Setelah tewas dalam invasi brutal yang meluluhlantakkan kotanya, Yang Zhen tiba-tiba terbangun kembali ke masa remaja saat ia masih menjadi murid akademi yang selalu dicap sebagai pecundang.
Namun, berbekal ingatan masa depan dan pusaka kuno Gulungan Dewa Naga yang memberinya kekuatan, ia kini bersumpah untuk memutarbalikkan takdir dan menginjak-injak siapa pun yang berani meremehkannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ex, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 27
Su Lin kembali mendengus kesal mendengar dirinya disebut sebagai murid oleh pemuda yang seumuran dengannya. Namun ia tidak membantah karena Yang Zhen memang pantas menyandang gelar tersebut.
"Selain itu, Tuan Muda Chen Fei bercerita banyak tentang strategimu menghancurkan Asosiasi Alkemis dari dalam." lanjut Su Tian. "Keluarga Zhao sekarang seperti macan ompong yang kehilangan taring dan cakarnya."
Chen Fei menganggukkan kepalanya menyetujui ucapan Patriark Su tersebut.
"Pasukanku telah mengeksekusi Lu Feng pagi ini atas perintah Presiden Gu." lapor Chen Fei. "Seluruh aset Keluarga Zhao yang terhubung dengan pasar herbal telah kami sita."
Yang Zhen menganggukkan kepalanya puas mendengar laporan dari sekutu militernya itu. Rencananya berjalan seratus persen sesuai dengan kalkulasi yang ia buat sejak awal.
"Keluarga Zhao sedang berada di ujung tanduk." ucap Yang Zhen sambil menuangkan air ke dalam gelas kayunya. "Tapi rubah tua seperti Zhao Tian tidak akan menyerah begitu saja tanpa perlawanan terakhir."
"Itulah alasan kami datang kemari." potong Su Tian dengan wajah serius. "Keluarga Zhao masih memiliki puluhan kultivator elit dan kekuasaan di ranah politik kota."
"Jika kita membiarkan mereka bernapas lebih lama, mereka pasti akan mencari bantuan dari luar kota." tambah Chen Fei memberikan analisis militernya.
Yang Zhen menyesap air putihnya dengan perlahan sebelum meletakkan gelas itu kembali ke atas meja. Matanya menyipit memancarkan kilatan cahaya licik yang membuat siapa pun merinding melihatnya.
"Kalau begitu kita jangan beri mereka waktu untuk bernapas." ucap Yang Zhen dengan senyum yang sangat kejam. "Kita akan memaksa mereka melakukan pemberontakan berdarah minggu depan."
Ketiga tamu kehormatan itu tersentak kaget mendengar rencana gila yang baru saja meluncur dari mulut Yang Zhen.
"Memaksa mereka memberontak?" ulang Su Tian dengan kening berkerut dalam. "Itu akan menimbulkan korban jiwa di kalangan warga biasa."
"Tidak akan ada warga biasa yang terluka jika kita mengatur arenanya dengan benar." jawab Yang Zhen menenangkan. "Minggu depan adalah jadwal Ujian Akhir Akademi, bukan?"
Su Lin menganggukkan kepalanya membenarkan.
"Semua petinggi kota, termasuk Patriark Zhao, akan hadir di akademi untuk menonton ujian tersebut." jelas Yang Zhen membeberkan kerangka rencananya.
"Aku akan membuat Zhao Tian kehilangan akal sehatnya di depan semua orang saat ujian berlangsung." lanjut pemuda licik itu. "Saat dia menyerang lebih dulu, Keluarga Su dan militer punya alasan legal untuk membantai seluruh klannya."
Chen Fei menelan ludahnya dengan susah payah. Pemuda di depannya ini benar-benar tidak peduli pada moralitas selama tujuannya untuk membasmi musuh tercapai.
"Rencana yang sangat berisiko, tapi hasilnya memang bagus." komentar Su Tian setelah menimbang-nimbang selama beberapa detik. "Keluarga Su akan mendukung rencanamu secara penuh."
"Pasukan militer juga akan bersiaga penuh di sekitar akademi pada hari ujian nanti." sahut Chen Fei menyetujui aliansi tersebut.
Yang Zhen tersenyum puas melihat bidak-bidak caturnya bergerak sesuai dengan keinginannya. Kini seluruh kekuatan besar di Kota Awan Merah berada di bawah kendalinya.
"Bagus." ucap Yang Zhen sambil berdiri dari kursinya. "Sekarang urusan bisnis sudah selesai, apakah kalian ingin menumpang makan siang di sini?"
"Aku dan Hao baru saja membeli daging rusa kelas satu menggunakan uang hasil memeras Keluarga Zhao." goda Yang Zhen sambil melirik ke arah Su Lin.
"Tidak perlu, kami harus segera kembali untuk mempersiapkan pasukan." tolak Su Tian sambil ikut berdiri dan tersenyum ramah.
"Ayo kita pulang, Lin-er." ajak Su Tian pada putrinya.
Su Lin menganggukkan kepalanya dan berjalan mengikuti ayahnya keluar dari rumah sederhana tersebut. Sebelum benar-benar melewati pintu, gadis itu menoleh ke belakang sejenak.
"Berhentilah memanggilku dengan sebutan aneh di depan ayahku." ancam Su Lin dengan tatapan tajam.
"Tentu saja, Sayang." balas Yang Zhen sambil melambaikan tangannya dengan sangat riang.
Su Lin menghentakkan kakinya dengan kesal dan buru-buru berlari menyusul ayahnya. Wajahnya terasa sepanas bara api dan jantungnya berdebar tidak karuan.
Chen Fei yang melihat interaksi dua remaja itu hanya bisa tertawa terbahak-bahak sebelum ikut pamit meninggalkan kediaman Yang Zhen.
Setelah rumahnya kembali sepi, Yang Zhen menutup pintu kayunya dan bersandar di dinding. Wajah santainya seketika menghilang digantikan oleh raut wajah penuh perhitungan.
"Zhao Tian pasti sedang mencoba menekan Kepala Akademi sekarang." gumam Yang Zhen menganalisis pergerakan musuhnya. "Dia pikir mengeluarkan aku dari akademi bisa menyelesaikan masalahnya."
Yang Zhen berjalan menuju halaman belakang rumahnya di mana Wang Hao sedang sibuk memotong-motong daging rusa hasil buruan mereka.
"Hao, tinggalkan daging itu sebentar." panggil Yang Zhen dengan nada serius. "Ada tugas penting yang harus kau lakukan sekarang juga."
Wang Hao langsung meletakkan pisaunya dan berlari menghampiri sahabatnya itu. Ia tahu jika Yang Zhen sudah menggunakan nada serius, maka nyawa adalah taruhannya.
"Tugas apa, Bos?" tanya Wang Hao antusias.
"Bawa sekantung koin emas ini dan pergi ke pasar gelap kota." instruksi Yang Zhen sambil menyerahkan sebuah kantung kulit yang sangat berat.
"Beli seluruh persediaan Rumput Babi Gila yang ada di sana." lanjut Yang Zhen. "Pastikan tidak ada satu orang pun yang tahu kau yang membelinya."
Wang Hao membelalakkan matanya mendengar nama rumput aneh tersebut.
"Rumput Babi Gila? Untuk apa kau membeli rumput yang hanya digunakan untuk meracuni hewan ternak itu?" tanya Wang Hao kebingungan.
"Kita akan membuat pertunjukan kembang api paling spektakuler di Ujian Akhir Akademi nanti." jawab Yang Zhen sambil tersenyum misterius. "Keluarga Zhao akan mengingat hari itu sebagai hari kiamat mereka."