NovelToon NovelToon
Dijodohkan, Malah Dimanja Tuan Muda

Dijodohkan, Malah Dimanja Tuan Muda

Status: sedang berlangsung
Genre:Berondong / Cinta Terlarang
Popularitas:134
Nilai: 5
Nama Author: Awan

**Naila Kinanti Prasetya** baru delapan belas tahun ketika kedua orang tuanya terbang ke Amerika demi bisnis, lalu menitipkannya di rumah keluarga **Adiwangsa** — keluarga konglomerat yang sudah menjodohkannya dengan putra mereka sejak Naila masih kecil.

Tapi sebelum mereka sempat bertemu, sang tuan muda, **Radhika Arya Adiwangsa**, lebih dulu mengirim tiga aturan lewat WhatsApp:

> 1. Perjodohan ini tidak aku akui.
> 2. Jangan naik ke lantai tiga.
> 3. Jangan dekat-dekat aku.

Naila cuma membalas satu kata: *"oke."*

Enam tahun lebih tua, dingin, dan menyebalkan — Naila pikir "Mas" yang satu ini benar-benar membencinya. Sampai ia sadar: pria yang katanya cuma menganggapnya adik itu diam-diam menanam empat pohon lemon di balkon khusus untuknya, menyimpan diam-diam setiap fotonya sejak kecil, dan menghajar siapa pun yang berani menyakitinya.

*"Katanya jaga jarak,"* Naila mengadu, matanya berkaca-kaca. *"Katanya aku cuma adik…"*

Radhika menyudutkannya ke daun pintu, suaranya rendah dan berbahaya. *"Lari kenapa? Emang Mas bakal makan kamu?"*

…tapi malam itu, Mas ingkar janji.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Awan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 14

Bab 14: Belajar yang Bener

Radhika berdiri di samping mobil sampai jaket hitamnya menghilang di tikungan bersama Naila.

Ia baru kembali ke kursi pengemudi setelah bayangan tiga gadis itu tidak terlihat lagi. Kemeja tipisnya tidak cukup menahan angin malam, tetapi ia tidak merasa dingin. Ia membuka WhatsApp, mengganti nama kontak Naila menjadi Lemon, lalu menyematkan percakapan itu paling atas.

Foto profil Naila menampilkan senyum kecil di lapangan tenis. Radhika menekannya.

Linimasa gadis itu hanya memperlihatkan unggahan tiga hari terakhir. Ada sembilan foto latihan tenis, satu swafoto dengan topi putih, dan foto saat Naila pura-pura mencium setangkai mawar. Pada kolom komentar, nama Gilang muncul berkali-kali.

Cantik banget, Lemon.

Naila membalas dengan emoji wajah malu.

Radhika mematikan layar dalam satu gerakan. Kabin yang tadi terasa tenang mendadak terlalu sempit.

Ponselnya berdering sebelum ia sempat menyalakan mesin. Nama Gilang muncul.

"Apa?"

"Buset, baru angkat sudah galak." Musik dari restoran terdengar samar di belakang suara Gilang. "Dhika, tadi kamu lihat aku datang sama artis baru, kan?"

"Lihat."

"Kalau ketemu Nisa, jangan bilang-bilang. Itu cuma makan soal kontrak. Nggak ada apa-apa."

Radhika menyandarkan kepala ke kursi. "Kalau memang nggak ada apa-apa, kenapa harus disembunyikan?"

"Nisa gampang salah paham."

"Sama Nisa baik-baik. Jangan bikin ulah."

Di seberang, Gilang terdiam dua detik. "Kamu habis ikut kelas moral?"

"Kalau nggak ada hal penting, aku tutup."

"Ada. Lemon tadi bilang masih kuliah di UI, kan? Aku serius mau tawarin dia masuk agensiku. Wajahnya kuat di kamera, geraknya bagus. Aku bisa bikin program pencarian bakat khusus buat dia."

"Nggak usah."

"Kamu belum dengar konsepnya. Kalau meledak, dia bisa dapat ratusan juta."

"Dia baru delapan belas. Dia harus kuliah."

"Kuliah bisa sambil kerja. Lagian, kamu siapa sampai memutuskan?"

Jari Radhika mengetuk kemudi sekali. "Orang yang tahu dia nggak butuh duit segitu."

"Jangan-jangan kamu yang mau biayain semua? Dhika, halo?"

Radhika memutus panggilan.

Ia kembali membuka profil Naila. Bayangan mahasiswa di depan gedung tari yang memberinya permen pelangi muncul lagi, disusul gerakan Naila memindai kode WhatsApp tanpa ragu. Di kampus pasti ada banyak lelaki seperti itu. Gilang pun sekarang sudah masuk daftar kontaknya.

