel langsung berputar-putar di otaknya seperti teror mimpi buruk yang nyata.

Apakah gue semalam beneran tega melakukan tindakan bejat itu? Tapi kenapa sistem otak gue sama sekali nggak ingat apa-apa? batin Adit berkali-kali merutuki nasib sialnya.

1
meimei
lanjut😎
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!