Cinta Terhalang Dinding Pesantren
Muthi'ah Azzahra hanya ingin menjalani hidupnya sebagai santriwati dengan tenang. Namun, semuanya berubah ketika dia mengetahui bahwa dirinya telah dijodohkan dengan Jay, putra pengasuh pesantren yang selama ini terasa begitu jauh dari kehidupannya.
Bagi Muthi'ah, perjodohan itu adalah keputusan yang tidak pernah dia minta. Bagi Jay, itu adalah janji keluarga yang perlahan berubah menjadi sebuah pilihan.
Di tengah aturan pesantren, gosip, bullying, tekanan keluarga, dan perasaan yang tumbuh diam-diam, mereka harus belajar mengenal satu sama lain tanpa kehilangan hak untuk menentukan masa depan.
Sebab, cinta yang sebenarnya bukan tentang siapa yang menjodohkan mereka, tetapi tentang apakah mereka mampu memilih satu sama lain dengan hati yang benar-benar ikhlas.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Senja Juliani Putri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 13 - Surat Tanpa Nama
Laci meja belajar di kelas itu sudah seperti lemari kedua bagi Muthi'ah. Isinya kitab kecil, pulpen warna-warni, pembatas buku dari kardus, dan sticky note hafalan.
Pagi itu, pas jam pertama mau mulai, Muthi'ah membuka laci seperti biasa, mau mengambil kitab Fiqih.
Ada amplop putih di dalamnya.
Amplopnya tidak ada nama. Polos. Hanya dilipat rapi. Di atasnya ada tulisan pakai spidol kaligrafi, bagus sekali.
Muthi'ah bingung. Dia tidak pernah dapat surat di pondok. Kalau ada surat biasanya dari orang tua, lewat Ustazah.
Dia membuka pelan.
Di dalamnya ada satu kertas HVS yang dipotong kecil. Tulisannya juga kaligrafi, tinta hitam.
"Jaga adabmu. Jangan pakai prestasi untuk mendekati putra Kiai. Semua orang tahu kamu cuma cari muka."
Tidak ada tanda tangan.
Tangan Muthi'ah langsung dingin.
Dia membaca lagi. Dua kali. Tiga kali.
Padahal dia tidak pernah mendekati Jay. Bahkan untuk mengobrol saja harus lewat dinding, harus lewat Zahra, harus lewat Jungwon.
Muthi'ah buru-buru melipat surat itu, memasukkannya ke saku roknya. Dia menunduk, pura-pura membaca kitab, padahal matanya sudah berkaca-kaca.
Dina yang duduk di belakangnya langsung menyadari.
"Muth, kamu kenapa? Kok pucat?" bisik Dina.
Muthi'ah menggeleng, "Nggak apa-apa."
Tapi Dina kenal sekali. Kalau Muthi'ah bilang tidak apa-apa sambil meremas rok, pasti ada apa-apa.
Pas jam istirahat, waktu kelas kosong karena semua ke kantin, Dina, Zahra, dan Salsa menghampiri meja Muthi'ah.
"Muth, jujur. Ada apa?" kata Zahra pelan.
Muthi'ah diam lama. Akhirnya dia mengeluarkan amplop itu dari saku, dengan tangan gemetar, ditaruh di meja.
Dina mengambil, membuka, membaca. Zahra membaca dari samping. Salsa membaca paling belakang.
Sepersekian detik, hening.
Lalu...
"ANJIR! SIAPA YANG NULIS INI?!" Dina meledak.
"Din, pelanin!" Zahra panik.
Salsa mukanya langsung merah padam, "Kurang ajar! Siapa yang berani ngomong gini ke Muthi'ah? Muthi'ah itu juara karena pintar, bukan karena deketin Gus Jay!"
Muthi'ah langsung menarik tangan Salsa, "Salsa, jangan! Jangan ribut!"
"Gimana nggak ribut, Muth? Ini fitnah!" Dina masih emosi.
Zahra, yang paling tenang, mengambil surat itu, melipatnya lagi rapi.
"Muth, kamu tahu ini tulisan siapa?" tanya Zahra.
Muthi'ah menggeleng, air matanya sudah jatuh satu-satu, "Nggak tahu, Zah. Aku nggak tahu salahku apa."
Zahra mengelus punggung Muthi'ah, "Kamu nggak salah apa-apa. Ini ada orang yang iri."
Salsa sudah berdiri, "Sudah, gue tanya satu-satu kelas ini. Tulisan kaligrafinya bagus gini, pasti anak yang biasa jadi kaligrafer mading."
"Salsa, jangan!" Muthi'ah menahan lagi, suaranya sudah menangis, "Jangan dibesar-besarin. Aku nggak mau jadi bahan omongan lagi."
Dina duduk, masih ngos-ngosan marah, "Tapi Muth, kalau didiemin, orangnya bakal merasa menang."
Muthi'ah mengusap air matanya dengan ujung jilbab.
"Gapapa. Biarin saja. Allah tahu aku nggak seperti itu."
Itu Muthi'ah sekali. Kalau disakiti, memilih diam. Bukan karena lemah, tapi karena takut kalau dibalas, masalahnya jadi makin besar.
Zahra mengangguk, "Oke. Kita nggak usah labrak sekarang. Tapi suratnya kita simpan. Buat bukti kalau nanti kejadian lagi. Ya?"
Seharian itu, Muthi'ah tidak fokus belajar. Tiap ada yang melihatnya, dia merasa dilihat sinis. Padahal mungkin tidak. Tapi surat itu sudah membuatnya parno.
Malamnya, pas semua sudah tidur, Muthi'ah bangun jam dua. Dia mengambil wudhu, menggelar sajadah di pojokan kamar yang gelap.
Dia sholat tahajud. Lama.
Di sujud terakhir, dia menangis lagi. Menangis yang benar-benar ditahan seharian.
"Ya Allah... kalau memang saya salah, tunjukkan salah saya di mana. Tapi kalau saya tidak salah... kuatkan saya. Saya capek dibilang cari muka padahal saya cuma pengen belajar," bisiknya di dalam sujud, suaranya pecah.
Dia tidak minta dibalaskan orang yang menulis surat itu. Dia hanya minta dikuatkan.
Di luar kamar, hujan rintik-rintik mulai turun lagi. Sama seperti hujan waktu payung itu. Tapi kali ini tidak ada yang mengantarkan payung.
Di kamar sebelah, Nadira lagi duduk di mejanya. Di bawah kitabnya, ada sisa kertas HVS yang sama seperti yang tadi di laci Muthi'ah. Dan spidol kaligrafi hitam yang masih terbuka tutupnya.
Dia melihat jendela yang terkena hujan.
Tangannya gemetar. Dia sendiri kaget sudah berani menulis itu.
"Biar tahu rasa," bisiknya pelan, tapi suaranya tidak sepuas yang dia bayangkan. Ada rasa tidak enak yang mengganjal.