Radhika menatap ruang percakapan kosong selama hampir sepuluh menit sebelum akhirnya mengetik.

Lemon, belajar yang bener ya. Bulan ini kalau hasil ujianmu masuk tiga besar, Mas kasih hadiah.

Pesan terkirim. Ia lalu kembali ke linimasa Naila dan menyimpan swafoto tenisnya. Foto mawar menyusul. Untuk foto ketiga, ia menggulir jauh ke percakapan keluarga dan menemukan foto setengah badan Naila berbaju putih yang dikirim Wulan tiga hari lalu.

Ketiganya masuk ke album baru yang hanya ia beri satu huruf: N.

Ia membuka foto tenis itu sekali lagi. Naila berdiri dengan raket di bahu, rambut diikat tinggi, dan lututnya tampak memerah karena latihan. Radhika memperbesar gambar tanpa sadar, lalu segera mengembalikannya ke ukuran semula. Perbuatannya sendiri terasa konyol. Ia sudah mengenal wajah itu sejak pipinya masih bulat dan giginya belum lengkap. Seharusnya tidak ada yang mengejutkan dari satu swafoto.

Namun, komentar Gilang tetap mengganggu.

Radhika menghapus notifikasi panggilan, menyalakan mesin, dan meninggalkan UI. Sepanjang jalan menuju Menteng, album berhuruf N itu tetap terbuka di layar ponsel yang terpasang di konsol.

Sementara itu, Naila berjalan di antara Gita dan Vania sambil memeluk dua stoples lemon madu. Jaket Radhika terlalu besar. Ujung lengannya menutup hampir seluruh jari, dan wangi kayu yang dingin terus mengikuti setiap langkahnya.

"Pakai jaket, bawa dua stoples, ditahan berdua di mobil," Gita menghitung dengan jarinya. "Masih mau bilang dia musuh?"

"Dia sedang menyusun rencana jahat," jawab Naila. "Orang berwatak buruk nggak mungkin berubah dalam satu malam."

"Tapi dia minta maaf."

"Itu bagian yang paling mencurigakan."

Vania berjalan lebih pelan. "Dia memang selalu begitu sama kamu?"

"Sok mengatur, diam-diam sombong, suka buang barang orang." Naila menatap Vania dengan serius. "Pokoknya Radhika itu bukan tipe yang aman buat disukai. Kamu pantas dapat yang lebih baik."

Vania memaksakan tawa. "Aku cuma merasa dia ganteng, kok. Bukan berarti suka."

Gita mendengus. "Kamu tadi sampai salah pegang sendok tiga kali."

"Aku gugup karena restorannya mahal."

Mereka sampai di kos beberapa menit kemudian. Gita membuka pintu kamar, sedangkan Naila langsung menuju kulkas bersama dua stoplesnya. Rak bagian atas hampir penuh dengan botol minuman.

"Geser sambalnya," kata Naila.

"Itu punya Sekar," jawab Gita. "Kalau tumpah, kamu yang menjelaskan."

Naila akhirnya menaruh satu stoples di sisi pintu dan satu lagi di rak tengah. Saat membungkuk, kerah jaket Radhika bergeser hingga menutupi dagunya. Vania melihatnya diam-diam.

"Jaketnya mau kamu kembalikan kapan?" tanya Vania.

"Besok kalau dia datang. Kalau nggak datang, nanti saja."

"Dia sering datang ke kampus?"

"Belakangan ini terlalu sering."

Naila hendak mengejar jawaban itu ketika ponselnya berbunyi. Pesan Radhika muncul di layar. Ia berhenti di bawah lampu jalan dan membacanya dua kali.

"Tuh, kan." Ia menunjukkan layar kepada Gita. "Baru ditambah lagi sudah mulai mengatur."

Ia membalas cepat.

Aku bukan anak SD.

Belum puas, ia mengirim satu lagi.

Nggak ada angin nggak ada hujan, Mas mau apa, sih?

Balasan Radhika datang hampir seketika.

Mas mau kamu belajar yang bener.

"Menyebalkan." Naila memasukkan ponsel ke saku jaket, tetapi sudut bibirnya naik sedikit.

Vania yang berdiri di sampingnya sempat melihat nama pada bagian atas layar sebelum ponsel itu lenyap.

Mas Radhika.

Ia mengulang nama itu dalam hati, lalu menyimpan rasa yang baru tumbuh tersebut sebagai rahasianya sendiri.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!